Ikuti Temu Pendidik Nusantara, Guru Murid Penyandang Disabilitas Dapatkan Beasiswa Penuh Nusantarun

Penulis : Winda Dyah Uningrumjati | 27 Nov, 2019 | Kategori: Pelatihan guru, Program Pengembangan Guru

Apa yang terjadi jika ada orang yang benar-benar  haus, ia menginginkan segelas es teh manis, tetapi yang ada dihidangkan di meja hanya gulai ayam berkuah santan kental ? Orang itu tentu saja tidak akan menikmati sajian gulai tersebut. Beranjak dari meja gulai, ia pergi ke meja berikutnya untuk mencari pelepas dahaga yang ia butuhkan. Lagi-lagi, yang ia temukan hanyalah lauk pepes pindang, tempe mendoan dan tongseng kambing. Orang tersebut lantas frustasi. Ia makan sajian yang dihidangkan di meja. Meskipun ia telah melahap banyak hidangan, rasa hausnya tak juga sirna. Ia pasrah, karena ia tak dapat memilih makanan apa yang ia mau.

Kondisi tersebut merupakan analogi dari pelatihan guru yang selama ini didapatkan oleh guru. Selama ini pelatihan yang didapat hanya bertema seputar kurikulum, perangkat pembelajaran yang sebenarnya kurang dibutuhkan oleh guru. “Selama ini pelatihan hanya berkisar seputar kurikulum. Padahal yang kami butuhkan adalah bagaimana cara untuk memperbaiki pembelajaran di kelas” ujar Dyah Erna, guru SLB Tawangsari Jawa Tengah.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Guru-guru Guru BK SMA/SMK/SLB  asal Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang tergabung dalam Program Pendidikan Untuk Semua diberangkatkan menuju Temu Pendidik Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta, 25-28 Oktober 2019 melalui jalur Beasiswa Nusantarun.

Program Pendidikan Untuk Semua merupakan project kolaborasi antara Nusantarun bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru Di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mempersiapkan karier murid penyandang disabilitas di masa depan. Ada sekitar 125 guru yang terlibat dalam program ini melalui mekanisme seleksi yang panjang. Dari keseluruhan peserta, selanjutnya dipilih 28 peserta yang diberangkatkan untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara. 28 peserta tersebut mendapat beasiswa penuh dari Program Pendidikan Untuk Semua untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara (TPN). Beasiswa tersebut meliputi biaya Tiket TPN, Akomodasi, Transportasi dari daerah asal dan selama di Jakarta.


Pagi masih buta kala itu, semua peserta TPN dari Program Beasiswa Nusantarun melanjutkan perjalanan ke Wisma Handayani di daerah Cilandak, tempat penginapan yang disediakan oleh panitia Penyelenggara TPN. Antusiasme peserta terlihat di raut wajah seluruh peserta. Pendamping Program Pendidikan untuk semua, Rofiqoh Nur Istiqomah dan Winda Dyah Uningrumjati menyambut peserta di Wisma Handayani. Rofiqoh dan Winda memberikan pengarahan singkat mengenai rundown acara esok hari dan memberikan informasi bahwa peserta harus segera bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi TPN.

Selepas subuh, antuasiasme peserta sangat tinggi, terbukti mereka berkumpul di lobby tepat waktu. Mereka kemudian terbagi menjadi 2 rombongan dengan 2 shuttle bus yang berbeda. Rombongan guru Tingkat Pendidikan Dasar (SD) dan Guru Tingkat Pendidik Menengah (SMP dan SMA/SMK). Rombongan Tingkat Dasar diantar shuttle bus ke Sekolah Cikal Cilandak, Jakarta Selatan. Rombongan kedua diantar shuttle bus Ke Sekolah Cikal Setu, Jakarta Timur menggunakan shuttle bus.

Tahun ini antusiasme peserta TPN yang mengangkat tema “Literasi Menggerakkan Negeri” begitu luar biasa. TPN diikuti oleh 1000 peserta yang berasal dari 120 daerah di Indonesia. Ada 4 jenis kelas yang dapat diikuti peserta : Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi dan Kelas Karier. Dari Empat jenis kelas tersebut, ada ratusan kelas yang bisa dipilih peserta sesuai kebutuhan masing-masing. Uniknya lagi, hampir seluruh pembicara di TPN adalah guru yang siap berbagi praktik baik pembelajaran. Jadi ilmu yang dibagikan tidak melulu tentang teori, tetapi ilmu dari hasil pengalaman guru-guru di lapangan yang langsung dapat di praktikkan oleh peserta.        

Hari pertama TPN terdapat 3 jenis kelas yang dapat diikuti peserta. Ada Kelas Kemerdekaan, Kelas Kolaborasi dan Kelas Kompetensi. Kelas Kemerdekaan ialah kelas yang memantik inspirasi peserta untuk menemukan kebutuhan belajarnya. Kelas Kolaborasi adalah kelas yang berkolaborasi dengan sesama pendidik, komunitas, maupun perusahaan. Kelas kolaboKelas kompetensi adalah kelas yang membantu guru mengembangkan kompetensinya.

Zuzina Nur Susanti, Guru SLBN Negeri Sukoharjo Jawa Tengah yang merupakan peserta TPN jalur beasiswa Nusantarun mengaku sangat senang menjadi bagian dari TPN 2019. “Baru kali ini mengikuti pelatihan guru yang ia dapat merdeka belajar dengan memilih topik kelas sesuai kebutuhan mengajar saya di kelas” ujarnya. Ia memilih  kelas Asesmen Pengajaran Merdeka Belajar. Ia berharap ilmu yang ia dapat di TPN dapat ia gunakan sebagai dasar asesmen pemetaan peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah tempat Ia mengajar. Sejalan dengan yang dirasakan oleh Zuzina, Kadiyono juga senang sekali dapat belajar di TPN. Guru SLB Kendal ini memilih kelas yang sesuai dengan kebutuhanya agar dapat melakukan pembelajaran yang lebih inovatif kepada siswa-siswa nya. Ia memilih kelas Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan (Board Game)

Antusiasme peserta meningkat saat mengetahui kehadiran Nadiem Makarim di hari pertamanya setelah ia dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia hadir ditengah-tengah guru dan mendengar aspirasi langsung dari guru. Moment ini dimanfaatkan oleh para guru untuk menyampaikan aspirasi seputar pendidikan.

Hari Kedua TPN merupakan acara puncak TPN. Najeela Shihab memberikan inspirasi dan suntikan semangat kepada lebih dari 1000 guru pada acara puncak TPN. Acara ini diiringi oleh berbagai pertuntukkan seni yang dibawakan oleh murid-murid sekolah cikal. Seusai acara puncak, acara dilanjutkan dengan kelas karier yang dapat dipilih peserta sesuai kebutuhan belajar masing-masing peserta. Ada beberapa pilihan yang dapat dipilih peserta saat mengikuti kelas karier, diantaranya, Membangun Layanan, Membangun kelas, Guru berdaya dengan menulis buku, & permainan untuk mengembangkan karier guru.

Sore hari setelah kelas puncak dan kelas karier, Peserta TPN Beasiswa Nusantarun kembali ke daerah masing-masing dengan gelas terisi penuh. Mereka merasa senang karena telah terbuka wawasanya. Mengisi penuh gelas yang mereka sebelumnya mereka kosongkan dengan suntikan energi dan inspirasi.

Meninggalkan Jakarta naik kereta dari stasiun Pasar Senen, mereka berjanji tidak akan meninggalkan kenangan mengikuti TPN hanya di memori saja. Tetapi mereka siap berbagi pengalaman kepada guru-guru di daerah masing-masing. Tak hanya itu, melalui pembelajaran TPN, mereka semakin memiliki bekal untuk mempersiapkan karier dan masa depan peserta didik berkebutuhan khusus.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: