Asesmen Formatif Membuat Murid Berkembang, Guru Senang, Orang Tua Tenang

Penulis : Suhud Rois | 6 Apr, 2021 | Kategori: Asesmen, Merdeka Belajar, Pemimpin Merdeka Belajar

“Sudah nerapin merdeka belajar, nih. Tapi bingung, asesmen bagaimana, ya? Jangan-jangan praktik asesmen saya tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan esensi merdeka belajar. Bagaimana, dong?”

“Murid saya sebenarnya paham, tapi kalau ulangan kok hasilnya mengecewakan? Orang tua juga mempertanyakan kualitas pembelajaran setelah tahu nilai anaknya.”

Punya pengalaman yang sama? Wah, jadi masalah juga kalau asasmen kita bukan asesmen merdeka belajar.  Jadinya kan tidak sinkron dengan tujuan kita. 

Ini terjadi di sebuah sekolah. Seorang guru rajin sekali memberikan tugas-tugas kepada muridnya. Namun, murid tidak mendapatkan umpan balik. Tugas yang dikumpulkan hanya menumpuk saja.

Guru tersebut sudah menjalin hubungan yang memanusiakan dengan murid. Juga selalu menyesuaikan materi pelajaran dengan situasi kontekstual. Namun lacur, usahanya sia-sia ketika murid-murid tidak mendapatkan umpan balik.

Adakah yang seperti guru tersebut? Bagaimana langkah memperbaikinya?

 Nah, Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar pada  13 Maret 2021 menjadi tempat untuk mencari jawabannya. Menghadirkan Guru Irma Nurul Fatimah, Kepala SMP Lazuardi Al Falah, dipandu Guru Andrie Firdaus dari Sekolah CIkal, obrolan berlangsung menarik.  

Tema yang diangkat memang sangat dinantikan oleh para pemimpin sekolah dan guru merdeka belajar. Terbukti, jauh sebelum acara dibuka, yang antre “di depan pintu” sudah banyak. Kolom chat di channel Youtube hangat oleh salam dan sapa penonton yang sudah menunggu.

Membuka obrolan, Bu Irma menceritakan pengalamannya pada awal menjadi memimpin di sekolah. Jenjang karier adalah kesempatan belajar.  Tantangannya adalah tidak ada resep yang sama untuk menjadi kepala sekolah, sebab karakter setiap orang berbeda-beda. 

Oleh karena itu, Bu Irma terus mencari mentor dan refernsi yang bisa membantunya belajar menjadi pemimpin di sekolah. Beruntung, dia menemukan Komunitas Guru Belajar. Di komunitas inilah Bu Irma bertemu banyak guru yang fokus kepada murid. 

Hal itu sesuai dengan konsernnya, yakni semua masalah diselesaikan dengan mempertimbangkan kebutuhan murid.  

Tantangan lainnya adalah membangun percakapan di kalangan guru di sekolahnya tentang asesmen yang lebih berpihak kepada murid. Harus disadari bahwa ketika guru mengajar, belum tentu murid belajar. Itulah mengapa perlu ada assessment as learning (asesmen sebagai proses belajar). Asesmen ini bisa dilakukan secara mandiri oleh murid, dengan syarat mereka memahami tujuan yang ingin dicapai dan indikatornya. 

Ketika sudah paham tujuan dan indikator pencapaian hasil belajar, murid dapat mengukur kemajuan belajarnya. Murid mendapatkan umpan balik dan melakukan refleksi untuk mengembangkan kemampuannya.

Jadi, asesmen tidak melulu tentang tes. Asesmen bisa berwujud umpan balik yang membuat murid mengetahui kualitas hasil belajarnya, dan paham bagaimana meningkatkannya.  

Asesmen yang menyenangkan

Berbeda situasi kalau murid hanya diberi nilai angka. Dia akan membandingkan nilainya dengan nilai temannya. Kemungkinannya dua: murid tersebut puas karena merasa nilainya lebih baik atau berkeil hati sebab nilai teman lebih tinggi. Akhirnya tercipta iklim kompetisi.

Yang pasti, sekadar memberikan skor tidak membuat murid mengetahui kualitas dirinya secara utuh: bagian mana yang sudah oke, hal apa yang perlu ditingkatkan. 

Ketika dilakukan tes yang konvensional (paper and pencil test), beberapa murid yang saat pembelajaran sudah paham,  ternyata  tidak bisa jawab pertanyaan-pertanyaan dalam tes tersebut. 

Menghadapi hal demikian, guru-guru melakukan refleksi.  Karena  belum tahu jawabannya, kemudian mencari referensi. Namun, ternyata justru muri-murid yang “menuntun” guru menemukan jawabannya. 

Di kelas, ada saja murid yang pura-pura sudah tahu.  Dia menyatakan sudah paham saat ditanya, semata malu bila dianggap belum paham. 

Ketika ada murid yang seperti ini, perlu pendekatan individual (personalisasi). Biasanya, kalau di kelas mereka malu atau merasa tidak nyaman menyatakan kendala yang dihadapinya. Ketika berinteraksi empat mata, mereka lebih terbuka menceritakan kesulitan yang dialami. Guru menanyakan apa yang murid sudah ketahui dan apa yang ingin mereka ketahui. Dengan demikian, guru lebih cepat mendeteksi kendali, untuk kemudian memberikan treatment yang tepat.

Dengan teknik personalisasi, guru mendapatkan informasi dan dapat mendiagnosis kebutuhan personal murid. Memang lebih melelahkan, tapi kalau hal tersebut tidak dilakukan, guru tidak mendapat informasi yang akurat.  Guru tidak bisa membuat peta masalah secara akurat.  Akibatnya, perlakukan kepada murid juga tidak akan sesuai dengan kondisi murid yang bersangkutan.

Personalisasi bisa dilakukan dengan dengan lebih banyak bertanya dan diskusi terbuka. Guru hendak sabar, tidak melakukan terlalu cepat melakukan intervensi.  Caranya, guru memberi kesempatan yang besar kepada murid untuk membangun percakapan di antara mereka. Selama proses belajar, guru sebaiknya tidak  memberikan jawaban. Guru menstimulasi murid-murid menemukan banyak  cara. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan: “Kenapa kamu pakai cara itu?” Adakah cara lain yang bisa digunakan?”

Ketika ada murid yang mengemukakan cara belajarnya, berikan umpan kepada murid-murid yang lain agar terjadi diskusi sehingga ditemukan cara yang paling efektif. 

Nah, kepada murid yang kurang aktif, entah karena pemalu atau memang belum tahu, guru bisa mengajukan pertanyaan yang memantik dia untuk berpendapat. Misalnya, “Bagaimana menurut kamu?”

Ternyata tujuan asesmen, yakni memetakan tingkat kemampuan dan perkembangang murid, bisa dilakukan dengan banyak cara. Lebih efektif bila menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.  Dalam pembelajaran berbasis proyek, murid mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. 

Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah?

Selain itu, dalam pembelajaran berbasis proyek, murid mempunyai pengalaman belajar bersama, mengemukakan ide (gagasan) berinteraksi (bekerja sama) untuk mencapai tujuan, dan presentasi. Dengan demikian, murid terbiasa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi. 

Kuncinya adalah murid mampu melakukan analisa. Supaya kemampuan analisa berkembang, setiap hari guru bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang membuat murid berpikir dan berpendapat. Syaratnya, murid merasakan suasana aman dan nyaman terlebih dahulu. Aman dari cemoohan dan reaksi negatif lainnya saat melakukan kesalahan. Nyaman karena semua warga kelas respek terhadap usaha yang ditunjukkannya.

Membuat guru-guru percaya, yakin, dan mau melakukan asesmen formatif itu bukan hal yang mudah. Di sekolah yang dipimpin Bu Irma, awalnya cuma ada dua guru yang mau mencoba. Namun, Bu Irma tidak patah semangat. Dari dua guru ini, kalau gerakannya berdampak, pasti asesmen formatif akan menular kepada guru yang lain.

Dengan dua guru itulah Bu Irma sering berdiskusi di depan guru-guru yang lain. Tujuannya agar guru-guru yang lain mengetahui apa yang dilakukan kedua guru tersebut di kelas dan bagaiamana perkembangan murid-murid setelah ada perlakuan yang berbeda.

Ternyata, guru-guru yang lain melihat hasilnya. Murid-murid di kelas kedua guru tersebut berkembang lebih baik baik. Akhirnya, mereka tertarik untuk mengikuti langkah kedua guru tersebut. 

Inilah yang disebut menyebarkan “virus” kebaikan. Dimulai dari satu orang yang memulai, yang dianggap “gila” karena dinalai aneh. Kemudian muncul pengikut pertama (jumlahnya tidak selalu satu) yang mengikuti gerakan. Ketika dampak gerakan terlihat, maka orang-orang di sekitar yang semula cuek, mulai melirik dan ikut bergerak.

Semua perubahan dimulai dengan empati. Bu Irma mencoba merasakan apa yang menjadi kegelisahan guru-gurunya. Ada guru yang enggan melakukan sesuatu karena memang belum paham, sehingga dia bertahan dengan cara lama. 

Nah, untuk yang seperti itu, lebih baik didengarkan dulu supaya semua keluh kesahnya, sehingga keluar kendala-kendala yang menjadi faktor penghambat. Ketika kendala supaya terpetakan, masalahnya sudah jelas, baru dipikirkan solusinya. 

Upaya menemukan solusi tidak bersifat top-down. Guru-guru bekerja sama mencari solusi.  Kegiatan itu disebut gallery walk. Setiap guru menuliskan tiga masalah yang ingin diselesaikan. Dari tiga masalah itu, dipilih satu saja yang jadi prioritas. 

asemen yang membuat murid senang

Setelah mendapatkan masalah yang akan dipecahkan, guru menuliskan cara pemecahan masalahnya. Bukan hanya masalah, bisa berupa ide juga. Kalau ide, yang ditulis adalah cara mengembangkan ide tersebut. Hasilnya ditempel di tempat yang sudah ditentukan. Semua guru bisa membaca, memberikan “like” atau komentar (umpan balik).

Pada bagian akhir, Bu Irma menegaskan agar jangan takut gagal.  Ketika mengalami kegagalan, kita bisa melakukan refleksi, kemudian  mencari mentor, dan belajar dari berbagai sumber.

Ingin menonton kembali siarannya? Silakan tonton video berikut

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: