Menemukan Teman Seperjalanan di Jalan Sepi #PendidikanUntukSemua

Penulis : rizqy | 21 Feb, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar

Hamzah (32 tahun) seorang tuna netra dari Makassar, mengatakan ia sering menerima komentar negatif dari para guru yang mengeluhkan kinerjanya di kelas tetapi ia tidak pernah mendapatkan dukungan atau materi yang disesuaikan untuk membantu dirinya untuk terlibat.

Meskipun kurangnya dorongan dari gurunya, Hamzah bersikeras untuk mengejar pendidikan tinggi seperti teman-temannya yang tidak cacat, dan bermimpi menjadi guru di sebuah sekolah Islam. Tetapi Hamzah ditolak pada tahun 2003 oleh fakultas pendidikan (tarbiyah) di Alauddin UIN. Dia diberi tahu bahwa orang buta tidak bisa menjadi guru dan institut itu tidak bisa menampungnya. Dia akhirnya diterima ke departemen sastra Inggris di UNM.

Sosok Hamzah yang dituliskan oleh Dina Afrianty, peneliti La Trobe University, Australia dalam artikel berjudul “People with Disability: Locked out of Learning?” adalah salah satu contoh berhasil seorang disabilitas bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Proses Audiensi Kampus Guru Cikal dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Namun masih banyak pekerjaan rumah berkait dengan akses masuk perguruan tinggi bagi murid disabilitas.

“Usaha-usaha memang sudah dimulai, tapi di seluruh Indonesia belum banyak. Hanya beberapa perguruan tinggi yang mampu menyediakan fasilitas yang memudahkan civitas academica dalam belajar dan mencapai semua tempat dengan menjaga keselamatannya,” kata Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) bidang Akademik, Paulina Pannen.

Itulah salah satu alasan program #PendidikanUntukSemua dijalankan, memberikan akses perguruan tinggi kepada murid-murid penyandang disabilitas. Tantanganya adalah mencari perguruan tinggi yang sudah menjalankan pendidikan inklusi.

Selasa (19/2/2019) Kampus Guru Cikal mulai melakukan audiensi dengan berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Audiensi ini bertujuan untuk mempelajari, sejauh mana perguruan tinggi tersebut peduli dengan mahasiswa penyandang disabilitas.

Perguruan tinggi yang menjadi kunjungan awal oleh tim Kampus Guru Cikal adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemilihan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta karena perguruan tinggi tersebut yang menjadi pelopor perguruan tinggi yang memfasilitasi penyandang disabilitas sejak tahun 2007. Dalam audiensi tersebut tim Kampus Guru Cikal diwakili oleh Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal dan Rizqy Rahmat Hani selaku ketua program #PendidikanUntukSemua . Audiensi dilakukan di gedung PAU lantai 2 UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kami disambut dengan hangat oleh bapak Waryono, selaku wakil rektor bidang kerjasama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Arif Maftuhin selaku ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Keseriusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam menjalankan pendidikan inklusi di perguruan tinggi tidak main-main. Pusat Layanan Difabel menjadi tonggak dalam memperjuangkan pendidikan inklusi.

“Mahasiswa difabel belajar bersama mahasiswa lainnya, tidak ada kelas khusus, tidak ada program khusus bagi mereka. Tugas Pusat Layanan Difabel adalah memastikan bahwa proses mereka dalam kegiatan belajar mengajar dan kegiatan akademik yang lain itu dapat terlibat secara penuh.  Misalnya kalau ada mahasiswa tuli, kita mengirimkan pendamping, baik berupa no taker maupun juru bahasa isyarat. Misalnya ada mahasiswa tuna netra, kita memfasilitasi mereka untuk mengakses materi-materi kuliah dengan proses digitalisasi. Kita mencoba agar proses menjadi inklusif itu bisa benar-benar dirasakan oleh mahasiswa yang belajar di UIN SUKA.” kata Arif Maftuhin.

Dalam audiensi tersebut Kampus Guru Cikal juga menjajaki kemungkinan kerjasama untuk program #PendidikanUntukSemua dengan memberikan beasiswa NusantaRun Enam kepada murid penyandang disabilitas potensional. Gayung bersambut, PLD juga mengakomodir beasiswa untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Namun selama ini mengalami kendala, sedikit yang mengikuti seleksi tersebut.

“Kami sudah lama membuka pendaftaran mahasiswa difabel, bahkan sudah ada jalur khusus dan berbeasiswa, tapi justru yang daftar tidak banyak. Ada kuota 15, pendaftar maksimal 20” ujar Waryono.

Hal tersebut dikarenakan orangtua yang masih merasa takut dan tidak percaya bahwa anaknya mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Tantangan ini terjawab oleh program #PendidikanUntukSemua yang menyiapkan guru, orangtua dan murid penyandang disabilitas untuk siap melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Jadi yang lebih penting sebenarnya adalah adaptasi kelas itu terhadap difabel, bukan pada prasarana fisik atau apa yang mungkin jika disiapkan belum tentu digunakan.” ujar Arif mengakhiri sesi audiensi siang itu.

Apa yang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta perjuangkan selama ini sesuai dengan program #PendidikanUntukSemua Kampus Guru Cikal, pertemuan ini seperti menemukan teman seperjalanan di jalan sepi #PendidikanUntukSemua.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: