Disiplin Positif Di Sekolah

Penulis : Dewi Setiawati | 18 Jun, 2020 | Kategori: Merdeka Belajar

Bagaimana cara menerapkan disiplin positif di sekolah?
Diskusi dengan topik disiplin positif ini dibuka oleh Moderator Guru Nisa. Moderator memulai dengan mengenalkan Narasumber yaitu Guru Adelia Oktoryta, dari KGB Makassar. Diskusi ini diikuti oleh 105 peserta tercatat di WAG. Profil Narasumber adalah sebagai berikut: 

Aktif di Komunitas Guru Belajar dan Relawan Keluarga Kita

Adelia Octoryta memulai kariernya sebagai guru sejak tahun 2010 karena ajakan seorang teman yang ingin membuat sekolah dengan cara pengajaran berbeda dengan sekolah pada umumnya. Saat itu diamanahi jadi guru kelas 2 SD, kelas tertinggi di Rumah Sekolah Cendekia kala itu. 2 tahun mengajar di SD kemudian diamanahi sebagai Kepala Sekolah SD Rumah Sekolah Cendekia hingga 2017. Sejak itu Adelia diamanahi sebagai Kepala Sekolah TK Rumah Sekolah Sekolah Cendekia, sekaligus wakasek SD Rumah Sekolah Cendekia. Saat ini sedang membuat kurikulum literasi berjenjang mulai dari Kelompok Bermain hingga SD untuk Rumah Sekolah Cendekia. Kesehariannya, selain sibuk di sekolah juga aktif sebagai Penggerak Komunitas Guru Belajar Makassar serta Relawan Keluarga Kita. Silakan, ikuti beliau di Instagram.com/adeliaoctoryta 

penerapan disiplin positif di sekolah

Disiplin positif dewasa ini menjadi sebuah praktik pendidikan yang dirasakan memberi efek positif bagi anak-anak. Dengan menerapkan di siplin positif di sekolah, di rumah maupun tempat lain diharapkan anak-anak mampu : 

  1. mengembangkan perilaku positif yang bertahan untuk jangka panjang
  2. mengembangakan kemampuan untuk mengelola diri dan tahan terhadap godaan/kesulitan
  3. mengembangkan motivasi internal dengan pembiasaan sejak dini. 

Ketiga hal tersebut dapat dibentuk dengan membangun sebuah komunikasi yang positif antara guru-murid atau orangtua-anak. Komunikasi yang positif ditandai dengan saling memanusiakan hubungan sebagai salah satu pondasinya. 

Definisi Memanusiakan Hubungan

Istilah memanusiakan hubungan sendiri diadaptasi dari kata “characterized” yang definisinya adalah “describes characters or quality of …” (Merriam Webster) atau “describe the nature or features of …”

Dalam konteks sebuah interaksi dan komunikasi, memanusiakan hubungan berarti menyadari bahwa setiap pribadi memiliki keunikan. Dalam setiap keunikannya, setiap pribadi memiliki harapan dan layak mendapatkan kepercayaan.

Dengan sebuah interaksi yang memanusiakan hubungan, anak-anak akan mampu menumbuhkan rasa : 

  1. Saya baik 
  2. Mampu melakukan hal baik 
  3. Saya bisa dipercaya dan
  4. Mampu menguasai diri 
  5. Saya mampu menyelesaikan masalah 
  6. Dan saya memiliki solusi 
  7. Saya dapat berkontribusi 

Guru/orangtua mempunyai peran penting dalam proses memanusiakan hubungan, antara lain dengan : 

  • mengenali karakter, keunikan dan kebutuhan setiap anak 
  • menghargai ide/gagasan/ inisiatif/kebutuhan mereka 
  • memfasilitasinya dengan menemukan sebuah kesepakatan bersama 

Contoh nyata antara lain: membuat kesepakatan di kelas, membuat kesepakatan di area bermain serta kesepakatan menggunakan gawai. 

Komunikasi positif adalah wujud dari upaya memanusiakan hubungan. Hal ini menjadi pondasi dalam menerapkan disiplin positif di sekolah, rumah maupun tempat lain. 

Setelah peserta diskusi membaca materi yang disampaikan, Moderator memberi kesempatan pertama bertanya kepada Guru Adelia. 

Keresahan Guru dalam Penerapan Disiplin di Sekolah

Pak Syarifuddin: ‘’ Jika ada perbedaan kesepakatan antarmurid saat mencari kesepakatan. Bagaimana cara mengatasinya? 

Narasumber: “Yuk simak panduan membuat kesepakatan kelas berikut: 

1. Berupa pernyataan positif yang fokus pada hasil jangka panjang
2. Batasi jumlah peraturan, utamakan yang menyangkut hubungan antaranggota kelas (3-5 poin)
3. Libatkan murid sejauh mungkin dalam membuat kesepakatan kelas
4. Implementasi kesepakatan kelas tidak perlu terburu buru
5. Jika ada yang melanggar, harus segera ditindaklanjuti
6. Refleksi dan tinjau kembali bila perlu ubah aturan yang tidak berfungsi

Sudirman: ‘’Bagaimana cara mengukur ketercapaian berhasilnya  penanaman kedisiplinan peserta didik pada sekolah yang memiliki murid banyak. Apa saja indikatornya?’’ 

Narasumber: Ada di poin 6 dalam panduan membuat kesepakatan kelas, Refleksi bersama murid sangat diperlukan secara berkala. Bisa disepakati setiap bulan atau setiap dua bulan. Atau saat aturan2 itu sudah terlihat kendor dilakukan anak-anak

Dhani : “Bagaimana apabila kesepakatan telah dibuat tetapi masih dilanggar oleh beberapa murid?”

Narasumber : Saat membuat kesepakatan, harus ditentukan juga konsekuensinya. 

“Jika ada yang melanggar bagaimana ya?”
“Kalau ternyata kamu yang melanggar kesepakatan kita, apa yang kamu akan lakukan?”

Kisah Praktik Disiplin Positif Narasumber di Sekolah

Di kelas kami, ada kesepakatan menahan kaki dan tangan untuk dirinya sendiri. Kesepakatan tersebut berisi

1. Menahan diri dari memukul teman lain secara sengaja
2. Menahan menendang teman
3. Menahan diri dari menjahili teman secara sengaja 

Jika melanggar 

1. Segera meminta maaf 
2. Mengobati dan menghibur teman yang tersakiti 
3. Tidak diajak bermain jika belum bisa menahan diri

Di sekolah pernah ada perselisihan dua murid sehingga mereka saling dorong dan menyebabkan pelipis salah satu anak berdarah kena lantai.  Yang kami lakukan, mengobati anak yg terluka dan merangkul si pelaku. Apapun masalah yg terjadi pada anak, pasti ada kisah di balik itu, anak2 perlu dibantu untuk menyelesaikannya bukan sekedar diberi sanksi / hukuman. 

Jadi kami mencari tau cerita dari versi pelaku dan cerita dari versi korban. Membantunya mencari solusi dan mengobati sakit fisik dan sakit hati diantara mereka. Kalau perlu menanyai juga saksi2 yang melihat kejadian.  Konsekuensi yang akan dikenai ke mereka pun, harus datang dari mereka(pelaku dan korban) juga. 

Supaya saat mereka menjalani konsekuensi itu, mereka belajar terhadap perilakunya 

Musbah: ‘’Bagaimana cara menerapkan Disiplin Positif di kelas secara menyeluruh jika ada beberapa murid yang selalu melanggar, meskipun telah diperingati dsb tetap melakukan pelanggaran sehingga teman sekelasnya yang lain protes?

Narasumber: ‘’ Lakukan refleksi lagi kesepakatan bersama di kelas, mana yang masih relevan dan mana yang tidak’’ 

Kalimat Penutup Narasumber

’Penerapan Konsekuensi logis hendaknya melibatkan murid dengan melakukan refleksi sehingga murid menyadari sendiri kesalahan dan cara memperbaikinya’’ 

Moderator menutup diskusi dengan mengajak peserta membuat Refleksi. Serta ucapan Terima Kasih kepada Narasumber & Peserta.

Masih penasaran dengan penerapan Disiplin Positif?

Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 16
Memanusiakan Murid, Menumbuhkan Disiplin

Unduh Gratis Disiplin Positif PDF
Klik di sini

Surat Kabar Guru Belajar Disiplin Positif di Sekolah
About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: