Butuh Jeda dan Hanya Tertawa

Penulis : AIUEO | 26 Nov, 2018 | Kategori: Refleksi Guru Belajar

Kampus Guru Cikal - Honje

Dua hari sebelum berangkat, belum juga diputuskan akan menggunakan transportasi apa menuju kesana, Honje Ecolodge. Bagaimana kalau kita menggunakan transportasi umum atau membawa mobil saja? Keputusan belum jelas, akhirnya kami memilih menuliskannya. 4 orang memilih transportasi umum dan 2 orang menggunakan mobil. Kami sepakat untuk menggunakan transportasi umum yang sebenarnya agak buat deg-degan juga sih.

Berangkat dari tempat yang berbeda untuk menuju satu titik yang sama. Bertemu di stasiun Rawa Buntu, stop angkutan umum di stasiun Rangkas Bitung. Perjalanan penuh dengan tawa (awalnya) di tiga jam awal, sisanya agak deg-degan dengan jalan yang bikin goyang kanan kiri dan makin malam makin gelap, makin tengok belakang dan melihat si Amel tidur hamper terjatuh, ini sih epic! Saat yang lain grasak grusuk duduknya, dia bisa nyaman dengan tidurnya, perlu dicontoh! Sesampainya, makan lalu tidur. Mandi gak Yu? Mandi donk, besok di pantai! Hahaha

Kampus Guru Cikal - Honje

Pagi hari, langsung mengacir ke pantai tanpa sandal, mau grounding day dulu. Tak lama, pluit berbunyi untuk melakukan senam pagi. Duh ya, aku tuh anaknya agak krik. Kami sarapan bersama dan lanjut ke sesi berikutnya, mengambil dua foto untuk merepresentasikan perubahan positif dan harapan apa ke depannya. Setelah sesi refleksi personal selesai, kami lanjut ke sesi refleksi organisasi. Ih, demi apa sih disuruh gambar (lagi) dan berujung mengetiknya di grup telegram. Saya menyimaknya, menyenangkan ya ketika bisa menjadi pendengar dengan utuh.

Saatnya me time, mungkin saya yang terlama dan sisa matahari Honje masih berbekas sampai saat ini, belang. Entah kenapa, ombaknya begitu pas. Kalau dilihat sekilas, deburan ombaknya cukup keras namun setelah masuk ke dalamnya, buat saya Honje punya ombak yang menyenangkan dan menenangkan. Sambil berefleksi, beruntung bisa bergabung di Kampus Guru Cikal. Di satu waktu, saya memang butuh waktu untuk benar-benar sendiri dan diam. Sulit untuk menemukan lingkungan yang menganggap itu biasa saja, tidak aneh atau bahkan gila. Saya menemukan mereka.

WhatsApp Image 2018-11-26 at 13.56.11.jpeg

Saat senja tiba dan matahari telah berubah warna, membuat langit begitu indah. Hingga saya melupakan untuk mengabadikannya, dua hari di Honje membuat saya menikmati indahnya dunia tanpa perlu terlalu memusingkan untuk mengabadikannya melalui kamera, cukup dengan menggunakan mata. Tak lupa, minta difotokan dengan gaya yang selalu sama dari belakang atau candid (yang bikin nyokap geleng kepala sih sebenarnya) dan foto Bersama.

Kampus Guru Cikal - Honje

Sesaat setelah makan malam selesai, kami berkumpul untuk memberikan umpan balik kepada Ketua Kampus Guru Cikal, Pak Budi. Ngenes banget disuruh gambar (lagi), aduh ampun deh! Tantangan sekali buat saya pribadi ketika menggambar, bisa sih bisa tapi abstrak haha. Dilanjut sesi tukar kado dan truth or dare. Kebayang, gimana sebegitu magernya tim KGC karena semuanya memilih truth. Eh, momen paling penting buat saya ketika Pak Budi aka Pak Bukik menganalisis MBTI personal KGC beserta dengan klannya. Waktu dianalisis begitu, saya sudah terbayang untuk masuk ke kamar dan bilang “I am Optimus Prime, I’ll save all the planet” pening-pening deh Amel, haha. Kenapa penting? Agar saya bisa belajar memahami teman-teman saya, agar bisa menyesuaikan dengan keadaan. Jika nanti saya dihadapkan tantangan, minimal saya tahu bagaimana dampak keputusan yang saya ambil untuk orang sekitar saya.

Esok pagi, saya bangun dan bergegas kembali ke pantai hanya untuk duduk dan menikmati ombak. Tenang rasanya. Sepulang dari Padang langsung lanjut ke Surabaya dengan turbulensi yang cukup parah, tanpa jeda dan ditambah berita jatuhnya Lion Air, banjir bandang saat di Tapan, banjir bandang saat di Padang lalu dihadapkan dengan pekerjaan, rapat dan laporan. Saya butuh jeda dan hanya tertawa, juga diam dan menyadari napas. Bagaimana kabar 5 orang lainnya? Mereka pun butuh jeda sebelum kembali memulai. Entah apa, melihat mereka yang memilih bekerja di jalan yang katanya berbeda. Awalnya kami memiliki jalan yang berbeda sebelum akhirnya dapat menempuh jalan yang sama. Bermimpi untuk perubahan pendidikan nyata di Indonesia bersama guru belajar. Sampai jumpa di sesi berikutnya, semoga lebih menantang! *jangan lupa tolak angin!

Kampus Guru Cikal - Honje

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: