Asesmen Diagnosis adalah Langkah Agar Murid Gemar Belajar!

Sebal menghadapi murid yang malas belajar saat pandemi? Sudah menggunakan Asesmen Diagnosis? Asesmen Diagnosis adalah langkah menyelenggarakan pembelajaran yang berorientasi pada murid. Lalu bagaimana merancangnya di situasi pandemi?

Pembelajaran berorientasi pada murid dalam situasi ruang kelas yang sama saja masih manjadi keresahan dan tantangan guru, apa lagi saat pandemi. Dimana keberagaman situasi setiap murid sangat mempengaruhi pembelajaran. Ketersedian sarana prasarana memadai, pendampingan orang dewasa untuk murid jenjang bawah, juga kondisi keluarga setiap murid menjadi tambahan pertimbangan guru merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid. Tentunya setelah guru memahami pribadi setiap murid, minatnya, modalitas belajarnya, juga tahapan perkembangan kognitifnya. Untuk itu hal yang penting bagi guru lakukan adalah asesmen diagnosis, untuk mengetahui dan memahami profil setiap murid. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut menjadi acuan guru merancang strategi pembelajaran yang sesuai bagi murid. Kamis, 8 Juli 2021 rekan guru di Kabupaten Lamongan mempersiapkan melakukan asesmen diagnosis dengan mengadakan Temu Pendidikan Daerah (TPD) Kabupaten Lamongan dalam Webinar Asesmen Diagnosis bersama Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber dari Kampus Guru Cikal

Asesmen Diagnosis adalah langkah agar murid gemar belajar

Webinar dibuka dengan mendengar sambutan dari Bapak Chusnul Yuli Setyo selaku Kadisdikbud Kabupaten Lamongan yang menekankan soal upaya mempersiapkan PTM terbatas dengan aman. Menurut beliau ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) Persiapkan Lembaga; 2) Persiapan Guru; dan 3) Persiapan Strategi Pembelajaran. Bapak Setyo juga mengungkapkan bahwa persiapan yang dilakukan perlu didukung oleh literasi digital. Hal ini dikuatkan oleh Kepala Kemenag Kabupaten Lamongan Bapak Firdaus Markus dalam sambutannya yang mengungkapkan, “ajarilah anak sesuai zamannya”. Menurut beliau sesungguhnya murid mudah beradaptasi dengan literasi digital, namun guru juga harus berapatasi sehingga mampu menemukan formula dan strategi pengajaran tepat pada masa pandemi. Hal yang tidak kalah penting diungkapkan Pak Firdaus dalam sambutannya ialah semangat dan motivasi belajar murid-murid yang perlu dipertahankan dengan merancang strategi pembelajaran sesuai kondisi setiap murid. 

Setelah melakukan refleksi mengenai kata belajar & asesmen, Bu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber menyampaikan “sayangnya dalam praktik pembelajaran masih terdapat miskonsepsi belajar”. Setidaknya terdapat dua kriteria miskonsepsi berlajar, yaitu: 

  1. strategi pembelajaran yang masih berorientasi pada target, dengan hanya mengacu pada kurikulum, penyampaian satu arah untuk mengejar ketuntasan konten dan 
  2. asesmen pembelajaran yang masih berorientasi pada asesmen sumatif sebagai nilai akhir tanpa membedakan dengan pengambilan nilai asesmen formatif. 

Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional

Seharusnya guru dalam merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid, dengan memadukan kurikulum dan kebutuhan murid. Aktivitas yang dilakukan beragam untuk penguasaan kompetensi, serta tentunya dengan pertimbangan kemampuan awal murid. Dalam proses dari merancang, manjalankan, sampai mencapai tujuan belajar untuk kompetensi diperkuat dengan asesmen pebelajaran. Tentunya dengan prinsip asesmen yang ideal. Terdapat 3 prinsip asesmen, yaitu: 

  1. asesmen untuk belajar, melalui asesmen diagnosis untuk menggali & menganalisis kebutuhan setiap murid dalam merancang pembelajaran.
  2. asesmen sebagai proses belajar, melalui asesmen formatif salah satunya menggunakan beragam metode yang menggali strategi belajar dan cara berpikir murid.
  3. asesmen terhadap hasil belajar, untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan orangtua dan pihak lain terkait capaian kurikulum. Ini baru berbicara soal nilai akhir rekan guru belajar melalui asesmen sumatif.

Selama ini kita salah kaprah terhadap proporsi dari ketiga prinsip asesmen tersebut. Kita lebih banyak fokus pada asesmen terhadap hasil belajar dengan mengejar nilai. Kurangnya asesmen sebagai proses belajar, bahkan tidak melakukan asesmen untuk belajar dengan mendiagnosis kebutuhan belajar murid. Ada beragam cara untuk melakukan asesmen diagnosis, salah satunya bisa dengan tes, wawancara, atau observasi. 

Dengan demikian tujuan asesmen untuk mendapatkan informasi bagi guru dan murid mengenai proses belajar dan pencapaian belajar secara berkala akan tercapai. Jadi kalaupun melihat kurikulum hanya dijadikan acuan untuk meningkatkan kompetensi yang kontekstual. Sehingga diharapkan rekan guru dapat membangun keberlajutan dengan mengaitkan antara rancangan pengajaran, pembelajaran, dan juga asesmen menjadi satu kesatuan proses yang saling berhubungan. 

Jika kita memperhatikan arah perubahan pendidikan dengan adanya penyederhanaan aturan administrasi, orientasi pada murid, serta perubahan sistem asesmen rasanya kita diberi ruang dan waktu lebih banyak untuk mengenali masing-masing murid melalui asesmen diagnosis. Dalam melakukan asesmen ini, guru dapat dianalogikan bagai dokter bagi murid-muridnya. Seorang dokter itu tugasnya melakukan asesmen, bentuknya pemeriksaan kalau dokter. Pemeriksaan terhadap gejala, kemudian mengevaluasi, lalu tindak lanjut dengan memberikan resep obat sebagai solusi. Ketika kita sebagai guru melakukan asesmen diagnosis, berarti kita melakukan medical check up kepada murid-murid kita. Dengan hasil asesmen diagnosis, kita punya indikator analisis untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhkan murid masing-masing. Lalu apa yang harus dilakukan setelah itu? Maka sama seperti dokter akan melakukan tindak lanjut dari gejala yang didapatkan. Guru pun akan melakukan tindak lanjut dengan merancang strategi pembelajaran yang berorientasi pada murid.

Setelah Bu Susan selesai menyampaikan materi, rekan guru yang tergabung dalam Webinar Asesmen Diagnosis antusias bertanya dan berdiskusi. Pertanyaan yang cukup penting  adalah yang ditanyakan moderator dalam akun zoom Anis Ceha, apakah asesmen diagnosis hanya dilakukan kepada murid saja atau orang tua juga? “Pertanyaan bagus Bu” ungkap Bu Susan memberikan apresiasi. Asesmen diagnosis selain dilakukan kepada murid juga perlu dilakukan pada orang tua, karena latar belakang orang tua akan mempengaruhi proses belajar murid. Pengaruhnya terhadap inisiatif murid dan juga dukungan orang tua selam proses belajar.

pembelajaran jarak jauh

Pertanyaan berikutnya dari Bu Fatma, kalau untuk murid baru pada tingkat SD/MI pendekatan seperti apa yang digunakan untuk mengenali karakter murid pada saat PJJ? Secara kan murid barunya dari TK. “Perlu interaksi personal pada setiap murid lebih banyak. Strateginya bisa dengan kelas dikelompokan kecil” jawab Bu Susan yang juga mengingatkan untuk memberi waktu lebih banyak mendengarkan murid bercerita.

Diskusi dan tanya jawab yang tidak semua dapat dituliskan, ditutup oleh penyataan penutup dari Bu Susan, “Asesmen diagnosis hal yang mungkin tidak kita alami dulu sebagai murid, namun untuk pembelajaran yang berpihak pada murid hal ini sangat esensial dan perlu dilakukan. Apalagi pada situasi pandemi saat ini.” Bagaimana rekan guru belajar  metode apa yang akan dipilih untuk melakukan asesmen diagnosis? Metode apapun yang akan Anda pilih, pada intinya hasil dari asesmen diagnosis diperlukan untuk merancang pembelajaran berorientasi pada murid. Sehingga akhirnya akan tercipta pembelajaran yang merdeka belajar.

Salam Merdeka Belajar

Neneng Nurbaeti 

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: