Apa Peranan Orangtua dalam Mendidik Anak di Era Disrupsi?

Penulis : Agus Riyanto | 25 Sep, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Solo Raya

Dunia saat ini berada dalam masa peralihan yang begitu dinamis. Perubahan ini lebih familier kita sebut era disrupsi. Banyak hal yang kemarin baru saja berubah, saat ini sudah berubah lagi, dan beberapa saat kemudian perubahan itu semakin tak terbendung. Perubahan tersebut otomatis juga terjadi pada dunia pendidikan. Bagaimana Komunitas Guru Belajar menyikapi hal ini?

Yuk simak liputan dari KGB Solo Raya on Air di Ria FM Solo!

Sahabat Ria yang berbahagia, perubahan zaman adalah keniscayaan. Disrupsi artinya tergantikannya semua hal dengan yang baru. Termasuk didalamnya juga peran orang tua/ guru dalam mendidik anak. Komunitas Guru Belajar justru hadir untuk menjawab semua hal tersebut. Mengubah paradigma belajar pola lama dengan paradigma baru dan masa depan. Dengan prinsip belajar siapapun bisa menjadi guru dan dimanapun bisa menjadi kelas, kami berusaha memanfaatkan segala hal yang ada saat ini untuk meramu dan merajut masa depan pendidikan. Hal yang paling mudah kita manfaatkan di era disrupsi ini adalah keberadaan internet dan gawai (gadget). Hampir semua orang sudah memiliki akses untuk kedua hal tersebut. Bagian inilah yang juga menjadi perhatian KGB untuk dioptimalkan dalam mendidik anak.

Orangtua dan Guru Terhadap Gawai

Keberadaan gawai dan internet memang sangat membantu dalam banyak hal. Kita bisa mengakses apapun, dimanapun, dan kapanpun. Disisi lain fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, banyak kita jumpai anak yang justru lebih dekat dengan gawai terutama untuk game dari pada dengan orang tuanya sendiri. Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua/ guru?

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam pemanfaatan gawai dan internet oleh anak-anak kita. KGB mengajak sahabat Ria menyimak pengakuan dari tokoh-tokoh pembuat teknologi dunia dalam memperlakukan anak-anaknya.

  1. Bill Gates – Founder of Microsoft Corporation. Beliau tidak memberikan akses (screen time) kepada anaknya hingga anaknya berusia 14 tahun. Hal ini agar anaknya mendapat waktu tidur yang semestinya.
  2. Steve Jobs – CEO of Apple Inc. Beliau membatasi screen time pada anaknya. Bahkan menurutnya terlalu banyak mengakses gawai adalah hal yang buruk. Kebiasaan keluarganya adalah makan malam bersama dan diskusi tentang buku dan sejarah.
  3. Mark Zuckerberg – CEO of Facebook. Beliau lebih menginginkan anak-anaknya bermain di taman dan melihat indahnya bunga-bunga. Hal ini disebabkan masa kecil hanya sekali dalam hidup, dan saat dewasa mereka tidak bisa mengulanginya.
  4. Evan Williams – CEO of Twitter. Beliau menerapkan aturan yang ketat pada anak-anaknya. Bahkan beliau lebih memilih membelikan buku dibanding tablet (gawai).

Sahabat ria, dari beberapa pernyataan beberapa tokoh disrupsi tersebut, kita harus bisa belajar bahwa ada batasan akses gawai oleh anak-anak kita. Jangan sampai kita memberikan akses berlebihan dan atau jangan sampai kita justru membiarkan mereka mengakses gawai tanpa kendali.

Pola Asuh Orang Tua

Sangat menarik saat mendengarkan pengakuan tokoh-tokoh penguasa jagat teknologi saat ini. Mereka justru memperlakukan anak-anaknya seperti orang tua zaman dulu. Mereka justru meminta anak-anaknya untuk bermain, membaca buku, dan tidur yang cukup. Bagaimana KGB melihat hal ini?

Sahabat Ria, kami di KGB selalu percaya bahwa pengalaman adalah hal terbaik. Kami menyebutnya sebagai praktik cerdas. Pengakuan tokoh-tokoh tersebut tentu harus kita yakini, karena mereka pembuat dan pasti tahu resiko-resiko gawai dan internet saat diakses oleh anak-anak. Dampak buruk yang ditimbulkan oleh keberadaan gawai dalam pola asuh dan pendidikan anak harus kita antisipasi sedini mungkin. Sebagai orang tua/ guru kita harus bisa memanfaatkan internet dan gawai untuk mendidik anak. Keberadaannya harus kita manfaatkan untuk memperoleh banyak informasi agar tidak salah melangkah. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan:

  1. Batasi akses gawai kepada anak-anak, bahkan jangan sampai mereka mengakses sendiri.
  2. Upayakan keberadaan kita (guru/orang tua) pada setiap kegiatan mereka.
  3. Arahkan anak untuk gemar membaca buku
  4. Pancing kreativitas anak dengan mengeksplor benda-benda sekitar untuk dijadikan mainan atau benda yang lebih bermanfaat
  5. Ajak anak berdiskusi tentang hal-hal sederhana.
  6. Pancing anak untuk bercerita tentang keseharian dan apa yang mereka rasakan.
  7. Ajak mereka bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
  8. Beri contoh dengan tidak menggunakan/ batasi penggunakaan gawai ketika berada di dekat anak
  9. Ajak anak untuk bebrbicara tentang efek dari gawai sesuai usianya.

Kerjasama Pengendalian Penggunaan Gawai

Sahabat Ria, upaya pengendalian penggunaan gawai oleh anak, tentu akan menuai hasil optimal jika terjadi kerjasama yang solid antar pihak yang berada di lingkungan sekitar anak. Dalam hal ini orang tua, guru, pengasuh, keluarga lain seperti bibi, paman, kakaek, atau nenek juga perlu sama-sama memiliki satu pemikiran dan bersama-sama berkomitmen untuk menghindarkan anak dari efek kecanduan gawai yang sangat membahayakan anak. Jika kerjasama  ini dapat berjalan baik, maka bukan tidak mungkin anak akan lebih mudah untuk dididik di tengah gencarnya perubahan era disrupsi ini. Manfaat yang dapat dirasakan antara lain

1. Anak lebih dekat dengan keluarga

Hal ini dikarenakan banyak waktu anak untuk berinteraksi dengan keluarga  dalam segala aktivitas daripada berada di depan layar gawai.

2. Orang tua lebih mudah membangun kelekatan dengan anak

Kelekatan anak dengan orang tua sangat dibutuhkan di tengah derasnya arus disrupsi untuk mencegah efek negative daripadanya. Melalui kelekatan ini peran ortu melalui pendidikan dalam keluarga dapat menanamkan norma kehidupan yang akan menjadi filter bagi anak menghadapi kehidupan. 

3. Orang tua akan dan anak akan lebih mudah mengungkapkan pemikiran dan perasaan

Tanpa kecanduan gawai baik ortu maupun anak akan lebih mudah menyampaikan pemikiran and perasaan.

4. Terjadi kontak mata dan kontak fisik sebagai arti kasih sayang dalam keluarga

Keluarga adalah tempat pertama dan utama dalam pendidikan awal anak, di mana didalamnya anak akan belajar pola interakasi sosial. Belajar tentang bagaimana proses stimulus dan respon dalam berinteraksi sosial aktivitas non gawai dapat menjadi arena belajar yang sangat baik bagi pertumbuhan sosial anak.

5. Anak lebih konsentrasi dalam belajar sesuai perkembangannya.

Anak yang tidak kecanduan gawai tentu akan lebih mudah berkonsentrasi dalam belajar, memahami tujuan belajarnya, dan tahu apa yang menjadi tugas belajarnya.

Sahabat Ria, demikian kompleksnya efek gencarnya perubahan di era disrupsi bagi perkembangan anak. Tentu semua akan menjadi baik jika kita sebagai orang tua, guru, atau orang yang  yang berada di lingkungan sekitar anak turut mengambil bagian dalam upaya menyelematkan anak dari efek negatif gawai.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: