Belajar dari NusantaRun Chapter 6

Penulis : rizqy | 14 Dec, 2018 | Kategori: Inspirasi Guru Belajar

Di usianya yang ke 19 bulan, anak itu mengidap suatu penyakit yang membuatnya menjadi tuna netra dan tuna rungu. Bagaimana masa depannya? Bagaimana cara dia berkomunikasi nanti dengan dunia luar?

Bertahun-tahun ia menjalani kehidupannya dengan marah-marah, sering memukul meja, frustasi karena sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan.

Secercah harapan muncul ketika usianya 7 tahun, Anne Mansfield Sulivan dari Tuscumbia datang menjadi gurunya. Anne mengajari anak itu berkomunikasi dengan cara-cara yang unik, yang kemudian membuat anak tersebut bisa berkomunikasi, dan akhirnya bisa berbicara.

Sekarang kita mengenal anak tersebut dengan nama Hellen Keller, seorang pejuang kemanusiaan. Tanpa Anne dan lingkungan yang mendukung, Hellen mungkin sulit menjadi seseorang yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menerbitkan puluhan buku.

Itulah yang saya bayangkan, banyak Hellen-Hellen lain di Indonesia, anak-anak penyandang disabilitas, namun lingkungannya belum banyak mendukung.

Seperti wawancara saya dengan bu Purwanti dari SLBN Temanggung menurut beliau masih banyak orangtua yang overprotected terhadap anaknya.

“Orangtua kurang membuka diri, masih menganggap anak-anak terbatas.” ujar Bu Purwanti.

Menurut pak Pungguh, guru SLBN 1 Gunung Kidul hal lain adalah karena setelah lulus anak-anak biasanya bingung akan melakukan apa. Beberapa di antaranya malah kembali ke sekolah, mendaftar menjadi karyawan di sekolah.

Orangtua yang memandang sebelah mata, guru yang tidak memiliki kemampuan mengembangkan murid penyandang disabilitas, sarana prasarana bahkan akses pendidikan yang belum mendukung membuat anak-anak penyandang disabilitas kadang harus memendam mimpinya.

Bersama demi #PendidikanUntukSemua

Foto oleh Bukik Setiawan

Seorang pelari memakai baju pemadam kebakaran memasuki arena finish lari NusantaRun Chapter 6. Ia lari menuju garis finish yang sudah berada di depannya, air matanya mulai mengalir, dan menjadi tumpah ketika ia mencapai garis finish. Sebuah yel-yel dari murid dan guru membuat suasana siang itu menjadi tambah sendu.

“Terima kasih..terima kasih pelari NusantaRun
Sudah dukung… sudah dukung Pendidikan untuk Semua”

Kemudian Gita seorang anak disabilitas dari SLBN 1 Gunung Kidul menghampirinya, memakaikan gelang dan memberikan bunga sebagai wujud apresiasi kepada pelari tersebut yang telah berjuang lari puluhan kilometer.

Bunga dan gelang merchandise untuk pelari adalah hasil karya murid-murid disabilitas di Solo dalam workshop yang diadakan Komunitas Guru Belajar Solo. Teman-teman Guru Belajar Solo juga hadir di garis finish NusantaRun chapter 6 untuk mengapresiasi para pelari.

Foto Oleh Bukik Setiawan

Masih banyak pelari lain yang mencapai garis finish dengan bangga bahkan membawa anggota keluarga.

Siang itu (9 Desember 2018) di Pantai Sepanjang saya melihat kekuatan dari kontribusi. Seorang pemadam kebakaran,bankir, pengusaha, guru, murid, bahkan staf ahli presiden bersama-sama melakukan aksi untuk perubahan.

Saya jadi teringat kutipan dari Hellen Keller Alone we can do so little ,together we can do so much.

Anda ingin ikut terlibat dalam #PendidikanUntukSemua klik https://kitabisa.com/nusantarun

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: