Berlari dan Berkontribusi untuk Pendidikan Murid Disabilitas

“Saya tidak pernah absen menjadi pelari sekaligus fundriser NusantaRun sejak chapter pertama. Awalnya saya pikir kaki saya bisa copot setelah mengikuti NusantaRun yang menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer.”, Sandy, salah satu pelari NusantaRun chapter 6 bercerita tentang pengalamanya berlari di NusantaRun.

NusantaRun Chapter 6 adalah perhelatan tahunan yang mengusung ultra marathon for charity. Bukan sekadar event lari, namun juga wujud nyata pelari dalam berkontribusi untuk pendidikan di Indonesia.

“Jika para pelari ingin berlari, banyak event yang bisa diikuti. Kalau pelari mau ikut event lari sekaligus bisa berkontribusi, bisa melakukannya di NusantaRun” ujar Chirtopher Tobing, co-founder NusantaRun.

Dalam event lari NunsantaRun selain berlari, para pelari tidak hanya berlari puluhan kilometer. Namun juga menggalang donasi. Untuk chapter 6 ini penggalangan donasi dimulai sejak 24 Agustus 2018 dan akan berakhir 11 januari 2019. Adapun target yang ingin dicapai NusantaRun adalah sebesar 2,5 milyar. Donasi tersebut akan digunakan untuk program Pengembangan Pendidikan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal.

Berdasarkan riset potret pendidikan  inklusi di dua provinsi tersebut sudah ada arah untuk mengembangkan pendidikan inklusi, ini terlihat dari kebijakan dan pertaturan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Namun di lapangan, implementasi kebijakan tersebut masih jauh dari harapan.

“Melalui program tersebut kami berharap ada contoh nyata keberhasilan pendidikan inklusi yang dapat meyakinkan orangtua, guru, dan masyarakat luas mengenai potensi murid penyandang disabilitas”, ujar Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal

Najelaa Shihab menyebut bahwa ada tiga pilar utama untuk program yang akan dijalankan yaitu : 1) menyiapkan guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas, 2) pengembangan Komunitas Komunitas Guru Belajar Bimbingan Karier sebagai sistim dukungan bagi murid penyandang disabilitas, dan 3) pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas.

Pada chapter 6 ini akan dilaksanakan dari tanggal 7 Desember hingga 9 Desember 2018. Ada dua kategori yang akan ditempuh pelari, yaitu half course (86 km) dan full course (169 km) yang akan berjuang menuju garis finish di Pantai Sepanjang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun menuju garis finish yang sama, namun kedua kategori tersebut memulai lari dari garis start yang berbeda. Pelari kategori full course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kledung Pass Hotel, Wonosobo, Jawa Tengah dan pelari half course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kantor Kepala Desa Karangwuni, Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Untuk  chapter 6 ini saya sudah menyiapkannya dari bulan Januari tahun ini. Mulai darilatihan 5 km, 10 km dan juga mengikuti beberapa race.” Ujar Irene peserta lariNusantaRun 6 ini yang tidak pernah melewatkan ajang lari ini.

Kolaborasi dari berbagai pihak dalam mendorong kemajuan pendidikan bagi penyandang disablitias menjadi semangat yang ingin disebarkan NusantaRun tahun ini. “Kami meyakini bahwa siapapun dapat berkontribusi memajukan pendidikan Indonesia. Dengan semangat power of contribution serta fokus terhadap isu pendidikan bagi penyandang disabilitas, kami berharap dapat membuka mata banyak orang bahwa sejatinya pendidikan harus dapat diakses oleh siapapun tanpa terkecuali.’ Kata Cristopher.

“Benar, bahwa kolaborasi antarpihak yang dilakukan oleh NusantaRun ini penting. Karena pendidikan bukan sekedar urusan guru dan murid yang berkecimpung langsung di masyarakat, namun juga urusan bersama” ujar Najelaa Shihab.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: