Guru Merdeka Belajar, Guru Bermartabat?

Penulis : Alfi Faridian | 23 Sep, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Sidoarjo, Temu Pendidik Daerah

“Jadilah guru hebat, jadilah guru bermartabat!” ungkapan itu yang selalu menggetitik pikiran saya. Bagaimana  guru dikatakan hebat? Dan bagaimana pula guru dikatakan bermartabat? Sekian puluh tahun diri ini belum menemukan jawaban, walau terkadang penuh percaya diri menyatakan “Akulah guru hebat”. Setelah bertemu dengan rekan guru di Komunitas Guru Belajar di bawah naungan Kampus Guru Cikal, diri ini merasa semakin perlu belajar. Itulah yang saya rasakan. Dengan semangat 45 saya ingin belajar menjadi guru merdeka. Menjadi guru yang bermartabat. Tidak ada kata terlambat. Begitulah ungkapan saya saat mengawali acara nobar bersama teman-teman sejawat. 

Guru Bermartabat

Panas yang terik tidak menyurutkan semangat teman-teman Smamda di acara Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Temu Pendidik Daerah 4 (TPD) dilaksanakan pada Rabu, 9 Oktober 2019. Acara dimulai dengan secara bergantian saling mengungkapkan motivasi kegiatan ini. Dengan sentuhan ice breaker suasana semakin hangat dan menyenangkan. “Saya  ingin menjadi guru yang baik” sederhana namun pasti saat guru Inka mengungkapkan motivasinya mengikuti kegiatan KGB ini. Berbeda dengan ungkapan guru Zakiyah pengampu mata pelajaran PKN bahwa beliau ingin belajar menjadi guru merdeka agar murid-murid bisa memahami materi yang beliau sampaikan. 

Acara Nonton Bareng ini disambut dengan hati gembira oleh teman-teman sejawat. Mereka dengan penuh konsentrasi menyimak pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh ibu Najelaa Shihab sebagai petinggi Kampus Guru Cikal. Video Merdeka Belajar mampu menggelitik peserta bahwa belajar menjadi guru merdeka itu penting. Siswa tidak hanya diberikan materi, tetapi guru juga harus memperhatikan permasalahan dan keinginan siswa. Sementara sang guru dituntut untuk menyelesaikan administrasi yang sangat beragam. Sehingga  yang terjadi adalah sang guru kurang memperhatikan tugas utamanya sebagai pendidik. Jika ada siswa yang masih menyimpang dari karakter berbudi, lantas siapa yang bertanggung jawab.

Guru Bermartabat

Ibu Najelaa Sihab mengungkapkan ada empat kunci pengembangan guru, yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi, dan karier. Hal tersebut mampu mengubah pola pikir kita, bahwa seorang guru harus selalu merefleksi diri, meningkatkan kompetensi dengan terus belajar, selalu berkolaborasi dengan teman sejawat, dan yang paling penting adalah guru harus punya cita-cita. Menyikapi hal tersebut cita-cita seorang guru tidak harus menjadi kepala sekolah, namun ada banyak hal, di antaranya guru penulis, guru pengusaha, guru youtuber, dan sebagainya.

Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

Keinginan kuat untuk menjadi guru merdeka belajar disampaikan oleh guru Astutik, bahwa selama ini beliau tidak mengembangkan ilmunya jika tidak ada surat tugas dari sekolah. Pernyataan tersebut diungkapkan ketika sesi diskusi tentang miskonsepsi yang diungkapkan oleh ibu Najelaa Shihab. Guru Astutik menyadari betul bahwa selama ini tidak meningkatkan kompetensinya dengan mandiri. Baginya, selama anak-anak menuntaskan Kompetensi Dasar dianggap sudah selesai. Beliau kurang memerhatikan kompetensi yang lain. Terutama pada ketrampikan  dan sikap siswa. Misalnya apakah siswa tersebut semangat dalam belajar, bagaimana tanggung jawab akan tuga-tugasnya, dll. Bagi guru yang mengampu mata pelajaran Sejarah ini mengeluh juga tentang beberapa siswa sering meninggalkan jam pelajarannya. Nah setelah menyimak film Guru Merdeka, beliau ingin memperbaiki semuanya, dan ingin menjadi guru yang bisa memahami keinginan siswa. 

Berbeda dengan guru Daviqa, yang semula belum tahu tentang Komunitas Guru Belajar, apalagi guru merdeka, merasa tercengang menyimak apa yang ada di film tersebut. Beliau guru BK yang sering bersentuhan dengan masalah-masalah siswa. Sangat antusias ingin lebih belajar untuk mengenali permasalahan yang dihadapi siswa. Guru Viqa panggilan akrabnya, menceritakan pengalamannya saat menangani salah satu siswa istimewanya. Dikatakan istimewa karena siswa tersebut memiliki banyak potensi di bidang non akademik, namun di bidang akademik enggan dan bermalas-malasan untuk belajar. Guru Viqa cenderung mencari permasalahan yang dialami siswa, namun sampai sekarang masih belum terpecahkan. Setelah menyaksikan film guru merdeka belajar beliau dapat menarik benang merah, bahwa harus berkolaborasi dengan guru pengampu di kelas sang siswa, semoga segera bisa membantu siswa mengatasi permasalahannya. 

Keseruan acara Nobar, terletak pada sesi refleksi. Masing-masing peserta berbagi kisah tentang pengalamannya. Kisah guru Nisrin yang juga bertanggung jawab pada siswa berasrama sangat mengesankan. Beliau harus bisa berperan ganda, kapan beliau menjadi guru mereka, dan kapan beliau menjadi pengganti orangtua di asrama. Sekaligus kapan beliau menjadi sahabat tempat curhat anak-anak berasrama. Oleh karena itu saat mendengar ada kegiatan Nobar begitu antusiasnya untuk menjadi peserta. Beliau berharap mendapatkan banyak pencerahan dari kegiatan Komunitas Guru Belajar ini. terutama pada pertemuan-pertemuan setelah Nobar. 

pelatihan guru merdeka belajar

Dari pengalaman-pengalaman rekan sejawat yang hadir saat itu, terlihat betapa antusiasnya mereka ingin belajar menjadi guru merdeka. Hal tersebut didukung dengan komitmen yang tinggi, dan harus bisa melawan miskonsepsi seperti yang diungkapkan oleh ibu Najelaa Sihab. Belajar tidak menunggu surat tugas dari sekolah, tapi merupakan kebutuhan alami yang mandiri. Mereka menyadari untuk menjadi guru merdeka tidak harus belajar pada orang yang ahli, tetapi bisa dilakukan bersama rekan sejawat. Belajar itu membutuhkan waktu untuk memahami dan memiliki inovasi. Dan yang terpenting adalah kompetensi guru tumbuh bersama lingkungan. Dengan demikian besar harapan kami untuk terus belajar di Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Daerah, maupun Temu Pendidik Nusantara. Tentunya bersama Kampus Guru Cikal.  Salam Guru Merdeka Belajar!!!

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: