Administrasi Menumpuk, Mengajar Saja Sudah Jadi Sibuk, Guru Masih Harus Belajar?

Erna Sugiarti: Narasumber kita malam ini adalah Rizqy Rahmat Hani, knowledge coordinator Kampus Guru Cikal, akrab dipanggil dengan Pak Rizqy. Beliau 7 tahun menjadi guru di sekolah menengah atas. 

Selain guru, beliau juga seorang youtuber yang mengembangkan saluran tentang pendidikan dan pengajaran, serta saluran apresiasi bakat murid. Bisa teman-teman ikuti di YouTube Channel: Rizqy Rahmat. Ide-ide kreatif pembelajaran beliau juga mengantarkan beliau menjadi narasumber di berbagai acara, termasuk diundang di TV lokal maupun nasional. 

Rizky Rahmat Hani: Sebelum saya sharing praktik baik belajar. Saya mau tanya, bagaimana dulu pertama kali masuk kelas? 

Erna Sugiarti: Deg-degan 

Teguh Prasetyo: Pertama kali, modal masih terbatas. Bawaan masih kaku, dan kurang memahami karakter siswa yang ternyata heterogen 

Wayan : Grogi jadi ngomong nya belepotan 

Rizky Rahmat Hani: Baiklah cukup yaaah manteman… 

Aku mau berbagi cerita dulu.. 

Aku masih ingat benar kapan pertama kali masuk kelas dan menjadi guru, Senin 11 Juli 2010. Saat yang sangat mendebarkan bagiku tentunya. Apalagi mengajar murid menengah atas. Namun kucoba untuk menenangkan diri. Sehari sebelum hari H sudah kupersiapkan semua, apa yang harus disampaikan, diawali dengan apa. Sudah kutonton juga film-film pendidikan seperti Laskar Pelangi dan juga Great Teacher Onizuka. Mencoba memposisikan diri menjadi bu Muslimah dan pak Onizuka. 

“Bisalah pasti!” aku mencoba menenangkan diri. 

Dengan kemeja keki dan sepatu pantofel, aku menuju kelas XI IPA 3. Kelas pertama yang bakal aku masukki. Sebelum menuju kelas itu, di perjalanan banyak murid kelas lain yang melihatku dengan pandangan aneh. 

“Halo Pak guru, baru ya di SMA Sragi?” tanya salah satu murid 

“Iya..” jawabku 

Pandangan anak-anak itu membuatku lebih gemetaran, keringat pun mulai bercucuran. Kelas yang dituju pun sudah di depan mata. 

“Selamat pagi..” sapaku membuka kelas. 

“Pagi Pak” yang jawab salamku hanya segelintir anak. 

Beberapa anak lain ada yang sedang main dan ngobrol di belakang kelas. Buyar sudah apa yang sudah aku rencanakan untuk pembukaan. 

Kelas menjadi riuh, beberapa murid mengobrol seenaknya, tertawa keras. Aku tak dihargai. 

Apa yang aku bayangkan asyiknya menjadi guru seperti Onizuka ataupun guru Muslimah dalam mengatur murid ternyata tidak. Di awal membuka kelas saja aku sudah tak dihargai. Apa yang harus aku lakukan? 

“Kesanku terhadap guru dihancurkan oleh siswa-siswa yang tak menganggapku ada di depan kelas” 

Sepulang mengajar aku benar-benar frustasi. Ternyata sulit menjadi guru. Mengondisikan siswa saja aku tak bisa. Hari-hari penuh derita pun aku jalani saja. Masuk kelas – menyampaikan materi – dicuekin murid – memberikan tugas – pulang. Begitu seterusnya, tiap hari, tiap bulan. 

Sampai akhirnya ada seorang muridku yang nyeletuk “Bisa ngajar nggak Pak!”. Kata-katanya walau terdiri atas beberapa kata saja, menukik dan menancap dalam hatiku. Ia membuatku sakit. 

Salah satu yang membuatku kesulitan dalam mengajar adalah keterampilanku dalam berbicara. Aku sendiri adalah orang yang introvert dan jarang berbicara di depan umum. Padahal profesi guru mengharuskanku memiliki keterampilan itu. 

Ada satu kisah yang menunjukkan bahwa berbicara adalah kelemahanku. Saat kuliah semester 5 ada pembelajaran bernama retorika, pembelajaran yang melatih untuk berbicara. Mungkin salah satu mata kuliah dasar menjadi guru. Bahwa guru memang dituntut menguasai itu. Namun karena dasarnya kurang berminat, maka tidak pernah memperhatikan saat kuliah berlangsung. 

Permasalahan timbul saat ujian praktik berbicara di depan kelas dilihat oleh dosen dan mahasiswa lain. Aku tak bisa berbicara apa-apa, waktu 5 menit untuk aku bicara hanya terucap “Assalamualaikum…” selebihnya adalah diam, dan mencoba merangkai kata namun selalu gagal. Alhasil, nilaiku D di mata kuliah retorika, itu artinya harus mengulang lagi tahun depan. 

Dan itu terjadi lagi saat aku menjadi guru. Kadang ada rasa menyesal, mengapa dulu waktu kuliah tidak benar-benar belajar. Ah rasanya ingin kembali ke masa-masa itu. Ingin benar-benar memperhatikan dosen, membaca buku tentang berbicara. Aku tak mau lagi terlihat tidak profesional di depan anak-anak. Gagap bahkan terlihat tidak bisa menguasai kelas. 

“Apa bisa ya kemampuan berbicara itu ditingkatkan?” tanyaku pada salah satu teman. 

“Bisa kok, coba deh Kamu tonton film The King Speech” 

Film The King’s Speech bercerita tentang Duke of York (raja George VI) yang menggantikan ayahnya raja George V. Sebagai pimpinan tertinggi ia harus sering berbicara dengan rakyat atau bawahannya baik dengan pertemuan langsung ataupun pidato.Masalahnya adalah ketika berbicara ia gagap, gugup dan selalu mandi keringat. 

Menonton adegan awal saja sudah membuatku tersenyum. Seperti layaknya diriku yang mengajar di depan kelas. Melihat hal tersebut banyak cara ia lakukan agar ia bisa terampil berbicara, mengundang dokter hingga psikiater profesional. Berbagai metode dari dokter dan psikiater tersebut tak mempan. Ia masih gagap. Sampai adegan ini aku mengiyakan apa yang aku pikirkan sebelumnya “Nah bener kan, nggak bisa keterampilan berbicara itu ditumbuhkan. Bawaan lahir”. 

Film terus berlanjut. 

Akhirnya istrinya membawa Lionel Logue seorang psikiater yang sebenarnya tidak memiliki sertifikat psikiater. Lionel sebenarnya adalah seorang aktor yang sudah tak laku, ia membuka praktek terapi bicara untuk tentara Inggris pada perang dunia I. Dengan terapi yang Lionel berikan secara berkala, Duck of York mampu mengatasi kegagapan dalam berbicara. 

Aku mulai menyadari bahwa kemampuan berbicara bisa ditumbuhkan, yaitu dengan latihan- latihan. Selanjutnya aku merancang program latihan berbicara yaitu menggunakan media Facebook dan Youtube. Dua media tersebut aku gunakan untuk mengunggah video-video latihan berbicaraku. Jadi konsep videonya adalah sebagai pembicara aku akan berbicara apa saja selama 10 menit di depan kamera, tanpa dipotong, tanpa jeda, nge-roll berbicara selama 10 menit. Di akhir aku akan melihat bagaimana caraku berbicara, dari keefektifan kalimat, pemilihan diksi hingga gayaku berbicara. Kemudian aku unggah ke facebook dan youtube untuk mendapat umpan balik dari penonton videoku. 

Umpan balik itulah yang menjadi catatanku dan akan aku gunakan sebagai acuan untuk perbaikan caraku berbicara di video episode berikutnya.Berkat acara itu pulalah aku mulai sedikit bisa berbicara, tidak gagap dan gemetar lagi kalau di depan kelas. 

Dari cerita ini, point utamanya adalah belajar. Belajar yang bukan sekadar belajar. Kenapa bukan sekadar belajar? Karena belajar selama ini juga banyak salah kaprahnya. Di antaranya adalah : 

1. Guru cuma belajar kalau dia dapat insentif, motivasinya eksternal. 

https://www.facebook.com/watch/?v=1689909134642453 

2. Guru cuman bisa belajar dari pakar atau ahli 

https://www.facebook.com/watch/?v=1690357227930977 

3. Guru cuma belajar cara/resep

https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/videos/1691003331199700/

4. Guru belajar tidak butuh waktu lama 

https://www.facebook.com/watch/?v=1691985334434833 

5. Guru bisa belajar sendirian 

https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/videos/vl.139859363198931/1691985334434833/

Di Kampus Guru Cikal, kami menyebutnya untuk melawan miskonsepsi di atas adalah menjadi Guru Merdeka Belajar. Di Kampus Guru Cikal menyebutnya adalah Guru Merdeka Belajar. 

TERMIN DISKUSI 

Nur Hamidah: 

Langkah awal apa untuk mengertikan rekan guru untuk sadar bahwa guru itu juga perlu belajar 

Karena dari pengamatan saya masih banyak guru yang mengajar karena motivasinya intensif dan akhirnya yang menjadi korban siswanya, mengajar tidak sepenuh hati istilah jawane sak karepe dhewe leh mulang matur suwun (mengajar seenaknya sendiri) maafkan kalau bahasanya campuran. 

Rizky Rahmat Hani: Jika diibaratkan guru ya seperti murid. Sekolah sering memaksa guru untuk ikut pelatihan A, ikut pelatihan B, ikut pelatihan C. Sama halnya ke murid, kita (guru) sering memaksa murid belajar A, murid belajar B, murid belajar C. Bagaimana membuat murid bisa sadar bahwa belajar bisa menyenangkan, kalau kita sering memaksa belajar hal yang bagi murid nggak menarik? Bagaimana membuat guru bisa sadar belajar, kalau pelatihan yang ada tidak sesuai kebutuhannya? 

Sama halnya murid yaitu dengan cara dipahami. Guru pun perlu dipahami. Buat program-program di sekolah yang sesuai minat guru, dan kemudian dihubungkan dengan belajar. Observasi minat guru, petakan minat guru. 

Kadang yang kita lakukan ketika ada rekan guru yang sulit untuk belajar. Menjauhinya, udah nyerah ngajak tapi nggak pernah pakai metode berbeda beda. Sama halnya murid, coba bayangkan murid yang malas belajar. Dijauhi dan terus pakai metode yang sama, murid tidak akan mau belajar. 

Langkahnya, dengan memahaminya 

Zanah: Bagaimana caranya agar sebagai guru selalu punya motivasi belajar demi perbaikan pembelajaran di kelas? 

Resah dan kadang jenuh sebenarnya sudah saya rasakan. Saya sadar bahwa pembelajaran yg saya berikan ke siswa kadang membosankan, saya ingin mengubah itu hanya harus dimulai darimana ya Bu, apalagi saya ibu dg anak yg masih kecil. Terimakasih 

Rizky Rahmat Hani: Kalau saya pribadi menumbuhkan rasa resah saya, dengan refleksi. Saya ajak murid saya untuk menuliskan apa yang dirasakan murid-murid ketika diajar saya. Waktu itu banyak banget yang menuliskan hal yang kurang. Dari situ, saya sadar belum menjadi guru yang baik. 

Jadi bisa mulai dilakukan ke bapak ibu guru, hal yang sederhana ini. Coba berikan murid sebuah kertas untuk menuliskan apapun kesan mereka setelah diajar oleh Bapak/Ibu. Tapi jangan baper kelamaan yah setelah membacanya.. hehehe.Baper bentar, habis itu mulai berusaha berubah dengan belajar.

Keresahan itu adalah langkah awal. Bayangkan Bu, kalau guru sudah mengajar membosankan, mengajar membuat murid jenuh, tapi nggak merasa. Hehehe. Itu yang bahaya. Ibu sudah punya modal berubah, dan Komunitas Belajar ini adalah langkah awal untuk bisa memulai berubah. 

Bisa mulai ikut Temu Pendidik mingguannya kayak gini, bisa membaca Surat Kabar Guru Belajar. 

Iffah Salsabila: Saya ingin bertanya pak setelah dibilang muridnya seperti itu adakah rasa minder dalam mengajar? Padahal tugas nya juga ditambah administrasi setumpuk dan tidak hanya mendidik. Bagaimana mengatasi nya pak? Apakah menyelesaikan tugas mengajar mendidik atau administrasi terlebih dahulu. Terimakasih 

Rizky Rahmat Hani: Minder itu jelas. 

Tapi jangan kelamaan. Jadikan kayak cambuk, yang kemudian bisa buat kita belajar. Obat itu pahit, tapi menyembuhkan. 

Saya selalu meluangkan waktu di sela-sela mengajar saya untuk mengerjakan administrasi. Jadi dalam seminggu ada banyak jam yang bisa digunakan. 

1. Jam sela mengajar
2. Jam sepulang mengajar
3. Jam malam 

Saya selalu menyediakan waktu barang 30 menit untuk itu semua Bu, belajar dan menyiapkan administrasi 

Iffah Salsabila: Indikator akhirnya menjadi guru yang menyenangkan atau disukai murid seperti apa pak? 

Rizky Rahmat Hani: Hahahaha apa ya. 

Pertanyaannya susah… heheh. Kalau aku pribadi, indikatornya ya selalu dinanti pengajarannya, dan murid mengimplementasikan apa yang kita ajarkan di kehidupannya.

Erna Sugiarti: Sebagai guru, kadang memahami diri sendiri butuhnya apa juga kadang ada kendala pak. Bagaimana kita tahu kebutuhan belajar kita yang sebenarnya apa untuk mengajar pak? Terima kasih 

Rizky Rahmat Hani: Refleksi murid tersebut saya selalu gunakan sebagai dasar. Aku coba kasih contoh ya. 

Misalnya muridku menulis “Pak Rizqy kalau ngajar masih milih-milih anak” berarti aku butuh belajar cara memahami anak. Lagi, “Pak Rizqy kalau ngasih ulangan bikin pusing,” nah dari situ aku perlu belajar asesmen yang mengasyikkan. Jadi refleksi/penilaian murid itu penting banget jadi dasar buat tahu kebutuhan belajarnya apa. 

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: