Kemerdekaan Belajar Bukan Diberikan Tetapi Kita Gerakkan

“Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita cita melampaui langit, sebetulnya. Melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga sebetulnya  memiliki kemerdekaan”.

Penggalan kalimat di atas adalah pernyataan awal penyemangat dari ibu Najelaa Shihab lewat video nonton bareng atau nobar yang sebelumnya diunduh di sebuah link yang tertulis pada  buku panduan nonton bareng video Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN). Dalam pemaparan Inisiator Guru Merdeka Belajar ini, menyampaikan pesan tersirat sarat makna yang meminta guru untuk serius menjadi guru merdeka belajar. 

“Apakah Ibu dan Bapak Guru sudah merasa merdeka?” ungkap ibu Elaa, panggilan akrab ibu Najelaa Shihab dengan nada tanya. Setelah itu ia lanjutkan lagi dengan narasi yang sangat menyentuh empati diri kita sebagai guru, bahwa kalau tidak merasa merdeka tidak perlu ada datang dan belajar. 

Ibu Najelaa Shihab memaparkan bahwa Kemerdekaan Belajar itu bukan hal yang diberikan, namun kita gerakkan
Najelaa Shihab Pada Temu Pendidik Nusantara 2016
dengan Tema “Merdeka Belajar”

Pertanyaan dan pernyataan ibu Elaa tersebut, bukan tanpa sebab atau bukan tanpa alasan. Semua sudah melewati fase realitas perjalanan dan pandangan mata di kehidupan guru dengan beragam cara dan kemampuan guru di sekitarnya. Tentunya dalam memaknai diri untuk maju dan paham akan tugas dan tanggung jawabnya sejak mengemban amanah sebagai guru. 

Asumsi pemahaman tentang guru merdeka belajar ini menjadi titik fokus para guru di KGB Sinjai dengan digelar nonton bareng hari Ahad, 25 Oktober 2020 lalu. Mengingat situasi masih dalam masa pandemi Covid 19, kegiatan nobar ini digelar secara daring melalui aplikasi Microsoft Teams yang dimulai pukul 10.00 Wita.  Acara ini dipandu langsung guru Arni Idawati dengan tim teknis daring via Teams guru Takdir Kahar dan guru Hj Yuliani, ketiga guru ini adalah Penggerak KGB Sinjai. Kegiatan ini diikuti 35 peserta dari berbagai tingkatan sekolah seperti guru sekolah dasar, guru sekolah menengah pertama, dan guru sekolah menengah atas. Bukan hanya itu, kegiatan nobar guru merdeka belajar ini juga diikuti  dua  pengawas sekolah dalam lingkup Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.

Memaknai Merdeka Belajar

Sebelum nobar Guru Merdeka Belajar diputar via Microsoft Teams, Moderator acara yang dipandu guru Arni Idawati memulai dengan menyapa semua peserta Nobar yang sebelumnya sudah mendaftar via link Microsoft Forms serta sudah bergabung dalam grup WhatsApp Nobar MGMB KGB Sinjai. Melihat semangat peserta yang begitu tinggi untuk segera melihat paparan video konsep Guru Merdeka Belajar dari Ibu Najelaa Shihab, maka tak berlama-lama di pembukaan acara, langsung moderator melempar pertanyaan reflektif ke peserta nobar, bahwa apa yang mereka pahami tentang Merdeka Belajar?

Komunitas Guru Belajar Nusantara Sinjai menyelenggarakan
Temu Pendidik Daerah dengan Microsoft Teams

Tak pelak saja, tidak sampai satu menit setelah pertanyaan di lempar langsung disambut sejumlah analogi peserta tentang pemahaman mereka tentang guru merdeka belajar. Seperti pernyataan guru Anshar dari SMAN 12 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu ketika guru memiliki kemampuan dan semangat untuk belajar. Hal sama juga diungkapkan  guru Fariati dari SMAN 10 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu adalah merdeka dalam belajar kepada siapapun dan merdeka dalam mengajar dengan kewenangan guru menentukan sendiri metode pembelajaran tanpa keluar dari tujuan pembelajaran. Ada juga pernyataan mengejutkan dari guru Rosdiana dari SDN 1 Balangnipa Sinjai. Bahwa guru merdeka belajar itu ketika sang guru mampu membuat perubahan kelas menjadi kelas yang menyenangkan. Bukan hanya itu, sebagai guru harus yakin bahwa dirinya adalah guru yang memiliki sisi lain yang luar biasa untuk selalu belajar dan bermanfaat bagi orang lain. 

Senada dengan guru Hj Hasniar dari SMAN 3 Sinjai memberi sebuah gambaran, bahwa hakikat guru merdeka memiliki ciri-ciri  yaitu punya tujuan dan komitmen pada tujuan, guru harus memiliki sikap kemandirian, serta  selalu melakukan refleksi untuk  mencari sisi masukan dan penguatan dari pembelajaran yang selesai dilaksanakan.

Pernyataan penguatan tentang apa itu merdeka belajar juga disampaikan pak Madalle Aqil, koordinator pengawas pendidikan untuk wilayah Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Selayar Provinsi Sulawesi Selatan.  Dijelaskan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang selalu belajar sepanjang hayat dengan memiliki tiga hakikat dasar sebagai guru. Pertama, guru merdeka belajar harus memiliki sifat dan sikap keikhlasan. Artinya, aktivitas guru yang mewarnai dalam kegiatan pembelajarannya di ruang-ruang kelas,  siap menerima segala tantangan dan terpenting selalu melakukan perbaikan. Kedua, guru merdeka belajar mampu mempraktikkan aksi atau tindakan. Artinya, segala tindakan yang dilakukan  adalah nyata karena sesuai dengan yang dibutuhkan  saat ini. Ketika salah maka dicoba dan dilakukan lagi atau tidak mudah putus asa. Ketiga, guru merdeka belajar terus belajar. Artinya, bukan berarti ketika sudah selesai mengajar, maka dianggap tujuan juga sudah tercapai. Tapi guru harus belajar dan berani melakukan refleksi dari apa yang sudah dilakukan dalam kegiatan pembelajarannya.

Merebut Emansipasi Belajar

Setiap alur narasi ibu Najelaa Shihab selalu ada ledakan makna dalam pemaparan tentang guru merdeka belajar. Sehingga praktis  kalimat demi kalimat yang disampaikan semuanya seperti kalimat pokok atau kalimat utama yang tidak boleh dibiarkan berlalu. Rugi rasanya ketika terlewatkan satu kata, lebih-lebih satu kalimat atau beberapa kalimat. 

Dalam penjelasannya memantik peserta dengan melempar sebuah pernyataan mengejutkan. Bahwa ketika sepakat dengan konsep pendidikan di negara tercinta Indonesia adalah demokrasi, maka ia berani melisensi tentang keberadaan guru-guru yang bergabung dalam komunitas guru belajar sudah berada di tempat atau forum yang tepat. 

“Anda berada di forum  yang tepat, karena di Komunitas Guru Belajar sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan diberikan, tapi sesuatu yang kita gerakkan,” ungkap ibu Najelaa. Artinya segala kegiatan guru adalah sebuah proses sama-sama belajar seperti  proses emansipasi tidak dikasih atau tidak diberikan tetapi harus direbut, kemerdekaan belajar adalah sesuatu yang kita gerakkan. Tentunya guru harus memiliki komitmen, kemandirian, serta selalu melakukan refleksi.

Penjelasan lain yang paling menyentuh adalah atas tindakan guru dalam ruang-ruang pembelajaran di sekolah untuk berani melawan miskonsepsi. Seperti anggapan yang sering muncul bahwa guru mau belajar kalau ada insentif atau uang serta ada sertifikatnya, padahal belajar adalah kebutuhan alamiah dari setiap guru. Anggapan lain seperti guru baru mau  belajar kalau dari sumber ahli atau dari pakar pendidikan. Ditemu pendidik sudah membuktikan, jika sumber belajar paling efektif adalah sesama guru yang sudah banyak pengalaman dan belajar melakukan perbaikan dari setiap ia di posisi kegagalan. Penjelasan lain tentang miskonsepsi adalah  belajar cukup terbatas ‘How To’ tidak mau ribet atau pusing dalam mengajar, padahal belajar itu dengan tujuan yang dapat  menyesuaikan diri dengan konteks di lapangan. Artinya harus menjadi guru profesional adaptif yang tahu peran dan kebutuhan peserta didik sehingga disinilah sesungguhnya peran guru sangat esensial. Masih ada lagi yang sering muncul dalam miskonsepsi guru yaitu memaksakan pencapaian target belajar, padahal belajar itu butuh waktu. Seperti pencapaian inovasi pendidikan dari sebuah proses yang dibutuhkan guru untuk memahami inovasi itu. Waktu yang cukup untuk memiliki inovasi serta waktu yang banyak untuk membuktikan inovasi guru. Selain itu yang sering disalahtafsirkan orang tentang guru adalah tentang kompetensi guru yang bersifat individu, padahal kompetensi guru itu tumbuh bersama dalam lingkungan ekosistem yang baik. Artinya tidak ada guru yang belajar sendirian, tidak ada guru yang bisa kompetensi sendirian, atau tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. 

Setelah selesai pemutaran video merdeka belajar, maka sesi selanjutnya adalah tahapan refleksi. Moderator melempar pertanyaan pertama ke peserta nobar tentang hakikat miskonsepsi yang sering dialami guru atau guru yang pernah  terjebak dalam praktik-praktik perlakuan miskonsepsi merdeka belajar. Bahwa diantara semua miskonsepsi penjelasan ibu Najelaa Shihab, mana yang paling menggambarkan diri anda?
Seolah pernah masuk dalam lingkaran miskonsepsi, akhirnya rata-rata  peserta nobar mengakui dirinya jika memang ia baru mau belajar jika ada insentif atau sertifikatnya. Seperti yang dilontarkan guru Wahyuni yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dari SMAN 1 Sinjai bahwa dirinya pernah memiliki paham tersebut, nanti ada insentif baru mau belajar, tapi seiring perjalanan waktu akhirnya sadar bahwa belajar bagi guru adalah kebutuhan yang tidak perlu embel-embel ada uang baru belajar, ada sertifikatnya baru mau terlibat belajar. 

Hal sama juga diungkapkan guru Hj Hasniar, mengampu mata pelajaran Bahasa Jerman dari SMAN 3 Sinjai bahwa guru dengan  segala yang melekat pada dirinya adalah wajib belajar tanpa imbalan. Artinya guru harus yakin dengan kemampuan yang dimilikinya, punya komitmen tinggi pada tujuan, mandiri dan tidak selalu bergantung terus menerus tetapi mampu bersikap dan bertindak secara terbuka dan positif, serta siap menerima masukan dan kritikan untuk lebih baik.

Seperti apa guru yang memiliki Kemerdekaan Belajar ?

Sementara terkait  pertanyaan  apa alasannya sehingga ingin menjadi guru merdeka? Menurut guru Ramdani, mengampu mata pelajaran Sosiologi dari SMAN 10 Sinjai, bahwa ia pernah di level sebagai guru yang dengan pemahaman bahwa guru itu adalah raja di kelas dan ‘harus ditakuti’ siswa. Dengan begitu siswa akan penurut dan tidak berani melakukan ‘perlawanan ke guru’ untuk bertanya macam-macam. Namun bergabungnya di Komunitas Guru Belajar di Sinjai seolah guru Ramdani yang selama ini seolah di sebuah lahan yang kering dan tandus, kini sudah menemukan sebuah oase yang menghidupkan pemikirannya yang tentunya dengan konsep guru merdeka belajar. 

Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

“Saya menginginkan ada perubahan dahsyat di kelas dan itu sudah saya buktikan dari teori miskonsepsi guru merdeka belajar. Saya sudah memberikan ruang yang luas bagi siswa sebagai sahabat dan bahkan sebagai sumber belajar,” ungkapnya.

Kekuatan terbesar dari seorang guru ketika mampu beradaptasi, menyesuaikan, dan mampu melakukan perubahan pada dirinya untuk bisa berdamai dan bersenang-senang dalam pembelajaran. 

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: