Disiplin Tak Dipatuhi, Dihukum Malah Mengulangi, Solusinya?

Penulis : Nurlina | 18 Dec, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Nurlina : narasumber pada malam ini adalah Nur Hamidah sebagai guru di SDI Ma’mur Ni’mah. Selain itu, seorang Ibu yang diamanahi lima buah hati dua diantaranya kembar special needs. Beliau sangat senang membaca dan menulis. 

Motto “Sesungguhnya mengajar itu belajar” 

Nur Hamidah: Pernahkan bapak/ ibu mengalami hal semacam ini?

Ragil: Hampir setiap hari

M. Z Nisa: Pernah, setiap hari setiap pagi 

Nur Hamidah: Hampir setiap hari kan? sama berarti, lalu bagaimana sikap kita? langkah apa saja yang kita ambil? apakah langsung memberikan hukuman tanpa klarifikasi terlebih dahulu? anak/ peserta didik langsung di strap? 

Amikamizar35: klarifikasi dulu, cari tahu pangkal masalah

M. Z Nisa: Pendekatan personal untuk melakukan klarifikasi

Nur Hamidah: Dulu saya mengalami bahkan saat ini pun masih saya terus belajar dan memperbanyak referensi membaca tentang disiplin positif tanpa hukuman. Dulu ketika anak tidak mengerjakan PR, tidak piket saya suruh lari mengitari halaman sekolah bahkan pakai denda akan tetapi tidak juga berubah bahkan anak- anak lebih suka memberikan uangnya di kaleng kecil daripada menyapu dan terus mengulanginya. Dan efek hukuman tidak membuat jera malah mengulanginya lagi.

Erna: Malah lebih memilih melakukan hukumannya, yah Bu?

Nur Hamidah: Iyess, dan yang pertama adalah manajemen emosi kita ketika memulai mengajar harus stabil terlebih dahulu, karena setiap peserta didik itu berbeda- beda, karena “Emotions are at the heart of teaching”. Jadi seorang pendidik itu harus selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. 

Amikamizar35: betul Bu, kalau belum selesai dengan dirinya pasti nanti emosi menghadapi siswanya

Nur Hamidah: Emosi itu sangat mendukung kita dalam mengajar dan kepribadian kita siap tidak untuk menjadi guru karena kalau belum siap yang menjadi guru. Lalu apa solusinya? karena seringnya anak- anak tidak menaati aturan?

Praktek yang saya lakukan, yaitu :

  1. Pendekatan kepada kedua orangtuanya. Karena ada grup WA untuk memudahkan berkomunikasi. Saya bertanya kepada para Ibu apakah di rumahnya ada jadwal sederhana keseharian anak- anaknya? ketika mereka menjawab “ada” maka saya suruh menuliskan jadwalnya dan dibawa ke sekolah, selanjutnya di cek satu persatu. Saya pilih 5 terbaik jadwal harian anak, dari 5 terbaik itu saya share ke ibu- ibu yang lain. Tidak selesai sampai disitu saya cek lagi untuk ditempel di rumahnya dan harus dipraktekkan 
  2. Menulis di sticky notes nama anak. Semua saya suruh temple di rumah dan diingat hari apa tugas piketnya. Setelah mereka selesai piket saya suruh menuliskan namanya lalu ditempel di dinding sekolah. Dan ternyata sangat senang tanpa disuruh pun dilaksanakannya. 
  3. Menerapkan kedisiplinan bukan hukuman. Hukuman dibangun atas ketidakpercayaan guru atau orangtua bahwa anak dapat mengembangkan perilakunya dan dapat bertanggung jawab akan tindakan yang dipilihnya. Sementara disiplin dibangun atas relasi kepercayaan guru atau orangtua pada anak. Hukuman bersifat jangka pendek, spontan, negatif, dan pasif. Sementara disiplin bersifat jangka panjang, positif, dan aktif. Jika antara disiplin dan hukuman ada perbedaannya. Hukuman memberikan alternatif lain pada anak, memberikan instruksi larangan pada anak, mengakui dan menghargai upaya anak dan tingkah laku mereka. Baik menanggapi perilaku negatif anak dengan cara yang kurang baik dalam mentaati peraturan.

TERMIN DISKUSI

M. Z. Nisa:

Saya sering menemui anak- anak yang sering melanggar aturan di sekolah. Misalnya, bermain melebihi area sekolah dan dilakukan setiap pagi. Klarifikasi secara personal sudah dilakukan. Dan kami refleksi. Tapi pagi hari masih saja keluar batasan. Akhirnya saya mencoba menerapkan kesepakatan kelas bersama anak. Tapi bagaimana itu juga agar bisa berdampak ke anak? karena sampai detik ini kesepakatan yang dibuat bersama anak masih dilanggar.

Nur Hamidah: Kasus seperti ini hampir terjadi di semua sekolah. Di tempat mengajarku juga seperti itu. Kita terapkan prinsip yang keempat, yaitu dialogis. Kita ajak anak- anak berdialog dan lagi- lagi dengan tidak nada emosi dan saya pun masih terus belajar dengan manajemen emosi. Karena di depan siswa kita harus menampilkan emosi positif sebab kita tidak mau kan dilabeli seorang guru yang galak atau jutek. 

M. Z Nisa: dialogis ini kira- kira ada tahapannya? juga terkait penggunaan bahasa yang bisa dipahami siswa kelas 1 – 3 sekolah dasar?

Nur Hamidah: dialogis ini untuk semua umur dan tentunya penggunaan bahasa yang dipahami anak SD. Karena relasi hangat antara guru dan murid menumbuhkan kebahagian kepada kedua belah pihak. Ada istilah “Ibu bahagia anak juga bahagia” dan ini berlaku pula untuk kita sebagai guru. Makanya kita harus selesai dengan diri kita dulu.

Danu:

Bagaimana upaya supaya anak-anak menyadari akan ketidak disiplinannya? Padahal ruang diskusi dan peringatan sudah dilakukan. 

Nur Hamidah: Untuk bapak Danu sebelumnya saya bertanya peserta didiknya kelas berapa? Kalau untuk anak- anak kelas 1- 2 SD untuk berdiskusi masih harus didampingi karena anak seumuran mereka bisa duduk anteng (tenang), menurut paling lama sekitar 15 menit saja, setelahnya akan ribut lagi. Kalaupun untuk umur 8 tahun ke atas berdiskusi masih ramai berarti ada yang kurang motoriknya. 

Danu: peserta didiknya tsanawiyah dan aliyah

Nur Hamidah: kalau untuk tsanawiyah dan aliyah ada empat prinsip konsekuensi yang diberikan, yaitu berhubungan (related), menghormati anak (respect), logis (reasonable), dialogis. Konsekuensi logis menekankan kekuatan otoritas personal mengekspresikan realitas kehidupan, saling menghargai. Misalnya dengan menggunakan kata atau kalimat yang baik tanpa ada rasa emosi. Contoh Ahmad tolong selesaikan diskusinya dengan tenang yah, waktu sudah hampir menunjukkan jam istirahat. 

Ami

Bagaimana mengatasi anak yang sudah tahu bahwa itu salah tapi tetap melakukannya. Dan untuk menutupi kesalahannya dilakukan dengan berbohong dan mengajak beberapa temannya untuk meyakinkan guru bahwa dia tidak bersalah. 

Nur Hamidah: Untuk mengatasi anak-anak yang seperti ini kita harus mengetahui latar  belakang keluarganya terlebih dahulu, adakan pendekatan jangan langsung memvonis karena kemungkinan besar anak yang suka berperilaku tidak baik sebenarnya minta untuk diperhatikan karena di lingkungan keluarganya terabaikan, kurang perhatian dari kedua orangtuanya. Jadi berat tugas fasilitator zaman milenial tetapi tetap semangat kita memang dituntut jadi fasilitator dan konselor.

Ami: sebenarnya saya sudah berbicara dengan Bundanya, perilaku ini dimulai sejak kelas 1 dan berlanjut sampai sekarang. Saya menyarankan ke orangtuanya agar ada kesamaan kebijakan antara Ayah dan Ibu ketika mengevaluasi sikap anak. Sikap anak terhadap gurunya cukup kurang sopan, terkadang bahasa yang digunakan kurang bagus, egonya cukup tinggi. Sampai saat ini saya belum bisa memberi nasihat secara langsung, jika si anak berbuat tidak baik kepada temannya karena setiap saya mulai memanggilnya dia sudah pasang barrier terlebih dahulu.

Nur Hamidah: terus adakan pendekatan, kita ajak bercerita dengan mengisahkan kisah orang- orang terdahulu yang berbuat tidak baik sebagai pelajaran karena usia anak- anak kelas satu masih sangat suka diceritakan/ diberi dongeng

Ami: ini siswa kelas 3 SD, badan besar. Kesan yang saya tangkap bahwa anak ini senang melakukan keisengan dan menganggap itu suatu yang menyenangkan. Kalau ditegur dia melemparkan kesalahannya pada temannya yang lain.

Nur Hamidah: teruskan jangan berhenti untuk menceritakan/ mendongengkan dan jangan lupa didoakan agar sikapnya berubah. Upaya apapun jika tak disertai doa tidak akan berhasil. Memang anak usia kelas 3 itu masa- masa transisi. Coba panggil orangtuanya ke sekolah apakah anak tersebut pernah mengalami perundungan. Kalau anaknya senang melakukan keisengan dan menganggap itu wajar saja, ini sudah berurusan dengan kejiwaan.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: