Guru-guru yang Resah Belajar Bersama

Enggan dipanggil ibu. “Panggil Miss saja pak”, tulisnya di WA.

Awal maret saya mengajaknya menjadi pembicara Temu Pendidik Daring di KGB Makassar. Sebagai pembelajar sejati, beliau bersedia. Bagaimana guru menggunakan aplikasi google sebagai media pembelajaran di kelas. 

Begitulah awal mula perkenalan saya dengan miss Emy Hardianty, salah satu pengajar di Lazuardi Athaillah GIS Makassar. 

Miss Emy memiliki kerisauan yang sama dengan kawan-kawan di Komunitas Guru Belajar Makassar. Bahwa guru yang berhak mengajar sejatinya adalah mereka yang tidak berhenti belajar. Resah dengan kemerdekaan belajar. Guru yang merdeka adalah mereka yang paham kenapa harus mengajar. Hanya guru yang merdeka yang bisa memerdekakan murid-muridnya: kenapa harus belajar. 

Masih muda, penuh energi. Pandanglah akun media sosialnya. Bejibung kegiatan belajar terpampang di sana. Saya salah satu pengikutnya. 

“Berani gak Lazuardi menjadi tuan rumah Temu Pendidik Daerah bulan depan?”

“Siap. Saya konsultasikan dengan pihak sekolah pak. Saya kabari kembali.”

Tidak butuh waktu lama. Keesokan harinya, saya dikabari: Lazuardi siap menjadi tuan rumah.

“Apa yang harus kami persiapkan?”

“Hanya butuh ruangan dan media belajar lainnya. Konsumsi akan disiapkan masing-masing peserta.”

“Baik pak. Kami persiapkan.”
—-

Sabtu, 27 April 2019. 

Kelas dibagi tiga. Kelas pertama diampu oleh bapak Abdur Rahman, analis mutu pendidikan LPMP Sulawesi Selatan. Selain di LPMP, pak Rahman juga aktivis Cegat Makassar. Tahun lalu, KGB Makassar dibawakan narasumber dari Australia. Mr. Brandon. Melalui jaringan lembaganya. 

Materinya keren: mencari keterampilan hidup di sekolah. Materi ini juga hasil penelitiannya di berbagai sekolah yang kemudian dia tulis dalam satu tulisan menarik: runtuhnya sekolah kami.

Bahwa sekolah tidak lagi menjadi benteng kreativitas anak. Anak hanya sebagai objek pelampiasan materi. Kawan-kawan guru merasa hanya berkewajiban menuntaskan seluruh seluruh materi di ruang kelas. Anak hanya berkewajiban datang dan mendengarkan di sekolah. Mereka dikondisikan belajar tanpa tahu untuk apa mereka belajar. Ada ruang yang hampa. 

Pak Ammank juga sedikit mengomentari tentang berbagai program yang terkesan dadakan, penuh citra. Misalnya program literasi atau sebutlah program pendidikan karakter. Kesannya di sekolah adalah program tersebut sesuatu yang terpisah dari kegiatan sekolah. Program literasi dan pendidikan karakter itu seakan bukan tujuan sekolah. Padahal bukankah aktivitas sekolah diperuntukkan untuk literasi dan pendidikan karakter??

Kualifikasi pekerjaan anak-anak kita di masa depan sudah tentu berbeda dengan kualifikasi hari ini. Untuk mengakses itu, dibutuhkan dua belas jenis keterampilan. Mulai dari manajemen diri sampai kemampuan diplomasi yang tinggi. Saya belum melihat wilayah ini dikuatkan di ruang kelas. 

“Hari ini saya bersyukur dipertemukan dengan kawan-kawan guru dengan keresahan yang sama. Percayalah bahwa langkah kawan-kawan KGB sudah di jalur yang tepat.”

Pemaparan pak Ammank mengingatkan saya dengan tulisan ibu Najelaa di surat kabar guru edisi ke 20. Bahwa guru sudah merasa nyaman mengajar tapi anak belum tentu merasa nyaman belajar. Ada kutub yang berlawanan. Tujuan guru belum sinergi dengan tujuan peserta didik. Problem mendasar yang harus diretas secepatnya. 

Kelas kedua diisi oleh pak Asrar, kepala SMA Negeri 2 Makassar. Awalnya saya sangsi. Seorang kepala sekolah mau datang berbagi dengan guru-guru. Gratis lagi. Tapi kawan penggerak, ibu Anita Taurisia Putri terus meyakinkan: “Percayalah. Saya sudah menghubungi beliau dan bersedia. Malah beliau sangat senang karena ada komunitas guru yang berminat melibatkan kepala sekolah dalam kegiatan belajar.”

Penelitian Tindakan Kelas. Dua pertimbangan. Pertama, dinas pendidikan provinsi Sulawesi Selatan lagi semangat-semangatnya memerangi PTK yang ditengarai palsu. 

Di beberapa tempat, bapak kepala dinas pendidikan selalu menyuarakan ini. Sungguh ironis, seorang guru yang mengabarkan kejujuran dan budi baik malah menjebak dirinya sendiri dengan perilaku yang kurang terpuji: pemalsuan PTK. Pesan berantai di beberapa kanal media sosial isinya begini: naik pangkatlah secara terhormat. 

Kedua, menindaklanjuti materi daring yang pernah disajikan guru Nur Rahma Sangkala. Nur Rahma pernah berbagi praktik tentang lesson study hasil pengalamannya di International School of Utrecht Belanda.

Dengan Lesson Study maka guru dapat melihat pembelajaran murid lebih detil; mencari tahu apa yang guru duga dengan apa yang murid pelajari; mencari tahu bagaimana merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid dan juga mengubah praktik mengajar guru. 

Keempatnya disajikan dalam model penelitian tindakan kelas. Nah, kawan-kawan KGB Makassar tidak ingin kehilangan kesempatan mempelajari keempatnya. Pak Asrar sangat paham materinya. Nilai tambahnya adalah kehadiran pak Asrar di KGB kemudian mengubah sedikit cara pandang saya terhadap laku kepala sekolah.

Narasumber ketiga adalah pak Amal Hasan. Leader of Google Educators Group Sulawesi Selatan. Saya tidak kenal beliau sebelumnya. Sehari sebelum kegiatan, adiknya, Husni Hasan kirim pesan. 

“Salam sama narasumbernya ya. Sibuk semuami. Tidak teman, tidak kakak, samaji semua sibuknya”, tulis Unny setelah lihat status saya di WA. Baru ketahuan mereka saudara. Husni Hasan itu kawan saya di kampus. Beda jurusan. 

Begitulah KGB digerakkan. Percaya dengan kekuatan jaringan. Miss Emy berkawan dengan pak Amal. Karena mudik, akhirnya KGB Makassar juga sudah berkawan.

Kawan guru, apa saja yang dipaparkan pak Amal? Saya tersentak. Guru menganjurkan, mengajarkan tentang pentingnya keterampilan kolaborasi pada anak didiknya. Sayangnya, sang guru juga belum terampil mengelola kegiatan kolaborasi di sekolahnya. Jleb. 

Guru jalan sendiri-sendiri. Mengajar sendiri-sendiri. Menilai sendiri-sendiri. Mereka bicara bersama hanya pada waktu-waktu tertentu. Pada saat rapat sekolah salah satunya. Selebihnya, ya jalan sendiri-sendiri. 

“Google sudah menyiapkan berbagai teknologi kolaborasi untuk di sekolah. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan.” 

Karena materi ini banyak, kami minta kesediaan narasumber untuk mengenalkan satu persatu teknologi itu. Sebutlah dengan pendalaman materi. Dilain kesempatan dengan waktu yang lebih banyak. 

Akhirnya ucapan terima kasih kepada kawan-kawan guru di Lazuardi Makassar. Semoga pertemanan ini menjadi kekuatan untuk menggerakkan lebih banyak lagi guru yang merdeka belajar.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: