Contoh & Praktik Asesmen Sumatif

Contoh & Praktik Asesmen Sumatif

Apakah Bapak dan Ibu Guru merasa nilai murid-murid mengecewakan? Penilaian tengah semester, ujian akhir sekolah, penilaian akhir sekolah kurang maksimal? Pusing karena praktik asesmen sumatif belum menggambarkan tercapainya kompetensi murid? Asesmen sumatif adalah cara menilai hasil belajar murid. Mungkin yang terlintas dalam pikiran, ketika mendengar asesmen sumatif adalah tentang ujian akhir sekolah, penilaian tengah semester (PTS), penilaian akhir semester (PAS), pilihan ganda, jawaban singkat, atau tentang latihan soal untuk meningkatkan kemampuan murid dalam menjawab soal. 

Tenang, semoga pengalaman Bu Rizky akan memberikan inspirasi dan solusi. Bu Rizky Setyaningrum adalah guru yang mengajar di SMP Negeri 26 Surakarta. Bertahun-tahun Bu Rizky melakukan praktik asesmen sumatif dalam bentuk soal pilihan ganda, jawaban singkat, memilih benar atau salah, menjodohkan, serta berbagai tipe tes lain yang menggambarkan kompetensi dasar yang seharusnya dikuasai murid. Misalnya dalam Kompetensi Dasar peserta didik menyusun teks deskriptif lisan dan tulis, untuk memastikan murid-murid mampu menyusun teks deskriptif lisan dan tulis ternyata tidak cukup hanya melalui tes pilihan ganda, jawaban singkat, atau bentuk lain yang biasanya dilakukan Bu Rizky dalam praktik asesmen sumatif. Bu Rizky juga diminta  untuk meningkatkan skor tes murid-muridnya dalam praktik asesmen sumatif yang ada seperti ujian akhir sekolah, penilaian tengah semester, dan penilaian akhir sekolah untuk meningkatkan nama baik sekolah.

Baca Juga : Media Ajar yang Menarik untuk Asesmen

Hal tersebut membuat Bu Rizky untuk mengajar hal-hal yang akan diteskan, memberikan latihan, dan memberikan tambahan jam pelajaran. Ketika Bu Rizky mengajar dan memberikan latihan soal-soal yang akan diteskan, ternyata tidak menggambarkan tercapainya Kompetensi Dasar. Praktik yang dilakukannya ternyata malah memisahkan asesmen sumatif dengan proses belajar. Bu Rizky melupakan asesmen diagnostik dan asesmen formatif karena terfokus pada performa prima dalam tes yang menggambarkan kompetensi dasar yang seharusnya dikuasai murid.

Maka dari itu perlu memberikan asesmen sumatif yang komprehensif. Kuis dan tes sumatif standar yang selama ini digunakan banyak lembaga pendidikan bukanlah hal buruk yang mesti dihindari. Tes tersebut tetap memberikan gambaran kemampuan murid-murid meskipun tidak mewakili kompetensi dasar yang dikuasai. Banyak jenis asesmen sumatif seperti portofolio, menulis jurnal, presentasi, dan kuis yang berupa pilihan ganda, jawaban pendek, menjodohkan, benar atau salah, respon pendek,

Bu Rizky mencoba menggunakan menulis naskah dan membuat animasi pendek sebagai praktik asesmen sumatif, karena menulis dan membuat animasi pendek mencakup beberapa kompetensi dasar. Dalam penulisan naskah, Bu Rizky berharap murid-muridnya dapat menuangkan keterampilan yang sudah dipelajari pada kelas 7 semester genap, yaitu menyusun teks deskriptif tentang benda, hewan, dan orang secara lisan atau tulis. Penulisan naskah dan pembuatan animasi pendek yang diambil dari naskah tersebut membutuhkan waktu yang panjang. Bu Rizky memulai dengan praktik asesmen diagnostik pada awal semester untuk mengukur seberapa besar potensi dan bidang apa yang sesuai minatnya. Lalu menyusun rencana langkah-langkah menciptakan naskah yang berisi teks deskriptif mengenai hewan, benda, dan orang secara tulis dan video animasi pendeknya. Pada waktu pertemuan pertama, Bu Rizky mengajak murid-muridnya untuk membahas kondisi psikologisnya, serta menstimulus kemampuan dasar murid-muridnya dalam menggambarkan sesuatu.  Bu Rizky bertanya tentang fungsi mendeskripsikan hewan, benda, dan orang. Tujuannya adalah untuk mengajak murid-muridnya membayangkan latar belakang yang akan dipilih saat membuat naskah dan video animasinya. Lalu Bu Rizky juga menanyakan tentang cara murid-muridnya mendeskripsikan hewan, benda, dan orang untuk mendalami sejauh mana murid-muridnya mengetahui kosakata dasar yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan serta penerapannya dalam kalimat deskriptif.

Ternyata hasilnya, membuat Bu Rizky berpikir berpikir keras untuk menentukan langkah-langkah pembelajarannya. Murid-muridnya menyampaikan bahwa keluarganya hanya memiliki sedikit waktu untuk mendampingi belajar dan sedikitnya kamus atau buku bacaan yang ada di perpustakaan yang menunjang proses belajar murid. Banyak murid yang belum mampu merangkai kosakata untuk menjadi kalimat deskriptif. Bahkan, ada beberapa murid yang belum dapat menyeleksi kosakata yang sesuai untuk digunakan dalam teks deskriptif. Bu Rizky terdiam sejenak setelah membaca jawaban murid-muridnya pada pertemuan pertama tersebut.

Bu Rizky mulai berpikir dan bertindak cepat karena  minggu depan harus memulai langkah awal untuk tercapainya Kompetensi Dasar dalam menyusun teks deskriptif mengenai benda, hewan, dan orang baik lisan maupun tulisan. Ketika Bu Rizky sedang memikirkan indikator-indikator Kompetensi Dasar yang sesuai dengan kondisi murid-muridnya, ada seorang ibu yang mencari staf tata usaha sekolah. Saat menunggu, ibu tersebut mengasuh anaknya yang digendong. Ibu tersebut mengucapkan “mata” sambil menunjuk mata anak kecil yang ada dalam gendongannya. Melihat hal tersebut, Bu Rizky mendapatkan suatu ide dalam pikirannya. Pembelajaran dapat bermula dari satu kata, seperti orang tua mengajarkan awal mula berbicara kepada anaknya. Ide tersebut sesuai, karena murid-murid Bu Rizky sedang mengalami kesulitan dalam memilih kosakata dan merangkainya dalam kalimat. Berawal dari inspirasi orangtua mengajarkan berbicara kepada anaknya, Bu Rizky merancang langkah-langkah pembelajarannya.

  1. Mengenalkan kosakata mengenai bagian-bagian fisik
  • Manusia atau hewan : hidung, mulut, kulit, mata, dan lain sebagainya.
  • Barang/bangunan: ruang kelas, koridor, kamar tidur, aula, dan lain sebagainya.

2.   Mengenalkan kosakata mengenai karakter

  • Manusia atau hewan : dermawan, rajin, jinak, buas, dan lain sebagainya.
  • Barang/bangunan: nyaman, luas, bersih, dan lain sebagainya.

3.  Cara merangkai satu kata dengan kata lainnya menjadi kalimat.

4.  Mengenalkan konsep teks deskriptif

5. Bagaimana membuat kalimat yang sesuai dengan komponen paragraf teks deskriptif.

6. Merangkai kalimat-kalimat yang telah dibuat menjadi teks deskriptif.

7. Membuat naskah percakapan berdasar teks deskriptif yang telah dibuat.

8. Mengunduh aplikasi pembuat video di Playstore.

9. Membuat tutorial penggunaan aplikasi

10. Membuat video.

Proses yang bermula dari satu kata menuju proyek dengan praktik asesmen sumatif berupa naskah dan video animasi membutuhkan waktu yang panjang. Bu Rizky membiasakan muridnya untuk menulis secara benar, tetapi banyak murid yang bertanya secara pribadi daripada bertanya di grup kelas. Hal yang menantang menurut Bu Rizky adalah respon muridnya pada awal pembelajaran ketika mengenalkan kosakata. Dengan memberikan daftar kosakata, lalu meminta muridnya untuk menerjemahkan kosakata menggunakan kamus yang tesedia. Lalu murid diminta untuk menambahkan kosakata. Bu Rizky tidak menyangka, bahwa murid-muridnya saling membantu melengkapi kosakata yang sudah ada serta menerjemahkannya. Murid-murid saling berlomba untuk menunjukkan catatan kosakatanya.

Akhirnya murid-murid mampu menyusun teks deskriptif, baik secara tertulis maupun lisan. Dari proses tersebut, Bu Rizky menyadari bahwa proyek tersebut  sudah menggambarkan  kompetensi dasar. Bu Rizky yakin murid-muridnya sudah mampu mengumpulkan kosakata mengenai bagian-bagian fisik hewan, benda, orang dan kata sifat yang memberikan karakter pada hewan, benda, dan orang tersebut, serta menerapkannya dalam kalimat dan menyusunnya menjadi teks deskriptif. Praktik asesmen sumatif berupa proyek naskah dan video animasi tersebut tidak bisa terwujud jika tanpa diawali dengan praktik diagnosis terhadap kemampuan murid serta pemecahan indikator kunci menjadi indikator-indikator pendukung dalam langkah-langkah pembelajaran. Karena serunya proyek tersebut, murid-murid lupa untuk memperbaiki naskahnya sebelum membuat video, akhirnya mengulang lagi membuat video setelah memperbaiki naskahnya.

Menurut Bu Rizky tidak ada metode asesmen sumatif yang benar-benar sempurna. Semua metode asesmen sumatif saling melengkapi untuk memberikan gambaran kompetensi dasar yang seharusnya dikuasai murid. Praktik asesmen sumatif yang digunakan Bu Rizky, memberikan gambaran kemampuan murid dalam keterampilan menulis dan berbicara. Tetapi belum memberikan gambaran kemampuan murid dalam menyimak dan membaca. Bu Rizky membayangkan, untuk selanjutnya murid-muridnya diajak untuk saling mengapresiasi proyek yang telah diselesaikan, sehingga terdapat aktivitas menyimak video  dan membaca naskah karya temannya.

Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Bu Rizky terkait praktik asesmen sumatif menginspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidikan Nusantara VIII! 

Klik : https://tpn.gurubelajar.org

Sumber Buku: Surat Kabar Guru Belajar Edisi IV Tahun Keenam

About the Author
Penulis Cerita - Desainer Program Guru Belajar | Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Negeri Surabaya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: