KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 1)

Penulis : Usman Djabbar | 1 Apr, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Makassar, Temu Pendidik Daerah

Akhirnya ke Malino lagi. Selain untuk belajar, saya akan mengunjungi beberapa kawan lama. Pernah mengajar di sini. Sembilan tahun. Berangkat senin subuh, pulang kamis sore. Naik motor bersama Wawan Rurung, Omchaa, Luktfy Alam & Naim Miyala. Tiga tahun lalu, saya pindah ke Pallangga.

Kunjungan kali ini masih berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Bedanya, dulu datang mengajar di sekolah, hari ini sebagai peserta belajar. Saya mau belajar di Temu Pendidik Daerah (TPD) yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Makassar bekerjasama dengan UPT Pendidikan kecamatan Tinggimoncong. Di Malino.

Gambar mungkin berisi: langit, pohon, tanaman, luar ruangan dan alam
SMA N 1 Tinggimoncong

Bagi kawan guru yang masih asing tentang Malino, silahkan googling. Percayalah banyak keajaiban tersedia di sana. Jika Anda ketik ‘Malino’ di mesin pencari, ada 3.210.000 penjelasan. Kalau Anda iseng menambah katanya menjadi ‘Malino Sulawesi Selatan’, tersedia 431.000 pilihan. Jika tidak ada pekerjaan lain, silahkan ketik ‘Malino daerah mana’, Anda akan disuguhi 331.000 petunjuk. Jika dirasa belum cukup, ketiklah ‘Malino kota bunga’, maka muncul 243.000 jawaban. Mau lebih spesifik lagi? Ada 55.400 petunjuk jika Anda masih berminat mengetik ‘Malino Tinggimoncong’.

Dengan petunjuk dan penjelasan itu, saya tidak khawatir Anda tersesat. Biarlah catatan ini berisi peristiwa yang belum dikisahkan di sana. 
—-

Pengalaman bertugas Malino menyisakan banyak kenangan. Kecelakaan di Parangloe salah satunya. Malam itu kami mengejar waktu. Leader memutuskan lewat jalur pintas: Parangloe-Pattallassang. Karena rutenya menurun, saya mengerem lebih dalam. Celaka. Tumpahan oli berceceran di badan jalan. Ban depan melincir, motor jatuh meluncur tidak terkendali. Saya tersangkut di pohon jati. Kap motor hancur, sadel tidak ditemukan. Butuh waktu untuk berdiri kembali. Bahuku terkilir. Beberapa luka lecet di lutut, telapak tangan dan juga siku kanan.

Masih lekat dalam ingatan. Kami pernah mengunjungi siswa yang ingin berhenti sekolah. Karena jalan belum bisa diakses kendaraan, motor dititip di rumah warga. Kami susuri jalan sempit dan berlumpur. Magrib kami sampai. Orang tuanya menyambut sangat baik. Ada kopi Parigi plus ubi jalar. Tentu saja kami lahap. Sayang, siswa yang dicari sudah merantau ke Kalimantan.

Malam itu juga kami pamit pulang. Hujan deras. Derita kami bertambah karena si biru (Suzuki Thunder tersayang) lupa pakai lampu. Pulang bergelap ria.

Pengalaman mengajar lainnya nanti saya ceritakan di buku ‘Anak Gunung Membaca Bawakaraeng’. Banyak kisah aneh terselip di sana. Misalnya bagaimana kami para guru yang baru terangkat bisa ditipu oleh pengumpul benda antik. Kami takjub benar dengan emas palsu yang ditengarai dimunculkan dari dunia gaib.

Jangan khawatir, kisah berfaedah juga banyak. Kami pernah menyiksa diri melakukan pendakian gunung selama enam jam perjalanan hanya untuk membuktikan bahwa danau Ramma adalah salah satu spot memancing terbaik. Percayalah. Itu hasutan terbaik yang pernah dilakukan Wawan Rurung.

Catatan ini dibuat khusus tentang Temu Pendidik Daerah yang dilaksanakan di sekolahku yang lama. SMA Negeri 4 Gowa.

Kenapa Temu Pendidik di Malino? Ada beberapa alasan. Pertama, alasan ideologis. Saya percaya. Kawan-kawan saya juga percaya. Hanya guru yang belajar yang pantas mengajar. Kata guru dan belajar tidak boleh terpisah. Saya membaca percakapan antara seniman Asrul Sani dengan guru pamong Taman Siswa: Said Reksohadiprojo. Sejatinya guru adalah seorang pamong. Menjadi pamong berarti harus belajar terus menerus, haus pengetahuan. Jika gurunya berhenti belajar, maka pada saat itu juga dia sudah terbunuh.

Di Malino, sangat mudah menemukan guru-guru yang mau belajar. Butuh contoh? Baiklah. Ini cerita kawan kita, Korwil UPTD Dinas Pendidikan kecamatan Tinggimoncong. 

“Biasanya guru meminta untuk ditempatkan tidak jauh dari kota kecamatan. Ya, sebutkan dengan kemudahan akses”, cerita pak Amran Azis.

“Tidak dengan guruku yang satu itu. Dia minta ditempatkan didaerah terpencil. Saya penuhi permintaannya. Apa yang dia lakukan? Kreativitas guruku itu tidak bisa dibatasi oleh fasilitas yang terbatas. Dinding sekolahnya dipenuhi lukisan mata pelajaran. Ada lukisan tentang benda-benda planet, tentang benda-benda bersejarah, tentang rumus matematika dasar, juga tentang manusia”.

Kedua, kami menemukan sekutu. Selain murid, sekutu utama guru adalah sesamanya guru. Saya punya banyak kawan-kawan guru di Malino. Kami ingin membangun persekutuan dengan mereka bahwa pendidikan ini tidak boleh menjadi urusan satu orang saja. Sebagai bagian dari kaum intelegensia, kata Bung Hatta, guru tidak boleh pasif, hanya berdiam diri dalam rutinitas paling membosankan: menghabiskan materi dalam kelas.

KGB Makassar
Guru Usman Djabbar, Guru Wawan Rurung dkk

Kami percaya bahwa kerja-kerja pendidikan butuh dukungan banyak pihak. Di Malino kami yakin bisa mendapatkan dukungan itu. Benar. Malam itu sebelum pembukaan, kami disambut dengan percakapan sampai larut oleh dua kepala sekolah : SMA Negeri 1 Tinggimoncong dan SMA Negeri 1 Bontolempangan.

Keduanya bukan hanya teman diskusi. Tapi juga sebagai sekutu utama, turut terlibat mensukseskan kegiatan. Pada bagian lain saya akan sebutkan sebutkan satu persatu siapa saja kawan-kawan guru yang baik itu.

Karena alasan-alasan itulah, sehingga Malino diputuskan sebagai tuan rumah TPD.

Bersambung ke KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: