Bingung, Praktik Asesmen Diagnosis Non-kognitif?

Penulis : OKTAVIANUS ADHI NUGROHO | 30 Okt, 2021 | Kategori: Asesmen, Asesmen Nasional, Belajar, Merdeka Belajar

Masih sering bingung terkait asesmen diagnosis? Apalagi ketika mendengar asesmen non-kognitif? Bagaimana sih praktik asesmen diagnosis non-kognitif?. Akibat pandemi segala bidang kehidupan berubah, seperti halnya perubahan yang signifikan terjadi pada bidang pendidikan. Berbagai cara telah dicoba untuk menghadirkan pembelajaran daring, pembelajaran jarak jauh (PJJ), dan campuran. Pembelajaran yang sebelumnya berlangsung secara tatap muka berubah menjadi pembelajaran daring. Internet dengan berbagai manfaatnya sangat membantu guru dan murid. Bu Marjenny Tanjung adalah guru yang mengajar bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Batang Anai, akan berbagi pengalamannya dalam praktik asesmen diagnosis non-kognitif pada pembelajaran jarak jauh.

Ketika pembelajaran daring, Bu Marjenny mulai mempersiapkan dari perencanaan pembelajaran sampai evaluasi hasil atau asesmen dengan matang. Bu Marjenny melakukan praktik asesmen diagnosis sebagai salah satu upaya untuk membantu murid, terutama yang paling terdampak pandemi dan berpotensi paling tertinggal. Proses pencarian sistem asesmen kognitif dan non-kognitif membuat Bu Marjenny sampai harus memikirkan ide baru bahwa asesmen harus dipersiapkan sedemikian rupa. Konsekuensinya adalah penilaian dilakukan  tidak hanya pada akhir pembelajaran. Asesmen formatif terdiri dari asesmen diagnosis, yang dapat digunakan menjadi tolok ukur dalam menganalisis kelebihan dan kelemahan murid. Asesmen formatif sangat berguna dalam perancangan pembelajaran selanjutnya, menggambarkan proses pembelajaran, serta sebagai media evaluasi akhir pembelajaran.

Tetapi terkadang Bu Marjenny lupa mempraktikkan asesmen non-kognitif dalam proses pembelajarannya. Padahal praktik asesmen non-kognitif dilakukan di semua kelas yang diajar Bu Marjenny secara berkala. Tujuan praktik asesmen non-kognitif adalah untuk mendiagnosis kondisi murid sebagai dampak pembelajaran jarak jauh yang dilakukan. Bu Marjenny mendapatkan ide untuk melakukan asesmen non-kognitif terhadap murid-muridnya melalui sapaan yang disampaikan di grup WhatsApp kelas. Sapaan yang dikirim berupa emoticon atau emoji yang nantinya dijawab atau direspon murid juga menggunakan emoticon atau emoji. Target asesmen ini adalah murid secara langsung dan orang tuanya. Dengan tetap berdasarkan kurikulum yang menjadi acuan dan kerangka berpikir dalam menilai murid-muridnya. Maka diperlukan kolaborasi antara guru, murid, serta orang tua murid.

Praktik asesmen non-kognitf melalui respon emoticon ternyata tidak berjalan lancar. Karena aplikasi WhatsApp menggunakan internet, sehingga tantangan pertamanya adalah pemakaian kuota internet murid. Bu Marjenny menyadari bahwa sebagian orang tua murid mengalami permasalahan ekonomi, sehingga murid kesulitan untuk memperoleh kuota internet. Tetapi tantangan pertama mendapatkan solusi dengan adanya bantuan kuota internet dari pemerintah. Sekolah juga menyediakan fasilitas Wifi gratis untuk murid-murid. Tantangan berikutnya yang muncul adalah kebosanan murid karena sebagian murid terkadang kurang serius, lelah, dan apatis dalam merespon. Sehingga respon yang murid berikan tidak sesuai dengan yang murid rasakan. Ada murid yang memberikan emoji senyum dan gembira ketika Bu Marjenny menyapa, padahal sedang berada dalam kondisi dan situasi sakit. Lalu Bu Marjenny memberikan pemahaman kepada murid bahwa mereka harus memberikan respons yang sesuai apa yang dirasakan melalui emoticon yang mereka kirim di grup whatsapp kelas. Emoticon atau emoji tersebut adalah ekspresi yang mereka sampaikan dan mewakili hal-hal yang mereka rasakan.

Baca Juga :Praktik Asesmen pada Perilaku Murid

Bu Marjenny lalu bertanya tentang kabar murid-muridnya sebelum proses pembelajaran dimulai. Karena Bu Marjenny mengajar bahasa Inggris maka murid-muridnya harus menjawab juga dalam bahasa Inggris, dilengkapi dengan emoticon. Dengan begitu Bu Marjenny dapat melihat dan merasakan perasaan murid-muridnya. Kalimat-kalimat sapaan yang disampaikan, seperti how are you? How’s life? How’re things with you? How’ve you been? Yang dikirim melalui WhatsApp Grup. Kemudian murid-muridnya membalas dengan respon yang sesuai disertai emoticon yang mewakili perasaan yang sedang dirasakan. Ada murid yang membalas dengan emoji senyum, semangat, gembira, bingung, ataupun sedih dan cemberut. Hal tersebut juga diulangi pada akhir pembelajaran karena untuk memastikan pemahaman murid terhadap materi pembelajaran.

Tetapi ada beberapa murid yang tidak berani menyampaikan perasaannya secara langsung terkait pembelajaran. Bu Marjenny mencoba menyampaikan dan memberikan pemahaman bahwa sudah seharusnya mereka jujur dan berani dalam menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikan secara langsung dan tidak ditutupi, karena menyangkut kemajuan belajar. Setelah memahami, murid lebih terbuka dalam memilih dan mengirim emoticon masing-masing, sesuai kondisi yang sedang dialami dan rasakan. Setelah menyampaikan perasaan dan pemahaman terhadap materi pembelajaran, murid-murid merasa cukup terbantu dengan metode yang digunakan. Buktinya murid-murid bersedia menyampaikan pemahamannya dan kondisi masing-masing. Ada juga yang menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Bu Marjenny, karena merasa bahwa penyampaian melalui emotikon membuat nyaman dan senang karena mendapatkan umpan balik. 

Bu Marjenny dalam praktik asesmennya dapat mencari tahu masalah psiko-sosial yang sedang dialami murid-muridnya dan tingkat pemahaman murid terhadap materi pembelajarannya. Hasil praktik asesmen melalui emoticon ini menjadi dasar pilihan strategi pembelajaran dan pemberian pelajaran tambahan kepada murid-murid yang paling tertinggal. Hasil dari metode ini adalah perkembangan pembelajaran, kemampuan, dan daya tangkap murid, dan perkembangan capaian prestasi murid. Emoticon yang dikirimkan murid,dapat menunjukkan siapa yang bisa memahami dengan cepat, normal, atau lambat.

Praktik asesmen non-kognitif bertujuan untuk mengukur aspek psikologis dan kondisi emosional murid. Apa yang sedang dirasakan murid seperti senang, sedih, tertekan, bosan, atau mengalami keadaan yang sulit akan terlihat. Praktik asesmen non-kognitif melalui emoticon juga dapat dikolaborasikan dengan asesmen kognitif pada proses evaluasi, yang berupa asesmen diagnosis terhadap murid-murid.

Bagaimana tertarik untuk melakukan praktik asesmen non-kognitif seperti Bu Marjenny? Semoga dapat membantu, jangan lupa untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. 

Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII! 

klik : https://tpn.gurubelajar.org

About the Author
Penulis Cerita - Desainer Program Guru Belajar | Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Surabaya

One thought on “Bingung, Praktik Asesmen Diagnosis Non-kognitif?”

  1. Umi Safari berkata:

    Great idea, will do at my class

Leave a Reply

%d bloggers like this: