KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

Penulis : Usman Djabbar | 2 Apr, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Makassar, Temu Pendidik Daerah

Jumat, 1 Maret 2019

10Coffe. Coffeshop. Letaknya depan gerbang ke Royal Sprint, jalan Arupala. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi lumayanlah untuk pertemuan yang direncanakan tiba-tiba. Menjelang magrib, kami bertemu di sana. Pak Amran Azis bersama istrinya. Saya kembali berdua dengan Wawan Rurung.

Saya pesan kopi susu. Tebal atau tipis? Pilih yang tipis. Akhir-akhir ini tidak kuat lagi dengan yang tebal. Saya juga fakir dengan menu yang lain, walaupun tersedia. Ada Espresso, Capuccino, Latte, Moccacino, Macchiato dan berbagai varian cafe lainnya. Bagiku, ini Makassar bung. Menumu boleh variatif. Racikan kopimu juga boleh beragam. Tapi ingat hukumnya: kopi susu mesti sajian utama. Jika ingin bertahan lebih lama.

“Baiklah dinda. Selain koordinasi peserta, apa lagi yang bisa saya bantu”?, tanya Pak Korwil Tinggimoncong.

“Hmm. Begini kanda. Kami hanya bisa siapkan narasumber. Ruangan jadi tanggung jawab teman-teman di SMA 4 Gowa. Konsumsi biasanya ditanggung bersama. Budaya yang terbangun selama ini di komunitas guru adalah barengan. Apa saja diupayakan bersama-sama. Konsumsi salah satunya”, jawabku.

“Kalau begitu konsumsi saya yang siapkan. Peserta cukup datang belajar saja”, ucap Pak Amran kembali.

“Jika ada waktuta, singgah di dinas pendidikan kabupaten untuk menyampaikan kegiatan ini. Hanya mengabarkan saja.”

“Siap, kami usahakan.”

Setelah persiapan tuntas dibicarakan, kami bubar. Pak Amran pamit kembali ke Malino, kami pun balik ke Pallangga. Dengan perasaan yang penuh. Riang gembira. Kawan, apa yang lebih menggembirakan bertemu dengan sekutu baik hati seperti Pak Amran? Betapa menyenangkannya bercakap dengan guru yang paham tujuannya.

Di perjalanan pulang, saya bahagia mendengar Bono dan kawan-kawannya: Beatifull Day.

… It was a beatiful day
Don’t let it get away
A beatiful day
Touch me, take to that other place
Reach me, sweety, I know I’m not a hopeless case.


Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami.


Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami.

Luar biasa. Pak kepala dinas pendidikan menerima kami sebaik-baik tamu. Sebagai bentuk dukungan, Wawan Rurung minta jepret-jepret bareng Pak Kadis. Peranku jelas. Tukang foto.

Eh, tanpa sengaja, pandangan kami tertuju pada salah satu gambar di ruangan Pak Kadis. Di gambar itu ada Ibu Elaa, Ibu Nisa Felicia, Pak Hamid Muhammad, Pak Kamaruddin dan Pak kadis waktu menjadi pembicara di beranda PSPK jilid XI.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang tersenyum

Ya, cerita memanjang kembali.

Jumat, 8 Maret 2019.

Perjalanan ke Malino kali ini terasa lebih panjang. Lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa ruas jalan nampaknya butuh perbaikan. Paling parah di sekitar Mala’lang. Tampak para pekerja sibuk membersihkan sisa-sisa longsoran yang menumpuk di ruas jalan.

Kami tiba juga di Malino. Jumat malam. Bukan malam jumat. Di depan hotel Celebes Malino, laju kendaraan saya perlambat. Tepat di samping hotel itu kediaman pak Sanusi. Rumahnya saya sebut dengan rumah kopi. Sebelas tahun menyesap kopi, belum ada yang bisa kalahkan aroma dan rasa kopinya.

Kopi arabika bisa tumbuh di banyak tempat, ditanam oleh siapa saja. Tidak dengan proses pengolahannya. Butuh ketelatenan, pengalaman dan kemurnian hati. Tidak boleh serampangan. Bara apinya dijaga betul, matangnya mesti merata, tungku dari tanah.

Di rumah kopi, tidak sah minum kopi jika tdak ada penganan pisang goreng. Percayalah, pisang gorengnya khas. Anda tidak akan menemukannya di tempat lain. Mengolah pisang hanya sebagian dari keramahan yang dimiliki Dg Lela, istri pak Sanusi.

Kami tidak singgah. Besok saja. Di halaman rumahnya masih terparkir motor bebek honda 700 warna merah. Itu sudah cukup menanda bahwa Pak Sanusi sekeluarga baik-baik saja.

Rombongan kami langsung ke Puskesmas Tinggimoncong. Depan puskesmas itu pernah mangkal penjual sate madura yang enak. Saus kacangnya kental. Sayang sekali, malam itu tidak lagi ditemukan di sana.

Mungkin pindah ke tempat lain. Mungkin sudah tutup. Mungkin juga sudah pulang kampung. Di sini, agak susah menemukan jajanan semacam itu setelah salat Isya. Ada sih, jagung bakar di hutan pinus. Tapi untuk romantisme, kesannya terlalu biasa.

Pak Yusuf Islam menelpon.

“Dg Kio, posisi di mana sekarang? Kalau sudah di Malino, langsung menuju rumah. Sudah menunggu abahnya Ima sama Pak Zul. Pak Luktfy Alam juga menuju ke sini.”

“Siappp.”

Dari nomor lain, panggilan ibunda Hj Nurlia juga masuk. Makan malam sudah tersaji katanya.

Selain kabar tentang makan malam, beliau juga berkepentingan tahu apa kami sudah sampai di Malino atau belum. Inayah Ridhayanti, anaknya bunda aji, ikut dengan rombongan kami.

Anda bingung? Begini: Inayah Ridhayanti itu selain perannya sebagai salah satu penggerak KGB Makassar, selain sebagai aktivis sekolah perjalanan, juga anak sulung bunda Aji Nurlia, rekan kerja di SMA Tinggimoncong dulu. Tujuh tahun lalu masih sebagai murid. Tahun ini sudah jadi rekan kerja.

Betapa beruntungnya kami ini. Dikelilingi oleh orang-orang baik dengan hati yang terbuka seluas-luasnya. Salah satu alasan kenapa Malino selalu dirindukan.

Malam itu diputuskan akan makan malam di rumah Inayah kemudian ngopi di rumah pak Yusuf.

Setelah makan, kami pamit menuju rumah Pak Yusuf. Masih ada persiapan teknis yang harus dibicarakan dengan teman-teman panitia lokal. Ibu Adelia, Ibu Olle Hamid dan Ibu Anita sekeluarga menginap di rumah bunda Hj Nurlia. Di rumahnya Inayah.


Pak Yusuf Islam berasal dari Moncongkomba Takalar. Kuliah Pendidikan Matematika di IAIN Alauddin Makassar. Terangkat sebagai guru di SMA Negeri 1 Tinggimoncong. Menikah dengan gadis Malino. Beliau satu angkatan dengan Pak Saing Omchaa sebagai guru pelopor diawal berdirinya sekolah tersebut.

Saat ini jadi kepala sekolah di Bontolempangan. Sebagai kolega yang baik hati, pernah mengajarkan logika dan epistemologi waktu tinggal di asrama sekolah. Beliau yang memperkenalkan Mulla Sadra, Rumi sampai Baqir Sadr.

Malam ini pelajaran itu kembali diulas dengan versi yang lebih baru.

Rupanya kami sudah ditunggu banyak kawan. Selain Pak Yusuf sebagai tuan rumah, telah berkumpul pula Pak Zulkifly, Pak Madjid dan Pak Luktfy Alam. Dengan Pak Zulkifly saya masih awam. Kepala sekolah SMA Negeri 4 Gowa yang baru. Tapi saya percaya kekuatan jaringan: dari teman ke teman.

Benar. Percakapan sampai larut malam, saya mengenal beliau lebih jauh, lebih banyak, lebih dalam. Ternyata, tujuan kita sama. Setiap guru tidak boleh berhenti belajar. Pendidikan tidak boleh menjadi hak sekelompok orang, mesti sebagai milik bersama. Murid tidak boleh lagi diorganisasi berdasarkan pengalaman masa lalu kita semata. Mereka punya masa kini sendiri-sendiri.

“Saya senang dengan gerakan Guru Belajar. Apapun kebutuhan teman-teman KGB, tolong disampaikan. Tidak perlu khawatir tentang ruangan dan peralatannya. Saya yang bertanggungjawab”, tegas Pak Zul.

Bersambung ke catatan ketiga.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: