Katrol Nilai Murid dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah?

Penulis : Carla Pramono | 8 Jun, 2021 | Kategori: Asesmen, Merdeka Belajar

Pusing dengan nilai murid menjelang rapotan? Sebelum rapot dibagikan, Bapak dan Ibu Guru mungkin memiliki kebiasaan baru (atau mungkin mengulang kebiasaan yang sudah ada), ketika makin pusing dan makin sering mengusap balsem atau minyak kayu putih di kepala, guru pun mengumpulkan seluruh catatan murid untuk mendapat nilai. Untuk apa sih? Kemungkinan besar adalah untuk mengangkat nilai murid atau yang sering disebut katrol nilai.  Loh, tapi yang mau dinilai kan kemampuan akhir murid? Kenapa para guru mengumpulkan nilai-nilai tugas yang sifatnya asesmen formatif untuk memberikan nilai akhir? Apakah praktik ini betul?

Salah Paham terhadap Asesmen Formatif

Pertanyaan di atas menjadi bahasan utama dari OGMB 7. Pada tanggal 25 Mei 2021, dua narasumber, yaitu Pak Mirwan Abdul Aziz dan Ibu Amalia Jiandra,  membagikan informasi mengenai asesmen formatif berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Dalam obrolan yang dipandu oleh moderator Ibu Ilona Christina, Bapak dan Ibu Guru dapat mengetahui lebih jauh mengenai penggunaan asesmen formatif yang tepat dan bagaimana penggunaannya.

Apa itu Asesmen Formatif?

Untuk membuka OGMB, Pak Mirwan dan Bu Amel menjelaskan apa yang dimaksud dengan asesmen formatif. Pak Mirwan menjabarkan asesmen formatif sebagai “proses yang digunakan oleh guru atau murid untuk mendapatkan umpan balik”. Sesuai dengan komentar Aris Ariyanti mengenai asesmen formatif, yaitu “asesmen untuk mengecek pemahaman murid”, Pak Mirwan menjabarkan lebih lanjut manfaat asesmen formatif. Bagi murid, data asesmen formatif dapat digunakan untuk mengetahui celah pemahaman yang dimiliki dengan tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan ini, penting bagi murid untuk mengetahui tujuan pembelajaran sehingga mereka dapat melakukan refleksi diri dari hasil asesmen formatif. Di sisi lain, asesmen formatif dapat digunakan pula oleh guru. Bila diolah dengan baik, data asesmen formatif dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyesuaian proses belajar mengajar guna meningkatkan pencapaian siswa. Dengan kata lain, asesmen formatif bukan hanya memberikan informasi bagi murid, tetapi juga untuk guru. 

Miskonsepsi Asesmen Formatif

Bu Amel kemudian mengungkapkan beberapa miskonsepsi mengenai asesmen formatif yang sering terjadi di antara para guru. Seperti yang sudah disebutkan di atas, asesmen formatif dianggap berfungsi untuk mengatrol nilai akhir. Bila murid tampak belum paham, akan semakin banyak asesmen formatif yang diberikan guru kepada murid tersebut. Padahal asesmen formatif adalah bagian dari asesmen sebagai proses belajar, bukan asesmen terhadap belajar. Dengan kata lain, tujuan asesmen formatif berbeda dengan asesmen yang dilakukan di akhir semester, atau asesmen sumatif. 

Masih terkait dengan nilai akhir, Bu Amel mengutarakan miskonsepsi lain, yaitu asesmen formatif sering digunakan untuk langsung menentukan nilai akhir, atau keputusan akhir, kemampuan yang dimiliki murid. Beliau menjelaskan miskonsepsi ini dengan analogi kesalahan diagnosis penyakit, yaitu pemberian diagnosis di saat seseorang hanya menunjukkan satu gejala. Satu kali murid gagal dalam asesmen formatif, maka guru langsung memberikan label bahwa murid tidak mampu. Praktik ini tentu berlawanan dengan proses asesmen formatif yang harusnya berlangsung selama proses belajar berlangsung. Perlu diingat juga bahwa asesmen formatif tidak bertujuan menggambarkan kompetensi yang dimiliki murid di akhir semester.

Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional

Pengambilan Data dan Tindak Lanjut Asesmen Formatif sama Pentingnya

Asesmen Formatif pelajaran agama islam

“Saya keinget, cara Pak Mirwan ajak anak-anak refleksi, sampe ada yang nyebut “Saya ga pengen jadi baligh, nanti nanggung dosa” Artinya refleksinya bener-bener nunjukkan anak sudah paham.”, komentar Maman, salah seorang peserta OGMB. Selain refleksi, apa saja cara yang bisa dilakukan dalam asesmen formatif ya? Pak Mirwan membagikan beberapa cara yang pernah beliau lakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Salah satunya adalah melalui cara self-assessment. Murid diberikan sebuah kertas kosong dan diminta untuk menuliskan pemahaman dari materi yang baru saja diajarkan. Hasilnya menarik karena murid dapat menggambarkan pemahaman mereka dalam berbagai cara di kertas tersebut. Ada murid yang menjelaskan pemahaman mereka, ada pula yang membuat mind-map. Ketika masa pandemi, beliau menggunakan bantuan beberapa aplikasi agar murid dapat mengomunikasikan pemahaman mereka.

Terlepas dari cara apa yang digunakan, sekali lagi Pak Mirwan berpesan agar guru tidak hanya fokus pada cara melakukan asesmen formatif, tetapi juga bagaimana menindaklanjuti data yang sudah ada. Mengaitkan dengan salah satu komentar peserta, diferensiasi merupakan bentuk tindak lanjut yang dapat dipilih oleh guru. Ini tidak berarti bahwa guru harus membedakan cara pengajaran untuk masing-masing anak. Guru justru dapat melakukan pengelompokkan murid berdasarkan asesmen formatif dan mengajak murid yang dinilai lebih mampu untuk membantu temannya yang membutuhkan bantuan dalam memahami materi, atau sering disebut tutor sebaya.

Asesmen Formatif Membantu Guru dan Murid Menjadi Merdeka Belajar

Terakhir, Bu Amel menekankan adanya proses berkelanjutan dari asesmen formatif. Asesmen formatif berguna bagi guru dalam memodifikasi cara pengajaran secara berkala agar dapat memfasilitasi murid untuk mencapai tujuan pembelajaran. Murid juga dapat terus menerus merefleksikan pemahaman yang dimiliki melalui adanya asesmen formatif. Pak Mirwan menambahkan pula bahwa guru perlu memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam memilih cara melakukan asesmen formatif. Cara yang dibagikan beliau belum tentu sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kondisi murid di sekolah yang lain. Begitu pula sebaliknya. Yang terpenting adalah guru mau mencoba melakukan asesmen formatif guna membantu murid dan menyesuaikan proses pengajarannya. Dengan begitu, guru dan murid dapat mengalami Merdeka Belajar di dalam kelas. 

Baca Juga

Dari penjelasan Pak Mirwan dan Bu Amel, Bapak dan Ibu Guru dapat merefleksikan pemahaman mengenai asesmen formatif. Adakah miskonsepsi tentang asesmen formatif yang Bapak dan Ibu Guru miliki selama ini? Setelah mendengar obrolan ini, adakah perubahan dalam melakukan asesmen formatif yang ingin dilakukan? Bila Bapak dan Ibu Guru melewatkan atau ingin melihat kembali Obrolan Guru Merdeka Belajar “Salah Paham Guru Terhadap Asesmen Formatif”, Bapak dan Ibu Guru dapat menyaksikan di tautan berikut ini:

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: