Belajar Bahasa Bukan Sekadar Struktur Kalimat, Namun Persoalan Komunikasi

Penulis : Chusnul Chotimah | 20 Feb, 2019 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Inspirasi Guru Belajar

Ingatkah Anda bagaimana sewaktu belajar Bahasa Inggris dulu? Kalau saya, yang paling terekam di memori adalah betapa sulitnya menghafalkan verb 1, verb, 2, dan verb 3 dan kaitannya dengan tenses dalam Bahasa Inggris. Sungguh, pelajaran Bahasa Inggris tidak terlalu menyenangkan karena diisi dengan menghafal dan juga perasaan takut bila menjawab soal dengan salah.

Beruntungnya, lewat Kampus Guru Cikal, saya semakin memahami bahwa belajar Bahasa Inggris murni adalah persoalan berkomunikasi, bukan sekadar perkara mengetahui subject+verb+ing+bla bla bla. Lewat undangan dari ThaiTESOL dan British Council, saya semakin memahami bahwa Pendidikan Bahasa Inggris adalah perihal keterampilan berkomunikasi yang utuh, yang mengukuhkan bahwa kompetensi komunikatif adalah sasaran utama dalam pembelajaran bahasa Inggris, yang merupakan kemampuan untuk mengetahui kapan, kepada siapa, mengapa, dan bagaimana kita menggunakan bahasa yang sesuai.

ThaiTESOL sendiri merupakan organisasi non-profit dan non-politik, berlokasi di Thailand, yang bertujuan untuk menguatkan Pendidikan Bahasa Inggris untuk semua level, melakukan riset dalam pengajaran Bahasa Inggris sebagai pengantar bahasa kedua, pemberian beasiswa, dan juga untuk diseminasi informasi.

ThaiTESOL tahun ini agak sedikit berbeda. Banyak sekali pembahasan menarik mengenai apa yang terjadi dalam pembelajaran Bahasa Inggris dan bagaimana hal tersebut bisa berkontribusi kepada masa yang akan datang. Dengan mengusung tema “Changes and Chances in English Language Teaching”, pada sesi Keynote Dr. Tinsiri Siribodhi membicarakan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi seputar Pendidikan Bahasa Inggris yang diantaranya adalah prioritas area pada pengembangan SDM. Perubahan yang merupakan tantangan di depan mata adalah mengenai perubahan pada area teknologi. Saya yakin saya semakin merasa tertantang dengan pertanyaan bagaimana kita bisa beradaptasi pada ekosistem yang telah berubah, gaya hidup, dan perilaku murid yang semakin lama semakin berjarak dengan bagaimana guru belajar dulu dan bagaimana guru hidup di era sekarang. Oleh karena itu, tantangan perubahan yang bisa sama-sama kita pikirkan adalah bagaimana pendidik di Asia Tenggara dapat menjadi guru yang mengikuti perkembangan jaman dengan mempertimbangkan kemampuan kognitif, sosial-emosional, dan juga perilaku, dan bagaimana proses belajar kita bisa mengakomodir pikiran, hati, dan juga dapat diterapkan sesuai dengan perkembangan jaman.


ThaiTESOL 2019 yang saya hadiri menyajikan beragam kelas-kelas yang dapat dipilih. Satu kelas bertajuk “Applying Science of Learning Principles” yang dipimpin oleh Jeff Puccini yang mengajar di Thailand menarik perhatian saya. Beliau memaparkan bagaimana perilaku belajar dapat membantu kita mempelajari suatu hal yang baru. Strategi yang dapat membantu kita adalah dengan membagi pengetahuan maupun keterampilan ke dalam beberapa bagian serta membagi waktu belajar ke dalam bagian-bagian kecil, semisal 20 menit dalam sehari dapat membantu kita untuk belajar dengan lebih baik. Memberikan jarak dalam belajar juga membantu kita dalam belajar, semisal belajar sesuatu 10 menit sebelum tidur dan mengulang kembali sesaat setelah bangun tidur dapat membantu otak kita bekerja dengan lebih baik untuk ingatan jangka panjang. Di sisi lain, belajar semua hal dalam satu waktu akan membuat otak kita bekerja dengan lebih lambat, karena seperti halnya sesuatu yang bersifat elastis, otak kita perlu jeda untuk bisa menyerap segala informasi.


Pada sesi plenary, Ms. Marsha J. Chan memaparkan apa yang perlu guru ketahui dalam pronounciation. Setidaknya ada tiga hal yang dipelajari. Pertama, comprehensibility, yakni mempertimbangkan persepsi pendengar terhadap seberapa mudah atau seberapa sulit dalam memahami teknik wicara. Kedua, intelligibility, kemampuan pendengar untuk memahami maksud pembicara. Ketiga, aksen. Yang perlu diperhatikan pada aksen adalah pengukuran perbedaan fonologi dari produksi wicara yang berbeda dari kedua pembicara. Terakhir, bahwa tujuan dari instruksi dalam pembelajaran pola pengucapan adalah untuk mengembangkan intelligibility  dan comprehensibility.

Dari hari kedua konferensi, saya banyak belajar mengenai bagaimana mengembangkan guru dan komunitas belajarnya. Dari paparan Ngoc Nguyen dari Vietnam, saya belajar tentang bagaimana mengkolaborasikan guru, lingkungan sekitar, para ahli dan juga praktisi dalam pengembangan guru Bahasa Inggris. Sudah banyak yang saya rasa yang sudah dilakukan oleh Komunitas Guru Belajar, namun bagaimana para ahli terlibat dan bagaimana perannya perlu didefinisikan lebih baik. Selain itu, saya juga belajar pentingnya tujuan awal dari sebuah komunitas untuk berefleksi dan mengukur pencapaian hasil belajarnya. Beragam strategi diterapkan, seperti halnya survey dan interview secara mendalam, yang saya juga percaya dapat memberikan umpan baik dalam pengembangan proses dan juga programnya.

Yang tidak kalah menarik adalah sesi dengan judul “PD Needs of In-service Teachers of English”. Dari Bapak Peter Beech, University of Nottingham, muncul beberapa pertanyaan dalam bagaimana pembelajaran Bahasa Inggris dilakukan sepanjang pengetahuan saya:

  1. Di sekolah, sejauh apa aspek komunikatif telah diases, dan bagaimana asesmen tersebut dilakukan?
  2. Mengapa mempelajari kosakata Bahasa Inggris terus-menerus didorong untuk dilakukan di rumah?

Sesi tersebut kembali mengingatkan tentang bagaimana kelas Bahasa Inggris terus menerus dilakukan, seolah-olah dengan bisa mencongak dan melafalkan kosakata dalam Bahasa Inggris, persoalan komunikasi bisa selesai. Semoga situasi ini tidak menggambarkan kelas kita semua :).

Sesi selanjutnya yang saya hadiri adalah bagaimana Bahasa Inggris diases di sekolah-sekolah di Thailand. Sesi ini merupakan penjabaran hasil riset yang dilakukan oleh Richard Watson Todd. Dua hal yang paling saya pelajari adalah bahwa asesmen dalam pembelajaran Bahasa Inggris terlalu banyak bergantung pada asesmen sumatif dan yang kedua adalah kurangnya keterbukaan pada proses asesmen tersebut. Hal ini menguatkan keyakinan bahwa perubahan hanya akan dapat terjadi apabila umpan balik terus-menerus diberikan lewat asesmen formatif sehingga murid dapat mengetahui kekurangannya dan mencari cara untuk memperbaiki dan membuat perbaikan, tanpa menunggu hasil akhir yang belum tentu menggambarkan pengetahuan dan keterampilannya secara utuh.

Banyak juga hasil riset yang dipaparkan dalam konferensi ini. Hal tersebut meyakinkan saya bahwa guru dapat mengambil peran sebagai peneliti. Tidak semua hasil risetnya juga membuktikan semua asumsi yang diajukan di awal penelitian. Namun, jelas terlihat bahwa pembicara yang juga merupakan guru merasa berdaya untuk menyelesaikan persoalan di dalam kelasnya secara ilmiah, yang dapat dibuktikan dengan data. Hal tersebut tentu saja membantu guru yang hadir pada saat itu untuk dapat merefleksikan praktiknya, dan mengambil pelajaran untuk dapat diterapkan di ruang kelas.   

Pengalaman belajar di ThaiTESOL memberikan banyak pencerahan dan pengukuhan terhadap pengetahuan yang saya miliki sebelumnya. Jadi, siap belajar Bahasa Inggris bersama saya?

18-19 Januari 2019
ThaiTESOL
The Ambassador Hotel, Bangkok, Thailand

Chusnul Chotimah
Manajer Akademik Head Office Sekolah & Rumah Main Cikal

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: