Bagaimana Cara Memahami Kebutuhan Khusus Murid?

Bagaimana jika di kelas yang kita ajar ada Anak Berkebutuhan Khusus?
Apa yang harus kita lakukan?
Dan bagaimana agar antarmurid bisa saling menghargai.

Muhammad Abdurrahman

Yuk Simak
Temu Pendidik Mingguan
KGB Pekalongan ke-22
“Memahami Kebutuhan Khusus Murid” yang menghadirkan
Guru Suhud Rois dari KGB Cimahi, dan moderator
M. Abdurrahman dari KGB Pekalongan.

Guru Belajar Pekalongan Memahami Kebutuhan Khusus Murid

Suhud Rois
Pergi ke laut naik kapal selam
Ke laut, kenapa sarungan?
Assalaamu’alaikum, selamat malam
Apa kabar Pekalongan?

Muhammad Abdurrahman
Gula jawa dari aren
Rasa manisnya begitu kaya
Malam Pak SUHUD Keren
Izin belajar bareng ya

Suhud Rois
Siapakah sih , Anak Berkebutuhan Khusus Itu?
Kalau membincangkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pasti dalam benak kita yang terbayang adalah yang fisiknya tidak sempurna, atau ada disfungsi di satu atau beberapa organ tubuh. Iya?

Kemudian berkembang sebuah stigma, yang saya yakin karena latah, anak-anak penyandang learning disability atau learning disorder digeneralisasi sebagai penyandang autism.

Sebenarnya, setiap anak (orang), itu berkebutuhan khusus. Tidak ada yang punya kebutuhan sama. Sudah makan malam? Sendirian atau sama orang lain? Misalnya sama satu atau beberapa orang. Makan ditempat yang sama, menunya sama. Bahkan porsinya pun sama, pakai ditakar segala. Apakah benar-benar sama semuanya? Tidak kan? Sama, dalam belajar pun tidak ada yang kebutuhanannya sama persis. Meskipun IQnya sama, bahkan minatnya sama sekalipun, pasti ada sesuatu yang membedakan yang kemudian disebut kebutuhan khusus.

Namun karena kelas adalah kumpulan individu, maka tidak mungkin semua kekhususan diakomodir. Dibuatlah pengelompokkan besar untuk memetakan dan memudahkan pelayanan. Maka munculllah istilah kesulitan belajar spesifik (learning disability). Mereka yang termasuk dalam kategori berkesulitan belajar adalah penyandang disleksia, ADHD, dan ADD.

Apa Saja yang Dihadapi Siswa Berkesulitan Belajar?
• Masalah bahasa
• Masalah perhatian dan aktivitas
• Masalah ingatan
• Masalah kognitif
• Masalah sosial-emosi

Apa yang Harus Dilakukan?
Ketika sekolah membuka pintu bagi ABK, itu berarti suatu langkah mulia. Mengapa? Dalam banyak kasus ABK tidak mendapatkan tempat di sekolah-sekolah. Seolah-olah mereka itu menjadi beban. 
Namun, menerima saja tidak cukup. Kalau ABK sudah masuk, mau bagaimana? Gurunya siap? Teman-temannya siap? Lingkungannya siap? Tanpa ada kesiapan sekolah, menerima ABK justru mengundang petaka bagi sekolah dan anak tersebut.

Nah, apa saja yang perlu dipersiapkan?

Yang pertama dipersiapkan adalah gurunya. Guru harus benar-benar memahami dan menghargai keberagaman. Mindset guru tentang kesuksesan sekolah juga harus sudah harus lebih maju. Kesuksesan sekolah bukan diukur oleh pencapaian akademik yang indikatornya adalah nilai UN. Sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu mengembangkan anak, sekolah yang membuat anak berdaya.

Guru harus siap untuk melakukan perubahan metode maupun materi pembelajaran. Sebenarnya tidak ada metode yang paling unggul. Yang diperlukan adalah kejeilian guru dalam memilih metode yang paling efektif.

Yang kedua adalah orangtua. Orangtua harus didorong menjadi pendidikan anaknya. Mereka harus dilibatkan dalam pembuatan program bagi anaknya. Keterlibatan ini penting untuk menjaga konsistensi.

Yang ketiga, mempersiapkan murid yang lain. Ini juga sangat penting, karena merekalah yang akan berinteraksi dengan ABK. Interaksi itu bisa bersifat positif, namun tidak menutup kemungkinan anak berdampak negatif.

Oleh karena itu, sebelum ABK masuk kelas, warga kelas harus dipastikan sudah siap menerima teman yang berkebutuhan khusus.

Apa yang Harus Dilakukan?
• Jangan terburu-buru melakukan judgment. Misalnya ada anak yang sangat aktif, langsung kita ambil kesimpulan anak itu hiperaktif. Tetap lakukan observasi. Jangan lupa, anak tersebut harus dites oleh psikolog.
• Bila sudah didapat hasil tes dari psikolog dan juga mendapatkan rekomendasi untuk treatmennya, segeralah membuat program bagi ABK dan juga seluruh kelas. Program yang diberikan kepada ABK harus mendapat support dari lingkungan.
• Buatlah pembelajaran yang berdiferensiasi.
• Berubahlah. Jangan terpaku pada praktik pembelajaran yang klasik (membaca, menulis, tes). Mulailah mengusung pembelajaran yang mengembangkan banyak aspek pada diri anak. Asesmen dan evaluasi juga jangan terpaku pada paper and pencil test. Pelajari dan praktikkan asesmen dan evaluasi yang lebih relevan dan memberdayakan.
• Ini sangat penting : hindari memberi label pada anak. Sekalipun anak tersebut dinyatakan berkebutuhan khusus oleh psikolog. Biarlah itu menjadi bank data yang kita simpan rapat. 
Apalagi kalau label tersebut keluar dari teman-temannya, maka inklusivitas bisa dikatakan gagal.

Sekolah yang suskses mengembangkan bakat anak

Pertanyaan Termin 1
1. Kinanti – Banjarnegara
Bagaimana memberi pemahaman kepada anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman2 lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman.
2. Yuli – Batang
Mindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?
3. Nita – Pekalongan
” jangan terpaku pada paper dan pencil test “
Ketika ada anak ABK yg agak sulit berkomunikasi, tertarik dgn kertas dan pensil, tapi hanya bisa sebatas coretan yang tak beraturan, seperti benang kusut (coretan semaunya sndri). Langkah apa yang harus dilakukan agar anak tersebut dapat lebih terarah kemamuan menulisnya?

Suhud Rois
Pertanyaan
1. Kinanti – Banjarnegara
Bagaimana memberi pemahaman kpd anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman-teman lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman?
Jawaban :
Anak TK, ya? Waduh. Mungkin karakter anak TK hampir sama dengan anak kelas 1. Untuk anak usia awal sekolah, perlu penjelasan yang konkret. Bisa pakai ibarat. Misalnya, apakah mereka punya kakak atau adik di rumah?

Apakah sama antara dia dengan adik atau kakaknya?

Intinya pada akhirnya anak paham bahwa setiap orang itu berbeda.

Bagaimana kalau ada ABK melakukan agresi?

Yang pertama jangan sampai keluar kata “nakal”. Apalagi anaknya belum lancar bicara. Kita pahamkan ke anak yang lain bahwa mungkin anak yang berkebutuhan khusus ini ingin mengatakan sesuatu tetapi belum bisa. Akhirnya muncullah kekesalan, dan kemudian memukul. Tapi harus dipastikan juga bahwa memukul orang lain itu tidak boleh.

Yang kedua kasih praktik bagaimana berinteraksi dengan anak tersebut. Ketika dia melakukan agresi, kita bisa tanya, “Kamu ingin apa? Kesal,ya? Kenapa kesal?” Karena anak blm bisa bicara, maka guru mencari apa yang ingin dilakukan atau dikatakan anak tersebut dengan mengajukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan anggukan atau geleng kepala.

Pertanyaan
2. Yuli – Batang
Mindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?
Jawaban :
Mindset guru tentang kesuksesan sekolah? Masih banyak guru yang memandang keberhasilannya dalam mengajar adalah ketika murid-muridnya mendapat nilai yang tinggi, terutama saat ujian. Tentu saja tidak salah bisa mendapat nilai yang tinggi. namun harus diingat, bahwa tujuan pendidikan yang utama bukan nilai. bahkan dlm UU Pendidkan
Nasional disebutkan yang pertama dari tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang bertakwa. Nah, sudah saaat guru memandang kesuksesan sekolah itu ketika mampu mengembangkan semua muridnya sesuai dengan kapasitasnya, di semua ranah pendidikan.

Pertanyaan
3. Nita – Pekalongan
“Jangan terpaku pada paper dan pencil test “
Ketika ada anak ABK yang agak sulit berkomunikasi, tertarik dengan kertas dan pensil, tapi hanya bisa sebatas coretan yang tak beraturan, seperti benang kusut (coretan semaunya sendiri).
Langkah apa yg harus dilakukan agar anak tErsebut dpt lebih terarah kemamuan menulisnya?
Jawaban :
Harus diketahui dulu apa kekhususannya. Sulit berkomunikasi seperti apa, inilah pentingnya anak dites oleh psikolog, dari hasil tesnya kita akan mendapatkan informasi handycapyang dihadapi anak dan biasanya rekomendasi program untuk membantu anak tersebut, tanpa ada hasil tes, melakukan treatmen bisa jadi malapraktik, ibarat orang sakit batuk diberi obat cacing.

Soal kemmapuan menulis, sebelum sampai latihan menulis, ada tahap yang harus dilalui anak. Motorik halus dan otot tangannya sudah terlatih. Di TK banyak kegiatan untuk menstimulasi hal tersebut

Muhammad Abdurrahman
Sambil menunggu pertanyaan rekan-rekan, saya jadi tergelitik dari sini, dalam menjalankan pendidikan di Sekolah, adalah hal yang bijak jika kita berkolaborasi dengan berbagai pihak. Kalau di kasus ini Psikolog ya

Suhud Rois
Keberadaan psikolog mutlak. kalaupun tidak bisa standby, setidaknya ada jadwal psikolog datang ke sekolah untuk diskusi dengan guru dan orangtua.

Muhammad Abdurrahman
Kita bahkan boleh meminta saran program dari Psikolog Benar begitu Pak Suhud?

Suhud Rois
Bukan minta, biasanya psikolog yang ngasih saran

Muhammad Abdurrahman
Nah, berati sekolah membangun relasi juga dengan psikolog, untuk memastikan kita memahami anak dengan lebih baik. Mantap Saya jadi ingat dengan Pak Niamil Hida, sekolahnya sudah menjalin hubungan baik dengan Psikolog, meski belum bisa standbydi sekolah

Pertanyaan Termin 2
1. Kurnia – Pekalongan
Bagaimana cara guru membagi waktu untuk melayani anak-anak yang berkebutuhan khusus di tengah padatnya jadwal dan target pembelajaran. Apakah guru sepenuhnya harus menuntaskan pelayanan pada anak berkebutuhan khusus?
2. Nazila – Pekalongan
Biasanya anak yang berkubutuhan khusus pasti butuh pendampingan, nah bagaimana supaya nantinya anak yang berkebutuhan khusus itu lebih mandiri lagi dalam menjalani hidup ini seperti orang normal?
3. Chotim Najah – Pekalongan
Jadi gini. Kebetulan saya kan memberikan les privat untuk anak ABK. Kondisi anaknya kidal, namun setelah aku berbincang dengan orang tuanya dulu pas TK sempat dipaksa untuk berlatih nulis pakai tangan kanan. Namun akhirnya anak tersebut dibiarkan untuk menulis dengan tangan kanan. Nah anak tersebut sekarang kelas 4, namun tulisannya kata guru SDnya tidak rapi, kesulitan untuk membaca, makanya menyuruh ortunya untuk mengajari agar si anak tersebut menulisnya bagus.

Nah yang menjadi masalah disini. Saya pnya pandangan, kalau untuk anak SD, bagus atau tidaknya tulisannya jangan dipaksakan, yang terpenting selama tulisan itu bisa dibaca dan huruf-huruf benar, itu tidak masalah,

Nah kira-kira kalau anak tersebut yang asumsinya kidal, tapi disuruh memperbagus tulisannya, kira-kira bakalan berpengaruh ke psikologisnya tidak ya?

Karena bagi saya selama ini, saya masih bisa membaca tulisannya anak tersebut. Kemampuan matematika anaknya masih sulit, Kira-kira utk mengajari matematika (berhitung) agar mudah dipahami bagaimana ya pak ? Mungkin ada referensi yang bisa saya coba.

Suhud Rois
Pertanyaan
1. Kurnia – Pekalongan
Bagaimana cara guru me,bagi waktu untuk melayani anak-anak yg berkebutuhan khusus di tengah padatnya jadwal dan target pembelajaran. Apakah guru sepenuhnya harus menuntaskan pelayanan pada anak berkebutuhan khusus?
Jawaban
Strateginya adalah membuat pembelajaran yang berdiferensiasi. Ada bukunya. Differensiasinya bisa di materi maupun kegiatan. Sebenarnya idealnya ketika ada ABK, maka kelas tersebut perlu GPK. Guru Pengacau Kelas. Eh,bkn. Guru Pendamping Khusus.

Kalau ada GPK, program bisa berbung dengan anak yang lain, bisa juga sendiri. Tergantung pada tujuan.

Kurnia
Terimakasih pak, sayangnya di sekolah saya blm ada GPK, biasanya saya bekerja sama dengan guru BK (bimbingan konseling), tapi seringnya pelayanannya belum maksimal dan belum sampai tuntas, karena akhirnya diserahkan guru mata pelajaran lagi

Jalan jalan ke Pekalongan
Jangan lupa ke Museum Batik
Belajar di Temu Pendidik Mingguan
Dengan narsum Pak Suhud yang baik

Suhud Rois
Pertanyaan
2. Nazila – Pekalongan
Biasanya anak yang berkubutuhan khusus pasti butuh pendampingan, nah bagaimana supaya nantinya anak yang berkebutuhan khusus itu lebih mandiri lagi dalam menjalani hidup ini seperti orang normal?
Jawaban
Inilah pentingnya ABK memperoleh kesempatan berinteraksi dengan anak-anak pada umumnya. Anak-anak itu bisa menjadi contoh dan juga supporter. Hal penting lainnya adalah melatihkan keterampilan hidup, yang paling dasar adalah tentang diri sendiri (self help) misalnya bagaimana bersuci, memelihara kebersihan, dan kebutuhan -kebutuhan dasar lainnya.

Cara Memahami Kebutuhan Khusus Murid

Muhammad Abdurrahman
Jadi membaurkan ABK berinteraksi juga bisa membuat anak-anak yang berempati akan turut mendukung proses belajar ABK ya.

Suhud Rois
Pengalaman saya seperti itu. Alhamdulillah.

Nazila
Alhamdulillah, anaknya sudah mulai melakukan hal-hal sendiri pak, spt makan, mandi walaupun masih kesusahan, nah lalu ada masalah juga nih, anaknya blm bisa menulis pak, dia kelas 1 SMA. Ketika gurunya ingin melatih menulis dia gak mau katanya capek. Lalu, bagaimana cara mengembangkan, & peran orang tua harus bagaimana?

Suhud Rois
Sepertinya kita harus mulai memahami dulu profil psikologi anak. Ini juga salah satu potret pendidikan inklusi di Indonesia, di mana sebenarnya secara sistem dan sumber daya belum siap, tetapi dijalankan. Kunci penting mendampingi ABK adalah kita mengenali kekhususannya. Kemudian jangan semuanya harus dikaitkan dengan pencapaian akademik. Ada hal-hal lain yang jauh penting bagi anak-anak istimewa ini. Mereka butuh dipahami, diterima, dihargai.

Anak SMA blum bisa nulis? Profil psikologinya sudah ada atau belum? Sudah pernah dites IQ? Bagaimana ia memahami sesuatu? Sekali lagi kita tidak bisa mencari program apaun sebelum kita tahu profil psikologi anak tersebut. Keluarga tentu saja menjadi bagian penting bagi ABK, mereka juga harus memahami kondisi dan kebutuhan anaknya, yang paling penting adalah menerima kehadiran mereka dengan rida dan penuh rasa syukur.

Nazila
Bagaimana cara mengetahui profil psikologisnya pak? Soalnya orang tuanya itu maaf (mungkin masih awam) jadi kurang paham dengan hal-hal seperti itu. Mereka hanya menerima, mensyukuri & mencoba mendidiknya dengan lebih baik saja.

Suhud Rois
Dengan dites oleh psikolog,bu

Nazila
Ok. Terima kasih pak Suhud. Sangat bermanfaat bagi kami

Suhud Rois
Pertanyaan
3. Chotim Najah – Pekalongan
Jadi gini. Kebetulan saya kan memberikan les privat untuk anak ABK. Kondisi anaknya kidal, namun setelah aku berbincang dengan orang tuanya dulu pas TK sempat dipaksa untuk berlatih nulis pakai tangan kanan. Namun akhirnya anak tersebut dibiarkan untuk menulis dengan tangan kanan. Nah anak tersebut sekarang kelas 4, namun tulisannya kata guru SDnya tidak rapi, kesulitan untuk membaca, makanya menyuruh ortunya untuk mengajari agar si anak tersebut menulisnya bagus. Nah yang menjadi masalah disini. Saya pnya pandangan, kalau untuk anak SD, bagus atau tidaknya tulisannya jangan dipaksakan, yang terpenting selama tulisan itu bisa dibaca dan huruf-huruf benar, itu tidak masalah, Nah kira-kira kalau anak tersebut yang asumsinya kidal, tapi disuruh memperbagus tulisannya, kira-kira bakalan berpengaruh ke psikologisnya tidak ya? Karena bagi saya selama ini, saya masih bisa membaca tulisannya anak tersebut. Kemampuan matematika anaknya masih sulit,
Kira-kira utk mengajari matematika (berhitung) agar mudah dipahami bagaimana ya pak ?
Mungkin ada referensi yang bisa saya coba.
Jawaban
Kekhususannya apa, Bu?

Sudah pernah dites oleh psikolog?
Kalau belum sebaiknya direkomendasikan untuk tes dulu. Soal tulisan, saya termasuk guru yang tidak menuntut tulisan harus bagus. Salah satu faktornya adalah kesiapan menulis yang meliputi motorik halus dan kekuatan otot. Kalau anaknya kidal, berarti tangan kirinya yang lebih kuat. Saya cenderung lebih menyarakankan nulis pake tangan kiri. Murid saya yang sekarang ada juga yang kidal, nulis pakai tangan kiri, tapi makan pakai tanga kanan.
Dulu juga ada murid saya yang kidal. sama, kalau nulis pakai tangan kiri, makan pakai tangan kanan. Matematika sulit? Banyak faktornya. kalau dari segi learning disability bisa jadi discalculi. bisa jadi kurang latihan, atau anaknya memang tidak tertarik pada matematika.

Bagaimana mengajarinya? petakan dulu kondisi anak.
Anak ini sebenarnya seperti apa sih? ga bisa matematika karena apa?
Itu yang harus dicari jawabannya dulu, baru setelah itu cari stimulus yang tepat

Chotim Najah
Udah, sejak kecil sudah mendapat treatment dari psikolog.
Dulu di usianya yang seharusnya sudah bisa jalan dan berbicara, dia telat. Kalau saya berikan pelajar selain matematika, dia cepet bangt nyantel dan daya ingatnya bagus, bisa dikatakan anaknya cerdas dan kritis, dia selalu menanyakan yang terkadang bikin saya geleng-geleng, pertanyaannya tidak mencerminkan anak kelas 4 sd, karena
menurut saya pertanyaannya berbobot. Tapi, untuk hitungan angka, terkadang angka-angka yang kecil kesulitan, selama ini saya pakai alat bantu stick es krim begitu, cuman yang jadi masalah. Pelajaran dikelasnya hitungan angkanya sudah angka ribuan, FPB, KPK. Akhirnya untuk menyeimbangkan proses belajar yang masih madas, dengan pelajaran yang ia terima di sekolah bagaimana ya ? Kalau untuk kelasnya. Di sekolahnya dia sudah dimasukan di kelas ABK.

Suhud Rois
Treatmentnya untuk berjalan dan berbicara, ya? kalau tes psikologinya bagaimana? Kalau dia cepat paham, bisa jadi diskalkuli. tapi terlalu dini juga menduga hal demikian. Soal materi matematika, harus dari yang dia kuasai. tidak mungkin dia harus mengerjakan materi yang rumit, tambah anti sama matemtika nanti

Chotim Najah
Terimakasih banyak pak atas ilmu.ny 🙏🙏
Terimakasih utk semuanya juga

Suhud Rois
Untuk kesmpatan yg diberikan
Untuk sambutan yang hangat
Untuk apa saja dan siapa saja
Sebelum pamit mundur saya mau berpantun dulu. Boleh?

Hujan – hujan ditraktir Cuanki.
Terima kasih!

Muhammad Abdurrahman
Jalan jalan ke kota solo
Makan teamlo rasanya Yahud
Terima kasih banyak lho
buat Pak Guru Suhud

Terima kasih rekan-rekan semua, saya mengucapkan minta maaf apabila ada kekurangan dan ketidakbaikan tutur kata dari saya. Saya selaku moderatur undur diri

Assalamualaikum w.w.
Salam Merdeka Belajar
Sekali Merdeka Belajar
Tetap Merdeka Belajar

Follow ya
Instagram.com/kgbpekalongan
Instagram.com/kampusgurucikal

Like facebook
Fb.com/kgbpekalongan
Fb.com/kampusgurucikal

About the Author
Tim Pengetahuan Kampus Guru Cikal. Suka belajar bareng anak-anak. Suka board games. Suka nyanyi dalam hati.

Leave a Reply

%d bloggers like this: