Benarkah Kita Ingin Anak Mandiri?

Penulis : Agus Riyanto | 9 Jan, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Solo Raya, Temu Pendidik Daerah

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi pribadi yang memiliki kemandirian. Akan tetapi terkadang justru sikap over protektif orang tua dalam mendidik anak menjadikan anak menjadi pribadi yang manja. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kebutuhan anak yang dipenuhi orang tua. Orangtua pasti berdalih ini bentuk kasih sayang. Bagaimana Komunitas Guru Belajar memandang kemandirian anak ini?

Selamat malam sahabat Ria di manapun berada, kami dari komunitas guru belajar (KGB) Solo Raya melihat fakta yang sama di lapangan, bahwa terkadang justru over protective kita sebagai orang tua dalam mendidik anak akan menjadikan mereka pribadi yang manja dan jauh dari kemandirian. Tidak ada yang salah sebenarnya, asalkan tidak over (berlebihan). Seperti pada pertemuan di bulan Juni tentang generasi Z dan Alfa, bahwa sebenarnya anak-anak zaman sekarang ini sudah memiliki naluri untuk hidup mandiri. Tetapi kita sebagai orang tua juga tetap harus melatih anak-anak kita menjadi pribadi yang mandiri agar mereka siap menghadapi apapun tantangan hidup saat mereka jauh dari kita. Sehingga kami memandang bahwa kemandirian sangat penting untuk dilatih ke anak-anak.

Kapan Kemandirian dilatihkan?

Kemandirian sangat penting untuk dilatihkan sejak dini. sejauh mana kita bisa mengetahui bahwa anak-anak sudah mandiri? Apakah ada ciri-ciri yang menunjukkan hal tersebut?

Kita bisa mengenali bahwa seorang anak menunjukkan kemandirian berdasarkan beberapa hal. Menurut banyak ahli ada hal-hal yang kasat mata bisa kita lihat sebagai ciri kemandirian anak, antara lain:

  1. Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya diri, atau dalam kalangan anak muda biasa disebut dengan istilah ‘PD’ ini sengaja ditempatkan sebagai ciri pertama dari sifat kemandirian anak, karena memang rasa percaya diri ini memegang peran penting bagi seseorang, termasuk anak usia dini, dalam bersikap dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas sehari-hari. Anak yang memiliki kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan sesuatu, menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri sangat terkait dengan kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang memiliki percaya diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya diri perlu ditanamkan dan dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini.
  2. Motivasi intrinsik yang tinggi. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik walaupun kedua motivasi ini kadang berkurang, tapi kadang juga bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah merupakan salah satu contoh motivasi intrinsik. Dengan adanya keingintahuan yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa diri sendiri.
  3. Mampu dan berani menentukan pilihan sendiri. Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihan sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat belajar yang akan digunakannya.
  4. Kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif pada anak usia dini merupakan ciri anak yang memiliki kemandirian, seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang lain, tidak ketergantungan kepada orang lain dalam melakukan sesuatu, menyukai pada hal-hal baru yang semula dia belum tahu, dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru.
  5. Bertanggung jawab menerima konsekuensi yang menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputusan atau pilihan tentu ada konsekuensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri dia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang terjadi tentu saja bagi anak Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang wajar. Misalnya tidak menangis ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan senang hati mengganti dengan alat mainan yang lain yang diinginkannya.
  6. Menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru bagi anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah karena mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak sedikit yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar. Namun, bagi anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.
  7. Tidak ketergantungan kepada orang lain. Anak mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan orang lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak.

Ciri ciri kemandirian anak berkebutuhan khusus ditambah 2 komponen lagi yaitu:

  1. Mandiri sehubungan dengan kekhususannya.
  2. Mampu menghadapi tantangan sehubungan dengan kekhususannya.

Upaya Menumbuhkan dan Menjaga Kemandirian Anak

Melihat banyaknya ciri-ciri yang dapat kita lihat tersebut, bagaimana upaya yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan dan menjaga kemandirian anak?

Sahabat ria yang berbahagia, untuk mendorong pertumbuhan dan kemandirian anak, Tracy Hogg dan Melinda Blau dalam bukunya “Secrets of the Baby Whisperer for Toddlers” memperkenalkan konsep baru yang disebut dengan HELP (Hold yourself back, Encourage exploration, Limit, and Praise), menjelaskan lebih lanjut bahwa: 

  1. Dengan menahan diri kita akan mengumpulkan banyak informasi dengan memperhatikan, mendengarkan, dan menyerap seluruh gambar untuk menentukan apa dan siapa anak kita, sehingga kita dapat mengantisipasi kebutuhan dan memahami bagaimana respon anak tersebut pada lingkungan sekitar. Dengan menahan diri, kita juga dapat mengirimkan sinyal bahwa ia kompeten dan kita mempercayainya anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya.
  2. Dengan mendorong penjelajahan, kita menunjukkan pada anak bahwa kita percaya pada kemampuannya untuk mengalami apa yang ditawarkan oleh kehidupan yang ia alami, dan kita ingin agar anak kita bereksperimen dengan benda-benda, orang, dan pada akhirnya ide-ide yang baru. Dengan demikian anak akan lebih terdorong untuk melakukan semua tindakan tanpa merasa takut dihantui oleh kita sebagai orang tuanya.
  3. Kegiatan membatasi (limit), orang tua mengemukakan dengan benar peran kita sebagai orang dewasa, menjaga anak dalam batas aman, membantunya membuat pilihan yang tepat, dan melindungi anak tersebut dari situasi berbahaya baik secara fisik maupun secara emosional.
  4. Dengan memuji (praise), kita mengukuhkan pembelajaran yang telah kita berikan, pertumbuhan, dan perilaku yang bermanfaat bagi anak ketika ia memasuki dunia dan berinteraksi dengan anak-anak dan orang dewasa lainnya. Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan pujian dengan benar, ia semakin terdorong untuk belajar lebih, dan dapat menikmati kerjasama yang terjalin antara dirinya dengan orang tuanya. 

Tips Melatih Kemandirian Anak

Pada sesi terakhir ini, mungkin ada tips yang bisa dibagikan kepada pendengar Ria FM kiat untuk melatih kemandirian anak?

Ada beberapa tips/ kiat yang kami kutip dari Sahabat Keluarga Kemendikbud dalam melatih kemandirian anak. ada beberapa tips orangtua dalam melatih anak agar mandiri sejak dini:  

  1. Sabar. Orangtua perlu bersikap sabar menghadapi anak yang sedang berproses menuju kemandirian. Kemandirian seorang anak tidak didapatkan secara instan. Namun, kemandirian didapat dari proses yang membutuhkan latihan dalam waktu yang seringkali tidak sebentar. Itulah sebabnya orangtua harus memiliki rasa sabar dalam melatih anaknya menuju kemandirian. 
  2. Waktu. Sediakan waktu cukup bagi anak dalam berusaha melakukan pekerjaannya sendiri. Jika akan berangkat sekolah pukul 07.00 maka sebaiknya orangtua meminta anak memakai sepatu pukul 06:00. Jika keadaan sangat mendesak atau terburu-buru maka informasikan kepada anak bahwa orangtua membantu memakai satu sepatu karena sedang terburu-buru tapi besok anak tersebut bisa mencoba memakai sendiri. 
  3. Tega. Perlu rasa “tega” orangtua dalam melihat anaknya melakukan pekerjaannya sendiri. Teganya orangtua tentu bukan berarti hilangnya rasa sayang kepada anak. Justru sebaliknya rasa sayang tersebut diungkapkan dengan cara mendidik anak untuk melakukan pekerjaannya sendiri demi membangun pribadi anak mandiri. 
  4. Minimal. Bantu anak secara minimal. Jika anak benar-benar tidak bisa melakukan pekerjaan sendiri, maka orangtua dapat memberikan informasi bahwa ayah atau ibu akan membantu memakaikan baju dan anak dapat mencoba memakai celananya sendiri. 
  5. Teladan. Orangtua harus memberi teladan dengan menjadi orangtua mendiri kepada anak-anak. Orangtua dapat mengajarkan kemandirian mulai dari awal bangun tidur, merapikan tempat tidur, mengambil makan dan minum sendiri, dan lain-lain. Akan tetapi jika memang orangtua sangat butuh bantuan, maka orangtua dapat meminta bantuan kepada anak dengan mengucapkan kata ”tolong” dan ”terima kasih” sudah dibantu.
  6. Apresiasi. Berikan  apresiasi dan penghargaan kepada anak yang mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Dengan ucapan terima kasih dibarengi ciuman dan pelukan kepada anak atau hal lain yang sesuai dengan kemampuan orangtua.

Kemandirian sangat penting dibangun sejak usia dini. Kemandirian akan membuat seseorang menjadi pribadi yang mempunyai daya juang tinggi dalam menjalani hidup, menjadi pribadi yang tidak mudah mengeluh jika kesusahan serta mendidik pribadi yang tidak selalu bergantung dengan orang lain, tidak iri kemajuan orang lain. 

Referensi:
https://pusatkemandiriananak.com/ciri-ciri-kemandirian/ diakses 27 Agustus 2019
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4700 diakses 28 Agustus 2019
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=5026 diakses 28 Agustus 2019

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: