Guru Merdeka Belajar, Tidak Malu Belajar dari Sesama Guru

Menumbuhkan rasa membutuhkan ilmu dan belajar itu bagi seorang guru di sekitar saya masih cukup sulit, hingga saya membuat sebuah acara dengan judul “Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar Pendidik Purworejo”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 September 2019 bertempat di Laboratorium Komputer SMK Kesehatan Purworejo.

Saat merencanakan acara tersebut saya sedikit pesimis akan ada yang tertarik untuk bergabung. Benar saja acara yang seharusnya dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB. Saya tunggu baru 3 orang saja yang hadir. Sambil menunggu rekan lain hadir, saya mengarahkan yang sudah hadir untuk melakukan presensi secara online menggunakan google form yang telah disediakan. Presensi online seperti ini bagi rekan guru yang sudah hadir bukan sesuatu yang baru memang, karena mereka telah mengenal cara tersebut dari beberapa pelatihan yang pernah diikuti di daerah Purworejo.

Tak lama kemudian seorang rekan guru datang dan kami sambut dengan isian presensi juga. Ternyata keterlambatan beliau dikarenakan rumah beliau yang memang jauh dari lokasi nobar, yang ditempuh hingga 1 jam perjalanan. Karena waktu yang sudah terlalu mundur. Acara pun saya mulai dengan moderator sekaligus fasilitator saya sendiri Arini Fadhilah. Saya mulai acara dengan berdoa agar banyak perubahan yang terjadi setelah acara ini.

Sebelum pemutaran video dari bu Elaa mengenai merdeka belajar dan berbagai miskonsepsi guru, saya menanyakan dulu tujuan mereka datang jauh-jauh sampai kesini. Kata salah satu peserta yaitu Ibu Diah, “Saya senang dengan acara kumpul guru seperti ini, jadi bisa dapat ilmu baru dari guru lain”. Selanjutnya interaksi dan komunikasi dua arah saya lakukan. Berbagai tanggapan mengenai guru merdeka belajar dari mereka sangat beragam. Ada yang belum begitu mengerti kenapa seorang guru harus merdeka belajar dan ada pula yang berpandangan bahwa seorang guru harus merdeka belajar atau dalam arti lain mau terus belajar dan berkembang tanpa batas.

Menonton Video Guru Merdeka Belajar

Masuklah ke acara inti yaitu pemutaran video merdeka belajar. Durasi video hampir 15 menit terlihat mereka sangat antusias memperhatikan. Setelah video berakhir, ternyata beberapa kalimat cukup menarik perhatian peserta yaitu ”Pada saat kita bicara merdeka belajar, Ibu dan Bapak. Saya tuh selalu terbayang anak – anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya” kata Bu Elaa

“Yang kita inginkan adalah anak – anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita – cita melampaui langit. Melampaui batas ruangan kelas, melampaui batas dunianya. Dan  ini hanya akan terjadi pada saat anak – anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid – murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik memiliki kemerdekaan“ lanjut Bu Elaa.

Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

Kalimat itulah yang membuat beberapa dari mereka sedikit mengerti kenapa seorang pendidik harus memiliki kemerdekaan dalam belajar juga. Selanjutnya saya sambung topik tersebut dengan miskonsepsi yang sering terjadi dalam dunia pendidikan disekitar mereka. Kata salah satu guru yang hadir, Bu Restu, “Guru disini kebanyakan hanya akan bertanya pada yang memiliki pendidikan lebih tinggi dari mereka, lebih tua dari mereka dan punya gelar yang keren saja, sedangkan yang di bawah mereka dianggap tidak layak untuk berbagi ilmu” Dari yang saya tangkap ternyata guru muda era milenial masih ada yang pikirannya tidak terbuka dan tidak mau merdeka dalam belajar hanya karena orang disekitarnya dianggap tidak kompeten.

Berangkat dari curhatan Bu Restu tersebut, maka beliau berniat untuk menjadi guru yang merdeka belajar dengan cara berusaha membuka pikiran mereka yang masih sempit pemikiran agar terbuka dan bisa menjadi guru merdeka belajar. Beliau berharap dengan nanti adanya Komunitas Guru Belajar di Purworejo menjadi wadah untuk saling berbagi antar sesama guru, tanpa memandang usia, gelar, pendidikan mereka. Pendapat itu pun kemudian disetujui oleh semua peserta yang hadir saat itu. Mereka sangat ingin komunitas seperti ini benar-benar ada, agar Purworejo memiliki tempat /wadah untuk mencari berbagai ilmu baru mengenai pendidikan yang disampaikan oleh sesama guru dari berbagai kalangan.

Setelah proses refleksi selesai, saya menarik kesimpulan bahwa di Purworejo guru-gurunya masih belum sepenuhnya merdeka belajar, itulah siswa mereka juga belum bisa merdeka belajar. Maka agar mampu membantu siswa merdeka belajar, maka Komunitas Guru Belajar yang nantinya akan hadir di Purworejo dapat mulai mengubah pemikiran guru untuk menjadi guru yang merdeka belajar juga.

Untuk menyakinkan mereka mengenai pentingnya menjadi guru yang merdeka belajar, saya menampilkan cuplikan tentang perkembangan Komunitas Guru Belajar melalui Temu Pendidik Nusantara dari tahun ke tahun yang jumlah pesertanya semakin meningkat dan datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Lalu saya memberi penjelasan juga mengenai salah satu materi yang pernah saya dapatkan dalam Temu Pendidik Nusantara mengenai permainan dalam evaluasi pembelajaran. Dari video yang saya putar semua merasa tertarik dengan permainan tersebut dan penasaran cara membuatnya dan semakin bersemangat untuk menantikan adanya Temu Pendidik Daerah.

Demikian kegiatan nonton bareng yang saya dan rekan-rekan guru dari Purworejo adakan. Saya berharap acara singkat yang dilaksanakan ini dapat mengubah pandangan mereka dan membuka pemikiran mereka untuk menjadi guru yang merdeka belajar, mampu mengubah siswa mereka menjadi siswa yang merdeka belajar pula. 

Anda penasaran dengan guru yang menerapkan merdeka belajar?

Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6
Unduh Gratis
Klik:
Merayakan Merdeka Belajar PDF

merdeka belajar pdf
About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: