Guru dan Realita Abad 21

Penulis : Umi Kalsum | 10 Jan, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Pelatihan guru, Temu Pendidik Daerah

“Koq anak zaman now itu sukanya komplen ama gurunya?, koq bisa sih mereka itu berkomunikasi tanpa rasa canggung atau takut ama gurunya?”

“Anak zaman now itu aneh, cita-citanya seperti youtuber, blogger, selebgram, manajer medsos, ah.. semua itu pekerjaan aneh.”

Yup, inilah realita di abad 21. Realita tersebut menunjukkan anak zaman now yang ingin lebih didengar dan dilibatkan, yang menuntut kreativitas,  kritis, dan kerjasama, serta yang menghadapi perkembangan teknologi.

Lalu, bagaimana dengan kita sebagai gurunya yang merupakan produk masa lampau, berada di zaman now, mendidik siswa untuk hidup di zaman now dan di masa mendatang?

Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswanya?

Bagaimana praktik mendengar yang kreatif?

Bagaimana menggunakan media teknologi dengan lebih interaktif?

Bagaimana menggunakan teknologi untuk membalik situasi : belajar di sekolah menjadi belajar di rumah, agar siswa lebih kritis?

Bagaimana menggunakan teknologi dalam membagi kelompok yang lebih interaktif?

Ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan itu? Yuk gabung di Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar Bandung dengan tema “GURU ABAD 21,” bersama Bu Djuangsih Dewi dan Bu Amalia Fitri, hari sabtu pukul 15.30 di SD Mutiara Bunda.

Tahun baru, Semangat baru, Ilmu baru

Caption itulah yang membuat guru-guru merasa tertarik dan bergerak untuk menemui kedua narasumber sore itu.

Narasumber pertama adalah Bu Dewi. Diawal Ia menerapkan role play dengan mengajak peserta untuk berbaris di luar area kegiatan, seperti siswa-siswa berbaris di luar ruangan. Peserta pun berbaris dengan rapi memasuki area kegiatan. Tak disangka, kemudian Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, namun kali ini peserta masuk dengan diiringi musik yang membuat peserta ingin bergerak dan menari-nari dengan bahagia. Tak sampai disitu, Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, dan kali ini peserta diajak memasuki area dengan diiringi musik sambil bergaya bebas. Ada yang bergaya hip hop, menari jaipong, dsb. Lalu disambut oleh Bu Dewi sambil high five (baca : tos). Tawa pun memenuhi seisi ruangan. Kemudian Ia menstimulasi dengan pertanyaan, sehingga peserta membandingkan dan dapat menyimpulkan pada sesi memasuki ruangan yang ke berapakah, yang dapat membuat suasana menjadi sangat bahagia.

Mindfullness dan Memahami Anak

Setelah pembukaan tersebut, Bu Dewi pun mulai berusaha menjawab pertanyaan pertama : Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswa? Bu Dewi berkata, “Belakangan istilah mindfullness mulai populer. Konon, praktik mindfullness adalah salah satu kunci menghindari dan mengatasi rasa cemas, pun stres. Apa itu mindfullness? Menurut Marsha Lucas, mindfullness adalah memusatkan perhatian sedemikian rupa, menghayati apa yang sedang Anda lakukan, tanpa melakukan penilaian.”  Namun, perhatian yang kita berikan perlu dilakukan dengan cara tertentu yaitu :

  1. on purpose (secara sengaja, diniatkan),
  2. in the present moment (pada saat ini), dan
  3. non-judgmentally (tanpa menghakimi).

Manfaat dari mempraktikan hal ini yaitu :

  1. mengurangi kadar stres,
  2. meningkatkan kemampuan regulasi dan kendali diri,
  3. menurunkan kecemasan dan depresi,
  4. meningkatkan kinerja, dan
  5. meningkatkan kemampuan membangun relasi.

Hal ini dapat dilakukan dengan :

  1. menyayangi siswa kita seperti anak sendiri,
  2. tidak menghakimi,
  3. lebih berfokus pada sisi positif siswa,
  4. menyelesaikan masalah tidak dengan kemarahan agar siswa tidak merasa takut,
  5. mengangkat dan menurunkan jari sambil menarik napas,
  6. mendengarkan dengan fokus musik instrumen,
  7. menuliskan perasaan untuk mengurangi konflik dan agar dapat mengelola emosi.

Secara kongkrit, Ia pun menunjukkan beberapa praktik-praktik yang kreatif seperti buku emosi, sebagai media bagi siswa dalam mengungkapkan perasaannya, dan sebagai media bagi guru dalam memperhatikan dan memahami siswa. Selain itu, ada juga media yang dapat digunakan agar guru dapat memperoleh perhatian siswa, yaitu berupa media seperti lampu lalu lintas berwarna merah, kuning, dan hijau, dimana “saat guru mengangkat warna merah, perhatian anak-anak harus fokus pada saya, kuning peringatan karena mungkin ada yang melanggar komitmen kelas, hijau tiba waktunya anak-anak mengemukakan pendapat atau sebagai pengganti mengangkat jari saat ada pertanyaan,” kata Bu Dewi.

Sesi pertama pun berakhir dengan memberikan kesadaran pada peserta. Bu Nur yang merupakan peserta kegiatan berkata, “TPD hari ini mengenai GURU ABAD 21 sangat membuka mata saya bahwa untuk menjadi seorang guru itu butuh tenaga (effort) yang sangat besar, … harus lebih peduli terhadap murid … karena anak-anak zaman sekarang atau murid kita itu bukan kita di zaman dulu, jadi tidak bisa disamakan, oleh karenanya harus lebih peka terhadap perasaan murid, harus lebih mau mendengarkan murid, … tidak boleh semaunya sendiri”.

Tools Kekinian untuk Pembelajaran

Sesi kedua pun dimulai oleh Bu Fitri. Ia memulai dengan melibatkan peserta untuk belajar sambil bermain dengan mengakses website kahoot.it. Website merupakan website yang berisi kuis yang telah dibuat oleh guru, agar siswa dapat menjawabnya. Peserta acara TPD pun diposisikan sebagai siswa dan narasumber memposisikan sebagai guru. Langkah-langkah bermainnya adalah

  1. Akses website kahoot.it.
  2. Masukkan pin yang telah diberikan guru
  3. Pilih bermain secara individuatau bermain secara berkelompok.
  4. Masukkan nama panggilan.
  5. Tunggu hingga soal ditampilkan.
  6. Mulailah mengerjakan kuis.

Keseruan terasa dari ekspresi peserta yang berbeda-beda dan berubah-ubah, ada yang bingung ketika merasa kesulitan mengakses soal, ada yang cemberut karena koneksi internetnya lambat, ada yang senyum-senyum ketika mengetahui jawabannya benar, dan bahkan ada yang ketawa-ketawa karena melihat jawabannya yang keliru. Setelahnya pun nampak keterlibatan peserta TPD menjadi semakin meningkat.

Bu Fitri pun melanjutkan dengan pendasaran penggunaan teknologi dalam pembelajaran, serta contoh-contohnya. Pendasaran-pendasarannya karena

  1. Kegiatan pembelajaran yang padat
  2. Kegiatan/acara disekolah
  3. Kalender akademis yang dirasa tidak cukup
  4. Karakteristik siswa yang sudah memasuki era digital :
    1. Bebas, tidak mau terkekang
    2. Selalu update
    3. Bermain, bukan hanya bekerja
    4. Ekspresif
    5. Cepat, enggan menunggu
    6. Unggah, bukan hanya unduh
    7. Interaktif
    8. Berkolaborasi

Beberapa situs maupun aplikasi dikenalkan, yakni seesaw, padlet, edmodo, quizizz, phet, google classroom, dan flipgrid. Dan aplikasi yang akan dipelajari hari ini adalah google classroom dan flipgrid.

Google classroom adalah aplikasi atau fitur yang dapat membantu dalam pembuatan, pembagian, dan penggolongan setiap penugasan tanpa kertas. Sebagai siswa, langkah-langkah menggunakan google classroom adalah

  1. Klik simbol (+).
  2. Masukkan kode kelas yang diberikan guru.
  3. Pada laman stream, nampak tampilan seperti wall di facebook. Pada laman ini, guru dan siswa dapat berinteraksi seperti menyapa, memberi tugas, mengakses soal, dsb.
  4. Pada laman classroom, siswa dapat mengakses soal dengan klik dua kali pada soal yang hendak diselesaikan.

Ia menyampaikan bahwa kelebihan dari google classroom adalah akun google sudah umum dimiliki banyak orang, google memiliki tampilan yang user friendly, google telah memiliki banyak aplikasi-aplikasi lainnya yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran, siswa pun dapat diingatkan bila ada tugas yang belum diselesaikan, serta guru dapat langsung memperoleh rekap nilai siswa.

Bu Fitri pun mengenalkan kami dengan flipped classroom yang memiliki makna membalikkan situasi, dimana yang awalnya siswa belajar di sekolah, berubah menjadi siswa belajar di rumah. Ia menyampaikan, “Jika kita mau memperbanyak active learning, project, proses-proses yang membuat anak belajar kritis, maka metode flipped classroom bisa dicoba, karena waktu-waktu pasif di kelas seperti membaca, menonton video, serta waktu yang dipakai untuk guru memberikan materi bisa dilakukan di rumah, jadi ruang belajar anak di kelas bisa semakin di eksplore.”  Salah satu website yang dapat digunakan untuk melaksanakan hal ini adalah peth.coloradu.edu. Hal ini telah Ia terapkan hingga memperoleh respon yang positif, seperti ada siswa yang menjadi sangat bersemangat untuk belajar hingga anak tersebut berinisiatif belajar secara mandiri topik-topik lain yang belum dipelajari.

Antusiasme peserta melahirkan pertanyaan-pertanyaan. Seperti pertanyaan dari Bu Nur yang menanyakan tentang cara menerapkan pembelajaran berbasis teknologi bila fasilitasnya masih cukup sulit dan mata pelajaran siswa sangat banyak hingga 33 pelajaran, penerapannya dikhawatirkan memberatkan siswa. Bu Fitri menjawab, “Jika memang fasilitas belum siap, jangan dipaksakan, maksimalkan saja dulu fasilitas yang ada.” Terdapat juga pertanyaan dari Bu Lauren yang menanyakan tentang penerapan flip (baca : membalik situasi), yang kemudian ditanggapi, ”Terkait waktu, sebaiknya tidak langsung semua di flip kelasnya, bisa dilihat materi mana yang perlu pemahaman lebih, dicoba dulu itu yang di flipped. Pelan-pelan saja karena ini semua hal baru bagi anak dan guruya.”

Guru Siti menggunakan Flipgrid

Sesi selanjutnya adalah sesi refleksi. Dan baru kali ini, sesi refleksi di TPD menggunakan aplikasi flipgrid, dimana peserta berefleksi seperti vlogger. Kelebihan flipgrid adalah video hanya dapat diakses oleh orang yang hanya diberi kode flip, sehingga menjadi lebih privasi dibanding aplikasi yang lain. Langkah-langkah menggunakannya adalah

  1. Klik aplikasi flipgrid.
  2. Klik kode flip yang telah diberikan guru.
  3. Klik siswa.
  4. Klik kotak di bagian kanan bawah gambar anjing snoopy.
  5. Klik simbol (+).
  6. Mulailah merekam video.

Keseruan pun nampak di sesi ini, ada yang bingung dan kehabisan kata di tengah merekam, ada yang serius dan tegang karena tidak biasa merekam videonya sendiri, dan ada yang lucu dan luwes karena biasa menggunakannya.


Sebagai penutup, berikut merupakan salah satu quotes yang disampaikan narasumber : “Soon, knowledge will be the cheapest think on earth. Design and solutions are the future commodities.” Sebagai guru, kita tidak bisa lagi hanya memberi pengetahuan pada siswa, karena saat ini, pengetahuan adalah sesuatu yang sangat murah harganya, karena pengetahuan sudah tersedia banyak dan mudah dengan hanya mengakses via internet.

Sehingga kita sudah tidak bisa lagi hanya bertanya :

“Kapan lahirnya tokoh A?“

Pertanyaannya mesti diubah, menjadi seperti :

“Apa yang membuat tokoh A jadi terkenal?”

Kita juga sudah tidak bisa lagi hanya memberi soal :

“Berapa 39 x 4?”

Pertanyaannya mesti diubah, menjadi seperti :

“Bagaimana caramu menyelesaikan 39 x 4?”

Ini mesti kita lakukan bila kita tidak ingin membiarkan siswa kita salah jurusan, belajar lama, 4 tahun, lalu ketika ia lulus, profesinya hilang karena digantikan oleh robot.

Umi Kalsum
Komunitas Guru Belajar Bandung

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: