Asesmen Diagnosis adalah Solusi

Penulis : OKTAVIANUS ADHI NUGROHO | 2 Nov, 2021 | Kategori: Asesmen, Belajar, Merdeka Belajar
ak Abdul Mujib adalah guru dari SMP Negeri 21 Hulu Sungai Tengah yang akan membagikan pengalamannya ketika melakukan asesmen diagnosis adalah solusi permasalahan pembelajarannya.

Sudah melakukan asesmen diagnosis, tetapi hasilnya kurang maksimal? Sudah penah membuat kesepakatan dengan asesmen diagnosis? Bingung mencari inspirasi terkait asesmen diagnosis?. Tenang, Pak Abdul Mujib adalah guru dari SMP Negeri 21 Hulu Sungai Tengah yang akan membagikan pengalamannya ketika melakukan asesmen diagnosis adalah solusi permasalahan pembelajarannya. Dari awal Tahun Pelajaran 2020/2021, Pak Mujib dengan murid-muridnya membuat kesepakatan bersama untuk belajar lewat grup WhatsApp. Jumlah murid Pak Abdul ada 20 tetapi yang aktif hanya 12 murid. Terkadang ada yang beralasan tidak memiliki kuota internet, ada yang belum memiliki gawai yang dapat mengunduh aplikasi WhatsApp, dan berbagai alasan lainnya. Pak Mujib sering berprasangka buruk kepada muridnya yang tidak masuk grup. Menurutnya, murid yang tidak masuk grup hanya membuat  alasan yang dibuat-buat. Selain itu Pak Mujib juga berprasangka bahwa muridnya malas belajar. Sehingga hal tersebut membuat Pak Mujib tidak peduli, akhirnya tidak ambil pusing terkait 8 muridnya yang tidak ikut masuk dalam grup.

Dua belas murid yang sudah masuk dalam grup WhatsApp sering menanyakan tentang partisipasi murid yang tidak masuk grup.

Rizka bertanya, “Bagaimana tugas untuk yang gak ikut di grup ini, Pak?”.

Selfi berkata, “Saidi punya smartphone. Dia sering main game online. Tapi dia gak mau ikut grup ini aja”.

Pak Mujib sebagai guru merasa belum dapat berlaku adil kepada semua muridnya. Masih ada delapan murid yang belum dapat mengikuti pembelajaran. Pak Mujib sadar bahwa belum memberikan pelayanan yang sama terhadap delapan muridnya seperti 12 muridnya. Maka Pak Mujib memiliki niat untuk mengetahui lebih jauh kendala atau hambatan apa yang dihadapi delapan muridnya. Pak Mujib berharap semua muridnya dapat mengikuti pembelajaran di grup WhatsApp, sehingga pembelajaran jarak jauh dapat dilakukan dengan sinkronus dan asinkronus.

Tantangan yang sedang dihadapi Pak Mujib adalah murid yang tidak bergabung dalam grup WhatsApp pembelajaran bahasa Inggris, sehingga murid tidak dapat ikut diskusi. Sebagian murid ada yang mengambil lembar tugas dan mengerjakan tugasnya meski dalam kesulitan. Sebagian lagi ada yang tidak mengambil lembar tugas dan tidak belajar sama sekali. Dampak yang terjadi, Pak Mujib kehilangan kontak dengan beberapa muridnya yang tidak tergabung dalam grup WhatsApp, tidak bisa bertemu dengan muridnya, murid tidak belajar selama pembelajaran jarak jauh. Pak Mujib merasakan kesulitan dalam memantau perkembangan belajar muridnya, sehingga tidak bisa memberikan deskripsi hasil belajar muridnya dalam rapor.

Akhirnya pada awal semester genap tahun 2021, Pak Mujib mencoba mempraktikkan asesmen diagnosis adalah solusi dalam memetakan profil kesiapan murid dalam pembelajaran, pada kelas 8B, karena kelas tersebut pasif dibandingkan kelas lainnya. Pak Mujib menggali informasi terkait data kesiapan belajar seperti kepemilikan gawai, aplikasi WhatsApp, dan kuota internet.

Dengan melakukan berkunjung ke rumah muridnya yang terkendala dalam pembelajaran. Pak Mujib bertemu muridnya dan orang tuanya untuk mendengarkan keluhan dan harapan mereka pada pembelajaran jarak jauh. Setelah tahu keluhan dan harapan murid dan orangtua murid, Pak Mujib mengajak mendiskusikan solusi yang tepat dilakukan dan disepakati. Dalam setiap kunjungan ke rumah murid-muridnya, Pak Mujib selalu disambut hangat, diberikan makanan dan minuman.

Baca Juga: Bingung, Praktik Asesmen Diagnosis Non-kognitif?

Murid dan orangtua murid menceritakan suka dukanya ketika dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh, menceritakan kesiapan dalam mengikuti pembelajaran melalui grup WhatsApp. Dan ternyata ada 19 murid yang sudah memiliki gawai dan aplikasi WhatsApp. Hanya ada satu murid yang belum memiliki gawai, namanya Abdurrahman. Abdurrahman tidak memiliki uang untuk membeli gawai, karena dia tinggal bersama ibunya yang sudah lama sakit. Untuk makan sehari-hari biasanya dikasih tetangga dan saudaranya. Semua pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci, dan lainnya, dia kerjakan sendiri sambil merawat ibunya. Selain tentang Abdurrahman, Pak Mujib juga mendapatkan cerita dari Sahdianor yang sejak kelas 3 SD ditinggalkan oleh ayahnya karena kecelakaan saat bekerja di Kintap Tanah Laut. Sekarang Sahdianor tinggal bersama ibu dan ayah tirinya yang hidup sederhana. Untungnya segala keperluan sekolahnya dibantu oleh saudara mendiang ayahnya yang lumayan berkecukupan. Pak Mujib juga mendengar cerita dari muridnya yang bernama Sahdi dan Hidayatullah yang sekolah sambil bekerja, membantu orang tua dengan memelihara kambing. Setiap sore mereka mencari rumput untuk dimakan kambing-kambingnya.

Pak Mujib merasa gembira setelah mengetahui bahwa sebagian besar muridnya sudah memiliki gawai dan cukup siap untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh melalui grup WhatsApp. Tidak lupa menceritakan kepada murid dan orang tua murid tentang rencana pembelajaran jarak jauh dilakukan terus melalui WhatsApp, karena pembelajaran jarak jauh ini mungkin lebih bermakna daripada belajar melalui modul dan soal. Selain pembelajaran asinkronus, melalui grup WhatsApp juga dapat belajar dengan sinkronus seperti berdiskusi bersama teman-teman untuk mengolaborasikan pemahaman. Pak Mujib berharap kepada muridnya supaya tidak keluar grup, fokus memperhatikan segala informasi dan tanggapan yang masuk. Murid diminta jangan ganti akun atau nomor WhatsApp, jika terpaksa ganti jangan lupa untuk menghubunginya agar tetap terhubung.

Akhirnya murid-murid Pak Mujib sepakat dan bersedia untuk terus mengikuti pembelajaran jarak jauh melalui grup WhatsApp. Orang tua juga memberikan dukungannya dan bersedia membantu mengingatkan anaknya untuk ikut belajar sesuai jadwal yang ditentukan. Tetapi Pak Mujib merasa prihatin melihat keadaan Abdurrahman. Pak Mujib membantu dengan bergerak untuk menggalang donasi dengan mengunggah foto dokumentasinya di akun Facebook dan Instagram, ketika kunjungannya ke rumah Abdurrahman. Lalu ada teman yang  sebelumnya sudah menitip donasi untuk korban banjir Hulu Sungai Tengah menghubunginya. Jika donasinya belum disalurkan, boleh digunakan untuk membantu membelikan gawai untuk Abdurrahman. Setelah membelikan gawai untuk Abdurrahman. Abdurrahman menerima dengan sangat senang. Dia mengucapkan terima kasih dan berniat terus belajar dengan gawai tersebut. Pada saat jadwal belajar, Abdurrahman terus aktif di grup dan ikut berdiskusi bersama-temannya. 

Setelah melakukan asesmen diagnosis kesiapan belajar selesai dan kesepakatan belajar di grup WhatsApp sudah dibuat kembali, akhirnya grup WhatsApp Bahasa Inggris Kelas 8B dapat diikuti oleh seluruh murid. Setelah melakukan asesmen diagnosis, Pak Mujib memahami bahwa anggapannya ternyata salah. Murid-muridnya yang tidak ikut belajar melalui grup WhatsApp ternyata bukan karena mereka malas, tetapi karena banyak hambatan dan kendala yang sedang dihadapinya. Dari hasil asesmen diagnosis yang dilakukan Pak Mujib bersama murid dan orangtuanya, ternyata dapat memberikan solusi untuk mengatasi hambatan pembelajaran. Asesmen diagnosis adalah solusi dalam mengatasi permasalahan pembelajaran murid. Cari dahulu penyebabnya, lalu mencari solusinya sampai berkonklusi. 

Bagaimana tertarik untuk melakukan asesmen diagnosis seperti Pak Abdul? Ingin mempelajari asesmen diagnosis lebih lanjut? Yuk jangan lupa untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. 

Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII! 

klik : https://tpn.gurubelajar.org

About the Author
Penulis Cerita - Desainer Program Guru Belajar | Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Surabaya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: