Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.

Penulis : Umi Kalsum | 13 Mar, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah
Peserta Temu Pendidik Daerah

Siapa yang waktu kecil senang mendengarkan cerita?

Faktanya, mau besar atau kecil, kita senang mendengar cerita. Cerita yang bermakna bisa membangun karakter-karakter positif dalam diri. Guru punya banyak kesempatan untuk menyentuh hati murid-muridnya melalui cerita yang disampaikan di ruang kelas.

Cerita yang seperti apa yang bisa membuat murid berpikir kritis?

Kita akan bahas lebih lanjut dalam TPD KGB Bandung dengan topik :

“Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.”

Begitulah sepenggal caption yang mengantarkanku untuk hadir menemui Guru Titin, di SMKN 5 Bandung pada tanggal 23 Februari 2019. Aku yang telah lama menanti diangkatnya tema ini, hadir dengan membawa pertanyaan yang senada dengan caption tersebut. Pertanyaanku adalah “bagaimana menumbukan keterampilan berpikir kritis secara menyenangkan?”

Mendongeng adalah jawaban dari pertanyaanku tentang kegiatan yang menyenangkan. Mendongeng adalah kegiatan literasi yang menyenangkan dan sangat kaya makna. Bu Titin yang juga aktif menjadi narasumber parenting, membagi pengalamannya sebagai contoh. Bu Titin bercerita :

Saat itu suami saya karena sebuah kondisi menyebabkannya tidak dapat bekerja. Hal tersebut berbeda dengan saya yang selain berperan sebagai ibu, istri, namun juga bekerja sebagai guru. Di satu hari, saya pulang mengajar dalam kondisi basah kuyup karena kehujanan. Namun, suami saya nampak tidak mempedulikan keadaan saya.

Saya pun memanggilnya, “Yah, sini deh, ada cerita.”

“Cerita apa?” sahutnya sambil menghampiri saya.

“Itu Bu Cinta pulang kehujanan, suaminya langsung membawakan handuk dan teh hangat, padahal Bu Cinta baru pulang main, bukan pulang kerja” kata saya.

Mendengar cerita tersebut, suami saya bergerak membawakan handuk dan teh hangat, dengan mengatakan, “nih handuknya, nih teh hangatnya”.

Lalu ia pergi dan kembali tenggelam dalam aktivitasnya.

Tawa pun menyeruak di ruang TPD. Tawa lahir karena suami Bu Titin termotivasi untuk berperilaku baik, namun terdengar tak ikhlas. Dibalik tawa tersebut, lahir kesadaran pada peserta TPD, bahwa mendongeng itu dapat memotivasi untuk berperilaku baik, dapat membangun karakter. Dimana hal tersebut dapat terbangun bukan hanya pada penikmat dongengnya, namun juga pada pendongengnya. Pada contoh diatas nampak bahwa Bu Titin sebagai pendongeng, memilih untuk mengelola emosinya, sehingga komunikasi dapat tetap efektif memotivasi orang lain berperilaku baik, sehingga pada akhirnya dapat membangun karakter positif.

Kekayaan makna pada dongeng dapat diraih, apabila dongeng menjadi sangat berkesan bagi siswa, menjadi memorable bagi siswa. Salah satu cara untuk meninggalkan kesan tersebut adalah dengan mengkritisinya. Kebiasaan kritis inilah yang pada akhirnya dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis pada siswa.

Bu Titin pun membagikan praktik baik kepengajarannya tentang cara-cara melatih berpikir kritis terhadap dongeng. Bu Titin mengawalinya dengan mengajak kami memikirkan “Apa kata-kata yang tepat untuk menggambarkan ini?”

D:\WIFE.jpg
Ilustrasi yang Guru Tititn gunakan saat Temu Pendidik

Dan kami diajak menceritakannya pada selembar kertas. Berbagai cerita pun bermunculan. Salah satu ceritanya adalah cerita tentang suami-suami takut istri, seperti judul sinetron di layar televisi. Lalu, kami diajak menceritakan lagi, “Tokoh mana yang disukai, dan mengapa?”

Selain Bu Titin mempraktikannya langsung pada kami, Bu Titin pun menegaskan cara-caranya, yang meliputi: 1. Di tengah cerita, guru mengajak siswa membayangkan kelanjutan ceritanya, sehingga memungkinkan lahirnya cerita yang sangat variatif dari siswa. 2. Di akhir cerita, guru mengajak siswa menentukan tokoh yang disukai dan alasannya. 3. Lalu mengajak siswa berandai-andai, bila siswa menjadi salah satu tokoh di cerita tersebut, apa yang akan dilakukan dan mengapa. Bu Titin memberi contoh untuk poin nomer 3,  Bu Titin berkata, “Pada cerita Malin Kundang, bila kamu menjadi istri Malin, apa yang akan kamu lakukan dan mengapa?” Mendengar pertanyaan tersebut, sontak peserta TPD terkejut karena merasa belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu sebelumnya. Bu Titin menyimpulkan prinsip melatih berpikir kritis adalah bertanya dengan hal yang berbeda, bukan hanya menerjemahkan atau men-translate-nya.

Bu Titin pun menceritakan cerita tentang siswanya, sebagai hasil dari kebiasaan praktik baik yang dilakukannya. Singkat cerita, lahirlah siswa yang percaya diri untuk bercerita, yang merasa aman bercerita, yang bercerita tanpa merasa tertekan atau terpaksa. Dan pada sesi inilah tiba-tiba ruangan menjadi sangat hening. Bu Titin bercerita dengan mata berkaca-kaca. Peserta TPD ada yang sempat membayangkan, andaikan dirinya dulu memiliki guru seperti Bu Titin, sebagai siswa tentu akan merasa sangat bahagia. Karena saat itu, terasa bahwa ia mengajar dari hati. Disini Bu Titin berhasil menunjukkan bahwa dongeng itu dapat menyentuh hati.

Keheningan kami pun disadarkan dan dipecahkan oleh moderator yang akan membuka sesi tanya jawab. Dan alhasil gaya kepengajaran Bu Titin yang mengajak kami berpikir kritis, menstimulasi antusias para peserta bertanya. Dengan kompak kami mengacungkan tangan, kami bergiliran untuk bertanya, ada yang mengalah bertanya di akhir, ada yang bertanya lebih dari satu pertanyaan, dan bahkan ada yang bertanya melebar dari topik hingga perlu dibatasi.

Sebagai penutup, Bu Titin membagikan quote dari Fisher (2008) : “Good Teacher makes you think even, when you don’t want to”. Dan catatan saya menulis, “Kita bukan penyampai materi, kita tidak akan kalah dengan google, sang mesin pencari informasi.”

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: