Banyak Program Gemar Membaca, Murid Masih Sulit Mengeja, Solusinya?

Penulis : Opiye | 30 Jan, 2020 | Kategori: Temu Pendidik Mingguan

Suhud Rois 

Jauh sebelum gerakan literasi menjadi viral, di awal menjadi guru (awal dekade 2000-an), untuk kelas yang saya pegang, saya sudah punya program membaca setiap pagi. Persis seperti sekarang yang banyak dipraktikkan, yakni sebelum mulai jam reguler. Waktu itu saya sangat yakin akan pentingnya kebiasaan membaca. Tentu saja sampai saat ini saya pun masih tetap yakin.

Begitu bersemangatnya, saya sampai membawa beberapa koleksi pribadi ke kelas dan selalu menyempatkan berburu koleksi bacaan yang cocok bagi anak-anak. Tak ketinggalan, saya mengerahkan orang tua โ€“lewat anak-anak tentu sajaโ€• untuk merelakan sebagian buku bacaan disimpan di kelas.

Mendapat beragam bacaan, anak-anak tentu saja antusias. Menceritakan hal-hal asyik dari sebuah buku menjadi sarana efektif memantik rasa penasaran anak-anak, yang mendorong mereka membaca dan membaca lagi.

Tentu saja hati saya berbunga-bunga. Keinginan saya menyebarkan kegemaran membaca tercapai sudah. Wow!

Sama sekali tidak ada yang salah dengan kegiatan membaca. Namun apa yang saya lakukan, seiring berjalannya waktu, memunculkan titik-titik jenuh. Semakin lama, titik-titik itu semakin banyak dan membesar.

Awalnya saya berpikir itu sebuah kejenuhan yang wajar. Untungnya, saya cepat sadar. Ada sesuatu yang salah. Bukan semua. Bukan kegiatan membacanya yang salah. Sesuatu yang lain. Apa itu? Saya belum tahu. 

Suhud Rois 

Fenomena itu membuat saya harus berhenti sejenak. Saya perlu jeda untuk melangkah lebih jauh. Jeda yang saya maksud tidak dengan menghentikan kegiatan membaca. Alih-alih menghentikan, saya justru mencari kegiatan lagi yang dilakukan setelah membaca.
Ide-ide beterbangan. Muncul sangat banyak dan dari berbagai sumber. Saya sangat bergairah kalau sudah begini.

Maka, kegiatan membaca bertambah. Bukan sekadar membaca, ada kegiatan setelahnya. Menuliskan kembali isi buku tidak saya masukkan sebagai alternatif kegiatan. Itu sudah sangat mainstream dan punya potensi besar membuat kebosanan. Saya cari ide-ide yang lebih โ€œgilaโ€.

Menurut saya, hal terpenting membaca bukan mengerti apa yang dibaca. Saya ulangi: hal terpenting membaca bukan mengerti apa yang dibaca. Kok?

Ada yang lebih penting dari mengerti apa yang dibaca, yaitu mendapatkan ide baru. Ini bukan lagi penting, tapi sangat penting. Setidaknya menurut saya. Ide adalah barang mahal. Tidak semua kelas dan sekolah bisa menghadirkan ide-ide baru dalam proses belajarnya.

Nah, membaca harus menghasilkan ide. Itu yang saya pikirkan. Bahkan membaca cerita fiksi pun harus membuat anak berkembang kreativitasnya. Ternyata, ketika satu pintu terbuka, maka pintu-pintu yang lain akan terlihat dan terbuka. Kita tinggal memasukinya. Ketika saya mencoba sebuah kegiatan setelah membaca, maka saya menemukan alternatif kegiatan yang semakin beragam.

Dimulai dengan meneruskan cerita versi anak-anak, saya punya ide-ide lain. Misalnya, dibalik ceritanya. Misalnya bagaimana jika tokoh antagonis menjadi tokoh protagonis, dan sebaliknya. Mendapat sesuatu yang baru, anak tertantang. Mereka antusias dan bebas mengembangkan imajinasinya. Satu hal lagi yang saya pelajari, yakni tantangan. Anak-anak perlu tantangan. 

Sadar bahwa anak-anak selalu butuh tantangan dan hal baru, maka kegiatan setelah membaca pun beragam. Beberapa yang saya ingat adalah:
1. Merancang kaus sesuai dengan karakter tokoh
2. Membuat menu makan siang kesukaan tokoh
3. Menulis surat kepada penerbit tentang buku yang dibaca
4. Membuat cover baru
5. Kalau ceritanya difilmkan, siapa aktor dan aktris yang cocok memerankan tokohnya?
6. Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang kamu lakukan? Mengapa?
7. Kalau kamu jadi penulisnya, bagaimana membuat akhir ceritanya lebih dramatis?
8. Membuat boneka
9. Membuat buku pintar
10. Tidak mungkin saya sebutkan semuanya.

Semua kegiatan itu ada benang merahnya. Benang merahnya adalah hal tersebut tidak akan dapat dilakukan kalau anak sekadar mengerti apa yang dibacanya. Anak harus punya ide baru, seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Ini saya sebut mengikat makna. Sesuatu ada maknanya kalau mempunyai daya guna. Sebuah bacaan akan bermakna kalau mempunyai daya menggerakkan pembacanya. Membaca akan bermakna bila setelahnya muncul kekuatan untuk bergerak dan produktif.

Ketika di usia sekolah dasar mereka mendapatkan stimulasi seperti di atas, perubahan besarnya tidak akan tampak dalam waktu singkat. Yang jelas kelihatan adalah kegembiraan dan antusiasme saja. Namun, dampaknya akan terlihat beberapa tahun ke depan. Saya yakin.

So, kegiatan literasi tidak boleh berhenti pada titik membaca dan melaporkan isi bacaan. Membangun generasi literat harus dimulai dari dini, dengan kegiatan yang lebih terstruktur. Jadikan membaca sebagai kegiatan literasi yang menumbuhkan, bukan sekadar prestise yang diukur dengan kuantitas semata tapi miskin kualitas.

Itu baru dalam tataran membaca. Keterampilan literasi yang lain juga harus dikembangkan. Literasi bukan sekadar membaca tulisan, tetapi juga membaca tanda-tanda. Tanda yang dimaksud bisa berupa papan petunjuk atau peringatan, bahasa tubuh, mimik muka, gejala-gejala sosial, sampai tanda-tanda (gejala-gejala) alam. 

Rofiqoh

Wah benar-benar membuka mata kita bahwa keterampilan literasi tidak hanya sebatas membaca saja

Sepertinya bapak ibu disini sudah tidak sabar ingin bertanya kepada narasumber kita malam ini. 

Rofiqoh 

Untuk itu, bagi bapak ibu yang ingin bertanya kami persilahkan untuk 3 penanya terlebih dahulu..

Boleh acungkan tangannya๐Ÿ– 

Makhmudah . 

Saya mengajar di kelas 1 jumlah siswanya Ada 15 anak. Ada 6 anak yang belum bisa baca dan tulis. Namun, berjalannya waktu saya coba lebih fokus untuk belajar menulis terlebih dahulu kemudian membaca. Perlahan-lahan kemampuan menulisnya membaik. Namun, dalam membaca untuk membuat anak menghafal a b c d (abjad ) ini saya masih kebingungan bahkan susah membedakannya dan cenderung lupa. Karena, ada beberapa anak yang sulit fokus. Bagaimana ya bu/bapak untuk menangani dan membantu anak-anak supaya kemampuan membaca dan menulis menjadi berkembang lebih baik? 

Rofiqoh

Untuk Pak Suhud, saya persilahkan untuk bisa langsung menjawab pertanyaan dari bu Makhmudah terlebih dahulu 

Pupu Siti Marpuah 

Assalamualaikum selamat malam Pak senang bisa bergabung disini. tahun ini saya mendapat kepercayaan untuk mengajar kelas 1 dan semenjak 8 tahun mengajar baru kali ini mengajar kelas 1. di kelas saya ada 24 anak.. pertanyaan yang saya ajukan.. lebih baik manakah qt lebih memfokuskan belajar menulis atau membaca dan pertanyaan kedua ada beberapa murid yang sudah lancar membaca bacalah 2 tapi ketika diperintahkan untuk menulis satu kata dia seperti kebingungan bahkan bertanya hurufnya apa saja.. saya jadi bingung sendiri Pak kenapa bisa begitu apakah menggunakan bacalah sudah tepat atau seperti apa yang lebih baik dalam mengajarkan membaca.. terima kasih Pak๐Ÿ˜Š 

Suhud Rois 

Kalau pengalaman saya, di rumah maupun di kelas, ketika anak sudah bisa membaca, maka ia bisa juga menulis. Kemampuan membaca dan menulis tiap anak tidak sama. Ini yang harus dipahami. Penyebabnya pun ada beberapa hal. Bisa jadi ada hambatan khusus, disleksia misalnya. Bisa juga karena stimulan yang tidak pas. Faktor lainnya adalah tingkat kecerdasan. Harus dicari tahu dulu penyebabnya apa. Ini penting untuk memberikan treatment yang tepat. Tanpa mengetahui dulu apa faktor penyebabnya, ibarat dokter yang memberikan resep tanpa melakukan diagnosis terlebih dahulu. 

Suhud Rois 

Waalaikumussalam. Saya belum pernah melihat buku Bacalah. jadi saya tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk sebagai alat belajar membaca. kemungkinan anak tersebut belum bisa membaca, hanya hafal. sehingga ketika disuruh menulis, dia bingung karena memang belum mengenal huruf penyusun kata tersebut 

Rofiqoh

Untuk penanya ketiga saya persilahkan kepada bu Hartina 

Makhmudah

Lalu, sebaiknya bagaimana pak?
Bagaimana menangani anak-anak disleksia atau karena tingkat kecerdasannya yang bermasalah? 

Suhud Rois 

mengajar membaca banyak metodenya. mana yang paling baik? yang paling baik adalah yang sesuai dengan gaya belajar anak. Jadi setiap anak butuh cara belajar membaca yang berbeda-beda, sesuai dengan gaya belajarnya lakukan diagnosa dulu. cari tahu apa penyebabnya. baru lakukan treatment 

Pupu Siti Marpuah 

baik Pak terima kasih atas jawabannya insya Allah saya mencoba metode lain yang tidak menggunakan bacalah krn memang mungkin anak wkt tk atau di rumah menggunakan buku tersebut sebelumnya jadi mungkin hafal. 

Hartina 

Saya mengajar di SMP. Saya punya anak wali bisa dibilang sangat memprihatinkan. Kenapa saya katakan demikian, anak seumuran dia belum mampu membaca, jangankan membaca, mengenal huruf saja kewalahan๐Ÿ˜‚. Harapan kami dari pihak sekolah anak ini bisa, langkah awal kami mengajarkan pengenalan huruf, sambung kata. saya rasa ini juga butuh waktu,
Bagaimana cara menangani masalah tersebut? 

Makhmudah 

Baik pak. Terima kasih untuk jawabannya.
Insya Allah, saya akan melakukan diagnosa. Mudah-mudahan bisa memberikan jawaban dan pemecahan yang baik. 

Suhud Rois 

Nah, ini. menurut saya, yang berperan penting dalam belajar, termasuk belajar membaca adalah orang tua. anak saya sebelum TK sudah bisa membaca. Saya sama sekali tidak mengajari mereka membaca. Cuma rutin dibacakan buku sejak bayi.

Rofiqoh

Baik terima kasih untuk bu Makhmudah dan Pupu yang sudah bertanya. Apakah sudah cukup jelas? 

Pupu Siti Marpuah 

O begitu ya Pak. biasanya saya pun sebelum belajar suka membacakan cerita kepada anak-anak pak cuma memang beberapa minggu ini saya tidak sempat karena memang waktu yang terbatas. padahal sekolah sy full day๐Ÿ˜tapi tetap saja masih merasa kurang waktu 

Suhud Rois 

Sama dengan jawabannya sebelumnya: Sudahlah diketahui akar penyebabnya? Sudahkah dilakukan diagnosa? Kalau belum, sebaiknya dicari dulu ada apa dengan anak tersebut. perlu dilakukan tes psikologi. ini juga sebagai bagian memahami kebutuhan anak. 

Makhmudah

Kebanyakan orangtua tani di tempat saya tidak memberikan edukasi pendidikan di rumah pak. Karena diantaranya ada orangtua yang buta huruf, dan orangtuanya melepas begitu saja anaknya di sekolah. Kalau belum bisa baca komplain, tanpa tau usaha kami. 

Pupu Siti Marpuah 

Alhamdulillah Pak moderator sudah cukup jelas dan membuka lebih banyak ide lain dalam belajar membaca 

Fiola Indriana 

Assalamualaikum selamat malam Pak, senang bisa bergabung di grup ini. Saya guru TK Pak satu kelas ada 11 anak. Ada pertanyaan yang saya ingin ajukan perihal problem yang saya alami, ada satu anak yang awalnya sudah bisa membaca kata terbuka tetapi setelah libur anak tersebut jadi lupa dan tidak kenal huruf. Bagaimana cara terbaik untuk mengajarkannya Pak… terima kasih Pak ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™ 

Rofiqoh

Kalau sudah, kami akan buka term 2 untuk 3 orang penanya selanjutnya.

Tadi yang sudah mengacungkan tangan bu Nilam sebagai penanya pertama. Boleh mengajukan pertanyaan. 

Nilam Rahmawati 

Iya terima kasih,saya mengajar kelas 1. Di dalam kelas terdapat murid 17 siswa, tetapi ada siswa 8 yang belum bisa baca yang lancar bahkan ada yang belum bisa baca sama sekali, sudah saya beri metode tetap belum bisa saya sampai bingung Pak mohon solusinya. Terima kasih 

Fiola Indriana 

Assalammualaikum selamat malam pak, senang bisa bergabung di grup ini. Saya guru TK pak satu kelas ada 11 anak. Ada pertanyaan yang saya ingin ajukan perihal problem yang saya alami, ada satu anak yang awalnya sudah bisa membaca kata terbuka tetapi setelah libur anak tersebut jadi lupa dan tidak kenal huruf. Bagaimana cara terbaik untuk mengajarkannya Pak. terima kasih Pak ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™ 

Suhud Rois 

pertanyaannya masih mirip-mirip dengan pertanyaan sebelumnya. Jadi jawabannya juga masih sama. Pahami dulu anaknya. Punya kendala apa, butuh apa. Saya akan lebih senang bila pertanyaan lebih mengarah pada bagaimana aktivivtas membaca. Bukan belajar membaca.๐Ÿ˜Š 

Rofiqoh

Ada yang masih mau bertanya mengenai bagaimana aktivitas membaca di kelas? Bukan mengenai belajar membacanya.

Boleh acungkan tangannya yaa 

Fitra Elnurianda 

Saya tertarik dengan statement bapak “Hal yang terpenting dari membaca bukan mengerti apa yang dibaca”

Pertanyaannya bagaimana memulai bahkan menghidupkan aktivitas membaca ketika murid setelah membaca saya coba tanya apa yang tokoh bacaan tadi lakukan saja mereka banyak yang kebingungan?

Muridnya kelas 1 dan 2 SD, kebetulan kami sekolah yang menerima semua potensi murid sehingga tidak ada tes akademik, rata2 yang tidak bisa membaca 50% dari jumlah murid. 

Irma Laila 

Terima kasih atas kesempatannya. Saya punya murid anak SMK, tulisannya itu jelek banget saya sampai tidak bisa membaca. Tiap kali dia mengumpulkan tugas ke saya saya akan memanggilnya untuk membacakan ke saya. Bgmn cara agar dia bisa memperbaiki tulisannya selain saya suruh ? Apakah saya juga gpp mengajari dia memperbaiki tulisannya krn saya bukan guru Bahasa Indonesia di sekolah
Maaf kalau pertanyaannya kurang greget, krn thn ini siswa barunya sungguh luar biasa ๐Ÿ˜๐Ÿ™ 

Wahyuniar Yusuf 

Bagaimana mengelola sudut baca kelas untuk lebih efektif penggunaan nya u murid? Dan menurut bapak penggunaan reward apakah efektif untuk menumbuhkan semangat literasi anak? 

Irma Laila 

Maksud saya gimana ya mengajari murid saya ini biar dia tidak terlalu malu ketika saya ajari dia menulis dgn baik 

Suhud Rois 

Sama. Sekolah saya menerima semua murid tanpa tes akademik. Itu artinya anak belum paham apa yang dibaca. baru sebatas bisa membunyikan rangkain huruf. belum memahami apa artinya. Ketika anak belum paham apa yang dibaca, kita lihat dulu apa yang dibaca. apakah sesuai dengan kemampuan dan usianya? Apakah bahasanya mudah dipahami? Sepanjang yang saya ketahui, tidak semua buku anak cocok dan pas buat anak. kalau bukunya sdh pas, tapi anak belum paham juga, tugas kitalah membuatnya paham. yang paling sederhana adalah mengajak anak membaca kembali. beri stimulus berupa pertanyaan-pertanyaan. biarkan anak menemukan jawabannya 

Suhud Rois 

Bu @Opiye . Bagaimana? 

Fitra Elnurianda 

Jadi aktivitas awal lebih ke memberikan stimulus dulu ya pak sebagai pijakan dasar? Kemudian ketika sudah paham baru kita bisa lanjutkan ke aktivitas lain seperti membuat kaos dll tadi? 

Suhud Rois 

Sediakan buku yang beragam. sesuaikan dengan kegemaran anak. Rotasi buku dengan kelas yang lain. Untuk anak kelas bawah (sd 3 SD), praktikkan reading aloud. Berceritalah. ambil ceritanya dari buku. kalau perlu bawalah bukunya ketika bercerita. bukan untuk dibaca, tapi supaya anak tertarik dengan buku tersebut. Reward jangan dijadikan penarik. Bisa mereduksi motivasi. Menurut saya boleh diberikan, tapi bukan sebagai iming-iming. 

Rofiqoh

Irma maaf bu Irma, pertanyaannya belum sesuai dengan materi yang dibawakan Pak Suhud malam ini. Untuk itu, kami mohon maaf pertanyaannya kami simpan terlebih dahulu untuk bisa dijawab nanti apabila ada Temu Pendidik Mingguan yang sesuai dengan tema tsb. Terima kasih. 

Suhud Rois 

pastikan anak mencintai buku. tidak perlu takut buku jadi rusak, walaupun anak juga juga harus diajarkan bagaimana merawat buku. Anak perlu didampingi ketika membacanya. Banyak buku anak dengan ilustrasi yang kaya, yang bisa menjadi bahan diskusi sehingga menarik anak untuk membacanya 

Fitra Elnurianda 

Wah makasih pak jadi masukan saya untuk kegiatan literasi di sekolah 

Wahyuniar Yusuf 

Jadi apa sebaiknya yang diberi u pengganti reward tersebut? Ragam aktivitas menumbuhkan semangat baca anak yang seperti apa yang bapak biasa lakukan? 

Suhud Rois 

Kebetulan, mudah-mudahan kebenaran juga, sekolah saya tidak menjadikan reward sebagai pemacu. Kami membiasakan anak-anak berpacu dengan dirinya. Yang ditumbuhkan adalah motivasi internal untuk selalu lebih baik. Hadiah diberikan sebagai penghargaan. Jarang berupa barang, bisa ucapan selamat yang menguatkan. 

Menumbuhkan semangat membaca bisa dilakukan dengan merancang aktivitas setelah membaca. Kita bisa mencari beragam aktivitas yang mengasyikkan dan kreatif. 

Rofiqoh

Rasanya masih penasaran banget yaa mengenai tema yang sangat menarik malam ini ๐Ÿ˜

Berhubung waktu kita yang terbatas dan waktu sudah menunjukkan pukul 20:15 , saya persilahkan kepada pak @suhud_rois sebagai narasumber kita malam ini untuk menyimpulkan materi
Waktu kami persilahkan kepada pak @suhud_rois ๐Ÿ™Œ 

Suhud Rois 

Terima kasih. Sebelumnya mohon maaf, tidak semua bisa saya tanggapi karena kita diikat tema. 

Nurkamilah Halim 

Sy simpan bentuk literasi yang bapak sampaikan. Akan saya coba di kelas. Terima kasih banyak ilmunya Pak @suhud_rois 

Suhud Rois 

Membaca bukan sekadar membunyikan rangkaian huruf. Membaca adalah membangunkan ide, mengembangkan imajinasi, dan memantik solusi.
Kemampuan membaca bukan tentang seberapa cepat, tetapi seberapa siap. Artinya, ada kondisi yang mempengaruhi kemampuan anak membaca.
Dalam hal yang lain, usaha membangun budaya membaca tidak boleh berhenti ketika anak sudah menjadi kutu buku. Gemar membaca tidak identik dengan memahami apa yang dibaca. Memahami apa yang dibaca tidak serta merta membuat anak mampu melakukan banyak hal.
Jadi, sebenarnya perjalanan masih panjang. Anak perlu rangsangan dan tantangan yang membuat kegiatan membaca tidak saja menyenangkan, tapi juga bermakna. Perlu ada kegiatan kreatif pasca-baca.
Menulis atau membuat ulasan isi buku tidak salah. Namun, masih banyak alternatif kegiatan lain yang jauh lebih mengasyikkan dan membuat anak semangat membaca. Sudahkah Anda menemukannya? 

C:\Users\Dell\Downloads\Telegram Desktop\ChatExport_06_09_2019\photos\photo_2@30-08-2019_20-26-32_thumb.jpg

Rofiqoh

Setelah berdiskusi dengan tema yang sangat menarik malam ini, saya ingin mengajak bapak ibu serta rekan-rekan disini untuk melakukan refleksi dengan mengisi template yang saya cantumkan di atas. 

Saya selaku moderator, ingin berterima kasih kepada narasumber kita malam ini Pak @suhud_rois yang kece banget dan rekan-rekan disini yang semangat belajarnya luar biasa๐Ÿ˜Š 

Achmad Farizzen 

Terima kasih banyak pak @suhud_rois : materi yang menginspirasi. Membuat kamu termotivasi untuk terus berkreasi dan berinovasi. 

Hamka TAKING 

Luar biasa kuliahnya. Menambah cakrawala kita tentang literasi yang sesungguhnya. Terima kasih Guru Suhud

Usai Temu Pendidik Mingguan guru-guru memberikan refleksi

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: