3 Pesan Najelaa Shihab ke Mahasiswa Kampus Merdeka

Penulis : Yosinta Maharani Here | 7 Feb, 2022 | Kategori: Merdeka Belajar

Yayasan Guru Belajar (YGB) turut hadir dalam “Penutupan Program Kampus Merdeka di Kampus SMSG” pada Jumat (04/02). YGB hadir sebagai salah satu organisasi di bawah jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG) yang menjadi mitra Magang  dan Studi Independen Bersertifikat Kampus Merdeka batch 1.

SMSG sendiri menerima total 379 mahasiswa magang dari 119 kampus. Selama lima bulan, ratusan mahasiswa ini didampingi oleh 62 mentor dari 11 organisasi/komunitas pendidikan yaitu YGB, Websis for Edu, Think.Web, Sekolah.mu, Sedekah Buku Indonesia, Sebangku Games, Pemimpin.id, Eco Ethno, Everidea Education, Dampak Sosial Indonesia, dan Schole Fitra.

Najelaa Shihab, inisiator SMSG, berpesan pada seluruh mahasiswa, pada bidang apapun yang akan mereka tekuni nantinya untuk selalu mengutamakan inovasi, kolaborasi, dan integrasi.

“Jangan mengaku penggerak kalau tidak berinovasi. Inovasinya tidak harus penemuan lalu mendapatkan hadiah nobel atau sejenisnya. (Melainkan) praktik baik yang kita lakukan setiap hari yang kemudian bisa dibuktikan berhasil mengubah keadaan,” ujarnya.

“(Misalnya) dari sebelumnya praktek di dalam kelas yang pola disiplinnya masih menggunakan ancaman atau kekerasan kemudian bisa menggunakan pendekatan-pendekatan yang lebih positif,” lanjut Najelaa.

Namun demikian, Najelaa mengingatkan, menjadi inovator khususnya pada ekosistem pendidikan biasanya akan membuat diri merasa kesepian. Pasalnya sulit mengajak orang lain untuk berubah bahkan seringkali mendapat rundungan. Oleh karenanya penting untuk saling menguatkan satu sama lain.

Selain inovasi, Ia juga menjelaskan betapa pentingnya kolaborasi. Hal yang sepertinya mudah untuk dilakukan namun tetap membutuhkan refleksi setiap saat. “Butuh waktu banget untuk kita jadi ahli dalam kolaborasi,” ujar Najelaa.

“Evaluasi diri sendiri. Apa saja yang mudah buat saya dalam kolaborasi? (Misalnya) ternyata saya sudah bagus kemampuan komunikasi saya. Lalu apa tantangannya? (Contohnya) ternyata sebagai kolaborator saya masih kesulitan mengikuti deadline kelompok yang ketat,” jelasnya.

Lebih lanjut Najelaa mengungkapkan bahwa tidak ada satupun komunitas atau organisasi yang bisa secara mandiri menuntaskan permasalahan di Indonesia. Sehingga membutuhkan integrasi multi interdisciplinary yang seharusnya sudah menjadi cara berpikir para penggerak.

Dalam acara tersebut, beberapa mahasiswa juga mendapatkan berkesempatan untuk berbagi pengalaman praktik baiknya selama magang. Salah satunya Aditya Wicaksono, mahasiswa Universitas Negeri Malang, yang selama lima bulan terakhir ini berproses di YGB. 

Dari antara tiga pilihan posisi magang di YGB, yaitu penulis cerita, animator, dan desainer program, Aditya memilih untuk menjadi penulis cerita. Ia mendapatkan modul pedagogi pada awal magang dan menerima kompetensi spesifik sesuai posisinya tersebut.

“Sebagai intern kita tidak diperlakukan seperti intern karena diberi kepercayaan untuk terlibat langsung dalam project. Kita juga diberi kesempatan untuk mandiri, “ungkapnya.

Aditya mengaku mendapatkan banyak cerita dan inovasi guru yang sebelumnya belum pernah Ia bayangkan sebelumnya. Ia baru menyadari bahwa pendidikan adalah ekosistem yang luas. Bahkan melalui magang ini Ia mendapatkan inspirasi untuk membuat proposal penelitian.

“Untuk projectnya, kami (semua mahasiswa magang di tiga posisi) berhasil membuat modul pembelajaran. Sebenarnya sulit karena semua komunikasi dilakukan secara online. Namun akhirnya semua terselesaikan dengan baik tentu dengan bimbingan para mentor di YGB,” pungkasnya.

Tulisan ini telah tayang di
Kompas.com, Radarpekalongan.com, dan Kumparan.com.

About the Author

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: