Kunci Pengembangan Guru di Wardah Inspiring Teacher 2019

Penulis : rizqy | 26 Nov, 2019 | Kategori: Pelatihan guru, Program Pengembangan Guru

Namanya Ernawati, beliau adalah guru SMP 1 Wates, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Guru Erna merupakan salah satu peserta program Wardah Inspiring Teacher 2019 yang diadakan di Yogyakarta. Saat kegiatan berlangsung, Guru Erna tampak antusias mengikuti sesi belajar berempati dengan murid sebelum membuat media ajar. Beberapa kali menyampaikan pendapatnya, antusias menyampaikan idenya, dan lincah bergerak saat pelatihan. Hal yang membuat kami kaget adalah ketika mengetahui beliau sudah berusia 53 tahun dan masih menjalani serangkaian perawatan penyakit kankernya.

Apa sebenarnya yang bisa membuat guru Ernawati bisa antusias mengikuti program?

Kalau di Kampus Guru Cikal, kami percaya 4 kunci pengembangan guru : Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. 

Kampus Guru Cikal dan Wardah diawal sepakat bahwa kegiatan Wardah Inspiring Teacher bukan kegiatan kompetisi antarguru. Tidak ada arahan pada guru untuk mengalahkan guru yang lain, tapi lebih pada arahan agar guru menetapkan dan mencapai penguasaan kompetensi yang lebih tinggi. Tidak ada sogokan dan hukuman bagi guru agar termotivasi mengikuti program, tapi lebih pada kesempatan lebih pada guru yang belajar lebih cepat dan dukungan pada guru yang butuh waktu belajar lebih banyak. Peserta mengikuti kegiatan bukan karena ada hadiahnya, bukan karena perintah dari atasan, namun karena kemauan dari diri sendiri. Inilah yang disebut kunci Kemerdekaan. 

Kemerdekaan, itulah yang menjadi alasan mengapa guru Ernawati semangat mengikuti kegiatan Wardah Inspiring Teacher. Guru Erna sadar akan tujuan, tahu tujuan belajarnya, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, tidak cepat menyalahkan keadaan dan selalu mencari cara yang lebih efektif mencapai tujuan.

Dalam pelatihan Wardah Inspiring Teacher, Kampus Guru Cikal di awal pelatihan tidak langsung memberikan materi tentang “Bagaimana Membuat Media Ajar A, B, atau C?” . Kami mengajak peserta untuk memahami “Why”-nya. Kami ajak peserta untuk bisa berempati kepada murid.

“Jika kondisi muridnya seperti ini, media seperti apa yang sesuai?”

Karenanya, guru bisa lebih inovatif di beragam situasi. Karena kompetensi harus bisa ditunjukkan di mana saja, kepada murid yang bagaimana dan dalam hal mengerjakan apa.

Dari sini kami melihat beragam media yang diciptakan peserta. Guru Wahyu Hidayat seorang guru Sekolah Menengah Atas membuat papan permainan yang terinspirasi dari game online yang marak dimainkan remaja. Papan permainan tersebut dibuat karena banyaknya murid yang lebih tertarik bermain game online daripada mengikuti pengajarannya. Guru Helvira membuat buku untuk meningkatkan kemampuan fungsional murid-murid berkebutuhan khusus yang diajarnya. Guru Anas membuat alat yang membantu murid SD yang diajarnya memahami dengan mudah langkah-langkah berwudhu. Guru Anggi yang mengamati muridnya lebih suka bergaul dengan tukang mainan daripada gurunya, oleh karenanya, kemudian ia memulai menciptakan permainan untuk muridnya. Guru Dina melihat banyak murid yang lebih suka audio visual, oleh karena itu ia membuat film dokumenter dalam materi biografi.

Guru-guru tersebut alih-alih menyalahkan muridnya, memilih untuk mencari cara agar muridnya bisa belajar. Dalam proses pembuatan media, kami mengajak peserta untuk membuat prototipenya terlebih dahulu. Dari prototipe tersebut kemudian diuji cobakan kepada peserta lainnya, murid, dan lainnya. Dari hasil uji coba, didapatkan beberapa umpan balik yang kemudian digunakan guru-guru peserta program sebagai acuan memperbaiki media yang dibuatnya.

Kolaborasi inilah yang membuat media yang awalnya biasa saja, bisa lebih baik. Masukkan guru lain, murid bahkan narasumber ahli membantu guru dalam menyempurnakan medianya.

“Murid-muridku merasa permainannya kurang menantang, cepat selesai”

“Lagu ciptaanku buat pengajaran ternyata sekadar membantu murid menghafal, sehingga perlu dikombinasikan agar bisa lebih bermakna.”

“Ide media ajar yang aku buat prototipenya dipoles oleh temanku seorang desainer grafis.”

Pengalaman kolaborasi ini membuat guru mendapat inspirasi dan praktik baik yang sudah teruji. 

Kunci pengembangan guru yang keempat adalah karier.  Selama ini karier yang tersedia melalui jalur formal adalah kepala sekolah, itupun terbatas tidak untuk semua guru. Kami di Kampus Guru Cikal mendorong karier guru yang protean. Guru bisa terus menjadi guru, tetapi juga mengembangkan karier di bidang yang beragam. Guru bisa menjadi pelatih guru lain, penulis, pembuat media ajar, pendongeng, dsb. 

Di Wardah Inspiring Teacher 2019 ini, Kampus Guru Cikal merancang kegiatan Temu Inovasi yaitu kegiatan pameran media guru. Harapannya dari pameran ini, banyak guru yang mulai berinisiatif mengembangkan kariernya walaupun kegiatan Wardah Inspiring Teacher sudah selesai. 

“Di Temu Inovasi saya memasang media saya dan poster ‘How to Play’, tidak disangka ternyata banyak yang tertarik, dan kemudian saya jelaskan bagaimana proses membuat media ini. Mereka semakin tertarik dan kemudian membeli media saya. Dan laku sekitar 20 buah Pak. Tidak berhenti sampai di situ, banyak yang repeat order melalui Instagram@kadoka_edu …”

Itulah cerita dari Guru Puspita Demy Amalia, seorang guru dari Homesantren Kebaikan Surabaya yang menjadi salah satu peserta Wardah Inspiring Teacher 2019. 

Guru Imam Setiawan dari Sekolah Alam Atifa Bogor pun sama, setelah pameran Guru Imam memoles kembali media ajar yang ia buat untuk dipasarkan. Saat ini, media yang ia buat yaitu berupa buku, masih dalam tahap pengurusan ISBN.

Anda sudah siap untuk Wardah Inspiring Teacher 2020?

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: