Komunitas Guru Belajar dan Tradisi Bertanya

Kepada yang Terhormat
Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Di Jakarta.

Tabik. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa meridhoi semua usaha dan aktivitas hari ini.

Perkenalkan, nama saya Usman Djabbar Mappisona, mewakili Komunitas Guru Belajar Nusantara.

Hari ini, kami bergembira. Betapa senangnya mendapatkan undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Perkumpulan guru yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi profesi guru, hari ini bisa berkumpul dengan Mas Menteri, kawan-kawan Asosiasi Profesi, para pakar dan tokoh pendidikan di negeri ini.

Di undangan yang dikirimkan kepada kami, tertera kesediaan untuk menuliskan dua atau tiga masalah yang mendesak yang harus segera diselesaikan oleh kita semua. Masalah-masalah itu tentu saja versi kami, berdasarkan pengalaman kawan-kawan guru di berbagai daerah.

Masalah yang kami ungkap adalah aspirasi yang disampaikan rekan-rekan sejawat kami pada Kongres pertama yang berlangsung baru-baru ini. Pada sesi kebutuhan dan kontribusi daerah. Apa masalah yang dihadapi oleh kawan-kawan guru di daerah dan kontribusi apa yang bisa diberikan. Kebutuhan dan kontribusi tersebut kemudian kami padatkan menjadi tiga poin.

Mas Menteri yang terhormat,

Poin pertama, sesungguhnya sudah dilakukan pihak kementerian minggu ini: mendengarkan masalah-masalah yang harus segera diselesaikan. Jujur Mas, kami sudah lama menunggu untuk ditanya-tanya. Diajak bicara. Membangun percakapan. Apa saja masalah yang terjadi setiap hari di sekolah, ruang kelas dan ruang lain sepulang murid-murid dari sekolah.

Puji Tuhan, hari ini pihak kementerian mewujudkannya. Harapan kami, ini menjadi tradisi saling bertanya. Menjadi budaya dari atas sampai bawah. Dimulai dari kementerian, kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten, kepala sekolah dan para guru di ruang kelas.

Betapa berdampaknya tradisi ini: setiap guru akan selalu bertanya pada setiap murid-muridnya.

Mohon izin Mas Menteri, kami memberi satu contoh.
Tentang kemerdekaan guru memilih pelatihan sendiri. Kami merasa saat ini belum pernah ditanya-ditanya jenis pelatihan apa saja yang paling kami butuhkan. Setiap undangan yang datang ke sekolah hanya untuk menghadiri.

Apalah daya kami untuk menolak? Akibatnya jelas. Kegiatan pelatihan bersifat rutin, membosankan dan kehilangan daya tarik sama sekali. Banyak yang merasa terpaksa mengikuti diklat karena perintah pimpinan bukan karena kebutuhannya. Cerita yang berserakan, kerap terdengar. Bagaimana diklat gratis di hotel berbintang hanya untuk memenuhi kuota peserta, bukan karena benar-benar dibutuhkan.

Bagaimana seharusnya?

Siapkanlah formulir yang berisi pertanyaan: untuk meningkatkan keterampilan Anda sebagai guru, jenis pelatihan apa yang dibutuhkan? Percayalah, kami pasti menjawab sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi di ruang kelas. Hasilnya pasti dahsyat. Tersedia semacam bank data kebutuhan pelatihan. Sebutlah dengan pemetaan.

Sudilah pihak kementerian memfasilitasi kawan-kawan guru kami mengikuti satu atau beberapa diklat yang diminati, yang sesuai dengan kebutuhan, yang cocok dengan situasi kelas yang dihadapinya.

Percayalah. Jika tradisi bertanya ini terus dirawat, maka akan berlanjut ke ruang kelas. Para guru juga akan terbiasa untuk bertanya pada murid-muridnya: ‘mengapa penting menguasai’, bukannya ‘bagaimana menguasainya’. Mengapa penting untuk belajar, bukan bagaimana harus belajar. Keduanya berbeda.

Mas Menteri yang terhormat.
Tradisi bertanya yang kami rawat ini kemudian mengarahkan pada soal yang kedua. Menjawab pertanyaan-pertanyaan murid dan sejumlah masalah yang kami hadapi di ruang kelas kemudian berkembang menjadi praktik baik.

Besar keinginan kami untuk menyampaikan kepada bapak Menteri bahwa dihari deklarasi kemarin kawan-kawan kami di daerah telah menulis dan berbagi 293 praktik baik pengajaran. Semua praktik baik ini kami rangkum dalam Surat Kabar Guru sebanyak 23 edisi dan empat buku. Praktik baik yang ditulis oleh guru, editornya berasal dari guru dan dipraktikkan kembali oleh guru. Praktik belajar putaran ganda.

Kawan kami dari kabupaten Sanggau mengembangkan kecakapan literasi murid-muridnya dengan membuat adonan kue. Dari merumuskan rencana kegiatan, menyiapkan bahan, membuat adonan sampai proses akhir: melakukan refleksi. Pada bagian mana yang harus diperbaiki?

Kawan kami dari Makassar memainkan Congklak bersama murid-muridnya untuk melatih keterampilan memutuskan. Guru Pekalongan mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia melalui minat dan kegemaran murid-muridnya.

Lalu apa masalahnya?

Kawan-kawan kami di daerah masih merasa berjalan sendirian. Praktik baik belum menjadi tradisi sekolah, tradisi dinas pendidikan atau mungkin tradisi kementerian. Kami gembira mendengar bahwa kegiatan berbagi praktik mengajar juga telah diampu pihak kementerian melalui kegiatan pengembangan kompetensi guru berbasis zonasi. Semoga saja program ini berkelanjutan, tidak berhenti hanya sebagai bahan ajar pelatihan.

Mas Nadiem Makarim.

Poin ketiga yang ingin kami sampaikan adalah terkait dukungan terhadap organisasi profesi. Kami percaya bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dilakukan sendirian. Kompetensi guru bukan hanya urusan kementerian saja. Mesti serempak dan berbarengan. Kami ingin terlibat.

Setelah melakukan perjalanan panjang selama lima tahun, kami telah telah melakukan ribuan temu pendidik. Akhirnya, pada tanggal 25 Oktober 2019, 1.300 guru sepakat, Komunitas Guru Belajar mendeklarasikan dirinya sebagai salah organisasi profesi guru.

Benar. Kami masih sangat muda usia. Harus belajar sebanyak-banyaknya dari berbagai pihak. Tapi percayalah Mas, kami punya niat yang baik untuk mengajak rekan guru saling menguatkan dan berkolaborasi.

Kami ingin berdiri dan bergerak bersama kawan-kawan dari perkumpulan guru yang telah berdiri lebih awal. Kami ingin melibatkan diri memajukan profesi guru. Bukankah ini maksud dan tujuan pertemuan kita? Mohon dukungannya.

Demikian tiga hal yang menurut kami perlu untuk disampaikan. Terima kasih telah diundang hadir.

Jakarta, 4 November 2019
Usman Djabbar Mappisona
Ketua Umum
Komunitas Guru Belajar Nusantara

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: