Belajar Memahami Keberagaman, Menggali Potensi Anak

Setahun lalu, saya mulai mengajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) setara Paket C bernama PKBM Al-Bayan. Sekolah tersebut merupakan sekolah boarding school yang pada awalnya diperuntukkan bagi anak yatim dan dhuafa penyintas bencana gempa Yogyakarta. Namun, pada perkembangannya, sekolah ini menerima siswa dari berbagai daerah dan latar belakang ekonomi.

Saat masuk kelas XI, saya cukup terkejut karena ternyata harus berhadapan dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Arif namanya. Saat itu, sulit untuk mengidentifikasi kebutuhan Arif. Secara sekilas, Arif mungkin dikira tunagrahita karena kesulitan untuk berbicara (gagap dan kurang jelas) dan motorik yang kurang seimbang. Tangannya sering gemetar, dan Arif berjalan dengan menyeret salah satu kakinya. Informasi yang saya dapatkan pun kurang memadai, baik dari guru lain maupun dari keluarga.

Keadaan yang demikian seringkali membuat Arif diremehkan oleh beberapa temannya. Misalnya dengan memandang dengan pandangan yang meremehkan, atau mencemooh (meski tidak keras, namun cukup terdengar) saat Arif menjawab pertanyaan. Arif kesulitan menulis dengan tangan, dan hal ini sering membuat pekerjaannya yang berkaitan dengan tulis-menulis menjadi lambat. Selain itu, diperlukan perhatian khusus untuk menyimak kata-kata Arif sehingga terkadang membuat teman-temannya tidak sabar menyimak. Terlebih, pada pelajaran Bahasa Indonesia yang saya ampu, kegiatan menyimak, berdiskusi, dan menulis merupakan hal esensial.

Jujur saja, saya pun awalnya kikuk karena baru pertama kali mengajar ABK. Terlebih, saya mengajar Bahasa Indonesia dan selalu mengajak murid untuk berinteraksi. Namun, saya sadar bahwa sikap saya merupakan contoh bagi siswa, dan sebisa mungkin saya bersikap wajar dengan ‘kespesialan’ yang dimiliki Arif.  Saya mencoba untuk belajar mengenai pembelajaran inklusi, mulai dari browsing internet hingga mengikuti workshop menjadi guru kreatif di sekolah inklusif. Dari pembelajaran tersebut, saya menyimpulkan sebuah ‘pekerjaan rumah’ dalam menghadapi situasi ini: Memahami kebutuhan dan potensi Arif, serta mengubah stigma negatif dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas.

Kegiatan Belajar Untuk Mengenal Keberagaman Potensi

Pada awal semester, saya memberi tugas yang sama di kelas tanpa pengecualian untuk melihat seberapa jauh kemampuan dan potensinya. Setelah saya amati, rupanya kesulitan Arif hanya terletak pada motorik halusnya saja. Ia tidak bisa menulis dan bicara dengan lancar. Namun, secara kognitif, Arif dapat mengikuti pelajaran seperti murid lainnya. Secara emosional, Arif bisa dibilang lebih dewasa dibanding teman-temannya. Mental Arif tidak menciut dengan keadaannya. Arif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selama pelajaran (Seringkali pertanyaan kritis: Mengapa begini? Menurut kamu bagaimana?) dengan baik. Ia juga tidak malu untuk bertanya bagian yang tidak dipahaminya. Terkadang, suatu materi perlu disampaikan 2-3 kali hingga ia mengangguk paham. Dibandingkan temen-temannya, tugas-tugas Arif dalam bentuk tulisan seringkali sangat singkat. Misalnya saat materi membuat teks pidato,  Arif hanya menulis kurang lebih seratus kata. Meski begitu, Arif melengkapi bagian pembuka, isi, dan penutupnya. Hal ini menunjukan bahwa ia tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas dan memahami hal yang esensial dari materi tersebut. Dari tugas-tugas tersebut, saya menjadi lebih paham akan kekuarangan dan potensi yang dimilikinya. Saat ujian semester, Arif juga cenderung menjawab soal esai dengan singkat, yang terkadang membuat jawabannya kurang komprehensif dibandingkan teman-temannya. Pada akhirnya, saya bisa melakukan assesment tambahan dari pertanyaan-pertanyaan lisan di kelas.

Saya juga mengajak siswa lain untuk mengenal potensi dirinya lewat aktivitas belajar. Misalnya, menonton sebuah video film dokumenter mengenai dunia hewan dan membuat tulisan mengenai impresi akan film tersebut. Dari tugas tersebut, saya mengajak siswa untuk bersama mengidentifikasi jenis tulisan yang dibuat. Misalnya, ada siswa yang menulis mengenai satu hewan saja, namun sangat rinci. Ada juga yang menulis mengenai impresinya terhadap keseluruhan film secara general. Ada siswa yang menuliskan dalam bentuk deskripsi, narasi, dan puisi. Jenis tulisan yang dibuat, merepresentasikan potensi yang dimiliki oleh penulisnya. Bersama, kami mengidientifikasi keberagaman jenis tulisan  yang telah dibuat. Ada anak yang suka menulis secara umum, ada yang secara rinci. Ada yang suka mendeskripsikan sesuatu secara detail, ada yang lebih suka bercerita, dan ada juga yang menulis puisi. Dari kegiatan tersebut, saya mengajak siswa untuk mengenal potensi yang dimilikinya, dan potensi yang dimilki temannya. Apa kelebihan, serta perbedaan antara satu dengan yang lain. Misalnya sama-sama generalis, tapi apa yang membedakan karya ini dengan karya yang lain? Pada akhirnya, dibagi kelompok anak yang lebih suka menulis secara general dan kelompok yang suka menulis secara detail. Anak-anak dari kelompok generalis dan detail kemudian membentuk kelompok dan diminta untuk membuat satu karya yang komprehensif.

Melalui refleksi aktivitas pembelajaran, siswa dapat diarahkan untuk mengenal potensi-potensi dirinya dan orang lain. Harapannya, siswa dapat mengenal kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, serta menerima hal tersebut pada diri sendiri maupun orang lain. Dengan mengajak siswa untuk merefleksikan sendiri potensinya, dan menyadari keragaman yang ada di kelas, lebih mudah untuk mendorong siswa saling belajar dan bekerjasama. Sekarang saya sering bertanya kepada siswa,

“Jadi, apa kelebihanmu dalam materi ini?”

Dalam empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO, tujuan proses pembelajaran tidak hanya untuk tahu, dan menguasai, tetapi juga untuk bisa hidup bersama. Saya sendiri ingat pada masa SMA, saya sering merasa ‘tidak ada apa-apanya’ karena cenderung bertipe generalis yang suka pada banyak hal sekaligus. Karena stigma sosial, saya merasa orang-orang yang hanya fokus pada bidang tertentu secara saklek lah yang akan berhasil. Padahal, seringkali dalam mencapai tujuan, kolaborasi dengan banyak pihak sangat penting untuk keberhasilan bersama.

Oleh Anisah Zuhriyati – Komunitas Guru Belajar Yogyakarta

Tags:
About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: