Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Guru

Apakah judul tulisan tentang kecerdasan buatan ini mengada-ada?
Apakah Bapak Ibu guru sudah merasakan “ancaman” kecerdasan buatan?

Kecerdasan buatan atau istilah kerennya Artificial Intellegence (AI) semakin mudah ditemui. Sebut saja Google Asisten di Android, Siri di perangkat Apple, Cortana di Microsoft Windows dan Alexa di Amazon. Betapa mudahnya kita meminta bantuan pada kecerdasan buatan ini, dari aktivitas sebagai mesin pencari, pemandu jalan, melakukan panggilan, bahkan menyalakan perangkat listrik di rumah yang sudah tersambung.
“Ah itu kan aktivitas sederhana”
Oke, coba lihat betapa “mengerikannya” kecerdasan buatan.

Di media sosial kita bisa disuguhkan informasi yang didasarkan apa yang kita suka. Iklan-iklan yang muncul berdasarkan kebiasaan kita, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan yang mampu mengenali karakteristik jenis foto/gambar yang kita sukai, juga notifikasi/pemberitahuan yang disesuaikan sehingga kita betah berlama-lama.

Bahkan ada kecerdasan buatan yang dapat “berkembang kecerdasannya” seperti yang ditanam pada game sepak bola. Pemain yang dijalankan komputer bisa memahami kondisi lapangan, berhati-hati agar melakukan tackle tanpa melanggar aturan. Sadar akan waktu pertandingan dan bahkan menyesuaikan cara bermain lawan. Terdapat pula fitur yang dapat menganalisis hingga memberikan gelar man of the match pada pemain terbaik di pertandingan.

Kecanggihan kecerdasan buatan juga sudah dihadirkan di berbagai film baik dokumenter maupun fiksi ilmiah. Mulai dari The Social Dilemma di Netflix, film terkenal Terminator, tayangan anak Kamen Rider Zero-One, hingga AI yang bisa menyembuhkan orang sakit di Transcendence.

Ilustrasi humagear, robot dengan kecerdasan buatan yang dapat melakukan pekerjaan di sebuah bidang, dari serial Kamer Rider Zero-One.
Ilustrasi humagear, robot dengan kecerdasan buatan yang dapat melakukan pekerjaan di sebuah bidang, dari serial Kamer Rider Zero-One.

Bayangkan, bagaimana jika anak bisa difasilitasi belajarnya oleh kecerdasan buatan?
Kecerdasan buatan yang akan memberikan informasi baik teks, gambar, video hingga simulasi digital sesuai topik yang sedang dipelajari.
Kecerdasan buatan yang akan memberi notifikasi agar murid tenang saat belajar. Kecerdasan buatan yang akan menunjukkan warna merah, suara mengerikan, saat murid melanggar aturan. Kecerdasan buatan yang akan memberikan banyak bintang saat murid berbuat baik.

“Kan kecerdasan buatan tidak ada sentuhan personal yang memanusiakan?”
Lho, justru teknologi bisa melakukan diagnosis perilaku, dan memberikan personalisasi yang dapat disesuaikan dengan pengguna secara cepat. Bukankah personalisasi yang memanusiakan itu malah jadi tantangan berat jika kita melakukan pembelajaran sekadar dengan cara ceramah?

Lalu bagaimana agar guru tidak digantikan kecerdasan buatan?

Semangat menghadirkan teknologi masa depan, di pembelajaran masa kini dilakukan oleh #1000Pembicara beserta 3460 peserta saat #BelajarDiTPN7 (Temu Pendidik Nusantara). Terdapat lebih dari 380 kelas di acara yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Nusantara dan Kampus Guru Cikal ini. Pada 12 – 13 Desember 2020 para guru saling belajar dan berbagi praktik baik pembelajaran. Alih-alih menyalahkan teknologi, para guru justru mengombinasikannya dengan pedagogi. Para guru yang tidak sekadar menggunakan teknologi untuk mempermudah pembelajaran direpetisi. Tidak sekadar menjadikan teknologi sebagai alat mengalirkan informasi. Bukti bahwa kecerdasan buatan tidak bisa menggantikan para guru ini.

Baca Juga: Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan

Guru belajar di Temu Pendidik Nusantara 7 tidak dapat digantikan kecerdasan buatan
Tangkapan layar, sebagian guru yang #BelajarDiTPN7

Seperti apa pembelajaran yang dibagikan dan dipelajari di Temu Pendidik Nusantara ke-7?
Seperti apa guru yang sulit digantikan kecerdasan buatan?
Yaitu guru yang menerapkan pembelajaran 5M (Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, Memberdayakan Konteks).

1. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memanusiakan Hubungan
Para guru memanfaatkan teknologi untuk membangun relasi dengan murid dan orangtua. Sehingga pembelajaran yang dirancang menyesuaikan kondisi mereka. Seperti apa penerapannya?
Pembuatan media pembelajaran yang diawali dengan proses empati. Memanfaatkan media untuk memahami emosi murid. Penggunaan formulir asesmen diagnostik untuk menentukkan cara yang akan digunakan dalam pembelajaran. Juga pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan belajar dengan kegembiraan. Sehingga guru mampu mengajak murid belajar tanpa iming-iming reward seperti bintang, maupun hukuman. Apakah hal serupa sudah Bapak Ibu lakukan?

2. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memahami Konsep
“Kalau hanya memberi informasi, google lebih jago.”
Saat ini jika orang penasaran, maka google di genggaman tangan akan menjadi jawaban. Para guru belajar di Temu Pendidik Nusantara ke-7 tidak ingin menjadi guru yang sekadar memberi informasi. Para guru ini melawan miskonsepsi, tidak mau jika hanya memindahkan ceramah ke media virtual. Alih-alih demikian, guru memodifikasi permainan, lagu, video, dan bahkan strategi pembelajaran dengan mengangkat konteks lingkungan untuk membantu murid membangun pemahaman.

3. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Membangun Keberlanjutan
Jika sekadar memberikan tanda benar dan salah pada jawaban murid, serta memberi nilai berupa angka pada lembar soal, tentu beragam tools sudah tersedia. Nah, saat #BelajarDiTPN7 para guru membahas cara memberikan umpan balik, proses refleksi, hingga memperluas manfaat pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. Dari proses memberi umpan balik melalui permainan, hingga menyebarkan praktik baik pembelajaran ke lebih banyak jangkauan.

4. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memilih Tantangan
“Mengapa banyak orang kecanduan gawai, tapi sedikit yang kecanduan belajar?”
Tahukah Bapak Ibu apa yang membuat game bikin ketagihan? Dan mengapa pembelajaran membuat bosan?
Game memberikan berbagai pilihan dan jenjang tantangan. Karena jika hanya ada satu pilihan yang terlalu sulit, maupun satu pilihan saja yang terlalu mudah, sama-sama membuat bosan dan bahkan stres.
Apakah pembelajaran di kelas kita juga demikian?

#BelajarDiTPN7 menghadirkan para guru yang sudah memberikan pilihan jenis dan cara mengerjakan tugas. Karena para guru ini sadar, bahwa tidak mungkin semua murid diminta membuat tugas berupa video, atau bahkan hanya boleh menulis di kertas folio. Apalagi di saat pandemi mewabah, fasilitas belajar di rumah tidak seperti di sekolah.

Sekolah yang Berkolaborasi melebihi Kecerdasan buatan
Beberapa poster Kelas Kolaborasi Temu Pendidik Nusantara ke-7

5. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memberdayakan Konteks
Bapak Ibu bisa melihat beragam kelas kolaborasi di TPN ke-7, silakan klik di sini. Para guru berbagi bagaimana tetap berdaya di tengah pandemi. Tidak hanya sendiri, namun menggerakkan orang lain dan batas jarak pun dilampaui. Gerakan membagikan praktik baik selama pandemi dengan komik digital, media sosial, hingga berbagi panggung virtual. Banyak sekolah yang saling belajar bersama, meskipun berasal dari daerah yang berbeda.

Panduan Pembelajaran 5M bisa diunduh di sini

Jadi, apakah Bapak Ibu siap digantikan kecerdasan buatan?
Atau pembelajaran 5M akan Bapak Ibu terapkan?
Poin mana yang akan Bapak Ibu lakukan?
Yuk tulis di komentar, dan juga sebarluaskan!

About the Author
Tim Pengetahuan Kampus Guru Cikal. Suka belajar bareng anak-anak. Suka board games. Suka nyanyi dalam hati.

One thought on “Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Guru”

  1. Joko Supriyanto says:

    Kereennn.. Suka dengan tulisan Pak Maman… Reflektif dan membuat kita semakin sadar bahwa kemampuan kita akan tetap lebih unggul saat mau berefleksi dan terua beradaptasi menyesuaikan konteks kebutuhan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: