Cikal PYP Exhibition : Proyek Murid yang Bermakna

Penulis : rizqy | 14 Feb, 2019 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Melihat proses belajar di Cikal PYP Exhibition ini dekat sekali dengan kehidupan. Latar belakang murid membuat sebuah proyek tidak jauh dengan kehidupan mereka” ujar Ahdiyat seorang guru dari SMP Fitrah Insani yang datang bersama murid-muridnya.

Salah seorang murid Sekolah Cikal menjelaskan kepada murid sekolah lain bagaimana kinerja sepeda yang bisa mengisi daya batrai.

PYP (Primary Years Program) Exhibition adalah kegiatan tahunan bagi kelas 5 Sekolah Cikal dalam bentuk pameran. Sebelum pameran ada tahap penelitian yang dilakukan murid kelas 5. Dimulai dari menemukan isu dan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan memikirkan solusi untuk kontribusi kepada masyarakat.

Bagaimana agar murid kelas 5 SD bisa menemukan isu yang ada dalam kehidupan sehari-hari?

Serunya di sini, isu yang diangkat murid tidak tiba-tiba muncul, ada tahapan bernama Tuning In. Dalam #CikalPYPX tahun ini yang bertema sains, guru-guru mengajak murid untuk berkunjung ke museum IPTEK. Dengan pertanyaan-pertanyaan esensial, guru mencoba menggali inkuiri murid.

Setelah Tuning In, ada tahapan Finding Out, murid mencari informasi awal berdasar pertanyaan esensial. Sorting Out, memikirkan, menganalisis, dan memvisualkan hasil observasi. Dan terakhir adalah Going Futher, tahapan di mana murid memikirkan dan merencanakan tindakan dari hasil olahan informasi.

Sampai akhirnya karya bisa dilihat dalam pameran.

Karena bertema sains, maka karya-karya yang ditampilkan pada Rabu dan Kamis (13 dan 14 Februari 2019) ini memiliki konsep sains. Dari proyek membuat alat untuk menurunkan kecemasan murid, kertas yang terbuat dari ubi kuning, robot yang bisa diajak latihan anggar, tangan elektronik yang dibuat karena terinspirasi atlet disabilitas, sarung tangan yang berfungsi sebagai remote control mobil, es krim yang terbuat dari sayuran dan masih banyak yang lainnya.

Murid yang mengerjakan proyek ini dengan antusias menjelaskan bagaimana karya ini bisa jadi kepada pengunjung yang notabennya dari berbagai kalangan. Di sini terlihat murid memang menguasai apa yang ia lakukan. Selain itu murid tak canggung menyampaikan kegagalan yang ia lakukan selama mengerjakan proyek. Dan menuliskannya dalam kolom refleksi. Dan juga meminta umpan balik kepada para pengunjung.

Saya berharap kalau hari ini sekedar prototipe, maka suatu hari nanti apa yang dibuat anak-anak ini bisa diteruskan menjadi karya yang berdampak” ujar Emil, salah satu orangtua murid Sekolah Cikal.

Apa yang saya lihat hari ini mengingatkanku kepada dua hal. Satu, teringat adegan terakhir film 3 Idiots, di mana murid-murid di sekolah yang Rancho buat, berkarya membuat alat-alat yang berguna bagi kehidupan. Kedua, teringat akan puisi karangan WS Rendra berjudul “Seonggok Jagung”.

Seonggok Jagung
WS Rendra

Seonggok jagung di kamar
Dan seorang pemuda
Yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu
Sang pemuda melihat ladang
Ia melihat petani
Ia melihat panen

Dan suatu hari subuh
Para wanita dengan gendongan
Pergi ke pasar
Dan ia juga melihat
Suatu pagi hari
Di dekat sumur
Gadis-gadis bercanda
Sambil menumbuk jagung
Menjadi maisena
Sedang di dalam dapur
Tungku-tungku menyala
Di dalam udara murni
Tercium bau kue jagung

Seonggok jagung di kamar
Dan seorang pemuda
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
Otak dan tangan
Siap bekerja

Tetapi ini
Seonggok jagung di kamar
Dan seorang pemuda tamat S.L.A
Tak ada uang, tak bisa jadi mahasiswa
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya
Ia memandang jagung itu
Dan ia melihat dirinya terlunta-lunta
Ia melihat dirinya ditendang dari discotheque
Ia melihat sepasang sepatu kenes
di balik etalase
Ia melihat sainganya naik sepeda motor
Ia melihat nomer-nomer lotere
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal

Seonggok jagung ia di kamar
Tidak menyangkut pada akal
Tidak akan menolongnya
Seonggok jagung di kamar
Tak akan menolong seorang pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku
Dan tidak dari kehidupan
Yang tidak terlatih dalam metode
Dan hanya penuh hafalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
Tetapi kurang latihan bebas berkarya
Pendidikan telah memisahkanya dari kehidupanya

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoalanya??
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya??
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata :
“disini aku merasa asing dan sepi”

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: