Apakah Kita Sudah Merdeka Belajar di Tempat Kerja?

Penulis : bukik | 3 Aug, 2018 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Belajar adalah konsep yang paling sering kita dengar sepanjang hidup, sejak kita kanak-kanak, masa sekolah, masa kuliah hingga bahkan ketika telah bekerja. Belajar sejak belajar naik sepeda, disuruh belajar dengan mengerjakan PR di rumah hingga mengikuti pelatihan di tempat kerja. Tapi mari berhenti sejenak, apakah kita sudah merdeka belajar di tempat kerja? 

Miskonsepsi merdeka belajar yang sering muncul adalah pemaknaannya sebagai kebebasan belajar. Merdeka belajar sering dikaitkan dengan belajar dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Kalau dari arti kata, bebas memang salah satu arti dari merdeka, selain terlepas dari tuntuan dan tidak tergantung pada pihak lain (KBBI). Tapi secara esensi, merdeka mempunyai pengertian yang lebih kompleks. 

Coba bayangkan ada dua negara dengan status berbeda, negara merdeka dengan negara terjajah. Apa perbedaan antara kedua negara tersebut? Keliru bila menganggap negara merdeka lebih sejahtera dibandingkan negara terjajah. Contoh sederhana, Hongkong, yang “dijajah” Inggris hingga tahun 1997. Secara ekonomi, Hongkong lebih sejahtera dibandingkan kebanyakan negara merdeka. Jadi apa bedanya negara merdeka dengan negara terjajah?

Negara merdeka mempunyai hak untuk mengatur sendiri urusannya. Mereka bisa menetapkan cita-cita atau tujuan bernegara. Mereka bisa mengatur strategi dan cara mencapai tujuan. Bahkan ketika keliru pun, mereka bisa melakukan refleksi dan revisi terhadap tujuan, strategi dan cara yang telah mereka tetapkan. Sementara, bagi negara terjajah semuanya harus mendapat persetujuan dari negara penjajah. 

Negara merdeka mengatur sendiri urusannya. Orang merdeka mengatur sendiri urusannya

Negara merdeka belajar mengatur sendiri urusan belajarnya. Orang merdeka belajar mengatur sendiri urusan belajarnya.

Secara konsep, pengertian tersebut yang lebih dekat dengan merdeka belajar. Merdeka belajar diterjemahkan dari konsep self regulated learning, belajar yang diatur sendiri. Apa saja yang diatur sendiri dalam merdeka belajar? Setidaknya ada tiga, tujuan, cara dan refleksi. Sederhana bukan? 

Kenyataannya di lapangan, merdeka belajar jadi tantangan besar, bukan saja di Indonesia, juga di negara-negara lain. 

Mari kita ingat kembali zaman ketika bersekolah. Kebanyakan dari kita merasakan kebingungan mengapa kita harus mempelajari suatu topik atau pelajaran. Kita tidak pernah ditanya dan langsung disuruh untuk mempelajari berbagai topik yang sampai kini masih kita cari tahu kapan digunakannya. Cara belajar pun sudah ditetapkan, bagkan cara mengerjakan soal pun dituntut mengikuti cara tunggal yang diajarkan. Apalagi refleksi, kita bahkan tidak pernah mendapat kesempatan menilai proses dan hasil belajar kita. Tujuan, cara dan refleksi belajar seolah-olah turun dari langit untuk menjadi beban di pundak kita. 

Dan kondisi itu masih terjadi di hampir semua ruang kelas di seluruh dunia.

Anggap lah itu masa kelam di masa sekolah. Kita sekarang sudah lulus dan bekerja. Sudah merdeka belajar dong? Eits tunggu dulu 

Semester lalu saya berkunjung dari sebuah perusahaan internasional untuk melakukan studi banding tentang sistem belajar daring (learning online system). Saya menyimak presentasi memukau tentang sistem yang canggih hingga bisa mengenali minat dan kebutuhan belajar karyawan. Semuanya lancar sampai pada pertanyaan tentang cara mengajak karyawan menggunakan sistem belajar daring tersebut. Meski sistem belajarnya canggih, namun cara mengajak karyawannya belajar masih tradisional, ganjaran dan hukuman. Belajar bukan lagi sukarela, tapi menjadi aktivitas yang terpaksa.

Kisah serupa bisa kita temui di berbagai tempat kerja yang lain bahkan di organisasi sekolah sekali pun. “Sulit diajak belajar kalau tidak dipaksa”. “Boro-boro senang belajar, mereka gak belajar kalau tidak ada iming-imingnya”. “Kalau pelatihannya tidak di luar kantor atau luar negeri, mana mau mereka belajar?”. Banyak lagi keluhan dari para pemimpin yang menggambarkan kebanyakan anggota organisasi tidak menunjukkan sebagai orang yang merdeka belajar.

Jadi sekali lagi, apakah kita sudah merdeka belajar? 

Jawabannya bisa jadi tidak semudah menjawab sudah, belum atau tidak merdeka belajar. Dalam kehidupan organisasi, ada kompleksitas yang tidak bisa disederhanakan pada sebatas mentalitas anggota organisasi. Kepemimpinan yang tidak melibatkan, tidak ada kesempatan melakukan kekeliruan, iklim kompetitif yang tidak sehat, budaya “bukan tugas saya”, asal atasan senang, terlalu fokus pada target, tidak ada kesempatan untuk berkembang, keberhasilan masa lalu, dan kegagalan melihat persoalan. 

Tapi apakah kondisi organisasi akan kita biarkan menjadi kambing hitam dan kemudian kita pasrah untuk mengikuti arus, berhenti belajar? 

Merdeka belajar bukan pemberian, bukan jatuh dari langit. Wajib belajar itu program pemerintah, merdeka belajar itu program kita. Kalau organisasi menciptakan suasana merdeka belajar, tentu menjadi suatu nilai tambah. Tapi kalau tidak, kita selayaknya menolak untuk menyerah. Karena merdeka belajar bukan untuk organisasi, bukan untuk siapa, tapi untuk masa depan kita.

Apa yang bisa dilakukan untuk tetap merdeka belajar di tempat kerja?

A. Setiap tantangan kerja adalah tantangan belajar.

Apapun target dari atasan atau tempat kerja, jangan pernah menjawab “tapi kan”. Jawab dengan “bisa, selama”. Tantangan berat seringkali karena kita melihat dari kondisi dan kemampuan kita selama ini. Padahal selama merdeka belajar, kita pasti berkembang dari waktu ke waktu. Kita akan melihat tantangan kerja tersebut dengan cara berbeda bila kita membayangkan kita yang telah berkembang kemampuannya.

B. Setiap rekan kerja adalah sumber belajar.

Siapapun rekan kerja kita, ada saja yang bisa dipelajari. Usia muda atau tua. Laki-laki atau perempuan. Wajah ceria atau wajah perenung. Apabila kita masih kesulitan menghadapi rekan kerja, ada dua kemungkinan: kita belum berhasil belajar memahami rekan kerja dan menemukan strategi yang tepat. 

C. Setiap kebingungan adalah jalan setapak menuju pemahaman

Dapat penugasan baru, dengan tugas baru, pasti menghasilkan kebingungan. Ibaratnya kita berada di lorong yang gelap, pilihannya dua, diam dalam kegelapan atau mencari jalan keluar. Ketika jalan keluar ditemukan, lahirlah pemahaman.

D. Setiap pengerjaan tugas, mintalah umpan balik

Bisa jadi kita puas dengan apa yang kita lakukan atau yang kita capai. Tapi bekerja bukan untuk diri sendir, karena itu minta masukan, koreksi, atau bahkan kritik. Lebih cepat lebih baik karena koreksi di tahap awal akan lebih mudah memperbaikinya dibandingkan kalau sudah hampir selesai atau bahkan sudah selesai.

E. Setiap tugas, ada pilihan cara mengerjakannya

Terbiasa mengerjakan tugas dengan satu cara memang nyaman. Namun terpaku pada satu, hanya akan menghilangkan kesempatan kita untuk menemukan cara yang lebih bermakna, lebih cepat, lebih ringan atau bahkan bisa mencapai hasil lebih menjanjikan. 

F. Setiap capaian, pastikan ada manfaatnya 

Mau mencapai target atau belum berhasil mencapai target, pastikan apa yang kita kerjakan menghasilkan manfaat bagi orang lain maupun diri sendiri. Refleksikan manfaat yang didapatkan dari tugas yang telah kita kerjakan.

Jadi gimana? Mau menyerah menjadi orang yang terjajah belajar atau mulai petualangan sebagai orang yang merdeka belajar? 

Aku sih milih merdeka belajar. Kamu?

Kuis: 

Ada 6 cara untuk merdeka belajar di tempat kerja. Manakah yang menggambarkan konsep di bawah ini?

  1. Membangun Keberlanjutan
  2. Memilih Tantangan 
  3. Memberdayakan Konteks
  4. Memahami Konsep
  5. Memahami Hubungan
  6. Merdeka Belajar 

Tulis jawaban Anda di kolom komentar 

About the Author

2 thoughts on “Apakah Kita Sudah Merdeka Belajar di Tempat Kerja?”

  1. Dilah says:

    Merdeka belajar dan menerima tantangan

Leave a Reply

%d bloggers like this: