Kerja Barengan untuk Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas

Penulis : rizqy | 5 May, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar

“Saya sangat senang sekali dengan program ini. Bahwa benar seorang guru harus belajar dan belajar terus, karena saya ingin sekali mengoptimalkan kembali potensi yang dimiliki oleh anak, biar anak-anak itu bisa.” ungkap Septi Mardianti seorang guru dari SLBN Kota Tegal yang mengikuti kegiatan Sosialisasi Program Pengembangan Murid Disabilitas oleh Kampus Guru Cikal, Jumat 3 April 2019 di Gedung B Aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah yang dihadiri 120 Kepala Sekolah SMA, SMK, MA Inklusi serta SLB di Jawa Tengah

Kegiatan sosialisasi ini merupakan kegiatan awal dari serangkaian kegiatan dalam program Pengembangan Murid Disabilitas yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal. Pendanaan dari program ini didapatkan dari donasi yang digalang melalui lari ultra marathon yang diadakan NusantaRun pada 7-9 Desember 2018 lalu. Upaya penggalangan dana oleh para pelari tersebut berhasil mengumpulkan dana sejumlah 2,65 miliar. Hasil donasi tersebut yang digunakan untuk membiayai Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY.

Ada 3 subjek yang menjadi sasaran dalam program ini, yaitu murid penyandang disabilitas, guru BK dan orangtua. Murid penyandang disabilitas selain mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, juga mendapat pelatihan keterampilan belajar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Guru BK mendapatkan pelatihan pendidikan inklusi dan pelatihan bimbingan karier. Harapannya dari pelatihan tersebut guru BK memiliki keterampilan dalam mendampingi murid penyandang disabilitas untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Orangtua juga menjadi sasaran program karena dukungan orangtua penting bagi keberhasilan pendidikan murid penyandang disabilitas.

Dalam sosialisasi program pengembangan murid disabilitas, Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal menyatakan bahwa ekosistem pendidikan kita membutuhkan murid penyandang disabilitas yang melanjutkan pendidikan tinggi sebagai kisah sukses agar semakin banyak dukungan bagi pendidikan inklusi.

“Layaknya seorang petani yang menanam bibit tanaman dengan metode yang ia gunakan, maka jika berhasil akan bisa ditiru oleh petani lainnya. Program ini akan berjalan jika ada keterlibatan banyak pihak, baik dinas, sekolah, guru, dan juga masyarakat” ujar Bukik dalam acara tersebut.

Sejalan dengan Bukik Setiawan, wakil gubernur Jawa Tengah Taj Yasin yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa perlu jangkauan yang lebih luas untuk pendidikan inklusi, jika pemerintah provinsi saja jangkauannya kecil. Program yang digagas NusantaRun merupakan dukungan nyata dari masyarakat dalam mendukung cita-cita pendidikan untuk semua.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: