Budaya Literasi Pendidik

Penulis : Shofi Maylina | 18 Jan, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Semua proses pembelajaran itu pahit. Mengapa pahit?

Karena ada proses panjang dan tidak enak harus dilalui untuk meraih sebuah tujuan. Mereka yang ingin bergabung di dunia pendidikan adalah mereka yang rindu dengan masa lalu. Masa lalu saat awal belum mengenal baca dan tulis sampai akhirnya meraih impian yang sejak dulu di impikan baik sesuai cita-citanya maupun berbeda dengan cita-citanya.

Ketika melihat gurunya, ia akan ingat masa lalu saat masih sekolah. Ketika melihat anak bersekolah, ia akan ingat kenangan masa lalu. Kenangan mengingat siapa itu guru, mengingatkan saya waktu masih duduk di kelas 3 SD, ada sebuah kegiatan yang dilakukan yaitu “Setor Moco” apa itu? Ya. Karena di kelas 3 nantinya ada tes kemampuan dasar, setiap 5 hari sekali kami harus menyetorkan buku fiksi yang harus selesai kami baca dan dibuat resume, awalnya memang terasa sangat malas, membosankan, menghabiskan waktu bahkan mengurangi jam bermain. Ternyata, setelah dilaksanakan asyik juga, maklum saja buku fiksi merupakan salah satu buku yang menjadi favorit anak karena terdapat gambar dan alur cerita yang seru. Semenjak itu saya juga suka bercerita dan mengekspresikan apa yang saya alami ke dalam sebuah cerita yang sering kita sebut dengan buku diari.

Ternyata melalui sebuah pembudayaan dapat memberikan dampak positif bagi kita. Pengalaman waktu masih SD dulu tentang membaca, coba saya terapkan saat menjadi guru, bagaimana cara mengajak anak untuk menyukai bacaaan, menyukai judul buku, menyukai isi buku, bahkan beberapa yang awalnya sama sekali tidak tertarik untuk melihat buku, sekarang menjadi terbiasa untuk membaca. Bukan hanya sekedar membaca tetapi memahami isi bacaan buku, menjadi aktif membaca. Pernah suatu ketika saya sangat malas mengajak anak untuk membuka buku cerita yang tersedia di lemari, biasanya sebelum istirahat ada waktu “Semaan Baca” seperti kegiatan membaca anak satu persatu, lalu ada anak yang mendekat dan bilang “Bu, kenapa saya tidak disuruh untuk membaca? Saya tidak mau istirahat sebelum diminta untuk membaca”. Semenjak saat itu membaca bukan lagi sebuah keharusan tetapi menjadi sebuah kebudayaan yang melekat bagi anak. Kebudayaan yang sering kita sebut dengan budaya literasi.

Melalui Temu Pendidik Daerah Komunitas Guru Belajar Kudus yang dilaksanakan pada 13 Januari 2019 yang lalu, Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber mengajak membahas topik budaya literasi ini.

Literasi, Sebagian besar orang  hanya menganggap bahwa literasi identik dengan membaca, sebenarnya lebih dari itu literasi bukan hanya tentang membaca. Dengan literasi seorang mampu membaca sekitar. Setelah melihat,  membaca dan memahami ia mampu memprediksi isi bacaan, latar belakang penulis bahkan dapat diaplikasikan dalam tulisan maupun kehidupan sehari-hari.

Dengan mengembangkan literasi maka akan berkembang pula skill seseorang dalam membaca aktif. Bagaimana ia mampu  mengaplikasikan hasil bacaan baik dengan buku maupun tidak. Semakin banyak sumber yang dibaca seseorang, maka semakin banyak pula kosakata yang di miliki.

Sebagian besar orang mengukur kecakapan atau kemampuan seseorang dari bahasanya. Sebenarnya semua orang sama, tidak ada yang cerdas dan tidak. Hanya saja orang yang cerdas sering mendengar, melihat, dan memahami bahasa orang lain serta mampu menyinkronkan keduanya menjadi tulisan dan rangkaian kata.

Salah satu cara pengaplikasikan budaya literasi memang sedikit sulit untuk diterapkan. Dibutuhkan keseriusan serta kesabaran untuk mengajak membudayakan literasi. Murid merupakan gambaran dari gurunya. Guru perlu mampu untuk menjalin hubungan dengan murid secara memanusiakan.

Memanusiakan hubungan itu perlu. Apalagi hubungan berdasarkan emosi, sosial, hubungan guru, anak, orang tua dan steakholder.

Belajar membaca

Membaca dimulai dari mengenal huruf, mengenal kosa kata, mengenal kata, dan mengenal kalimat. Baru mengenal membaca secara aktif.

Berdasarkan data tentang literasi yang dikumpulkan oleh beberapa lembaga survey menunjukkan bahwa warga Indonesia lebih mempercayai media sosial dan langsung menjadikannya sebagai sumber tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Dan yang lebih mencemaskan lagi warga Indonesia dalam kurun waktu 1 tahun hanya mampu menghabiskan 2 buku untuk dibaca. Ini menunjukkan bahwa minat baca warga Indonesia sangat rendah.

Untuk apa murid kita diminta untuk membaca banyak tanpa mengetahui isi bacaan dan hanya sekedar membaca. Dibutuhkan panutan seperti guru yang mampu mendorong murid untuk mau membaca.

Mudik dilanjutkan dengan sesi pertanyaan

Sebagai penanya pertama Guru Etika Puspa Sari mengajukan. “Bagaimana cara membudayakan kebiasaan literasi bertahan lebih lama?” Di sekolah saya setiap hari sabtu diadakan pojok literasi, siswa bisa membaca buku yang mereka bawa sendiri dari rumah. Kegiatan membaca hanya bertahan beberapa menit saja dan selebihnya ramai sendiri, bagi yang memang memiliki hobi membaca ia akan melanjutkan bacaannya namun yang tidak memiliki hobi membaca meraka akan gaduh.

Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber memaparkan bahwa anak SMP dan SMA merupakan masa dimana anak berada di tahap peralihan jati diri, rasa ingin tahu tinggi terhadap segala hal, kembali kita sebagai guru mencoba msauk ke dunia mereka, karena mereka berada di fase peralihan dari Tayo-Tayoan ke Black Pink. Buat mereka menyukai dulu apa itu membaca, buat mereka menceritakan dalam tulisan apa yang merekan sukai kemudian memaparkan isi cerita tersebut ke depan kelas, pasti sangat seru dan menyenangkan.

Diskusi dilanjutkan melalui pertanyaan kedua Guru Shofi. “Bagaimana menerapkan budaya literasi yang lebih identik dengan membaca aktif untuk kelas 1 dan 2, yang notabennya ada beberapa anak yang belum bisa membaca?”

Menurut Guru Galih, untuk kelas rendah bisa dengan cara mendongeng atau guru mencontohkan. Karena pada fase ini anak lebih banyak meniru dan melihat, belum mampu menuliskan lewat kata-kata. Kita bisa memancing mereka dengan hal-hal yang ringan dulu yang menjadi kesukaan meraka. Seperti tayo-tayo, spiderman, dan lain-lain. Sesekali pancing mereka untuk bercerita sebelum masuk materu yang berat-berat.

Kalau kadang orang dewasa saja merasa malas untuk membaca buku yang tebal apalagi anak-anak. Anak lebih tertarik dengan buku yang memiliki warna dan gambar yang beragam.

Tanggapan datang dari Guru Arif tentang cara untuk menyesuaikan pada perkembangan anak kelas bawah. Anak bisa menonton tayangkan film yang mengacu untuk berpikir lebih kritis. Seperti pada film anak “Jalan Sesama” ada salah satu tokoh yang bernama Jabrik, dalam cerita di jelaskan bahwa jabrik akan pergi ke stasiun untuk melihat peswat terbang, kemudian salah satu temannya menegur jabrik bahwa di stasiun tidak ada pesawat terbang. Dan di akhir cerita baru diketahui bahwa di stasiun jabrik ingin melihat pesawat terbang yang dibawa oleh pamannya. Pada certia tersebut dapat dijadikan sebagai pemacu anak untuk lebih menalar.

Sebagai penanya terakhir Guru Nailil turut bertutur tentang pengalaman dirinya. Saya mengajar di PAUD, dan di saya memang tidak ada program untuk anak harus mampu membaca setelah lulus dari PAUD, di PAUD kami hanya ada pengenalan huruf dan kata, sehingga pada suatu hari ada orang tua murid yang melalukan protes karena putranya tidak di terima di sekolah yang dituju karena belum  mampu membaca dengan lancar?

Untuk mensiasati masalah tersebut di ingatkan kembali orang tua murid mengenai kesepakatan saat di terima di PAUD tersebut. Selain itu, orang tua harus ikut andil dalam peningkatan kemampuan anak bukan dipasrahkan secara seutuhnya pada sekolah.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: