Fokus Murid Mudah Teralihkan Guru Bingung Mengarahkan. Muridku Kok Beda Ya?

Penulis : Siva Hidayatul Qirom | 26 Nov, 2019 | Kategori: Temu Pendidik Mingguan

Saat ini saya mengajar di SD N 2 Nongsa, Saya mempunyai murid yang bicaranya masih belum lancar bahkan menulis  juga belum lancar,saya sangat kebingungan sekali. Bagaimana menyelesaikan permasalahan saya ini bu?

Shanti KGB Surabaya 

Mengenai murid yang belum bisa bicara dengan lancar, bisa dicari terlebih dahulu apakah karena kosakata yang kurang, atau pelafalan yang kurang jelas. Jika masalah kosa kata bisa disebabkan oleh gadget atau memang jarang diajak berkomunikasi di lingkungannya dll. Solusinya dengan kita mengajaknya mengobrol pada saat istirahat, membacakan buku dan tentu bekerjasama  dengan orang tuanya juga. Jika masalah dengan pelafalan, mungkin bisa minta bantuan dari ahli misalnya terapis wicara dan dokter THT. Mengenai membaca dan menulis belum lanca bisa jadi berkaitan dengan masalah komunikasinya, ketika dia tidak mampu mengucapkan kata dengan benar untuk teman-temannya bisa dikondisikan dengan saling mensuport, misal teman diajak mengobrol dengan anak tersebut. Sebagai PR belajar membaca dengan bisa

Desi  Diana

Bisa dijelaskan bagaimana memulai proses sistem buddy?

Bisakah meningkatkan kemampuan belajar siswa?

Shanti KGB Surabaya 

Awalnya kami menawarkan pada anak-anak,siapa yang suka membantu temannya (bisa dibilang semua anak pasti ingin membantu temannya) nah, dari keinginan sederhana untuk membantu temannya, kami infokan juga syaratnya, untuk bisa bantu, harus bisa selesai tugasnya. Dan selesainya juga harus oke hasilnya, dan bukan asal selesai tapi tugasnya salah semua. Selain itu kami juga cerita bahwa anak yang bisa bantu itu adalah anak yang hebat karena bisa mengelola emosi (tidak mudah marah dan tersinggung ketika teman yang dibantu malah jadi “tidak menyenangkan”) dan itu kami seleksi juga  walau akhirnya semua anak bisa mendapat giliran menjadi buddy buat teman lain. Ada beberapa macam buddy ada yang menjadi buddy di bidang akademis (membantu anak kesulitan belajar) ada di bidang sosial (menemani saat break time) yang kami lihat saat itu adalah anak-anak yang dibantu maupun terbantu,sama-sama makin termotivasi belajar untuk belajar.

Shandy KGB Jaksel

Apa Buddy sistem jauh lebih efektif diterapkan di kelas dengan variasi anak yang beragam atau kelas yang homogen?

Apa standar ketercapaian buddy sistem dikatakan berhasil? Pada kelas atau individu?

Shanti KGB Surabaya 

Bisa diterapkan pada kelas yang beragam juga pak, saat itu standar keberhasilan kami adalah peningkatan kemandirian anak. Di akhir tahun ajaran, lebih banyak anak yang ingin menjadi buddy dan membantu temannya. Anak-anak mandiri dalam mengerjakan tugas, bisa lebih bertanggungjawab dan saya lihat nilainya juga oke. Guru subjek juga memberi penilaian positif terhadap kelas kami dan menyatakan enak dan nyaman saat mengajar dikelas kami karena anak-anak sangat kooperatif.

Dalam pendampingan akademis kami sangat melarang untuk memberikan jawaban apabila kesulitan menjawab soal itu,hanya boleh membantu membacakan atau mengajari caranya saja.

Shandy KGB Jaksel

Untuk kelas homogen dengan multiple intelegent gimana bu? Saya setuju jika standar yang diterapkan tidak melulu standar kognitif, hampa apa dapat menjadi capaian akhir dari kegiatan buddy ke arah sana?

Untuk anak-anak berprestasi tentu bisa belajar mandiri,pada dasarnya buddy sistem kami tunjukkan untuk saling membantu. Jika punya kemampuan yang setara saya rasa ada pendekatan lain yang bisa digunakan misalnya collaborative learning. Kalau buddy terbatas hanya one on one relation maka collaborative lebih ke arah grouping.

Irma KGB Pasuruan 

Saya mau bertanya, apakah Buddy system bisa diterapkan ke anak jenjang SMK. Kalau iya bagaimana kira-kira melakukannya? Terimakasih

Shanti KGB Surabaya 

Bisa ditawarkan dulu bu, karena aktivitas tersebut tidak berjalan optimal kalau anak-anak tidak mau karena merasa malu,atau malas.tetapi untuk menciptakan suasana kelas yang berdaya, bisa memakai metode collaborative learning seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Agar lebih menarik,tambahkan pula bumbu kompetisi. Bumbu kompetisi kelas (grup vs grup) atau kompetisi personal (melihat perkembangan tiap individu tanpa harus diekspos hasilnya, jadi grup harus berusaha meningkatkan kemampuannya sendiri)

Lailia 

Dikelas saya, ada anak yang mirip seperti Gita yang masih butuh arahan terkait dengan penggunaan anggota tubuh sesuai fungsi (tangan untuk menolong teman, kurangi mencubit)

Beberapa kejadian kami menemukan anak tersebut menyelesaikan masalah dengan mencubit dan mencakar yang membuat temannya menangis dan tidak nyaman dengannya. Penerapan buddy sistem untuk peristiwa ini bagaimana ya Bu? Atau ada solusi lainnya?

Shanti KGB Surabaya 

Bisa melihat karakteristik anaknya dulu, Gita saya adalah gita yang dominan sehingga ketika diberi tanggung jawab sebagai buddy, itu afirmasi positif buat dia karena dia biasa “menjadi teman yang baik buat orang lain”. Tetapi ada pula yang suka mencubit, tetapi tidak dominan sehingga bisa jadi dialah yang membutuhkan  buddy. Kita kenali dulu karakter anak tersebut. Saya mempunyai murid yang cenderung bersikap kasar. Kami tidak membentuk sistem buddy disaat itu, tetapi saya menggunakan problem solving chart jika anak punya masalah yang membuat melakukan kontak fisik yang negatif pada temannya.

Tuti Noor 

Jika melihat ulasan  tersebut,apakah masuk kategori memberdayakan siswa?siswa merasa nyaman dikelasnya sehingga bersama guru berkolaborasi untuk menciptakan suasana kelas yang positif.

Shanti KGB Surabaya 

Menjawab pertanyaan dari bu Tuti, salah satu tujuannya adalah memberdayakan siswa juga. Mereka juga belajar untuk bisa berinteraksi dengan teman yang berbeda. Karena terus terang di awal tahun ajaran beberapa orangtua dan murid memandang teman yang berbeda ini sebagai hambatan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Namun adanya buddy system ini ternyata meningkatkan interaksi positif diantara mereka. Di Akhir tahun ajaran jeremy yang di diagnosa ADHD dan autis ringan sudah bisa mengingat  nama semua temannya, dan dapat menyebut Gita karena mereka sering bersama.

View this post on Instagram

Guru Shanti bercerita tentang muridnya yang belum dapat berkomunikasi dengan lancar. Dia juga kesulitan melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya. Selain itu adapula murid yang suka mencubit, hingga membujuk temannya untuk pilah pilih dalam berteman. Dengan keragaman murid seperti itu Guru Shanti bersama guru lain menerapkan Buddy Sistem untuk membangun kemampuan sosial antarmurid. Usai belajar bersama Guru Shanti di Temu Pendidik Mingguan ke 109, dengan topik “Fokus Murid Mudah Teralihkan, Guru Bingung Mengarahkan, Muridku Kok Beda Ya?” para guru berikut turut melakukan refleksi Guru Rifa M – Pati Guru Erlina Eka – Sumbawa Guru Tuti – Depok Guru Djuangsih – Bandung Guru Jamal – Pekalongan Guru Ipin – Pekalongan Guru Sarah – Lamongan Guru Irma – Pasuruan Guru Mas Hartawati – Kotawaringin Barat Guru Rizki – Jakarta Guru Theo – Surabaya Guru Erma – Bekasi Guru Irma – Kab. Bandung Guru Vivin – Mojokerto Guru Abdul Mudjib – Hulu Sungai Tengah Guru Makhmudah – Majalengka Guru Nurul – Tulungagung Guru Siva – Solo Guru Lailia SM – Sarang – Rembang #TemuPendidikMingguan #SeminarOnline #RefleksiGuruBelajar

A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: