Cerminan Humanisme dalam Merdeka Belajar

Penulis : Devy Eka Angelica | 26 Sep, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Sidoarjo, Temu Pendidik Daerah

Utlubul ‘ilma minal mahdi ilal ahdi”, berikut merupakan Hadis Nabi Muhammad saw. yang artinya “menuntut ilmu mulai dari buaian hingga akhir hayat”. Pada hadis tersebut memiliki makna bahwa belajar merupakan hak dan kewajiban bagi siapapun dimulai saat seorang manusia lahir hingga saat terakhir di dunia. Tidak terpatok pada status, usia, gender, jenjang pendidikan, dan sebagainya. Belajar sendiri banyak bentuknya, ada yang belajar dalam hal teori maupun praktek. Hal inilah yang menjadi prinsip saya dalam menjalankan amanah menjadi guru.

Guru dalam pendangan orang lain adalah seseorang kunci dari pendidikan dan merupakan uswatun hasanah tidak hanya bagi muridnya tetapi juga masyarakat di sekitarnya. Perasaan yang muncul untuk memenuhi tanggung jawab dan ekspektasi sebagai seorang pendidik akhirnya mengantarkan saya untuk ikut dalam Komunitas Guru Belajar Nusantara di daerah Sidoarjo.

Kegiatan yang baru-baru ini saya ikuti dalam proses pengembangan diri bersama KGBN adalah mengikuti acara Nonton Bersama Guru Merdeka Belajar yang diadakan oleh Pengurus KGBN daerah Sidoarjo pada tanggal 13 September 2020 yang dimulai pada pukul 19.00 WIB via Zoom Meeting. Dalam tayangan tersebut, terdapat ungkapan dari Bu Najelaa Shihab selaku founder dari Kampus Guru Cikal dan Inisiator dari KGBN yakni “proses merdeka itu bukan sesuatu yang diberikan, tetapi sesuatu yang kita gerakkan” yang dimana ungkapan tersebut seakan-akan menjadi refleksi bagi saya bahwa menjadi guru yang merdeka tidak bisa dengan bergantung pada tercapainya tujuan pembelajaran oleh murid dan lembaga pendidikan. Kadang saya lupa bahwa guru memiliki kuasa untuk merdeka. Tidak hanya pemenuhan nilai dan prestasi maka seorang guru baru bisa dikatakan guru yang sukses namun lebih kepada pemaknaan dalam pembelajaran yang diharapkan akan selalu dihayati murid. 

guru merdeka belajar berperan dalam masa pandemi

Bu Najelaa mengemukakan bahwa konsep pendidikan yang merdeka belajar apabila mempunyai komitmen tujuan, mandiri, dan refleksi yang sayangnya masih menimbulkan miskonsepsi. Miskonsepsi tersebut menimbulkan rasa insecure pada diri saya yang juga senada dengan yang dirasakan oleh Bu Sari yang mengatakan bahwa konsep merdeka belajar bagi beliau masihlah gelap karena adanya sistem di lembaga pendidikan yang kurang ingin maju dan hanya bergantung pada atasan suatu lembaga tersebut, apakah memberikan fasilitas bagi gurunya untuk mencapai kemerdekaan atau tidak. Namun bukan dipungkiri bahwa harapan itu selalu ada tergantung pada pendidik apakah ingin merdeka dengan bergerak atau menunggu diberikan. Apabila pendidik mampu merubah miskonsepsi menjadi sugesti yang dibarengi dengan strong-will maka bukan tidak mungkin ketiga rumus tersebut mampu mengantarkan murid pada pengalaman belajar yang baru. Sehingga hasil akhir dari merdeka belajar yang dilakukan guru tentu akan membawa dampak merdeka pula bagi para murid.

pembelajaran jarak jauh

Banyak sisi dari tayangan tersebut yang memacu saya untuk menggali potensi saya lebih dalam untuk bergerak dan merdeka. Tidak hanya saya, Bu Ildia juga mengungkapkan bahwa dulu ia terjebak dengan segala pemenuhan administrasi sehingga lupa mengupgrade diri namun dengan penyadaran yang kami dapatkan melalui tayangan tersebut maka memacu keinginan kami untuk merdeka dan memfasilitasi kemerdekaan murid yang dapat dilakukan dengan berpartisipasi aktif di setiap kegiatan di KGBN khususnya daerah Sidoarjo. Saya pun mengungkapkan bahwa bentuk dari partisipasi yang bisa saya berikan adalah mengikuti kegiatan pengembangan yang diberikan oleh KGBN daerah Sidoarjo dan mempraktekkannya di lembaga pendidikan saya. Selain itu, saya juga ingin mengajak teman-teman saya, yang saya tahu bahwa mereka masih banyak yang tersesat dan terbelenggu pada konsep pendidikan yang belum merdeka untuk sama-sama belajar dan berkembang di KGBN. Hal tersebut juga banyak diaminkan oleh teman-teman guru lainnya dengan antusias.

Bertemu dengan kata merdeka, saya teringat dengan konsep humanisme pada teori belajar yang digagas oleh Maslow dengan jargon memanusiakan manusia agar dapat mengaktualisasikan dirinya secara holistik. Apabila selama ini konsep humanisme sering dikemukakan hanya terfokus pada tumbuh kembang murid maka dalam merdeka belajar, konsep tersebut juga menyentuh guru karena dengan merdeka belajar, guru secara bebas namun tetap terkonsep untuk menggali potensi yang dimilikinya serta mengembangkan potensi tersebut. Tentu hal tersebut akan menimbulkan keberpihakkan tidak hanya pada murid tetapi juga pada guru.

dalam masa pandemi guru merdeka belajar berperan penting

Dengan konsep humanisme pada merdeka belajar maka murid akan merasa senang dan termotivasi untuk melakukan kegiatan pembelajaran begitu pula dengan guru yang akan mampu memahami pola pikir murid. Sehingga menurut saya, merdeka belajar adalah kill two birds with one stone yang dimana sangat urgent untuk dipelajari dan dipraktekkan oleh guru pada pembelajaran dengan murid. Yang tentu, disini guru harus bisa menjadi penggerak bukan penerima yang menunggu kemerdekaan diberikan.

Baca Juga: Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan

Pemanfaatan merdeka belajar yang sangat saya rasakan terlebih di masa pandemi ini adalah peran guru merdeka belajar dalam melakukan maintain konsep belajar yang menyenangkan dan tidak membebani psikis murid. Dengan mendalami konsep guru merdeka belajar, saya lebih berpihak pada murid, bersikap mengerti dan maklum dengan keadaan setiap murid yang tentunya memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan yang lain. Trait tersebut semakin memacu saya untuk mengeksplor kemampuan saya dalam mendidik, menggunakan strategi, media, dan pendukung pelaksanaan pembelajaran lain untuk menuju merdeka belajar.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: