Apakah Kegiatan Literasi di Sekolah Bisa Berdampak pada Murid?

Penulis : Wahyu Hidayat | 26 Sep, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Pekalongan, Temu Pendidik Daerah

Hari Minggu adalah hari yang ditunggu bapak/ibu guru, karena ada mudik (temu pendidik) dengan konsep yang asik dan menarik. 17 Maret 2019, pagi itu gerimis datang tetapi tidak menyurutkan semangat bapak/ibu guru untuk belajar di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan bersama guru Nazilatul Khusna dan guru Zidnil Karomah. Temu pendidik dengan tema “Kegiatan Literasi Bermakna” merupakan temu pendidik yang ke-23 yang dilaksanakan oleh KGB (Komunitas Guru Belajar) Pekalongan.

Nazilatul Khusna adalah guru di SD Baitussalam 01 Pekalongan yang menyampaikan materi tentang “Membangun Budaya Literasi di Sekolah.“ Tahun 2018 yang lalu, di sekolah saya baru memulai kurikulum 2013. Tetapi dengan adanya kurikulum tersebut, justru menjadi keresahan bagi guru. Terlebih guru kelas satu dan empat, karena di dalam kurikulum 2013, terdapat program yang mewajibkan anak setiap harinya harus membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Okey, jika membaca 15 menit diterapkan di kelas empat, ya memungkinkan saja, karena murid-murid sudah bisa membaca dengan lancar. Namun, jika hal itu diterapkan di kelas satu, bagaimana? Susah! Apalagi untuk murid yang belum bisa membaca. Jangankan membaca, hampir keseluruhan murid belum hafal huruf. Duh, bagaimana coba?!”, paparnya.

D:\tpd\IMG-20190320-WA0009.jpg

Peserta mudik sangat antusias mendengarkan pemaparan bu Nazil tentang keresahannya dalam menghadapi kurikulum K13. Mengenai program literasi, beliau tidak menggembar-gemborkan apa itu literasi kepada murid-muridnya. Tetapi, sebisa mungkin beliau mencoba untuk memperkenalkan program literasi di sekolah. “Apa sih literasi itu? Apakah hanya sekedar membaca? Apakah dengan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran akan berdampak pada murid?” Guru Nazil memulai materinya dengan bertanya tentang literasi dan membuka sudut pandang peserta mudik tentang literasi.

“Tantangan terbesar di kelas bagi saya adalah menjelaskan materi. Terlebih masih ada beberapa murid kelas dua belum lancar membaca, dan juga ada yang malas sekali menulis. Saya sering kewalahan ketika menyampaikan materi. Suatu hari ketika pelajaran bahasa Indonesia, saya mengajak murid-murid mengunjungi perpustakaan. Kemudian saya menyuruh mereka mengambil buku cerita, lalu menugaskan untuk membuat rangkuman terhadap apa yang sudah mereka baca. Sebelumnya saya telah menjelaskan berkali-kali materinya, tetapi setelah saya menyuruh mereka demikian, hasilnya nihil alias gagal. Hanya beberapa murid saja yang paham. Dari situlah saya mulai berpikir. Aduh bagaimana ya? Apakah ada yang salah dengan cara saya? Atau jangan-jangan macam literasi itu banyak”, kata beliau.

Beliau melanjutkan ceritanya: “Saya mencoba menelusuri dengan mengikuti temu pendidik di KGB Pekalongan dan bertanya-tanya kepada guru-guru saya juga. Ternyata, literasi itu sangat luas. Makna literasi sesungguhnya adalah belajar. Literasi tidak hanya sekedar membaca, menulis pun termasuk literasi. Nyatanya kemampuan membaca dan kemampuan menulis sangat erat hubungannya. Membaca tanpa menulis, maka akan mengakibatkan lupa. Sedangkan menulis tanpa membaca, maka proses menuliskannya tidak akan berkembang”.

Melalui ilmu yang diperolehnya beliau langsung mencoba mengaitkan antara kemampuan membaca dan kemampuan menulis murid. Dalam materi yang disampaikannya, beliau bercerita tentang salah satu siswanya yang bernama Tiara: “Tiara adalah anak pendiam dan selalu menjadi bahan perbincangan anak-anak karena nilainya selalu saja rendah. Memang, kemampuannya dari awal kelas satu berada di bawah rata-rata teman-temannya. Namun, Alhamdulilah dia bersikap biasa-biasa saja atau cuek ketika diejek temannya. Setelah kelas dua, saya mengamati bahwa dia sudah mengalami perubahan dalam hal membaca. Kemampuan membacanya hingga sekarang cukup baik. Akan tetapi, ketika disuruh menulis dia belum sempurna, walaupun dia hanya menyalin tulisan saya di papan tulis. Mengapa masih saja salah-salah? Ini nih menjadi bagian penting dari literasi. Korelasi antara membaca dan menulis harus diperhatikan”.

Beliau berusaha untuk menyelesaikan permasalahan mengenai miskonsepsi literasi selama ini. Beliau melanjutkan ceritanya: “Suatu ketika, mata pelajaran bahasa Indonesia membahas tentang puisi. Setelah selesai menjelaskan dan memberi beberapa contoh puisi, saya mencoba memberikan tugas kepada murid-murid untuk membuat puisi bertema ibu. Membebaskan imajinasi mereka sendiri. Saya berjalan dari meja ke meja guna melihat kreasi murid-murid. Beberapa murid merasa kebingungan menuliskan hingga saya pun akhirnya membantu menyebutkan kata-kata. Akan tetapi, beberapa murid yang lain ada pula yang berusaha sendiri, termasuk Tiara (anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menulis dengan benar). Hasil karya Tiara membuat saya takjub. Berikut karyanya:

Kemudian beliau mengakhiri ceritanya: “Ternyata dibalik kekurangan Tiara yang demikian, nyatanya dia mampu menuliskan kata-kata mesra untuk ibunya. Disitulah saya tersadar bahwa kemungkinan daya mengarangnya cukup baik. Dia mampu berimajinasi. Nah, itu merupakan proses literasi lhoo…!! Literasi bukan sekedar memahami huruf abjad. Tapi proses merangkai kata pun bisa”.

Guru Nazil pun menutup pembahasannya dengan memberikan sebuah kalimat bermakna: “Dunia sekarang cepat sekali berubah. Jika saya tidak MEMULAI, maka saya akan TERTINGGAL”.

Peserta temu pendidik sangat antusias mendengarkan pengalaman beliau dalam melaksanakan praktik pembelajaran di kelas. Selanjutnya, materi disampaikan oleh guru Zidnil Karomah yang merupakan guru di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan. Guru Zidnil menyampaikan materi “Literasi Asik, Ajak Anak Aktif”.

Literasi sering dihubungkan dengan kegiatan membaca. Membaca merupakan kata kerja yang sering dipasangkan dengan objek berupa buku. Apakah literasi itu lingkupnya hanya kegiatan membaca buku? tentu semua sepakat jawabannya TIDAK. Ketika program literasi di sekolah hanya terpusat pada aktivitas siswa untuk membaca 15 menit di awal pembelajaran saja, kemudian mencatat halaman buku yang telah selesai mereka baca di kartu baca (literasi), maka kegiatan tersebut lama-lama akan membosankan. Guru akan menjumpai siswa yang lebih senang bercerita dengan teman-temannya dibandingkan membaca buku cerita mereka.

Bagaimana usaha guru sebagai pendidik untuk membuat kegiatan literasi yang asik, yang bisa mengajak mereka untuk aktif? Beliau menjawab: “ Salah satu usaha yang saya lakukan adalah mengajak siswa untuk membaca tetapi melalui video. Video tersebut berupa cerita pendek (kartun animasi) yang ada subtitlenya dalam bahasa Inggris. Saya mendapatkan video tersebut dari youtube. Banyak sekali jenis videonya, oleh karena itu kita juga harus menyesuaikan dengan tema atau materi yang akan kita sampaikan”.

D:\tpd\IMG-20190320-WA0006.jpg

Kemudian beliau menampilkan video dan mengatakan: “Saya menggunakan video yang berjudul “The Old Lion and the Fox”, ketika saya harus mengajarkan materi tentang hewan (animals). Pertama, saya putarkan full video tersebut. Siswa tampak antusias mengamati dan mendengar cerita dari video yang diputar. Setelah itu, saya ajak mereka untuk berdiskusi tentang isi ceritanya, kira-kira tentang apa?”

Di awal sebagian jawaban siswa adalah hasil dari pengamatan gambar videonya saja, yaitu siswa belum memahami arti dari bacaan cerita bahasa inggris tersebut. Dari informasi yang siswa dapatkan, semua ditampung untuk selanjutnya dirangkai bersama-sama menjadi cerita yang utuh. Termasuk didalamnya mempelajari beberapa kosakata dalam bahasa Inggris (nama-nama hewan) yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Anak-anak menjadi aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan guru. 

Kemudian, video tersebut diputar lagi dengan catatan siswa ikut membaca subtitle bahasa Inggris yang ada di bawahnya. Siswa aktif membaca dan menirukan teks cerita yang mereka lihat. Untuk membuat siswa lebih antusias lagi, guru Zidnil mengajak siswanya untuk membaca dengan mengubah suara tokoh-tokoh yang ada di video. Misalnya untuk suara singa (lion) mereka membaca dialognya dengan suara besar, seperti suara raksasa, sedangkan untuk rubah (fox), dibaca dengan suara kecil, seperti suara anak kecil, dll. Ternyata dengan cara ini, kegiatan literasi menjadi lebih asyik dan mengajak siswa aktif. Siswa bisa belajar membaca bahasa Inggris dengan pelafalan (pronounciation) yang benar, mengenal kosakata baru dengan cara menganalisanya lewat tayangan gambar video dan mengolah informasi serta dapat menceritakannya kembali.

Pada kesempatan yang lain, untuk mengajarkan percakapan (conversation) dalam bahasa inggris beliau memanfaatkan video yang didownload dari youtube. Beliau menggunakan video “May I take your order?”

untuk mengajarkan cara menanyakan pesanan makanan dan cara memesan makanan. Dalam pembelajarannya guru Zidnil dan siswa belajar bermain peran (role play) berdasarkan video tersebut. Dialog masing-masing tokoh yang diperankan juga diubah suaranya. Ada yang menjadi suara anak kecil, orang dewasa laki-laki atau perempuan, bahkan suara kakek atau nenek. Setelah bermain peran, kegiatan selanjutnya adalah menganalisis bagaimana cara meminta atau memberi barang, kosa kata baru apa saja yang kita dapat, dsb.

Setelah siswa meniru contoh percakapan yang ada di video, mereka berkolaborasi dengan temannya untuk bermain peran menjadi penjual dan pembeli. Mereka juga bisa mengganti objek benda/ makanan/ minuman yang akan diperjual belikan. Sebagai tugas praktik untuk kelas 5 dan kelas 6, terkadang guru Zidnil meminta siswa untuk mendokumentasikan (bentuk video) tugas bermain peran (role play) tersebut di rumah. Kemudian mereka mengirimkan hasilnya untuk penilaian praktik. Refleksi dari kegiatan tersebut siswa senang karena hobi mereka yang sering membuat video seperti tik tok, ngevlog, mengedit foto dan video bisa disalurkan lewat penugasan seperti yang didesain beliau.

C:\Users\wahyu pc\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20190320-WA0015.jpg

Untuk tingkat kelas 1 dan 2, kegiatan literasinya lebih sering dikemas dalam bentuk lagu. Jika memungkinkan dengan menambahi gerakan sederhana (body language) untuk mendukung pesan dari lagu tersebut. Beliau bernyanyi dan menari bersama. Kegiatan itu pun dilakukan bersama dalam kegiatan temu pendidik kali ini. Suasana menjadi pecah dan terlihat ekspresi  bahagia dari peserta mudik yang hadir. 

Pembahasan dari beliau mengenai literasi ditutup dengan melalui sebuah pesan: “Prinsip saya dalam mengajar jika kita ingin anak kita aktif, kita juga harus aktif; jika kita ingin mereka percaya diri, maka kita juga harus percaya diri di depan mereka, dst. Saya tidak malu, ketika saya harus bercerita/ berperan sebagai nenek-nenek atau anak kecil didepan mereka, dsb. Because A teacher is a role model for the students. Mendidik mereka sesuai zamannya akan memudahkan kita untuk mendampingi mereka belajar”.

D:\tpd\IMG-20190320-WA0008.jpg

Setelah kedua narasumber menyampaikan materinya, kegiatan selanjutnya adalah bermain board game bersama Pak Nuno. Guru-guru mempraktikkan beberapa board game dan diajak untuk memahami makna atau pesan yang dapat diambil dari bermain beberapa board game. Kemudian, Pak Nuno menceritakan pengalaman rekannya bermain board game “Kecoa Attack” bersama anak-anaknya. Saat itu, Pak Nuno mendapatkan kiriman video temannya sedang bermain board game tersebut. 

Salah satu aturan dalam permainan tersebut adalah jika pemain berhasil menangkap kecoa, maka pemain tersebut mendapat pelukan dari pemain lainnya. Temannya Pak Nuno, pada saat bermain board game tersebut, beberapa kali berhasil menangkap kecoa, sehingga dia dapat pelukan dari pemain lain, yaitu anak-anaknya. Anaknya ada yang masih SMP, dan moment itu adalah kali pertamanya sang Ayah mendapatkan pelukan dari anaknya, setelah sekian lama tidak memeluknya. Karena ketika beranjak remaja atau sudah dewasa, biasanya sudah jarang memeluk orang tuanya atau dipeluk orang tuanya, karena merasa bukan anak-anak lagi. Suasana mudik pun, tiba-tiba hening.

Kegiatan terakhir adalah refleksi.  Beberapa refleksi kegiatan mudik ke-23 ini diantaranya bahwa melalui video dan bermain board games, anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa dan belajar tentang kekompakan dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Selain itu, materi-materi yang disampaikan bermanfaat untuk dipraktikkan dalam pembelajaran di kelas dengan memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan siswa, karakter siswa, materi yang disampaikan, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Setelah refleksi, seluruh peserta berfoto bersama di bawah langit yang cerah, di saat gerimis pagi mulai menghilang.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: