Apa Bisa Guru Menjadi Pembicara?

Penulis : bukik | 12 Aug, 2018 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Kebanyakan kegiatan pendidikan menempatkan guru sebagai peserta dan tidak memberi kesempatan guru menjadi pembicara. Apa bisa guru menjadi pembicara?

Satu minggu ini adalah minggu yang padat sekali. Meski biasanya juga padat, tapi intensitas minggu ini meningkat. Penyebabnya ada perubahan-perubahan yang tidak diperkirakan semula. Tiba-tiba ada dua kali jadwal presentasi di dinas pendidikan, ada dua jadwal pertemuan yang dialihkan. Belum lagi isu pergantian orang. Sekian curhatnya 🙂

Lebih dari semuanya, pusat perhatian minggu ini adalah pendaftaran pembicara Temu Pendidik Nusantara telah dibuka. Apa yang menantang?

Ekosistem pendidikan kita tidak banyak memberi kesempatan pada guru untuk menjadi pembicara. Silahkan cek seminar, pelatihan dan lokakarya pendidikan di lingkungan Anda. Jangankan acara yang mengusung topik pendidikan, acara yang mengusung topik guru sekali pun jarang memberi kesempatan pada guru untuk menjadi pembicara. 

Guru lebih sering diposisikan sebagai obyek yang cukup menjadi peserta di berbagai acara pendidikan. Duduk, diam, dengarkan, dan laksanakan sesuai petunjuk. Begitu seringnya diperlakukan sebagai obyek, kebanyakan guru sampai berkeyakinan bahwa mereka hanya bisa belajar dari pakar atau ahli pendidikan, bukan dari sesama guru. Satu dari 5 salah kaprah guru belajar.

Bahkan di sekolah yang dikenal maju pun, kebanyakan pembicara tetap saja sebatas menghadirkan pemimpin sekolah (kepala sekolah, wakil, atau koordinator) dan mengesampingkan guru untuk mendapat kesempatan berbicara. Di beberapa Komunitas Guru Belajar pun masih seperi itu, menyilahkan pembicara yang tidak pernah mengajar di kelas untuk mengajari guru mengajar di kelas. Ibarat meminta mengajar memasak kepada orang yang tidak pernah memasak *eh

Seolah-olah guru boleh jadi pembicara di kelasnya sendiri, tapi jadi tak berarti apa-apa di luar kelas. Guru bisa bicara apa saja di kelasnya sendiri, tapi tidak perlu berkata apa-apa di luar kelas.

Di tengah situasi tersebut, Temu Pendidik Nusantara memberi kesempatan pada guru untuk menjadi pembicara. Coba bayangkan situasi kelas kebanyakan di akhir pertemuan, guru melontarkan “apa ada pertanyaan?” dan semua hening, kemudian tiba-tiba ada seorang murid yang mengangkat tangan dan berkata “saya ada pertanyaan”. Sontak saja murid-murid melemparkan pandangan aneh ke murid tersebut. “Duh nambah waktu deh”. “Halah sok cari muka ke guru”. “Ini kenapa sih…aneh banget”. 

Begitulah situasi yang dihadapi Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar sebagai penyelenggara Temu Pendidik Nusantara dari tahun ke tahun. Kami membiasakan diri untuk dipandang aneh, meyakinkan pemimpin pendidikan bahwa guru layak menjadi pembicara hingga membangun kepercayaan diri guru. 

Situasi tahun ini mungkin tidak seberat beberapa tahun sebelumnya, ketika TPN pertama kali mengumumkan undangan terbuka kepada pada guru untuk menjadi pembicara. Komunitas Guru Belajar telah tumbuh berkembangan di banyak daerah dengan kecepatan pertumbuhan yang beragam. Dinamika Komunitas Guru Belajar telah melahirkan banyak pembicara, penulis, desainer dan pembuat konten lainnya. Namun, suasana ekosistem keguruan masih tetap belum banyak berubah. 

Lalu mengapa Temu Pendidik Nusantara tetap nekat membuka kesempatan pada guru untuk menjadi pembicara?

Karena Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar percaya bahwa pengembangan guru tidak sebatas melatih kompetensi guru. Pengembangan guru secara utuh melibatkan guru sebagai murid sekaligus sebagai guru.  Belajar itu lengkap ketika kita tidak selalu jadi guru, tidak selalu jadi murid. Semua murid semua guru.

Karena Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar telah menemukan banyak bukti guru menjadi pembicara yang pantas dan asyik buat disimak. Sekian banyak Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Daerah, dan Temu Pendidik Regional menunjukkan lahirnya pembicara dari kalangan guru. Lima belas edisi Surat Kabar Guru Belajar dan tiga terbitan buku menunjukkan bukti betapa luarbiasanya strategi pengajaran yang telah dilakukan di ruang kelas. Ruang-ruang kelas yang manusiawi, penuh tantangan belajar yang bermakna.

Karena Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar percaya bahwa Temu Pendidik Nusantara sudah sepatutnya menjadi kerangka pengembangan guru secara utuh. Inilah ajang yang memberi pilihan pada guru, menjadi pembicara, menjadi peserta atau menjadi keduanya. Guru menjadi pembicara pun ada pilihan kelas yang bisa dipilih guru sesuai tahap perkembangan profesinya.

Di Temu Pendidik Nusantara, guru hadir bukan karena dipaksa belajar, tapi karena memilih untuk merdeka belajar. Dan itu yang menjadi keunikan utama TPN dibandingkan konferensi pendidikan yang lain, bahkan dibandingkan konferensi pendidikan internasional sekali pun.

Saya cuplikan sebuah kesaksian yang dimuat di Surat Kabar Guru Belajar edisi ke-13,

“Saya sedang di kelas S1K112. Barusan Bu Betha dari Alifa Kids memaparkan praktik cerdasnya. Sesekali berhenti dan melihat catatan. Di tengah-tengah, bu Betha berhenti untuk minta maaf. “Mohon maaf Bapak Ibu, saya sedang belajar. Sekali lagi saya minta maaf.” Peserta lain sontak bertepuk tangan. Byar…., air mata saya tumpah. Di depan ada seorang guru yang sedang menunjukkan usaha terbaik, di antara guru-guru yang sepenuh hati mendukungnya. Subhanallah, indah banget ….”. Tulisan Guru Irmayanti, salah seorang peserta Temu Pendidik Nusantara 2017 menggambarkan bagaimana esensi Kelas Kemerdekaan. Tempat mendapatkan inspirasi, tempat untuk saling belajar.

Apa Bisa Guru Jadi Pembicara? Bisa! 

Daftar menjadi Peserta di
Temu Pendidik Nusantara 2018

About the Author

One thought on “Apa Bisa Guru Menjadi Pembicara?”

Leave a Reply

%d bloggers like this: