Bersenang-senang dalam Belajar, Apakah Tujuan Belajarnya Tercapai?

Saya sudah sering mengajak murid bersenang-senang di kelas.
Tapi terkadang kok yang diingat murid hanya bagian senangnya,
Tujuan belajar tidak tercapai
Bagaimana ya?

Jam baru menunjukkan angka 11.00 WITA namun kala itu cuaca sudah amat terik diikuti oleh angin yang kencang. Nampak sebuah mobil sedan AVANZA berwarna abu-abu sedang parkir di depan RuSun alias Rumah Susun, Ya RuSun menjadi basecamp sementara KGB Jeneponto selama kegiatan pelatihan dalam program “POPANG (Playground of Ujung Pandang)” berlangsung hingga selesai. Setelah semua barang keperluan kegiatan pelatihan diangkut ke atas mobil, kami pun akhirnya menuju ke lokasi pelatihan yang berjarak sekitar ± 20 KM, tepatnya di SD 13 Allu, Kecamatan Bangkala.

Jumat, 06 Desember 2019 merupakan merupakan pelaksanaan pelatihan pertama “Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan” hal ini merupakan follow up dari kegiatan kelas Kompetensi CKOM014 pada kegiatan Temu Pendidik Nusantara 2019 Oktober lalu. Pelatihan tahap satu berbasis Kelompok Kerja Guru (KKG), sasarannya ialah guru SD kelas 4-6 yang berada pada KKG Gugus 1 Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto. Pukul 13.00 WITA nampak beberapa peserta sudah berdatangan, kami pun selaku pelaksana kegiatan mengarahkan para peserta yang sudah hadir untuk mengisi formulir pendaftaran dan daftar hadir pelatihan secara online dan berbasis Barcode. Ternyata banyak peserta yang belum memiliki aplikasi QR Barcode Scanner, sehingga mereka kami arahkan untuk terlebih dahulu mengunduh ataupun berbagi lewat aplikasi shareit, darn hal ini ternyata menguras waktu sekitar 30 menit, namun akhirnya semua peserta dapat melakukan presensi secara online. Total peserta yang mengikuti pelatihan tahap 1 ini ialah 63 orang.

Pukul 14.00 WITA acara pun kami mulai. Berawal dari sambutan Pengawas Sekolah Gugus 1 Kec. Bangkala bapak H. Abdul Thalib, S.Pd., M.Pd. yang sekaligus akan membuka kegiatan pelatihan secara resmi. Dalam sambutannya, beliau sangat bersyukur dan berterima kasih dengan kedatangan KGB Jeneponto. Beliau berjanji akan mengikuti kegiatan hari ini hingga selesai. “Kita sangat bersyukur karena gugus kita didatangi oleh KGB, oleh karena ilmu itu sangat mahal, mendatangkan pemateri tidaklah mudah dan tentunya semua itu memerlukan biaya, namun pada hari ini kita sangat senang dan berterima kasih karena KGB mau berkunjung berbagi ilmu dan pengalaman secara cuma-cuma” ucap pak Thalib. Beliaupun memaparkan bahwa pemanfaatan teknologi khususnya android sangatlah urgent di era 4.0 ini.  Hal ini mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari peserta, hore. Acara pun dibuka secara resmi oleh bapak Thalib.

Acara dilanjutkan oleh pak Syam Mahadi, S.Pd., M.Si. selaku salah satu pelatih dalam kegiatan tersebut. Pak Syam dengan suaranya yang khas mulai menyapa peserta pelatihan yang sudah sejak tadi sangat antusias. Pak Syam kemudian menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan “Ole-ole TPN 2019”. Dia pun menyampaikan bahwa KGB Jeneponto menerima bantuan board game dari Kampus Guru Cikal sebanyak 2000 yang kemudian akan menyasar dan dibagikan ke 250 guru SD yang ada di Kabupaten Jeneponto, termasuk bapak ibu guru yang hadir pada hari ini. Terdengar tepukan tangan yang meriah dari peserta, hore.

Masuk pada sesi perkenalan peserta, kegiatan dipandu oleh Ibu Hasmawati Hafid, S.Pd. Dengan kaos merah dan kerudung merah sontak menarik perhatian para peserta. Bu Hasma pun memandu peserta untuk melakukan perkenalan yaitu dengan membuat 2 kalimat berirama seperti “Perkenalkan nama saya Hasmawati, saya tidak suka melatih”. Wah perkenalannya HOTS banget ya, haha. Peserta diberikan waktu untuk membuat kalimat perkenalan. Kini Pak Syam dan Bu Hasma berkolaborasi memandu kegiatan, diajaklah peserta yang menghafal 3-5 orang temannya. Salah seorang peserta kemudian menyebutkan nama teman yang sudah diajak berkenalan, pertama ada ibu Hatija yang di jalan suka hati-hati, pak Asis yang tidak suka krisis, ada ibu Sahriani yang jelas bukan saudaranya Syahrini, hiihii, ada pak Subair Tutu Sikatutuiki Ribajika (Saling menjaga dalam kebaikan), ibu Rahmawati yang suka mawar melati dan ibu Sunarti yang namanya punya arti. Arti apa ya, hehe. Sesi perkenalan akhirnya selesai dengan sangat menyenangkan.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 WITA, bu Hasma kembali memandu kegiatan dengan mengarahkan peseta mengisi format S dan I, S adalah apa yang peserta sudah ketahui tentang bermain yang bermakna dan I adalah apa yang ingin diketahui oleh peserta tentang bermain yang bermakna. Beberapa peserta nampak kebingungan pada aktivitas ini, namun berkat kerjasama KGB Jeneponto akhirnya semua peserta bisa menuliskan form S dan I yang kemudian ditempel pada kertas plano. Beberapa menuliskan bahwa yang mereka sudah pahami tentang bermain bermakna ialah bermain yang tidak hanya menyenangkan tapi tujuan tersampaikan, ada pula yang menuliskan bermain yang membuat murid senang, nyaman dan aktif dalam menerima pelajaran. Dan yang ingin diketahui peserta ialah tata cara penerapan belajar bermakna dengan bermain dalam kelas serta beberapa orang ingin mengetahui jenis-jenis permianan yang bisa digunakan dalam pembelajaran.

Kegiatan dilanjutkan pada kesepakatan belajar. Semua peserta sepakat dengan apa yang sudah ditawarkan oleh pelatih dengan penambahan “No Smoking”. Setelah Kesepakatan belajar selesai, kami mengundang Kak Ommenk (sapaan akrab Pak Usman Djabbar) selaku Ketua KGB Nusantara untuk memperkenalkan tentang KGB. Kak Ommenk pun dengan gayanya yang kece tampil ke depan peserta memaparkan tentang KGB, tentang bagaimana literasi baca pada murid, pelibatan murid dalam pembelajaran, dan bagaimana penggunaan boardgame yang akan dilatihkan pada hari ini bisa membangun empati murid, serta bagaimana para guru bisa mengkritisi ataupun melakukan modifikasi pada permainan yang akan dibagikan nantinya. Tampak atensi peserta yang begitu antusias dengan penjelasan dari kak Ommenk.

Waktu terus bergulir, setelah Ishoma acara kembali dilanjutkan. Namun sebelumnya peserta diberikan ice breaking oleh Bu Hasma dan Pak Syam, namanya “Cui Cui”, nampak peserta antusias dan kembali segar setelah melakukan ice breaking tersebut. Acara dilanjutkan dengan penentuan desain pembelajaran. Setiap kelompok diminta untuk menentukan desain melalui diskusi kelompok. Kelompok dari SD 13 Allu naik mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka, namun sebelumnya mereka menampilkan sebuah yel-yel. Pak Rasihun nampak begitu semangat memandu yel-yel kelompok mereka “Mana semangatmu, kahe, sekali lagi kahe, berkali-kali kahe kahe kahe” sambil mereka menggerakkan anggota badan ke depan, yel-yel yang sungguh unik dan menantang. Kemudian pak Rasihun perwakilan dari SD 13 Allu menyampaikan hasil diskusi kelompok mereka. Dia memaparkan bahwa dalam mendesain pembelajaran, hal yang paling utama ialah menentukan tujuan sebagai acuan dalam melakukan pengajaran, kemudian dilanjutkan dengan pemahaman terhadap murid. “Setelah penetapan tujuan, kita identifikasi kemampuan murid kita” ucak pak Rasihun, lalu kita tentukan strategi yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan murid, merumuskan cakupan dan membuat bukti dan pengukuran belajar. Desain yang berbeda dari SD 125 Allu yang menyerukan yel-yel tepuk 125. Menurut pak Subair desain pengajaran diawali dengan pemahaman terhadap murid untuk kemudian kita bisa rumuskan sebuah tujuan pembelajaran. Dilanjutkan dengan menentukan strategi yang cocok, cakupan yang sesuai dengan kemampuan murid dan terakhir membuat bukti dan pengukuran belajar. Dua kelompok tersebut memiliki letak perbedaan pada langkah awal, di mana kelompok Pak Rasihun mendahulukan tujuan sementara kelompok pak Subair mendahulukan pemahaman terhadap murid. Kemudian pemandu kegiatan melontarkan pertanyaan “Manakah yang sebaiknya didahulukan, tujuan atau pemahaman terhadap murid?” sontak pak Rasihun mengacungkan tangan kemudian maju ke depan dengan rasa percaya diri mengutarakan bahwa dia mendahulukan tujuan. “Sebagai contoh pada kegiatan ini para pelatih belum memahami bagaimana karakteristik peserta pelatihan ini, namun sebelum mereka berangkat ke tempat ini, mereka sudah memiliki tujuan yang ingin mereka capai melalui kegiatan ini” tangkasnya. Begitu seru perdebatan yang terjadi pada sesi diskusi ini, hingga pak Syam menyampaikan sesuai dengan apa yang diperoleh dari kelas TPN. Sesi ini pun berakhir dengan cerita sang Dokter yang melakukan malpraktek karena tidak melakukan pemahaman terlebih dahulu terhadap kondisi/gejala pasien. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam hal pengajaran di sekolah, banyak terjadi kasus malpraktek seperti ini. Untuk itulah KBG Jeneponto mengajak untuk saling berbagi praktik cerdas pengajaran yang berorientasi pada murid.

Masuklah kita pada acara inti, yaitu praktik bermain “Jelajah Nusantara”. Setelah board game dibagikan, para peserta sudah tidak sabaran untuk memainkannya.  Kemudian pelatih mengarahkan juru bicara pada masing-masing kelompok untuk membaca petunjuk permainan, sedangkan juru tulis diminta untuk menuliskan dua pertanyaan yang ditampilkan pada tayangan presentasi. Juru bicara kelompok menjadi Pemandu 1 permainan papan Jelajah Nusantara. Satu kata yang bisa menggambarkan kegiatan bermain ini ialah “kacau.” Semua kelompok belum memahami cara bermain, ada yang membagi rata kartu pengetahuannya, ada kelompok yang membagi kartu pengetahuan sesuai dengan yang dibutuhkan 4 karakter, ada pula yang sejak awal cuman menghambur-hamburkan kartunya, bahkan ada peserta yang hanya diam karena tidak tahu mau melakukan apa. Setelah diberikan waktu bermain 1 tahap, saatnya pelatih menanyakan tentang kesulitan apa yang dialami oleh pemandu satu dan apa yang membuatkan permainannya jadi mudah? Pak Subair kembali bersuara “Bagian tersulitnya karena belum pernah dimainkan, yang membuatnya mudah ialah dengan langsung mendemonstrasikannya. Dilanjutkan oleh bu Sahriani “Petunjuk dan waktu yang diberikan tidak sesuai”. Terakhir sosok bapak guru yang sudah lansia dan memakai kacamata menjawab “Dengan umur saya yang 50 tahun, ditunjuk sebagai pemandu tidak mampu membaca dengan baik tulisan pada petunjuk permainan yang tulisannya agak kecil” Pak Ma’leasa, SD No. 64 Tanatoa.

Permainan papan Jelajah Nusantara memasuki tahap 2, tiap kelompok diinstruksikan untuk mengganti pemandu dalam kelompok masing-masing. Pada round ke2 ini nampak antusiasme peserta yang begitu luar biasa dalam bermain, hingga ada peserta yang sudah tidak sabar untuk memenangkan permainan mengambil kartu pengetahuan walaupun belum mendapat giliran, terlihat pula seorang peserta menutup kartu pengetahuan yang sudah dikumpulkannya karena tidak ingin kartunya dirusak oleh pemain lain, hiihiiihii sesi ini berjalan sangat seru. Karena jam sudah menunjukkan pukul 17.30, pesertapun diminta untuk menghentikan permainan, kembali mengumpulkan board game dan diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai pemandu 2. Ibu Yuniarti dari SD Benteng 1 mengungkapkan bahwa di kelompoknya dia berperan sebagai pemandu 1 dan pemadu 2 sehingga bisa lebih memahami aturan mainnya, mendengar statement ini ternyata ada kelompok yang tidak mengikuti instruksi pelatih yah, hehehe. Ada pula perwakilan dari SD Tanatoa, “Saya dari awal permainan diam saja karena tidak tahu mau melakukan apa, hingga pada tahap 2 saya ditunjuk untuk menjadi pemandu 2, saya berusaha membaca petunjuk permainan, teman-teman saya asyik bermain dan sangat aktif tanpa perduli dengan saya.”

Sesi refleksi pun dilakukan. Pak Syam mengajak para peserta pelatihan untuk melakukan refleksi. Nampak pak Hasbi mengacungkan tangan tak sabar ingin mengatakan sesuatu. Beliaupun diberikan kesempatan untuk berbicara. Menurut beliau dari awal hingga akhir kegiatan berjalan dengan sangat menarik dan menantang juga merupakan suatu inovasi baru terlihat dari antusiasme peserta sehingga ketika kegiatan seperti ini kita terapkan dalam kegiatan proses belajar mengajar akan terbangun suasana yang menyenangkan. Beliau juga berharap agar KGB melakukan kegiatan secara berkala, yang merupakan suatu inspirasi bagi teman-teman guru untuk selalu berinovasi dalam melakukan kegiatan seperti bermain sambil belajar atau sebaliknya belajar sambil bermain dalam rangka percepatan peningkatan daya serap siswa dalam PBM. “Hari ini merupakan tonggak baru untuk kita mulai memerdekakan diri, memerdekakan guru dan siswa di dalam proses belajar mengajar sehingga kita bisa mendapatkan konten-konten baru dalam rangka meningkatkan kegiatan belajar” tambah pak Hasbi. Tak ingin ketinggalan kesempatan, ibu Sahriani pun angkat bicara. “Terkait dengan apa yang telah kita ikuti dari awal hingga akhir, mulai dari perkenalan dengan membuat kalimat berirama merupakan suatu yang sangat menarik bagi siswa jika diterapkan di kelas, dan hal ini sangat menarik bagi peserta” kata bu Sahriani dengan nada bicara yang sangat antusias. Beliau juga menambahkan bahwa dengan aktivitas bermain yang telah dilakukan dapat meningkatkan gairah belajar bagi siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga anak merasa antusias dalam mengikuti pelajaran tersebut jika seandainya guru mampu menerapkan apa yang telah diperoleh dari pelatihan ini. Beliau bahkan memberikan masukan agar pelaksanaan kegiatan seperti ini tidak hanya untuk hari itu saja tapi seterusnya agar menjadi modal bagi guru dalam melakukan pembelajaran dalam kelas.

Sesi refleksi pun selesai, semua peserta memberikan tepuk tangan yang meriah. Selanjutnya ialah pemberian board game atau permainan papan kepada guru-guru yang hadir pada pelatihan itu. Ditambah dengan 1 buah boardgame kami berikan kepada Pengawas KKG Gugus 1 yang telah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dari awal hingga selesai. Akhirnya pelatihan pun kami tutup dengan kegiatan foto bersama. Walaupun wajah sudah kucel, namun antusiasme para peserta tidak pernah surut, hal itu terlihat dari senyuman mekar nan manis di wajah mereka dalam foto yang sudah kami abadikan. Sampai jumpa pada pelatihan kedua di Kecamatan Tamalatea, Insyaallah.

Salam Merdeka Belajar!
#SemuaMuridSemuaGuru
KGB Jeneponto!

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: