Berbagi Praktik Baik dengan Guru Se-Asia Tenggara

Penulis : Chusnul Chotimah | 22 Feb, 2019 | Kategori: Inspirasi Guru Belajar, Program Pengembangan Guru

Pada 21-23 Januari 2019 yang lalu, sebagai perwakilan dari kampus Guru Cikal saya menghadiri sebuah workshop yang bertajuk “Developing Teachers’ Assosiation” di King Mongkut University of Technology Thonbury Bangkok, yang merupakan inisiasi dari British Council dan Hornby Educational Trust.

Kampus Guru Cikal, yang merupakan inisiator dari Komunitas Guru Belajar, berperan untuk menceritakan praktik baik dalam mengembangkan Komunitas Guru Belajar yang selama beberapa tahun terakhir pesat perkembangannya dan juga belajar dari asosiasi profesi Guru Bahasa Inggris dari negara di Asia tenggara. Peserta dari workshop ini berasal dari 8 negara, Indonesia, Malaysia, Cambodia, Laos, Vietnam, Filipina, Myanmar, dan Thailand. Tujuan dari workshop ini adalah untuk mereview kembali bagaimana, di tahun 2019, organisasi kerelawanan dalam Pendidikan Bahasa Inggris, seperti Asosiasi Profesi Guru Bahasa Inggris, bisa menaungi kebutuhan anggota, terutama dalam skala Asia Tenggara.

Diskusi dalam kegiatan ini membuka percakapan tentang apa yang terjadi pada asosiasi di negara masing-masing. Seperti negara Vietnam misalnya, yang baru saja meresmikan asosiasi profesi pengajar Bahasa Inggris, yang tentu saja menceritakan betapa tangguh proses dan juga persiapan bertahun-tahun sebelumnya. Lain hal dengan MELTA (Malaysian English Language Teahers Association) yang sudah lebih lama berdiri dan memiliki banyak praktik baik hingga dapat mengadvokasi kebijakan ke kementrian pendidikannya terkait pengajaran Bahasa Inggris.

Perwakilan dari Cambodia juga memaparkan banyak sekali hal yang bisa dipelajari. Bagaimana mereka menginisiasi CamTESOL setiap tahunnya dan mengintegrasikan teknologi dalam pengelolaan konferensinya bisa ditiru. Sikap terbuka dan keinginan untuk membantu negara lain juga sangat terlihat dari apa yang dipaparkan. Indonesia? Dengan banyaknya organisasi dan asosiasi tentu saja menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan asosiasi profesi ini.

Diskusi tiga hari dalam workshop ini menghasilkan empat inisiatif, yakni:

  1. Adanya keinginan untuk membuat ASEANELTA yaitu asosiasi pengajar bahasa inggris se-Asia Tenggara untuk berbagi praktik baik dan advokasi kebijakan berdasarkan konteks pengajaran bahasa inggris sebagai bahasa kedua/asing. Teknis akan dikerjakan sepanjang tahun oleh para PIC dari workshop di bangkok.
  2. Adanya keinginan untuk menghubungkan pengajar bahasa inggris se-Asia Tenggara dalam sebuah platform digital.
  3. Adanya keinginan untuk mengukur dampak pengembangan guru dan asosiasi profesi pengajar Bahasa Inggris.
  4. Adanya keinginan untuk mengusahakan pendanaan terhadap ASIANELTA, agar bisa terus berjalan dalam mengembangkan kegiatan di organisasi beserta para anggotanya.

Tidak ada inisiatif yang tidak menguntungkan tentu saja. Keinginan untuk terhubung dengan negara-negara di Asia Tenggara membuka wawasan untuk kemudian membantu kita mengembangkan kualitas pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia. Berangkat dari situasi permasalahan yang hampir mirip, perwakilan dari setiap negara bersepakat bahwa Asia Tenggara harus bersatu dan berbagi praktik baik. Oleh karena itu, Guru Bahasa Inggris, yang mengajar dengan Bahasa Inggris, dan juga yang tertarik untuk mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris di Komunitas Guru Belajar mari bersatu. Kita lanjutkan diskusi lewat temu pendidik dan lakukan sesuatu untuk berkontribusi pada kemampuan Bahasa Inggris murid-murid kita di masa kini dan masa depan, berangkat dari persoalan yang ingin kita selesaikan di masa kini.

Jadi, sudahkah Anda siap terhubung dengan guru-guru se-Asia Tenggara?

21-23 Januari 2019
KMUTT, Bangkok, Thailand

Chusnul Chotimah
Manajer Akademik Head Office Sekolah dan Rumah Main Cikal
082111539935

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: