Membahas Asesmen Kompetensi Minimum

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memastikan Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Kemudian diluncurkan Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter. Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter bukanlah pengganti UN, karena memiliki tujuan yang berbeda dari UN. Asesmen ini akan menilai kompetensi literasi dan numerasi. Selain asesmen kompetensi, juga akan memberlakukan konsep survei karakter. Survei karakter ini digunakan untuk mengetahui karakter anak di sekolah. Untuk mengetahui ekosistem di sekolahnya bagaimana implementasi gotong-royong. Serta Survei itu, digunakan untuk menjadi tolok ukur supaya sekolah-sekolah memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajarannya.

Selama ini  murid selalu dikejar-kejar dengan tuntutan prestasi dengan berbagai tekanan untuk mencapai nilai tinggi, selalu dibayangin keresahan dan  rasa takut untuk tidak lulus pada hasil ujian sehingga berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya. Tekanan itu bukan hanya dirasakan oleh murid saja tetapi juga guru karena menginginkan agar muridnya memperoleh nilai yang tinggi dan dinyatakan lulus.

Membahas Asesmen Kompetensi Minimum

Hal senada disampaikan oleh Pak Ari Wibowo dari Cerita Guru Belajar yang menjadi Narasumber pada TPD KGBN Jeneponto dengan topik NGOPI (Ngobrol Pintar) Asesmen Kompetensi Minimum yang dipandu oleh Bu Ninik Angraeni penggerak KGBN Jeneponto. Pak Ari mengawali materinya dengan menyampaikan pertanyaan Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Pendidikan Kita? Dari pertanyaan tersebut tergambar bahwa yang banyak terjadi adalah masih banyaknya miskonsepsi belajar mulai dari miskonsepsi di ruang belajar, strategi pembelajaran yang berdasar target, asesmen pembelajaran yang berorientasi sumatif. Pada kesempatan ini Pak Ari mengupas habis mengenai konsep merdeka belajar di ruang kelas, pembelajaran berorientasi pada murid dan asesmen berorientasi diagnosis dan formatif.

Lanjut Pak Ari, pada kesempatan ini juga menyampaikan perbandingan antara UN dan AN baik dari segi tujuan, aspek yang dinilai, jenis responden, penentuan responden, level responden, penentuan butir soal serta bentuk laporan. Pada UN bertujuan menjadi Penentuan kelulusan murid dan menjadi Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah. Aspek yang dinilai berfokus pada Penguasaan konten dari mata pelajaran yang diajarkan, murid menjadi responden tunggal yang ditentukan melalui sensus sekolah dan murid, yang pelaksanaannya pada murid tingkat akhir di setiap tingkatan, semua murid memperoleh bobot soal yang sama,bentuk laporan berdasar capaian murid. Sedangkan pada AN bertujuan Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah, Aspek yang dinilai Penguasaan kompetensi literasi dan numerasi, Penguasaan kompetensi sosial emosional yang tercakup pada Profil Pelajar.

Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah?

Pancasila melalui survey karakter, Kualitas proses belajar di sekolah melalui survey lingkungan belajar, respondennya murid, guru dan kepala sekolah yang ditentukan melalui Sensus sekolah, sensus guru dan kepala sekolah, serta survei murid (sampling) level responden yakni murid Kelas 5, 8, 11, penentuan butir soal Murid mendapat butir soal yang disesuaikan atau bersifat adaptif (khusus AKM) serta bentuk laporannya tidak ada capaian murid dimana Capaian sekolah dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada sesi diskusi dan tanya jawab, salah satu peserta yakni Pak Syam menyampaikan kaitannya dengan penerapan asesmen nasional di kalangan teman-teman guru di Jeneponto masih banyak ditemukan miskonsepsi mengenai asesmen nasional dimana masih banyak guru yang beranggapan bahwa AN masih sama dengan UN yang akan menjadi penentu kelulusan murid, Bagaimana mengubah pemikiran guru yang selama ini sudah menjadikan kebiasaan mendrilling murid dengan soal-soal yang dibuku? Jawab Pak Ari, Untuk berubah memang butuh tantangan yang cukup berat dimana kita akan melalui jalan terjal dan berliku, tetapi itu bukan sebuah halangan untuk guru berubah. Pemerintah saja melakukan transformasi besar-besaran untuk sebuah perubahan. Olehnya itu Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah dan Guru didorong untuk melakukan kolaborasi untuk berubah. Dengan asesmen nasional miskonsepsi yang ada kita harus tinggalkan secara menyeluruh karena hasil AN bukan menjadi penentu kelulusan tetapi dikembalikan ke sekolah sebagai potret kualitas hasil pembelajaran murid di Sekolah, olehnya itu Sekolah dituntut  untuk terus melakukan terobosan berupa inovasi untuk capain mutu pembelajaran.

Pertanyaan berikutnya dari Pak Murdin Guru SMK. Mengapa AN diterapkan?. Lanjut Pak Ari Menjawab, Kenapa AN diterapkan karena kita ingin terhubung dengan sistem pendidikan global dengan model asesemen yang diterapkan.

Pada kesempatan ini hadir pula membersamai teman guru Jeneponto ketua KGBN Pak Usman dengan memberi semangat belajar, Apakah Sekolah untuk hidup atau hidup untuk sekolah. Serta pada kesempatan ini peserta membangun komitmen bersama untuk SIAP AN, SIAP Berubah serta komitmen untuk terus belajar dan sesi ditutup dengan foto bersama.

Ingin mengikuti program Siap AN, Siap Berubah?
Klik tombol di bawah ini

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: