Guru Desa: Empat Keanehan Temu Pendidik Nusantara

Penulis : admincikal | 8 Sep, 2018 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Ketika guru yang lain menatap kagum, guru desa satu ini justru merasakan keanehan Temu Pendidik Nusantara. Apa keanehannya?

“Bu Lani, saya mau menjadi penggerak”
Saya mengumpulkan segenap keberanian untuk menuliskan chat tersebut ke bu Lany waktu itu beliau masih menjadi koordinator penggerak untuk wilayah Sumatera.

Inisiatif tersebut saya kemukakan bukan tanpa alasan karena satu ada kuota beasiswa untuk penggerak untuk ikut Temu Pendidik Nusantara, dan sangat sayang untuk dilewatkan.

Oh ya sebelumnya saya sudah mendiskusikannya di grup Guru Belajar Pesisir Selatan siapa yang akan ditunjuk menjadi penggerak dan ternyata tidak ada respon. ketika itu grup kami masih berisi sekitar 25 orang dan masih sangat pasif dan anggota gruppun kebanyakkan teman-teman yang belum saya kenal, karena ketika grup dibuat oleh pak Bukik Setiawan isinya hanya kita bertiga, pak Bukik, Bu Lany dan saya.

Ada banyak keanehan yang saya rasakan di Temu Pendidik Nusantara 2017. Saya merasa dunia saya mulai berubah.

*Keanehan Pertama*

Saya adalah seorang guru dari pelosok di pesisir pantai Sumatera yang sempat ketinggalan telepon genggam di bandara, gugup karena baru pertama kali naik pesawat, dan sempat berfikir di udara jika pesawat jatuh kemana saya akan menapak..

Saya berangkat bersama 4 orang penggerak hebat lainnya Pak Adhan Chaniago Bungsu, Pak Dicky Irawan, dan Bu Verawati Koto yang mewakili 4 Kabupaten di Sumatera Barat. Sesampai di Soeta kami dipandu oleh relawan menuju penginapan. Saya beserta dua teman menginap di LPMP dan salah dan satu teman saya menginap di rumah relawan orang tua murid Sekolah Cikal. Hari pertama saya masuk kelas penggerak karena penggerak wajib mengikuti kelas ini, saya bersama teman-teman mendapat materi tentang Guru Merdeka Belajar oleh Ibu Najelaa Shihab dan Pak Bukik Setiawan.

Dari pemaparan beliau berdua tentang salah kaprah guru mardeka belajar terjadi pergulatan batin dalam diri saya. Logika saya seperti dibolak-balik, ada pertentangan batin untuk menerima itu semua. Saya sempat ragu apakah saya tidak salah masuk? Apakah saya berteman dengan orang-orang yang tepat? Apakah saya tidak salah pilih teman dan lain sebagainya? Hmmm tak mudah memang untuk merubah keyakinan yang sudah terbangun selama puluhan tahun.

*Keanehan kedua*

Saya adalah seorang guru dari pelosok desa yang terbiasa dengan pola pelatihan konvensional, dilatih dengan narasumber ahli, wajib bawa laptop, duduk manis walaupun terkantuk-kantuk, siap menampung materi dari pagi sampai malam, duduk diruangan yang sama. Di Temu Pendidik Nusantara, kondisinya berbanding terbalik. Saya belajar bersama guru-guru yang memiliki pengalaman berhadapan langsung dengan anak-anak, antar jenjang dan antar lintas, mulai TK,SD, SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi bahkan orang-orang yang yang peduli dengan pendidikan. Belajar dengan antusias, energi positif memenuhi seluruh rungan, tepukan riuh pertanda memberi dukungan sehingga membangun percaya diri. Setiap sesi dengan kelas yang berbeda dan suasana yang berbeda. Tak jarang saya belajar di luar ruangan dan harus pindah mencari kelas yang sesuai, dan laptop saya sempat nganggur selama pelatihan.

*Keanehan ketiga*

Saya adalah guru dari sebuah desa yang terheran-heran dengan gaya menulis teman-teman. Ada yang menulis dengan banyak kotak-kotak, memakai banyak panah, berbentuk gambar, diagram dan begitu banyak spidol dalam tas mereka untuk membuat tulisannya menjadi berwarna. Mungkin bagi sebagian orang menulis seperti itu sangat biasa tapi waktu itu saya menganggap itu sesuatu yang sangat luar biasa.

*Keanehan keempat*

Saya guru desa yang tak pernah bermimpi bertemu dengan Ibu Menteri Sri Pujiastuti. Namun, di Temu Pendidik Nusantara 2017, saya bertemu dengan beliau dan hanya dibatasi jarak beberapa buah kursi. Dari cerita beliau saya jadi tahu, kesukaan beliau adalah membaca dan beliau pernah membaca habis seluruh buku perpustaaan yang ada di desanya. Beliau masih ingat dengan sebagian besar judul buku-buku yang pernah dibacanya puluhan tahun silam. Beliau juga cerita sering lupa waktu ketika membaca, karena kebiasaan tersebut orang tuanya sempat marah tapi tak mengentikan kebiasaannya membaca dengan bersembunyi di kolong tempat tidurnya.

Ternyata keanehan di TPN 2017 silam berlanjut sampai detik ini, saya masih merasa aneh kenapa bisa menulis sepanjang ini (walaupun masih banyak teknik yang mungkin harus dibenahi). Padahal beberapa waktu yang lalu untuk menulis satu baris status di FB saja harus butuh waktu lamaaaa baru bisa menuliskannya.

Sampai saat ini saya masih merasa aneh sudah mulai terbiasa bicara di depan umum padahal dulu sering gemetar dan tidak percaya diri, dan satu lagi yang sangat-saaaaaangat aneh menurut saya adalah ketika memberanikan diri untuk menjadi pembicara di Temu Pendidik Nusantara 2018. Temu Pendidik Nusantara ini tingkat Nasional Meeeeen masih ada rasa tak percaya, apa iya aku bisa…

Entah apalagi keanehan yang akan ditawarkan oleh TPN 2018, yang pasti saya ingin kembali merasakannya. See you TPN 2018.

Pesisir Selatan, Negeri Sejuta Pesona
Sabtu, 8 September 2018


Rahmi
Guru SMP Negeri Lengayang

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Status Facebook.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: