Cara Belajar Guru Milenial

Cara Belajar Guru Masa KiniApa yang harus dilakukan guru dalam menghadapi siswa yang merupakan generasi milenial?

Generasi milenial cepat bosan dengan kegiatan yang monoton; padahal proses belajar di sekolah kita masih diisi dengan mendengarkan ceramah dari guru, mencatat dan mengerjakan tugas-tugas saja. Generasi milenial juga sangat suka menggunakan gawai. Mereka takut ketinggalan perkembangan dunia terbaru. Seakan semboyan hidupnya adalah

“No Update No Life, No gadget No Life”.

Pantas mereka kerap kedapatan mencuri waktu untuk membuka gawainya di tengah-tengah pembelajaran. Padahal masih bayak guru yang hanya menggunakan gawai untuk aplikasi chatting, facebok dan YouTube saja, jauh tertinggal di belakang siswanya. Generasi milenial juga senang bekerja multitasking. Makan saja dilakukan sembari membuka Instagram sekaligus membalas chat dari beberapa teman. Suatu hal yang sangat dibenci generasi jaman old karena dianggap tidak sopan.

Alih-alih tenggelam dalam kegalauan ditengah jaman yang penuh  tantangan dan kecepatan ini, guru- guru di Purwokerto lebih memilih untuk berdaya. Mereka tahu bahwa pendidikan saat ini perlu bergerak mengikuti perkembangan jaman. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan buku teks dan LKS sebagai senjata di kelas. Harus ada strategi-strategi baru. Karakteristik generasi milenial yang mampu belajar cepat dan mampu mempelajari banyak hal harus dipandang sebagai sebuah kelebihan bukan kenakalan. Jika guru mampu mengarahkan agar proses belajar siswanya menjadi terarah dan fokus, bukan tidak mungkin hal tersebut akan menghantarkan siswa menjadi orang yang sukses di masa depan. Namun jika guru tidak mampu hadir ditengah-tengah siswa, bukan tidak mungkin pula siswa menjadi mudah berpindah-pindah minat, sehingga kelak menjadi generasi mudah goyah dan tidak loyal.

GuruFest 2018 adalah salah satu terobosan yang digunakan oleh guru-guru di Purwokerto untuk menjawab tuntutan tersebut. GuruFest 2018 adalah sebuah kegiatan belajar guru yang merdeka dan sesuai dengan kebutuhan belajar guru abad 21. GuruFest 2018 memberikan ruang bagi guru untuk saling berbagi pengalaman baik yang pernah dilakukan di kelas masing-masing untuk dibagikan kepada guru lain.

“Selama ini kami kira para guru hanya bisa belajar dari dosen/professor, ternyata tidak. Kami ternyata bisa juga belajar dengan sesama rekan guru. Dan ini asik, karena narasumbernya adalah guru, orang yang paham banget tentang keadaan kelas dan sekolah saat ini. Sehingga materi-materi yang disampaikan benar-benar relevan dengan kebutuhan rekan guru lainnya”, kata Niamil Hida salah satu peserta GuruFest 2018 asal Pekalongan. Guru Niam bersama rekan-rekan guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan sengaja ikut hadir di acara GuruFest 2018 ini karena mereka merasa bahwa model belajar di GuruFest 2018 ini menarik. Ada banyak pilihan kelas yang bisa diikuti sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing guru.

“GuruFest 2018 ini adalah kegiatan belajar guru yang terinspirasi dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara yang baru saja kami ikuti di Jakarta beberapa waktu lalu”, kata Guru Daru mewakili panitia.

“Kami memberikan ruang bagi para guru-guru di Purwokerto untuk berdaya sekaligus belajar barengan”, lanjutnya.

Kegiatan GuruFest 2018 ini terbagi menjadi 4 sesi. Sesi yang pertama adalah Kelas Kemerdekaan. Kelas dengan durasi 1 jam ini adalah kelas dimana para guru bisa saling berbagi pengalaman baik dalam pengajaran. Kelas Kemerdekaan terdiri dari kelas-kelas kecil. Tiap kelas kecil diisi oleh 3 narasumber yang bercerita tentang pengalamannya dalam mengelola kelas melalui strategi tertentu.

Sesi kedua adalah Kelas Kompetensi. Kelas ini berdurasi 3 jam. Sama seperti kelas kemerdekaan, sesi Kelas Kompetensi ini dibagi menjadi beberapa kelas kecil. Tiap kelas membahas topik yang berbeda-beda. Tiap peserta dapat memilih kelas yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya masing-masing.

“Saya masuk kelasnya pak Waryanto. Wah menarik sekali! Saya baru tahu ternyata dengan menggunakan aplikasi Kahoot, proses penilaian pencapaian belajar siswa bisa dibuat sangat seru.. keren pokoknya..”, kata Demas, salah satu peserta GuruFest 2018.

“Saya besok akan gunakan aplikasi Kahoot ini di kelas saya..”, katanya.

Sesi ketiga adalah Kelas Kolaborasi. Sesuai judulnya, kelas ini memberi kesempatan kepada para professional untuk ikut serta berkolaborasi dalam pendidikan. Kelas ini menghadirkan 7 orang narasumber yang para professional dibidangnya. Sebut saja Arnold Ong. Beliau adalah professional muda di bidang IT yang telah malang melintang di dalam dan luar negeri. Arnold menjadi narasumber di kelas “Inovasi teknologi untuk Pendidikan”. Aplikasi-aplikasi terbaik yang mendukung pembelajaran dipaparkannya di depan kelas.

“Saya ingin guru-guru di seluruh Indonesia juga memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi secara maksimal. Dan hal itu tidak sulit kok..”, ujar Arnold.

Selain Arnold, ada juga Robi Sofwan Amin. Beliau adalah jurnalis CNN Indonesia yang ikut tergerak untuk berkolaborasi memajukan Pendidikan di Indonesia khususnya di Purwokerto melalui GuruFest 2018 ini. Robi mengangkat “Pembuatan Video Profesional dengan HP” sebagai judul kelasnya.

“Bermanfaat sekali ya, kami selaku guru dapat belajar pembuatan video langsung dari jurnalis. Tentunya ini menjadi strategi baru di kelas saya besok. Saya ingin pembelajaran PAI dikemas melalui vlog, pasti siswa saya akan suka”, kata salah satu peserta.

Ilmu yang kita miliki tidak akan berkurang jika kita bagikan kepada orang lain. Dan ternyata hal ini juga membahagiakan. Itulah yang kami rasakan di kelas Karier sebagai puncak acara GuruFest 2018. Di kelas ini seluruh peserta, narasumber, dan panitia berkumpul bersama di Aula SMK Aryasatya Teknologi Patikraja Purwokerto. Tidak muncul gurat lelah di wajah mereka meskipun kegiatan telah berlangsung seharian. Justru yang muncul adalah kebahagiaan.

Guru yang menjadi narasumber berbahagia ketika hari ini Ia berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Menaklukkan anggapan negatif yang menganggap bahwa Ia tidak bisa menjadi narasumber bagi guru lain. Ternyata anggapan itu salah besar karena setelah berbagi di depan kelas, rasa malu, tegang, takut, telah lenyap berganti dengan ketagihan belajar tak berkesudahan. Fix! guru bisa menjadi narasumber untuk materi yang sangat dikuasainya, yaitu mendidik dengan hati.

Kebahagiaan dari para peserta juga terlihat karena dibenaknya telah muncul optimisme baru. Optimisme yang muncul karena hari ini Ia memiliki strategi-strategi pembelajaran terbaik. Optimisme yang membuatnya tidak sabar untuk segera masuk kelas menemui para siswanya. Dan pastinya optimisme untuk terus belajar.

Hari ini, sekali lagi kami belajar sekaligus membuat pembuktian bahwa berbagi itu membahagiakan.
Bagi guru milenial, Sharing is cool!

Nuno Riza
Peserta GuruFest 2018
Penggerak KGB Pekalongan

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: