Teknik Jitu Pemimpin Sekolah Menggerakkan Sekolah/Madrasah dengan Coaching

Penulis : Andreas Afrindo | 8 Jun, 2021 | Kategori: Merdeka Belajar, Pemimpin Merdeka Belajar

“Tantangan mengajak guru untuk berubah itu ketika guru merasa mereka digurui”.  Kalimat diatas merupakan bentuk kegelisahan yang dialami oleh salah satu pimpinan sekolah/madrasah yaitu Ibu Emi Hardyanti. Memberdayakan para pendidik merupakan tantangan bagi sebagian Pemimpin Merdeka Belajar. Hal ini ternyata tidak hanya dialami oleh Ibu Emi saja, sebagian para pemimpin sekolah/madrasah melalui curhatannya mereka ternyata juga memiliki keresahan yang sama:

“Tantangan mengajak para guru untuk keluar dari zona nyaman agar mau belajar tentang hal-hal baru.” oleh Bunda Pelangi

“Penuh tantangan membudayakan hal baru ke guru-guru untuk melangkah lebih merdeka belajar” oleh Ibu Dias Fujihara 

“Adakah cara jitu atau suntikan imun agar hal baru yang mau kita sampaikan tidak menjadi bumerang bagi kita sendiri?” oleh Rumah Tahfidz QC Canggu Management  USAA

Baca Juga: Tantangan Kepemimpinan pada Perjalanan Tahun Kelima

Kegelisahan-kegelisahan diatas disampaikan oleh Bapak Ibu Pemimpin dimana mereka mendorong para pendidik untuk melakukan inovasi pembelajaran di kelas termasuk diharapkan para pendidik mampu menyelesaikan masalah tanpa menunggu dari  atasan. 

Nah, oleh karena kegelisahan-kegelisahan tersebut menarik untuk didiskusikan lebih lanjut oleh Pak Theo dan Pak Rudi tentang bagaimana cara jitu Bapak Ibu Pemimpin menggunakan teknik coaching secara efektif pada sekolah/madrasah Bapak Ibu!

Untuk dapat memahami topik ini, Bapak Ibu Pemimpin perlu mengetahui terlebih dahulu pengertian apa itu coaching. Berdasarkan International Coaching Federation atau disingkat dengan ICF yang dipaparkan oleh Pak Rudi, coaching didefisinisikan sebagai berikut: 

Coaching is partnering with client is a thought provoking creative process that inspiring them to maximize personal and professional potential” 

Sederhananya, coaching itu dilakukan melalui percakapan menginspirasi dan menggugah untuk memaksimalkan potensi seseorang yaitu potensi baik secara personal maupun profesional. 

Dimulai dari filosofinya sendiri bahwa teknik coaching tersebut mempercayai keberadaan human potential artinya setiap manusia memiliki potensi untuk bisa mengembangkan dirinya dan mampu menyelesaikan yang dihadapinya. 

Atas penjelasan tersebut, Pak Theo penasaran dengan alasan penggunaan kata ”Provocate” = provokasi dimana kata tersebut menggelitik Pak Theo karena biasanya bermakna konotasi negatif. Alasan Pak Rudi menterjemahkan “Provocate” ke terjemahan bahasa Indonesia menjadi “Provokasi” karena kata yang digunakan “provokasi” tersebut mampu menjelaskan maksud dalam proses coaching itu biasanya si cochee hanya mengenali pada permukaan (surface) saja. Melalui bantuan si coach tersebut akan menggali lebih untuk menentukan tujuan dan membangkitkan kesadaran diri (awareness) yang dibarengi dengan pergolakan batin melalui bentuk pertanyaan-pertanyaan yang mengena kepada setiap coachee (orang yang dicoaching).

Teknik proses coaching yang dilakukan oleh si coach tersebut merupakan diskusi dua arah berupa bentuk pertanyaan bermakna (powerful questioning) dari si coach untuk mendengarkan respond para coachee dimana mereka menceritakan permasalahan dan keluhan mereka. 

Selanjutnya setelah si coachee mampu menemukan penggalian awareness, realita potensi, peluang dan dukungan  di dalam dirinya, untuk meminimalisir kesalahan (failure) maka si coachee digali lebih dalam menganalisis tantangan, resiko, hambatan, kelebihan dan kekurangannya dimana adanya proses refleksi selama proses coaching tersebut.

Agar membantu Bapak Ibu Pemimpin memahami teknik coaching, kita dapat membandingkan perbedaan teknik-teknik lainnya: 

Mentoring and TrainingCoaching
Transfer pengetahuan dan keahlian (Transfer knowledge and skills) dari seorang mentor/traineer kepada orang lain (client).Menggugah dan menggali pikiran terdalamnya tentang tujuan dan kesadaran (awareness) dari mendengar permasalahan yang dihadapi oleh coachee (client) untuk dapat mengatasinya sendiri.
Design dirancang oleh mentor/traineer kepada clientDesign dirancang sendiri oleh si coachee dari hasil refleksinya
Pelibatannya rendah (low engagement) dalam proses mentoring & trainingPelibatannya tinggi (high engagement) dalam proses coaching dari coach kepada coachee
Memperbaiki kejadian sebelumnya yang dilakukanBerpikir memperbaiki saat ini dan merancang masa yang akan datang untuk lebih baik
Umpan balik (feedback)Umpan lanjut / umpan maju (feedforward)
Selalu memberikan saran (advice) kepada client untuk memperbaiki kejadian sebelumnyaBertindak sebagai fasilitator/pemandu (facilitator), tidak selalu memberikan saran (advice)
“wah tugasnya seperti ini, coba perbaiki pada bagian-bagian ini”“terima kasih ya Bapak/Ibu telah berusaha , nah dari sini apa yang bisa ditingkatkan”

Teknik Coaching ini bisa jadi alat (tool) untuk mengembangkan satuan pendidikan baik sekolah dan madrasah Bapak Ibu.

Pak Rudi sampaikan berdasarkan peninjauan dari Brian Emerson & Anne Loehr yang menulis buku “A Manager’s Guide To Coaching”, teknik coaching dipertimbangkan dalam pengembangan sumber daya manusia termasuk dalam aspek-aspek :

  1. Bakat (Aptitude) → kecakapan, kemampuan
  2. Sikap (Attitude) → Fokus, cara sikap, percaya diri
  3. Sarana Pendukung (Available resource) → peralatan dan waktu

Dalam proses coaching ini terjadi dialog diskusi untuk menciptakan kesadaran (awareness), selama sesi tersebut si coachee dapat melakukan sendiri atau bersama dengan lain untuk berefleksi dan  mencari sumber ilmu agar mendapatkan kecakapan, misalnya. Selama proses coaching tersebut timbul frekuensi yang sama antara si coach dan si coachee.

Nah, selanjutnya setelah dijelaskan tentang teknik coaching, pertanyaan menarik dari Ibu Ngatiningsih Ning tentang :

“Bagaimana jika pemimpin sekolah sudah memberikan kemerdekaan untuk meningkatkan kreatifitas guru, menjadi coaching pada teman sejawat, agar guru tidak tergantung Kepsek tetapi guru masih merasa kurang enak pada senior?”

Coaching Pemimpin Sekolah

Tanggapan dari Pak Rudi perihal pertanyaan tersebut :

  1. Apakah guru senior telah di coaching juga hingga menimbulkan perasan tidak enak dari guru junior?
  2. Seberapa jauh peluang dan tantangan yang digali untuk mengatasinya? 

Jawabannya adalah bisa jadi semua itu karena hanya perasaan dan prasangka saja, sehingga penggalian yang mendalam untuk dilakukan dan meminimalisir kesalahan. 

Semakin tertarik bukan, Bapak Ibu Pemimpin untuk melakukan perubahan kepada para guru dan tenaga pendidikannya di satuan pendidikannya? Yuk ikuti Program “Coaching Pengembangan Tim Merdeka Belajar” melalui tautan : bit.ly/cptmerdekabelajar .

Program tersebut mendapatkan beasiswa sebesar 70% dengan kode voucher “CPJUNI” (aktivasi kode voucher bisa diakses mulai 08 Juni 2021, kode voucher berlaku selama bulan Juni 2021).

Dalam program ini, 5 peserta yang telah mengikuti program ini (peserta yang telah mengikuti modul coaching, mempraktekannya, dan membuat testimoni) berkesempatan untuk mendapatkan sesi personal coach

Seru bukan?
Yuk ikuti program ini dan selamat belajar
Bapak Ibu Pemimpin Merdeka Belajar!

Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar dapat ditonton ulang pada video berikut

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: