Dari Alam Menuju Guru Belajar Pekalongan

Penulis : bukik | 26 Oct, 2018 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Belajar dari alam, belajar dari Penggerak Komunitas Guru Belajar Pekalongan.

Ketika sekolah dasar dulu, saya mendapat tugas mencangkok. Saya memilih mencangkok pohon jeruk yang banyak tumbuh di halaman rumah. Dengan susah payah, akhirnya berhasil juga mencangkoknya. Ketika dipindah, cangkokan tumbuh, bahkan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pohon jeruk sebelumnya. Singkat cerita, pohon jerukan cangkokan berbunga dan berbuah lebat. Tapi tanpa disangka-sangka, malam badai lebat, dan paginya pohon jeruk cangkokan itu tumbang. 

Kenapa? 

Kata orang, pohon hasil cangkok tidak mempunyai akar tunggang yang menancap pada kedalaman tanah. Pohon hasil cangkok tumbuh mengalami proses pertumbuhan berbeda dengan pohon yang tumbuh dari biji, atau melalui proses alaminya. 

Apa hubungannya cangkok dan guru belajar? Begini ceritanya 

Dua tahun lalu, saya diundang menghadiri Temu Pendidik Daerah yang diadakan Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Saya sampai di Pekalongan sehari sebelum kegiatan. Keesokan harinya, saya diajak makan siang bersama orang dinas pendidikan sambil ngobrol tentang aktivitas pengembangan guru. Selesai makan siang, saya meluncur ke lokasi Temu Pendidik Daerah yang diadakan di sebuah sekolah. Sesampai di sana, saya disambut kepala sekolah dan kami pun bicara panjang lebar sekaligus menanti para peserta datang. Banyak guru yang hadir, dua ruang kelas yang disatukan pun penuh sesak. 

Temu Pendidik Daerah Pekalongan edisi perdana pun dimulai. Pada sesi inspirasi, 3 orang guru berbagi praktik pengajarannya. Seorang Bu Guru bercerita pengalaman awal menjadi guru yang harus ditempuh dengan mengendara motor disambung dengan jalan kaki mendaki gunung. Selanjutnya sesi refleksi, saya memandu para guru melakukan refleksi, menarik pelajaran dari pengalaman guru pada sesi sebelumnya. Dan diakhiri dengan sesi aksi, komitmen tindak lanjut setelah kegiatan.

Selesai acara, saya menyatakan kekaguman saya pada dua penggerak Guru Belajar Pekalongan, Pak RIzqy dan Pak Rudi. Temu Pendidik Daerah dipenuhi peserta. Kami habiskan sore dengan obrolan santai sampai jadwal kereta datang dan saya kembali ke Jakarta. Kembali dengan hati gembira. 

Tapi entah mengapa, beberapa bulan berlalu, Komunitas Guru Belajar kembali sepi. Tidak ada aktivitas belajar, tidak ada diskusi. Ada apa? 

Ketika saya bertanya, Penggerak Guru Belajar Pekalongan menjelaskan dari sekian banyak peserta Temu Pendidik Daerah tidak ada yang tertarik untuk bergabung. Rupanya mereka hadir di Temu Pendidik Daerah karena ada surat edaran dari Dinas Pendidik. Ketika tidak ada surat edaran, keterlibatan mereka pun berhenti. Saya pun jadi ingat Salah Kaprah Pertama Guru Belajar: Guru belajar hanya ketika ada insentif atau ada ancaman hukuman. 

Namun, rupanya Penggerak Guru Belajar Pekalongan pantang menyerah. Terus mencari cara ketika ada hambatan menghadang pencapaian tujuan. Satu cara gagal, cari cara lain, yang meninggalkan salah kaprah guru belajar. Mereka mencari guru yang mau belajar karena kemauannya sendiri, bukan karena keinginan mendapat insentif atau menghindari hukuman. 

Sebagaimana pohon jeruk yang tumbuh dari biji, Komunitas Guru Belajar Pekalongan tumbuh perlahan. Kegiatan kecil demi kegiatan kecil dilakukan. Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit. Tahun ini, Komunitas Guru Belajar Pekalongan bekerjasama dengan Universitas Pekalongan menggelar Temu Pendidik Pekalongan Raya yang dihadiri 200 guru dari berbagai daerah. Ada kelas kemerdekaan, ada kelas kompetensi, ada kelas kolaborasi dan ada kelas karier. Paket lengkap! Biji itu rupanya sudah berkembang pohon yang berbuah ranum dan lebat.

Apa pilihan Anda, terburu-buru mencangkok atau bersabar menumbuhkan biji Komunitas Guru Belajar di daerah Anda?

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: