Wisuda Sekolah Lawan Corona : Perayaan Belajar Guru dan Kepala Sekolah di Jawa Tengah

Penulis : Anik Puspowati | 20 Oct, 2020 | Kategori: Merdeka Belajar

Sekolah Lawan Corona itu apa?
Apa pula bedanya dengan pelatihan-pelatihan lain selama ini? Trus, nanti ngapain aja? Begitulah pertanyaaan awal para peserta yang hendak mengikuti program Sekolah Lawan Corona kerjasama antara Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dengan Kampus Guru Cikal. Sekolah Lawan Corona merupakan respon terhadap keresahan para guru dalam mengelola pembelajaran jarak jauh. Program Sekolah Lawan Corona diinisiasi Kampus Guru Cikal dan dikerjakan bersama dengan Komunitas Guru Belajar Nusantara, Keluarga Kita dan platform digital sekolah.mu.

Wisuda Sekolah Lawan Corona

Dinas pendidikan provinsi Jawa Tengah beserta Dinas kota dan kabupaten Semarang, kota dan kabupaten Pekalongan serta kota Surakarta merekomendasikan sekolah-sekolah di bawah jajarannya untuk mengikuti program ini. Sekitar 300 guru dan kepala sekolah mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Tiap sekolah mengirimkan satu kepala sekolah dan dua orang guru. Mereka kemudian dikelompokkan per daerah masing-masing dalam grup koordinasi kota dan kabupaten.

Baca juga Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah

Level demi Level di Sekolah Lawan Corona
Guru dikelompokkan per level untuk didampingi menyelesaikan modul belajar. Model belajar di program ini terbagi menjadi dua: otomatisasi dan interaksi. Otomatisasi artinya para guru belajar sendiri dengan menyelesaikan materi yang ada di platform sekolah.mu. Interaksi berarti para guru mendapatkan pendampingan setelah menyelesaikan level. Dalam pendampingan ini para guru melakukan refleksi belajar bersama para pendamping lewat video conference. Para pendamping guru belajar ini adalah fasilitator dari Komunitas Guru Belajar Nusantara. Para guru yang telah menyelesaikan materi belajar sampai level 5 kemudian diajak untuk menjadi narasumber di kelas live Sekolah.mu. Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi refleksi dan pengalaman belajar selama di SLC dan dapat memberi insight juga kepada guru lainnya.

Peserta SLC menjadi Narasumber di Sesi Refleksi

Sekolah Lawan Corona dan Refleksi
Refleksi yang banyak dipercakapkan oleh para peserta adalah pengalaman belajar bahwa apa yang dilakukan para peserta selama ini ternyata masih banyak miskonsepsi. Para guru akhirnya mengetahui bahwa Pengajaran jarak jauh itu bukanlah pembelajaran sebagaimana biasa, tidak hanya pembelajaran daring. Pembelajaran jarak jauh tidak bisa dikendalikan penuh oleh guru, dan bisa langsung diikuti oleh para murid. Para peserta belajar bahwa pembelajaran jarak jauh itu membutuhkan pelibatan orang tua dan bukan hanya memberikan tugas pada murid. Hal lain yang sangat membekas di hati para peserta adalah konsep 5M, yakni panduan pembelajaran jarak jauh. Memanusiakan hubungan, Memahami konsep, membangun keberlanjutan, memilih tantangan, dan memberdayakan konteks.

Bella Anandya Yovita, guru SDN Gogodalem 01 Kabupaten Semarang mengungkapkan refleksi beliau,

“Saya merasa senang karena saya dapat berpartisipasi dalam Program SLC dan saya mendapatkan banyak ilmu yang sangat bermanfaat. Saya menjadi paham tentang bagaimana cara melakukan pembelajaran jarak jauh yang baik dengan menggunakan pembelajaran 5M dan saya menjadi tahu apa yang harus saya lakukan, bisa berbagi ilmu atau sharing tentang merdeka belajar dengan rekan sejawat. Dan pastinya saya menjadi lebih tahu bahwa seorang guru bisa melakukan pembelajaran dengan kreatif meskipun tidak bertemu langsung dengan murid.”

“Dengan Program SLC ini menjadikan saya punya bahan dan dasar untuk meyakinkan teman-teman melaksanakan pembelajaran yang bermakna tak lagi biasa-biasa saja. Semakin memahami bahwa proses pembelajaran itu orientasinya adalah murid.”

Testimoni Sekolah Lawan Corona
Testimoni Peserta

Selain Guru Bella, ada beberapa refleksi lain yang diungkapkan peserta.

Mengaplikasikan di sekolah tempat saya berada, menularkan kepada unit sekolah di yayasan saya, dan menularkan kepada sekolah swasta di kabupaten Semarang yang kebetulan saya ketua paguyuban nya.” Tutur pak Loemiyono SMP IT Darul Fikri Bawen.

Peserta dari Pekalongan juga tidak mau kalah memberikan refleksi belajar di program SLC. Salah satunya ibu Sri Rahayu dari SMPN 8 Pekalongan.

“Wah sangatlah berkesan sekali bahwa hal ini kesempatan tidak datang dua kali!.Apalagi saat terpilih menjadi NARSUM Wah sangatlah luar biasa kehormatan buat saya meskipun harus DAG… DIG… DUG, di sinilah kita bisa saling bersilaturahmi, berbagi pengalaman antara guru, saling mengisi mana kekurangan dan kelebihan dari masing-masing sekolah.

Ibu Rayinda Eva Rahmah dari MA YAPPI Kesesi Pekalongan menuturkan,

“Sangat antusias dengan beragam kegiatan pelatihan yang ditawarkan oleh SLC Saya baru menyadari bahwa pengalaman belajar di SLC memberikan pemahaman baru kepada saya sebagai guru untuk memahami capaian minimal yang dapat diraih murid itu beragam saat PJJ. Terima kasih SLC atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk belajar dengan materi-materi seputar konsep pembelajaran selama pandemi Covid-19.”

Testimoni Sekolah Lawan Corona

Refleksi menarik juga datang dari para guru PAUD. Beliau adalah ibu Anna Christi Mahanani,S.Psi dari TK PAUD Negeri Merah Putih Surakarta.

“Harus benar-benar meluangkan waktu untuk mengikuti per sesi dan saat tidak terburu-buru sehingga hasil kuis benar semua itu kaya ada kepuasan tersendiri. Pengalaman pertama jadi narasumber itu suatu pengalaman baru untuk saya. Saya akan menerapkan 5M pastinya dan mau coba menulis sesuai pembelajaran ATAP.”

Luluk Kristiningsih, S.Pd TK Kristen Widya Wacana VI Joyotakan Surakarta

“Selama mengikuti SLC, saya merasa bangga, bisa mengikuti live streaming perdana untuk refleksi pembelajaran, meskipun sebenarnya ada begitu banyak hal yang harus saya selesaikan, namun saya sangat tertarik dengan program ini, selama ini saya salah pengertian untuk PJJ, saya hanya mementingkan menghabiskan materi saja, namun, dengan adanya SLC, saya menemukan konsep yang benar dalam PJJ, dengan sebelumnya harus mengenali profil murid-murid saya. Terima kasih untuk seluruh tim di SLC ini, untuk setiap ilmu yang sudah saya dapatkan. Semoga ini bisa saya terapkan dalam PJJ ini.”

Keseruan refleksi tidak hanya berasal dari para peserta, namun para fasilitator dan koordinator SLC Jawa Tengah. Ibu Kristijorini dari Komunitas Guru Belajar Nusantara Surakarta mengungkapkan pengalaman saat mendampingi,

“Pengalaman menjadi koordinator SLC kota Surakarta : Banyak mendapat kesempatan baru, berkenalan dengan orang baru yang kaya akan karakter, mendapat ilmu baru, menemukan cara baru dalam belajar dan yang pasti belajar dari banyak orang dari berbagai kalangan. Tantangan pasti ada. Namun bukan penghalang untuk meningkatkan kompetensi dan kolaborasi. Melalui SLC saya semakin memahami bahwa belajar itu bisa dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Serunya, untuk mencapai tujuan belajar yang menyenangkan, kami bisa menggunakan berbagai cara. Yang paling menarik lagi adalah, kami menemukan banyak guru-guru hebat dengan berbagai bakat luar biasa. Dan menemukan bahwa usia tua tidak menghalangi seseorang untuk menguasai teknologi. Bahkan dari seorang yang sama sekali tidak bisa menggunakan email saya belajar tentang kerja keras hingga beliau bisa membuat program sendiri di Sekolahmu. Belajar dari seorang guru yang minder, menjadi luar biasa saat diberi kesempatan untuk berbicara secara live. Belajar dari seorang guru yang terbatas dalam prasarana maupun dana, mampu berdaya untuk belajar pantang menyerah. Pada akhirnya, saya bahagia karena bisa melihat ibu Kasi PAUD dan pendidikan keluarga beserta dengan para peserta berbagi ilmunya pada guru-guru lain di seluruh tanah air. Saya bahagia karena menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa belajar dan berusaha bukan untuk diri sendiri tetapi untuk anak didiknya. Untuk memberi cinta pada generasi penerus apapun tantangannya.”

Tentang Sekolah Lawan Corona

Begitu pula bu Dias Rahmasari yang menjadi fasilitator sekaligus coordinator wilayah Pekalongan, “Selama.jadi pendamping dan koordinator dapat tantangan baru yang sangat banyak sekali pelajaran serta ilmu yang didapatkan tentang memahami berbagai pihak, karakter peserta,pemegang kebijakan atau dinas, dan teman teman fasil SLC. Program ini benar benar sangat membantu teman teman guru dalam merancang pembelajaran jarak jauh di sekolahnya. Pengalaman memanajemen waktu untuk tetap komitmen menyelesaikan apa yang sudah dimulai.”

Refleksi para guru yang antusias inilah yang mendorong para fasilitator SLC untuk membuat perayaan atau selebrasi capaian belajar peserta SLC : membuat pengalaman belajar bermakna dan tak terlupakan. Selain itu, karena dari sekitar 300 peserta yang mengikuti SLC ada sekitar 176 guru yang berhasil menyelesaikan kelas dan ini sangat layak untuk dirayakan.

Wisuda Sekolah Lawan Corona
Pada tanggal 29 Juli 2020 adalah momen paling mengharukan bagi para fasilitator dan membahagiakan bagi para peserta SLC. Hari tersebut adalah hari wisuda, hari perayaan belajar selama lebih kurang 4 minggu belajar menyelesaikan tantangan demi tantangan dalam program SLC. Hari bersejarah bagi wisudawan ini diselenggarakan via zoom dan dihadiri oleh peserta wisuda, para koordinator SLC dan para tamu undangan.

Tamu Undangan yang menghadiri wisuda SLC angkatan 1 diantaranya adalah : 1. Ibu Najelaa Shihab (Head of sekolah.mu) 2. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah 3. Drs. Soeroso, M.Pd. (Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan) 4. Sumarwati, S.Pd., M.AP. (Kepala Dinas Pendidikan Kab. Pekalongan) 5. Etty Retnowati, SH., MH. (Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta) 6. Sukaton Purtomo Priyatmo, SH., MM. (Kepala Dinas Pendidikan Kab. Semarang)

Dalam sambutannya, ibu Najeela Shihab memaparkan bahwa yang paling membuat terharu dari seluruh proses ini sebetulnya adalah kolaborasi antar pemangku kepentingan. Ada pemangku kebijakan, sekolah-sekolah negeri, sekolah swasta, madrasah baik negeri maupun swasta yang semuanya bahu membahu kerja barengan untuk kemudian bukan hanya sekedar menjadi korban dari situasi wabah dan pandemi, tetapi memilih untuk berdaya, memilih untuk mencari solusi beradaptasi dan terus mengembangkan diri untuk kemudian bisa memberikan akses pendidikan yang berkualitas pada semua dan setiap anak.

Proses Wisuda Sekolah Lawan Corona

Sedangkan ibu Padmaningrum selaku PLT Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dalam sambutan berikutnya juga menuturkan optimisme beliau terhadap para lulusan program SLC Jawa Tengah ini. Beliau yakin bahwa para wisudawan SLC akan memberikan dampak yang besar terhadap kualitas pendidikan di Jawa Tengah. Ibu Padmaningrum juga sangat berterima kasih kepada Kampus Guru Cikal yang memberikan perhatian pada pendidikan di Jawa Tengah.

Pencapaian SLC Jawa Tengah Angkatan Pertama sebanyak 176 Wisudawan dari 133 Sekolah. Ada 40 Narasumber Belajar Live, puluhan RPP Merdeka Belajar dan puluhan Program yang bisa diakses di http://sekolah.mu/blended-learning-jateng dan bisa digunakan oleh guru-guru Jawa Tengah lainnya.

Portofolio Sekolah Lawan Corona

Kebahagiaan para guru wisudawan ini semoga juga akan ditularkan kepada para murid yang merupakan sekutu dan tujuan akhir cita-cita guru. Dengan memahami miskonsepsi dan kompetensi dalam menyusun pembelajaran jarak jauh di masa pandemic ini harapannya para peserta juga akan membagikan praktik baik ke rekan-rekan guru lainnya sehingga ekosistem pendidikan merdeka belajar akan menyebar dan membawa kebermanfaatan bagi semua pemangku kepentingan. Selamat kepada para wisudawan!

About the Author

One thought on “Wisuda Sekolah Lawan Corona : Perayaan Belajar Guru dan Kepala Sekolah di Jawa Tengah”

Leave a Reply

%d bloggers like this: