Di Jalan Sepi, tapi Selalu Ada Teman

Penulis : rizqy | 8 Mar, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar

“Kulakukan itu dalam waktu berbulan-bulan, mondar-mandir kesana-kemari cari informasi dan partisipasi dari banyak orang yang kiranya memiliki kepedulian kepada kaum difabel. Saat itu, aku hampir saja putus asa. Karena kegiatan itu sedikit banyak memakan jadwal kuliahku. Ditambah lagi tidak banyak orang yang ternyata sulit untuk bekerjasama denganku. Bahkan sebagian memberi syarat yang bagiku berat agar aku bisa mendirikan organisasi difabel.” tulis Cindy Ayu Anggraini, mahasiswa tuna rungu di Universitas  Negeri Sebelas Maret Surakarta​ (UNS), Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) dalam esai yang ia tulis.

Tulisan Cindy mengenai perjuangannya mengaktifkan kembali Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI) di UNS berhasil menyentuh banyak orang. GAPAI yang ia aktifkan kembali adalah sebuah komunitas mahasiswa yang membantu, memantau, mengidentifikasi mahasiswa difabel di UNS. Misalnya ada mahasiswa difabel yang kesulitan dalam membaca, relawan GAPAI yang akan membantunya dalam membaca.

Di jalan yang sepi, UNS terus berjalan untuk pendidikan untuk semua. Selain mendirikan  Pusat Layanan Difabel (PLD) yang kemudian mendirikan Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI), kiprah UNS dalam mewujudkan pendidikan inklusi tidak main-main. Setiap mahasiswa di  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mendapatkan 2 SKS mata kuliah pendidikan inklusi. Harapannya calon-calon guru dari UNS memiliki bekal pendidikan inklusi ketika menjadi guru nanti dan menerapkan inklusivitas yang didapatkan saat berkuliah.

Keinklusivitasan UNS itulah menjadi salah satu alasan kami untuk menjajaki kerjasama program #PendidikanUntukSemua .

Selasa pagi (5/3/2019), tim Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani bertandang ke UNS. Memasukki UNS kami disambut oleh pohon yang rindang dan tertata rapi. Melihat kepedulian UNS terhadap lingkungan dan fasilitas, membuat kami langsung jatuh hati. Kami pun memasukki gedung Rektorat lantai 2 untuk bertemu Rektor UNS, Prof Dr Ravik Karsidi MS. Selain bertemu rektor, dalam audiensi tersebut ada pula Dr. Munawir Yusuf, M.Psi. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Kependidikan dan Asri mewakili Drs. Subagya, MSi (Ketua Pusat Layanan Difabel) yang berhalangan hadir.

Bukik Setiawan selaku Ketua Kampus Guru Cikal menyampaikan tujuan kedatanganya ke UNS, bahwa ingin mengajak UNS berkolaborasi. Harapannya dengan kiprah UNS di pendidikan inklusi selama ini bisa memfasilitasi murid-murid disabilitas yang kami seleksi dalam Program Pengembangan Murid Disabilitas.

Bukik Setiawan, Ketua Kampus Guru Cikal, memaparkan program #PendidikanUntukSemua kepada Rektor UNS.

Program Pengembangan Murid Disabilitas disambut baik, Dr. Munawir Yusuf, M.Psi. menceritakan tantangan yang UNS hadapi selama ini dalam menjalankan pendidikan inklusi salah satunya adalah seleksi calon mahasiswa. Selama ini ujian masuk mahasiswa difabel ke UNS bersamaan dengan jalur umum, baik melalui SMPTN, SBMPTN dan UM, tidak ada jalur khusus. Setelah melewati ujian tersebut, kemudian calon mahasiswa difabel diwawancara untuk bisa lolos menjadi mahasiswa UNS. Namun menurut Munawir hal tersebut kurang efektif, karena ada beberapa kasus mahasiswa difabel di tahun ketiganya tidak mau kuliah. Program yang ditawarkan Kampus Guru Cikal disambut baik, seperti jembatan murid difabel dan kampus.

“Saya mengapresiasi program ini, program ini seperti jembatan murid difabel dan kampus yang menyediakan layanan pendidikan tinggi. Calon mahasiswa sudah dilatih, lalu diseleksi oleh Kampus Guru Cikal dan  siap belajar di perguruan tinggi” tutur Munawir

Di jalan yang sepi, tapi selalu ada teman …

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: