Disiplin Positif Cara Mendisiplinkan Murid

Penulis : Komsinah Mu'awanah | 10 Feb, 2020 | Kategori: Jember, Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Disiplin positif menjadi hal yang perlu didekatkan dengan guru. Sehingga kami pilih menjadi topik dalam rangkaian tiga gelombang pelatihan. Pelatihan ini sengaja kami bagi menjadi  tiga gelombang. Dengan harapan pelaksanaannya bisa efektif dan berjalan kondusif. Tujuan kami mengadakan kegiatan ini mengenalkan keberadaan KGB Jember.  Selain itu, mencoba mengenalkan penerapan Disiplin Positif sebagai salah satu alternatif solusi cara mendisiplinkan murid/anak.

Cara Mendisiplinkan Murid

Mengapa Perlu Penerapan Disiplin Positif? 

Kita semua tahu masih banyak praktek pengajaran yang menggunakan kekerasan sebagai cara mendisiplinkan murid. Guru menggunakannya karena anggapan bahwa murid tidak akan patuh kalau tidak ada yang ditakuti. Karena itulah, guru perlu menggunakan kekerasan supaya murid takut ketika hendak melakukan pelanggaran. Ada juga yang beranggapan bahwa murid tidak akan menghormati guru yang terlalu sabar. Para murid juga akan menjadi anak-anak yang manja jika terlalu disabari.

Tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya berkaitan dengan disiplin ini. Bahwa sebagian guru merasa khawatir adanya UU Perlindungan anak.  Mereka takut ketika hendak menindak murid yang melakukan pelanggaran. Mereka takut dikenai hukuman. Akibatnya para guru banyak yang mengabaikan pelanggaran yang dilakukan muridnya. Mereka bingung harus melakukan apa. Mungkin diatasi, tapi tidak ditangani secara serius. Sehingga pelanggaran demi pelaggaran terus terjadi.

Baca Juga: Surat Kabar Guru Belajar Edisi Kesadaran dan Disiplin

Penerapan Disiplin positif adalah jawaban yang selama ini kami anggap paling efektif sebagai cara mendisiplinkan murid tanpa kekerasan. Disiplin positif adalah cara menumbuhkan disiplin yang bersumber dari dalam diri murid itu sendiri. 

Dalam penerapannya tidak mengenal peraturan. Semua ketetapan yang berlaku dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Semua kesepakatan  itu dibuat oleh seluruh warga kelas berdasarkan hasil musyawarah. 

Ketika menerapkan disiplin positif juga tidak berlaku adanya hukuman. Yang ada adalah konsekuensi. Jadi ketika ada murid yang melanggar kesepakatan bersama, maka murid tersebut harus menerima konsekuensinya. Konsekuensi ini juga hasil dari musyawarah yang telah disepakati dan berkait langsung dengan pelanggaran.

Disiplin positif  mengajak murid tumbuh dan berkembang melewati prosesnya dengan mengutamakan proses berpikir. Jadi bukan dengan menasehati, mendikte, atau mendoktrinnya. Tidak memvonis murid ketika melakukan kesalahan. Karena kami meyakini bahwa yang dibutuhkan anak-anak adalah proses mengalami, memahami, menganalisa, kemudian menyimpulkan sebelum sampai pada tindakan memperbaiki kesalahan. Semua tindakan yang dilakukannya tidak sekedar patuh atau mengikuti seperti orang mabuk, tetapi lebih kepada proses berpikir. 

Pelatihan Disiplin Positif KGB Jember

Pelatihan gelombang 1 dilaksanakan tanggal  13 September 2019, tempatnya di Perpustakaan Bank Indonesia. Gelombang 2 dilaksanakan tanggal 27 September 2019, yang bertempat di Warung Dalung. Sementara gelombang 3 dilaksanakan tanggal 11 Oktober 2019 di Gedung Telkomsel Jember. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat,  mulai pukul 13.30- 16.00. Peserta yang mengikuti pelatihan ini sangat beragam. Mulai dari orang tua, guru-guru mulai dari jenjang TK sampai SMA/MA/SMK, guru BK, dan juga ada beberapa pemerhati pendidikan. 

Cara Mendisiplinkan Murid dengan Disiplin Positif

Pelatihan ini berbentuk diskusi, baik diskusi saat praktek dalam membuat kesepakatan kelas, konsekuensi, maupun dalam mempelajari  contoh kasus di materi video. Video yang kami putar tiap pelatihan tidak sama. Tujuannya agar kami juga bisa mengenali sekaligus mempelajari situasi, kondisi, dan pendapat yg beragam. Kami sengaja memilih metode diskusi karena percaya bahwa setiap peserta memiliki pengalaman yang beragam. Mereka juga sudah terbiasa menangani dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi bersama anak/muridnya. Sehingga yang kami harapkan dari diskusi ini adalah semua ide/pendapat/masukan nantinya bisa menjadi kesepakatan bersama untuk kemudian bisa diterapkan di tempat masing-masing. 

Berbagai Aktivitas

Adapun tahapan-tahapan pelaksanaannya sebagai berikut:

  1. Peserta diajak membuat kesepakatan bersama sebelum memulai kegiatan dengan cara berdiskusi.
  2. Lalu bermusyawarah untuk membuat/menetapkan konsekuensi dari setiap pelanggaran pada penerapan disiplin positif.
  3. Peserta menonton video kasus kekerasan di sekolah, sambil mencari penyebab/sumber permasalahan dari kasus tersebut.
  4. Memusyawarahkan /saling tukar pendapat tentang penyebab terjadinya kasus di video tersebut. Kemudian semua pendapat yang telah disepakati ditulis.
  5. Setelah menemukan sumber/penyebab permasalahannya, para peserta diajak utuk mencari solusinya.  

Seperti dugaan kami, selama diskusi para peserta aktif bertanya maupun berbagi ide/pendapatnya. Meskipun mungkin awalnya banyak yang berupa curhatan. Akhirnya, diskusi bisa mengarah ke pemecahan masalah. Seperti, ada peserta yang bertanya, ” Bukankah kita sudah memiliki aturannya, bahwa kalau mendidik itu tidak boleh menggunakan kekerasan. Tapi mengapa masih banyak yang melakukannya?” Jawaban kami, “Karena itulah KGB Jember hadir di sini. Tujuannya adalah untuk memberikan alternatif solusi cara mendisiplinkan murid yang tanpa menggunakan kekerasan.”

Refleksi Peserta

Begitu banyak kesan yang mengharukan selama pelatihan maupun sesudahnya. Kami memang sengaja membuka ruang tanya jawab lewat grup atau pribadi, jika masih ada yang ingin ditanyakan berkaitan dengan materi pelatihan.  Seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta, beliau guru di salah satu SMP di Ambulu. Beliau mengatakan, “Saya senang mendapat pencerahan hati. Sehingga mengajar tidak perlu marah-marah pada anak yg nakal. Kita harus selalu berpikiran positif pada anak. Karena anak itu belum paham tentang kebenaran yg hakiki. Saya yakin dia akan berubah pikirannya suatu saat karena sadar dan paham tentang sesuatu.”

Cara Mendisiplinkan Murid

Tujuan yang baik adalah harapan dari semua pendidik. Kami percaya setiap pendidik memiliki tujuan ingin mendisiplinkan muridnya. Akan tetapi, tujuan baik ini tidak diiringi penggunaan cara yang baik. Kita seringkali terjebak pada cara mendisiplikan untuk tujuan sesaat. Seolah-olah  disiplin. Padahal mereka sedang menunggu kesempatan berikutnya untuk melanggar. Mengapa? Karena mereka disiplin bukan karena kesadaran. Tapi disiplin karena faktor dari luar dirinya. Seperti disiplin karena diiing-imingi hadiah atau sogokan. Disiplin yang disebabkan takut dihukum atau sanksi berat. Maka, agar pembiasaan disiplin ini berdampak lama dan  menjadi kebiasaan dalam kesehariannya, penerapan disiplin positif inilah solusinya.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: